
Sekitar jam 02.30 WIB. Nadia bangkit dari tidurnya, ia duduk sesaat, lalu membaca doa bangun tidur, kemudian ia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah rapi dengan pakaian sholatnya, ia mulai membentangkan sajadahnya dan menunaikan sholat tahajud yang sudah rutin ia lakukan.
Ia bermunajat kepada Tuhannya, atas segala sesak yang ada didalam ruang hatinya yang saat ini sedang membelenggu batinnya. Air matanya ikut serta dalam ayat-ayat yang dilantunkannya ketika posisinya masih dalam keadaan berdiri menghadap Robbnya.
Gadis 23 tahun ini yang sangat mengerti setiap arti bacaan ayat suci Alquran sebab dirinya yang pernah mengambil kuliah kajian Al-Qur'an sebagai bagian dari materi kuliahnya ditambah bahasa arab yang sangat fasih diucapkannya, ia makin khusu bacaan dalam sholatnya, hingga 9 rakaat ditambah tiga witir sebagai penutup sholat sunnah tahajudnya.
Ia kemudian membaca Al-Qur'an dengan suara yang amat merdu lagi menyayat hati bagi yang mendengarnya.
Daffa yang dari tadi mendengar suara indah istrinya, merekam suara itu ke dalam ponsel miliknya. Ia juga ikut menangis mendengar suara merdu milik istrinya. Entah mengapa bacaan Nadia kali ini sangat memilukan yang terdengar oleh pendengaran Daffa, seakan tahu kalau Nadia sedang dilanda oleh prahara pernikahannya, itu yang sedang dipikirkan oleh Daffa. ia tidak tahu kalau istrinya sudah mengetahui masalah yang sedang dihadapinya saat ini.
Tidak lama kemudian terdengar suara azan subuh, memanggil umat muslim yang berada di seluruh wilayah Jakarta dan sekitarnya, untuk segera bangun dan menunaikan ibadah sholat wajib. Jika beruntung, laksanakan shalat sunah subuh antara azan dan Iqamah karena itulah sumber kekayaanmu adalah dunia dan seisinya, baik yang akan diraih di dunia maupun yang akan dipanen diakhirat kelak, itulah manfaat sholat sunah dua rakaat sebelum subuh.
Jika Iqamah berlalu dan belum sempat dilaksanakan sholat sunah subuh diantara azan dan Iqamah, maka boleh dilakukan setelah sholat fardhu subuh karena hukum sholat sunah subuh dilakukan diantara selepas azan dan Iqamah, beda dengan sholat sunah rawatib lainnya. Daffa juga bangkit dari tidurnya, walaupun ia sendiri sudah sadar dari awal semenjak istrinya membaca Alquran.
"Tumben mas, sudah bangun tanpa dibangunin, nah gitu dong jadi suami yang sholeh harus bangun sendiri, nanti kalau aku nggak ada di samping mas Daffa, mas bisa bangun sholat subuh sendiri," ucap Nadia memuji suaminya.
Usai menunaikan sholat subuh berjamaah, ia meraih tangan suaminya lalu dicium punggung tangan itu secara takzim, Daffa memegang pipi Nadia yang terasa hangat, iapun menanyakan keadaan istrinya yang terlihat sangat pucat.
"Sayang, kamu sakit?" tanya Daffa cemas sambil memegang lagi dahi dan pipi istrinya.
"Aku nggak apa sayang, suhu tubuhku saja yang lagi hangat." ucap Nadia yang tidak ingin membuat suaminya lebih mencemaskan dirinya.
"Jangan so kuat lho sayang, kalau sakit bilang saja. Aku nggak mau lho, terjadi sesuatu sama kamu." ucap Daffa sedikit mencebikkan bibirnya.
"Aku nggak apa sayang, aku buat sarapan dulu ya, mas bersiap saja dulu," ujar Nadia lalu beranjak pergi setelah merapikan lagi peralatan sholatnya.
Kali ini, ia membuat nasi goreng, di saat yang sama, Nadia merasakan sangat pusing, namun ia menguatkan dirinya untuk menyelesaikan masakannya. Setelah ditunggu beberapa saat, nasi gorengnya sudah matang, kemudian ia menyiapkan untuk suaminya dan juga untuk dirinya.
Daffa keluar dari kamarnya ketika mencium wangi nasi goreng yang di masak istrinya.
"Wah, kelihatannya enak nih, baunya saja sudah menggoda lidahku. Nasi gorengnya rasa apa sayang?" tanya Daffa lalu menarik kursinya untuk ia duduk.
"Tentunya rasa cinta, kasih dan sayang, untuk mas Daffa aku yang paling tampan sedunia." ucap Nadia dengan ekspresi wajah yang dipaksakan untuk kelihatan ceria.
"Keren rasa baru nasi gorengnya, bisa viral lho sayang, kalau ketahuan sama netizen, nasi goreng kamu ini." ucap Daffa yang sedang mengunyah nasi gorengnya.
"Semua masakan aku rasanya sama lho mas, dengan tiga rasa kata ajaib itu," ucap Nadia dengan wajah serius.
Keduanya terkekeh lalu kembali melanjutkan menyantap sarapan pagi mereka. Lagi-lagi Nadia merasa sangat pusing. Badannya makin lemah, namun masih saja di tahannya. Ia kembali membereskan piring kotor untuk diletakkan di dalam wastafel cuci piring. Tanpa bisa menahan pijakannya ia langsung ambruk ke lantai, Daffa yang melihat tubuh istrinya limbung, ia pun berteriak memanggil nama istrinya lalu berlari menahan tubuh itu supaya tidak jatuh menyentuh lantai, ia kemudian membawa tubuh istrinya ke sofa dan membaringkan tubuh Nadia di atas sofa yang ada di ruang keluarga tersebut.
"Nadia, sayang, tolong bangun. Astaga, mengapa suhu tubuh kamu makin panas sayang." ucap Daffa makin panik.
Dalam kepanikannya, Daffa berlari lagi ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya, lalu buru-buru menghubungi dokter yang kebetulan juga tinggal di apartemen yang sama dengannya.
"Assalamualaikum dokter Ana, maaf, saya menganggu anda sepagi ini." ucap Daffa terburu-buru.
"Waalaikumuslam, ada apa tuan Daffa?" ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Ana dari seberang telepon.
"Istri saya pingsan dan badannya juga panas dokter." jelas Daffa kepada dokter itu yang tinggalnya dibawah satu tingkat dengan lantai kamar apartemen Daffa.
"Baiklah, saya akan segera ke sana." ucap dokter Ana lalu mengakhiri pembicaraannya dengan Daffa.
Daffa kembali mendekati Nadia, mencium lagi pipi istrinya yang masih belum sadar, selang beberapa waktu, sekitar lima menit, dokter Ana sudah berada di depan pintu kamar apartemennya dan menekan bel pintu kamarnya tersebut. Daffa segera membuka pintu tersebut dan mempersilahkan dokter Ana masuk.
"Permisi tuan Daffa, saya ingin memeriksa keadaan istri anda." ucap dokter Ana, lalu mengambil tempat untuk memeriksa keadaan Nadia.
Nadia yang sedang tertekan saat ini.
"Tuan Daffa, menurut pengamatan saya, setelah memeriksa istri anda. ia hanya merasa kelelahan dan juga banyak pikiran, usahakan ia banyak istirahat dan jauhi ia dari setress berat." ucap dokter Ana, menjelaskan perihal sakitnya Nadia.
"Apakah tidak ada gejala kehamilan pada istri saya dokter?" tanya Daffa berharap dokter Ana memberikannya kabar baik untuk mereka.
"Belum ada tanda-tanda kehamilan pada tubuh nona Nadia, jika ingin merencanakan program hamil, sebaiknya, jangan biarkan dia berada dalam masalah yang membuatnya gampang terpicu setress yang berlebih, bebaskan pikirannya dari hal-hal yang membuatnya gampang terserang rasa panik." jelas dokter Ana kepada tetangganya ini.
"Semalam dia kehujanan dokter, apakah berpengaruh dengan sakitnya ini?" tanya Daffa menjelaskan apa yang terjadi dengan Nadia sampai ia jatuh sakit.
"Itu hanya awal penyebabnya saja, tapi bukan faktor utamanya, ia sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya tidak bisa melampiaskan kepada siapapun." ucap dokter Ana yang membuat hati Daffa sangat kecewa.
"Terimakasih dokter atas penjelasannya." ucap Daffa singkat.
"Saya akan menuliskan resep obat untuk istri anda tuan dan tolong anda tebus secepatnya, supaya sakit istri anda tidak berlanjut, saya permisi dulu tuan Daffa, tolong jaga istri anda karena ia sangat cantik bahkan tak terkalahkan oleh artis manapun, kamu beruntung mendapatkannya tuan Daffa, aku sebagai wanita saja, sangat iri dan juga kagum dengan kecantikan istrimu. Kalau begitu saya pamit mau langsung ke rumah sakit, semoga cepat sembuh nona Nadia." ucap dokter Ana yang sudah memiliki dua putri ini.
"Terimakasih untuk pujian dan bantuannya dokter, saya akan segera menebus obat ini di apotik terdekat." ujar Daffa sambil mengantarkan dokter Ana ke depan pintu keluar apartemennya.
🌷🌷🌷
Daffa memberikan obat minum untuk Nadia, ia kemudian menyelimuti tubuh istrinya itu. Nadia hanya diam karena tubuhnya seperti tidak lagi bertenaga. Daffa kembali membuka lagi baju kerjanya dan naik ke atas tempat tidur menemani istrinya. Nadia hanya menatap wajah tampan suaminya dengan tatapan matanya yang semakin lama semakin menampakkan bulir bening yang pelan-pelan jatuh ke samping ujung ekor matanya.
"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?" apakah kamu mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui?" tanya Daffa yang mulai kuatir, jika kakeknya menghubungi Nadia dan meminta hal yang sama yang di ancam oleh kakeknya pada dirinya.
"Aku tidak memikirkan apa-apa mas Daffa, mungkin aku hanya kecapean saja ko." ucap Nadia mencoba membohongi suaminya.
"Sayang, apakah kamu sedang merasakan sesuatu yang menganggu pikiranmu?" mungkin ada kesalahan besar yang aku lakukan, hingga membuatmu terluka dan kamu sengaja menyembunyikan dariku, supaya kita tidak akan saling berseteru." ucap Daffa yang terlihat sedang mengintrogasi istrinya.
Nadia memalingkan wajahnya, ia berusaha meniupkan hawa udara dari mulutnya untuk mengendalikan gejolak perasaannya yang sudah makin sakit seakan mendapat tembakan ribuan anak panah yang tertancap tepat di relung hatinya. Andai saja masalah ini, hanya menyangkut dengan gadis yang dihamili suaminya, mungkin ia akan membantu Daffa untuk menelusuri kebenaran dari kehamilan gadis itu, namun yang ia dikuatirkan saat ini adalah nasib ibu kandung dari suaminya yang akan menjadi taruhan pada nasib pernikahannya juga.
"Ya Allah, ujian apa ini?" aku pikir ketika suamiku menerimaku seutuhnya, semuanya akan kembali normal. Aku akan menjalani kehidupan seperti pasangan lainnya, memiliki anak dan mengurus mereka, serta melayani suamiku. Bukankah itu keinginan yang sederhana?" andaipun ada keributan kecil, itu juga hanya bumbu cinta dalam rumah tangga, supaya lebih saling mengenal satu sama lain watak mereka, untuk lebih saling menguatkan rasa cinta diantara hati suami istri." ucap Nadia dalam diamnya.
"Hei, ko bengong sayang, aku sedang menanyakanmu sayang, jangan memalingkan wajahmu seperti itu," bujuk Daffa seraya meraup lagi wajah Nadia menghadap ke wajahnya.
"Mas Daffa harusnya bekerja tadi, supaya aku bisa istirahat, kalau mas Daffa di sini, bagaimana aku mau sembuh," ucap Nadia mengalihkan pertanyaan Daffa pada dirinya, yang enggan untuk ia jawab.
"Tidak!" kamu masih lemah sayang, aku tidak mau kamu nanti pingsan lagi dan aku tidak tahu itu terjadi, itulah yang membuatku sangat kuatir padamu, lagian kamu juga, tadi bangun tidur jam 3 pagi, pasti sekarang kamu masih lelah." ucap Daffa lembut pada istrinya.
"Aku sudah biasa bangun jam segitu, jadi nggak ada pengaruhnya sama sekali dengan sakitku ini." ucap Nadia yang tidak ingin lagi berdebat dengan suaminya.
"Kamu mau makan sesuatu?" biarkan aku siapkan untukmu atau kamu mau aku beliin apa sayang?" biar nanti aku yang akan memesankan untukmu." ucap Daffa dengan membelai lembut pipi istrinya.
"Aku tidak mau apa-apa mas, aku hanya ingin tidur, bolehkah?" tanya Nadia yang meminta izin pada suaminya.
"Baiklah kalau kamu memang mau tidur, aku akan menemanimu tidur juga, lagian diluar sana masih hujan, enakkan juga didalam selimut temanin kamu tidur," ucap Daffa lalu mencium kedua mata, pipi, hidung dan terakhir bibir Nadia.
Bibir itu kemudian dilumatnya, ia kemudian sedikit memaksa memasukkan lidahnya kedalam rongga mulut Nadia, lalu menarik lidah istrinya untuk dihisapnya. Alih-alih ingin memberikan kesempatan istrinya tidur. Mereka kembali memadu kasih, menyatukan kembali tubuh mereka, hingga keduanya lelah. Mendapati perlakuan suaminya yang tidak bisa berhenti untuk menghajarnya dengan kenikmatan.
Nadia kembali mengerang. Rasa geli itu kembali datang seakan panas tubuhnya berubah berganti dengan kehangatan hormon kebahagiaan. Nadia kembali mende**h, rasa ini, sentuhan ini, lebih mujarab dari pada obat dokter yang ia sudah minum tadi.
"Mas Daffa, oh sayang, akkkhgg...ssst..!" panggilan nama suaminya membuat pemilik tubuhnya makin menjadi liar dan gila hingga ia memekik setelah puncak yang didaki telah mencapai tempat kenikmatannya.
"Mas Daffa, aku akan kehilangan rasa yang selalu kamu berikan ini." ucapnya membatin lalu bulir bening itu jatuh terarah dari lekukan wajah cantiknya.