
Dokter mengucapkan selamat kepada pasangan ini ketika memeriksa keadaan Nadia. Keduanya merasakan kebahagiaan setelah mereka diberi lagi kepercayaan untuk memiliki momongan.
"Selamat Tuan, saat ini istri anda sedang hamil dan usia kandungannya sudah tiga minggu." Ucap dokter Agatha tersenyum kepada Daffa dan Nadia dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Terimakasih dokter!" Ucap Daffa sumringah.
"Apakah kalian turis dari Asia Tenggara?" tanya dokter sambil mencatat riwayat kondisi kehamilan Nadia.
"Benar dokter!" Ucap Nadia tersenyum manis menatap wajah cantik dokter Agatha.
"Berarti ini kehamilan kedua anda, tapi ada satu hal yang sangat mengkuatirkan kondisi kehamilan anda saat ini nyonya Nadia." Ucap dokter Agatha serius.
"Ada apa dengan kehamilan saya dokter?" tanya Nadia cemas.
"Kehamilan anda sangat lemah, saya sarankan agar anda kembali lagi ke negara anda secepatnya dan banyak istirahat, jika anda meneruskan perjalanan wisata ini maka kuat kemungkinan anda akan mengalami keguguran, jauhi setress yang berlebihan jika nanti sampai ke tanah air, anda perlu dirawat selama masa kehamilan untuk satu atau dua minggu ke depan sambil memperhatikan kemajuan daya tahan janin yang merekat di dinding rahim anda." Ucap dokter Agatha.
"Baik dokter kami akan segera kembali ke negara kami demi keselamatan istri dan bayiku." Ucap Daffa.
"Saya bukan sedang menakuti anda tuan, jarak kelahiran yang terlalu dekat ditambah rahim Nyonya pernah mengalami cedera, itu yang memicu kehamilannya kali ini sangat lemah.
"Kami akan ikuti saran dokter." ujar Daffa lagi.
"Tapi untuk dua hari ini Nyonya Nadia perlu di rawat." Ucap dokter Agatha kelihatan sangat kuatir dengan keadaan Nadia.
Pasangan ini hanya mengangguk lemah, mereka merasa sangat risau jika mereka harus pulang dengan perjalanan yang cukup jauh akan menambah masalah baru. Tidak lama kemudian dokter meminta dua susternya agar Nadia di bawa ke kamar inap pasien. Nadia harus benar-benar istirahat selama dua hari ini dibawah pantauan dokter Agatha.
Keluarga besar ini sudah berada di kamar inap yang ditempati oleh Nadia. Daffa menjelaskan semuanya tentang keadaan Nadia kepada kedua orangtuanya. Ia juga merasa sangat tertekan dan merasa lebih takut jika terjadi sesuatu pada Nadia yang pernah mengalami koma yang berkepanjangan.
"Kita bisa menyewa dokter di sini untuk menemani Nadia sampai ke tanah air nak, jadi jangan terlalu dipermasalahkan karena ada Allah yang akan menolong kita. Kita hanya butuh keyakinan atas kebesaranNya." Ucap Tuan Edy menenangkan kecemasan putranya.
"Ya Allah mengapa aku tidak berpikir ke arah itu ayah, dari tadi aku sangat kalut hingga tidak bisa berpikir jernih dalam mengatasi keadaan ini." Ucap Daffa yang kembali lega setelah mendapat saran terbaik dari ayahnya.
"Itulah sebabnya kita harus berbagi jika kita mengalami kesulitan, sekarang kita cukup memperbanyak doa selain ikhtiar." Timpal Nyonya Laila menyemangati putranya.
"Kalau begitu kami pamit dulu kembali ke hotel, kasihan baby Hafiz, takut bayi ini kelelahan juga." ujar Tuan Edy.
"Terimakasih ayah, mami, Nadia mohon maaf selalu menyusahkan kalian." Ucap Nadia yang merasa tak enak hati kepada mertuanya.
"Hussstt!" jangan berkata seperti itu sayang, ini sudah kewajiban kami untuk memastikan keadaanmu aman dan kembali pulih supaya kita bisa kembali ke tanah air secepatnya." Ucap Nyonya Laila seraya membelai kepala menantunya.
Tuan Edy dan Nyonya Laila kembali ke hotel dengan membawa cucu mereka Hafiz. Daffa menunggu Nadia yang lagi berbaring lemah dengan infus yang tertancap pada punggung tangannya.
🌷🌷🌷
Tiga hari kemudian keluarga besar Tuan Edy bertolak ke tanah air. Seperti yang sudah direncanakan, tuan Edy yang sudah menyewa dokter spesialis kandungan yang direkomendasikan oleh dokter Agatha untuk mendampingi Nadia selama perjalanan ke tanah air dengan membawa berkas rekam medis pasien Nadia.
Perjalanan yang berkisar 18 jam lebih itu membuat Nadia lebih ekstra hati-hati untuk menjaga kandungannya. Daffa mendampingi istrinya tanpa kenal lelah. Pria tangguh ini selalu sigap ketika Nadia membutuhkan sesuatu. Nadia sangat bahagia keluarganya sangat menjaganya dalam kondisinya yang sangat memprihatikan sekarang ini. Karena menggunakan pesawat jet pribadi, membuat keluarga ini lebih santai, jika terjadi dengan Nadia mereka bisa melakukan pendaratan darurat di bandara terdekat berdasarkan lalu lintas udara yang mereka lewati saat ini.
Kerja sama pilot dan ko pilot stabil dalam mengatasi keadaan pesawat yang kadang-kadang menemukan masalah karena cuaca yang tiba-tiba ekstrem tanpa diprediksi. Tapi itu tidak berlangsung lama namun cukup membuat jantung hampir terpisah dari tempatnya. Hanya doa dan dzikir yang terus dipanjatkan selama perjalanan agar secepatnya sampai ke tanah air tercinta.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Daffa yang melihat wajah Nadia berubah makin pucat.
"Tegang juga mas, karena pesawatnya hampir lost control." Sahut Nadia sambil menggenggam tangan suaminya.
"Sudah aman sekarang, nggak usah cemas," ucap Daffa menenangkan Nadia.
"Permisi tuan saya harus memeriksa keadaan nyonya, untuk memastikan tensi darahnya dan juga kandungannya," ujar dokter Alicia yang sudah siap dengan peralatan medisnya.
Daffa mempersilahkan dokter spesialis kandungan tersebut mengontrol keadaan Nadia. Tapi hatinya rasanya kepingin menangis melihat Nadia seperti mayat hidup karena terlalu pucat akibat dari pesan yang menghindari terjangan awan hitam.
"Daffa jangan bengong, tetap berdoa karena Nadia membutuhkanmu" ucap ayahnya yang sangat takut putranya ikut drop.
Setelah melewati 18 jam waktu tempuh, akhirnya pesawat mereka landing dengan sempurna di bandara pribadi milik tuan Subandrio Diningrat yang kini sudah diwariskan kepada cucunya Daffa. Mobil ambulans sudah siap disisi badan pesawat lengkap dengan petugas medis dari rumah sakit rujukan yang sudah di siapkan oleh asistennya Rio.
Nadia dibawa langsung ke rumah sakit, di mana rumah sakit yang sama tempat ia dirawat. Daffa dan orang tuanya tetap mendampingi putranya. Sedangkan keluarga Nadia sudah menunggu di rumah sakit atas permintaan Rio. Ketegangan yang terjadi diantara keluarga itu sempat memicu kemarahan ummi Kulsum. Namun ustadz Aditya mampu meredam kemarahan istrinya.
"Mengapa dengan keluarga itu, yang selalu menyusahkan putri kita, harusnya Nadia tidak boleh mengandung dalam jarak waktu yang terlalu dekat." Ucap Ummi Kulsum yang makin murka ketika mengetahui putrinya dalam keadaan sakit.
"Apakah dengan ummi marah Nadia bisa langsung sembuh?" itu sudah menjadi urusan keluarganya dan suaminya juga bertanggung jawab untuk itu, sebaiknya jangan terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga putri kita." Ucap ustadz Aditya menasehati istrinya.
"Abi harusnya tegas dengan menantu Abi itu. Jika ia sayang dengan putri kita, seharusnya ia lebih memperlakukan putri kita lebih ekstra hati-hati." Ucap ummi Kulsum yang masih menyalahkan menantunya Daffa.
Tidak lama Nadia sudah dipindahkan ke kamar inap VVIP. Ummi Kulsum menangis melihat putrinya yang baru pulang dari liburan justru dalam keadaan sakit bukan keadaan yang menyenangkan.
"Sebaiknya jaga sikap ummi di depan besan dan jangan terlalu frontal karena keluarga itu sedang kalut memikirkan putri kita, jika ummi tidak bisa diam, lebih baik kita pulang dan jangan menambah masalah baru di sini." Ucap ustadz Aditya mengingatkan istrinya.
🔥 Untuk episode selanjutnya makin menegangkan, siapkan mental anda untuk membacanya karena episode selanjutnya akan menguras air mata 🔥