
Daffa menggendong tubuh Nadia yang sudah terlelap dalam pelukannya, sedikit kesulitan untuk menekan nomor kode sandi pintu apartemen miliknya. Sedikit bersusah payah akhirnya, ia bisa masuk sambil membawa Nadia menuju di atas pembaringannya.
Ia membuka kembali jilbab syar'i milik Nadia, membiarkan gadisnya kembali mengembara ke alam mimpinya. Daffa memperhatikan wajah cantik Nadia, dari mata, hidung, iris, dan bibir serta rambutnya yang panjang, terurai indah menghiasi kecantikan gadis ini ditambah dengan kulitnya yang putih bersih.
Lama ia menatap wajah cantik Nadia yang hampir dua bulan lebih ia tidak lagi menikmati peri cantiknya ini. Setelah puas menatap wajah cantik istrinya, ia lalu merambah ke perut Nadia yang belum begitu kelihatan, masih ramping seperti biasanya. Hanya belahan dadanya yang makin montok dan lebih besar karena pengaruh hormon kehamilannya. Tubuh Nadia lebih berisi dengan pinggul yang membentuk indah tampak makin padat.
Daffa memberanikan dirinya untuk mengusap perut mantan istrinya ini, ia tidak sabar menyapa calon bayinya yang ada di kandungan Nadia. Dengan hati-hati ia mencium perut rata itu, dan menangis di sana, hatinya sangat nyeri membiarkan pertumbuhan bayinya tanpa ia tahu perkembangan kehamilan Nadia.
Nadia yang baru saja mengerjapkan matanya, merasa ada yang sedang menindih perutnya lalu ia melihat kepala Daffa yang sedang menindih perutnya sambil menangis. Hatinya terasa pilu melihat kesedihan lelaki ini yang sangat ingin dekat dengan calon bayi mereka. Nadia membelai rambut Daffa dengan penuh kasih sayang, Daffa mengangkat wajahnya dari perut Nadia, lalu menatap wajah cantik Nadia yang tampak pucat.
"Mas mengapa membawaku ke sini, aku ingin pulang." ucap Nadia lirih kepada Daffa.
"Sayang kamu sudah pulang, kamu sudah sampai di tujuan sayang, ini rumah kita." ucap Daffa lalu mencium pipi Nadia lembut.
"Sayang kita sudah berce...!" ucap Nadia yang tidak bisa diselesaikan karena Daffa sudah membungkam mulutnya, dengan memagut bibir sensual Nadia.
Tanpa memberi kesempatan Nadia untuk menolak, Daffa mengangkat baju abaya yang dipakai Nadia, hingga tubuh indah itu terpampang indah. Nadia sudah pasrah karena suaminya benar-benar ingin rujuk dengannya, karena dirinya masih dalam keadaan masa Iddah, jadi tidak ada larangan jika seorang suami kembali lagi menggauli istrinya ketika si istri masih dalam masa Iddah kecuali, masa Iddah itu sudah berlalu maka suami wajib menikahi lagi dengan istrinya.
"Jika seorang suami menalak istrinya dengan talak satu atau talak dua, maka dia berhak rujuk kepadanya selama masa iddahnya belum habis. Jika masa iddah telah habis maka sang suami boleh menikahinya dengan akad yang baru."
Daffa dengan lembut menyentuh setiap jengkal tubuh Nadia, dengan bibirnya, lalu mengecup di ceruk leher istrinya. Kini ciuman itu berpindah ke bagian dada Nadia, yang kini membusung indah sehingga gairah Daffa, makin menjadi gila. Dikulumnya dua pu*ing itu secara bergantian, seakan ia sedang menemukan oase di tengah padang pasir yang sudah berhari-hari mencari sumber air untuk melepaskan dahaganya.
Tangannya juga tidak bisa di biarkan menganggur, dengan lihainya ia mere***s satu bukit kembar itu dan satu tangannya bermain dibawah lembah sempit yang sudah mulai mengeluarkan cairan bening milik gadisnya yang makin basah di bawah sana.
Nadia berusaha bangkit dengan setengah duduk menyenderkan tubuhnya ke kepala tempat tidur, dengan paha yang sengaja dibuka lebar untuk memperlihatkan miliknya pada suaminya.
Daffa bersorak kegirangan dalam hatinya, karena Nadia ingin mengimbangi awal permainan mereka dengan pemanasan ringan yang diciptakannya. Daffa kembali memagut bibir sensual itu, dengan tangannya tidak berhenti menyusup keluar masuk ke dalam lembah sempit itu.
Nadia tidak mau ketinggalan, ia mencari milik Daffa yang menggantung indah di bawah perut itu yang sudah makin mengeras dengan ujung yang mengacung mencari sasaran yang ingin dimasukinya. Nadia beralih mengulum benda pusaka itu, dengan menjilat dan memasukkan benda panjang dan padat itu kedalam kerongkongannya, hingga membuat Daffa mende**h ketika Nadia memainkan miliknya dan ia merasakan miliknya begitu hangat dalam mulut gadisnya.
Daffa menahan kepala Nadia agar lebih dalam menyekap miliknya ke dalam kerongkongan gadisnya ini, sehingga membuat Nadia sedikit tersedak, tapi Nadia mampu mengendalikannya.
"Ahhhkkhh, sayang istriku Nadia!" ucap Daffa yang merasakan ngilu pada daerah sekitar benda pusakanya.
Daffa yang tidak tahan lagi, merebahkan tubuh istrinya, melebarkan kedua paha Nadia yang dialas dengan bantal dibawahnya, sebelum ingin dimasuki dengan pusaka miliknya, ia mengulum biji kenyal itu dan bermain di liang sempit itu yang makin ranum nan menggoda. Puas ia menghisap cairan bening milik Nadia sampai istrinya mencapai puncak kenikmatan itu dengan meneriaki namanya.
"Mas Daffa, sayang.. akkhhjk!" aku merindukan sentuhan hangat darimu sayang" ucap Nadia yang makin menggeliatkan tubuhnya ketika miliknya diserang oleh mulut Daffa yang menggasak bibir bagian bawah perutnya dengan sesekali menggigit dan menghisap.
Setelah dua menit berlalu Daffa memasukkan miliknya ke dalam milik istrinya yang makin sempit karena sudah lama ia tidak bertemu dengan sarang sempit milik Nadia. Keduanya serentak memekik karena melakukan penyatuan tubuh itu dengan meresapi setiap getaran yang terasa pada milik mereka yang sudah kembali menyatu setelah sekian lama terpisah.
Suara erangan dan lenguhan erotis itu terdengar merdu nan menggoda membakar setiap simpul syaraf milik Daffa untuk lebih semangat memberikan kepuasan kepada Nadia.
Daffa pelan-pelan memacu tubuh indah istrinya, menghentakkan berkali-kali pada milik istrinya. Nadia yang menyambut hentakan tubuh Daffa dengan liukan tubuhnya hingga keduanya mencapai puncak surga ke tujuh yang tidak bisa mereka ungkapkan dengan kata-kata, selain kata puas.
"Akkhhh.. sayangkuh mas Daffa, aku mencintaimu sayang!" teriak Nadia dengan ucapan yang sangat jelas terdengar oleh Daffa yang menyambut perkataan itu dengan berkata,
"Nadia istriku, kamu milikku, jangan pernah tinggalkan aku sayanggg.. akkhhh!" teriak Daffa lalu jatuh di atas tubuh polos istrinya, sambil memagut lagi bibir sensual milik istrinya dengan sangat rakus.
Nadia menyambut dengan ******* dan hisapan yang sama seolah berlomba saling berebutan saliva masing-masing. Tenaga keduanya sudah terkuras, peluh membanjiri sekujur tubuh, iringan nafas tersengal karena birahi yang telah terpuaskan, ketika berada di atas puncak menara kenikmatan yang tiada tara.
Daffa mengecup lembut perut istrinya, Nadia membelai punggung Daffa yang basah karena keringat, namun yang mengejutkan Nadia Daffa beralih ke bawah lembah sempit miliknya, lalu menghisap cairan mereka yang terdapat di liang miliknya yang sedang membanjiri sekitar **** *************, Nadia hampir dibuat gila oleh Daffa yang kembali merangsangnya dengan hisapan bibir nakal milik lelaki tampan, yang sangat ia cintai ini, hingga permainan panas itu kembali berulang sampai keduanya terlelap dengan posisi Daffa yang sedang berada di antara paha gadisnya yang kembali mengisap sisa cairan bening milik istrinya dan juga dirinya, hingga ia tertidur seperti bayi yang sudah kenyang. Keduanya sudah tidak sadarkan diri sampai masuk waktu azan subuh.
🌷🌷🌷
Keesokan harinya, wajah Daffa dan Nadia yang sudah nampak cerah dan ceria ini, seperti sinar matahari pagi yang sedang menyapa bumi, dengan kehangatannya. Nadia kembali ke awal tugasnya, menyediakan sarapan pagi untuk suaminya. Beruntunglah Nadia karena Daffa sudah menyiapkan baju ganti untuk dirinya yang sengaja Daffa beli dan disimpan di ruang ganti, entah mengapa, ia menyiapkan semua kebutuhan wanita khususnya untuk Nadia, ia merasa bahwa suatu hari nanti ia bisa membawa pulang lagi gadisnya ini.
"Sayang, selamat datang kembali bidadariku, aku lebih semangat hari ini, apa kabar babyku cinta?" tanya Daffa dengan mengecup perut Nadia dan mengajak bicara calon bayinya diperut istrinya.
"Baik, ayahku tampan, aku sehat- sehat saja di sini, jadi jangan kwartir ya." ucap Nadia meniru suara anak kecil.
"Sekarang apa kabar mamanya!" tanya Daffa lalu beralih ke bibir Nadia dengan melesakkan lidahnya di dalam sana seolah mengabsen satu persatu gigi istrinya.
Nadia membalas lagi ciuman suaminya hingga Daffa merasa puas.
"Mas Daffa nggak berangkat ke perusahaan?" tanya Nadia yang heran Daffa masih menggunakan piyama tidurnya usai keduanya senam lidah.
"Nggak sayang, keadaanmu sangat parah kalau sedang mual, aku mana tega meninggalkanmu sendirian di sini." ucap Daffa sambil mengunyah roti burger yang disiapkan Nadia untuknya.
juga stabil Daffa nekat rujuk dengannya.
Disisi lain ia sangat berharap bersatu lagi dengan Daffa, tapi cinta mereka ini, akan mengorbankan perasaan orang lain jika tahu mereka sudah rujuk kembali.
"Ya Allah, aku pasrah atas kehendak-Mu, jika ini perbuatan baik antara kami berdua, ridhoi ya Allah, jika kami harus kembali diuji, aku mohon berilah kami kesabaran dan solusi untuk menyelesaikan cobaan dariMU ya Allah... aamiin, ucap Nadia membatin, yang saat ini sudah dalam pangkuan Daffa.
"Itu urusanku sayang, aku yang akan menghadapi mereka semua untuk memperjuangkan kembali dirimu, aku rela melakukan apapun untuk bisa bersamamu." ucap Daffa sambil mencium ceruk leher jenjang milik istrinya yang sangat harum pagi ini.
"Tapi mas, aku sangat takut jika mereka menyakitimu lagi, melukai harga dirimu, aku tidak sanggup mendengar hinaan itu lagi." ucap Nadia.
"Bukankah kita bersama Allah, mengapa kamu takut, jika kamu sendiri yang mengatakan kepadaku jika kita berada dijalan yang lurus, Allah berada di depan kita untuk melindungi kita dari orang-orang zalim.
"Terus bagaimana dengan ummi, kita harus ketemu ummi sayang, aku merasa nggak enak karena adik kembarku sudah berbohong kepada ummi demi melindungiku karena mereka tahu kita saat ini bersama." ucap Nadia yang masih bingung dengan sikap Daffa yang tidak begitu peduli dengan orang lain.
"Alhamdulillah aku punya adik ipar yang sangat pengertian, aku akan memberikan mereka sesuatu yang mereka inginkan, kira-kira apa yang adikmu paling suka saat ini sayang?" tanya Daffa yang makin erat memeluk pinggang istrinya.
"Mas Daffa, kasihan anakmu tergencet di dalam kalau kamu peluk aku seperti ini." ucap Nadia yang ingin melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Pagi ini ummi kamu pasti sedang mengajar, nanti sore saja kita ke rumahmu." ucap Daffa yang kembali melepaskan dress seksi milik Nadia.
Tubuh istrinya yang hanya menggunakan dress tanpa pakaian dalam ini, hingga memudahkan pekerjaan Daffa dalam misinya yang ingin mendapatkan lagi tubuh itu, untuk memenuhi kebutuhan syahwatnya yang masih belum tuntas. Nadia melayani lagi keinginan suaminya tanpa ada keluhan walaupun raganya sendiri masih lemah, namun begitu, ia juga menginginkan hal yang sama, seperti suaminya yang ingin memuaskan jiwanya yang gersang, karena kerinduannya pada sentuhan suaminya. Ditengah gempuran ombak birahi yang sedang mengikis kerinduan batin mereka, dua ponsel milik keduanya berdering bersamaan. Keduanya tidak memperdulikan panggilan itu.
Seakan ingin menenggelamkan bunyi yang menganggu itu, Daffa menyerang istrinya dengan permainan yang disukai oleh Nadia hingga erangan dan lenguhan yang menggetarkan jiwa dan sanubarinya, Nadia berteriak karena kehebatan Daffa mengusai dirinya. Hentakan terakhir pada tubuhnya menyempurnakan permainan yang melelahkan namun juga menyenangkan.
Usai melepaskan lelahnya, Daffa meraih ponselnya dan juga milik Nadia, keduanya sama-sama melihat panggilan masuk yang satu dari maminya Daffa sedangkan yang satu lagi umminya Nadia. Keduanya saling berpandangan karena merasa ada yang darurat dalam panggilan itu.
"Mas Daffa sepertinya ini sangat penting, apa aku harus menghubungi balik ummi?" ucap Nadia yang nampak kalut.
"Baiklah kita akan ke rumah kamu duluan, baru ke mansion mami aku." ucap Daffa sambil mengecup bibir istrinya.
"Aku mandi dulu ya sayang." kata Nadia yang ingin turun dari tempat tidurnya.
"Tidak, kita mandi berdua. Ayo aku gendong kamu ke kamar mandi." ucap Daffa seraya menarik lengan Nadia membawa gadisnya ke kamar mandi.
"Nanti urusannya lama lagi kalau mandi berdua sama mas Daffa." ucap Nadia sambil mengerucutkan bibirnya.
"Itu sudah hukum alam sayang, jadi terimalah konsekwensinya cantik, hmm..muuacch!" ucap Daffa sambil melangkahkan kakinya membawa tubuh Nadia ke kamar mandi.
🌷🌷🌷
Di sore hari, di tempat yang berbeda, ummi Kulsum terus menghubungi Nadia karena ia baru saja pulang sekolah mampir ke rumah Rima teman dekat Nadia. Namun Rima masih belum pulang dari kantornya.
"Ya Allah Nadia kamu ke mana sayang, di telepon nggak dijawab, bikin kesal aja." gerutu ummi Kulsum kepada putrinya itu.
Ummi Kulsum meraih lagi tasnya, hendak mencari informasi tentang Nadia di kediaman nyonya Laila, baru saja ia membuka pintu, terdengar suara salam dari Nadia dan Daffa yang datang bersama. Caci maki kembali terjadi, ummi Kulsum menegur Daffa dengan kata-kata penghinaan, hal ini membuat Nadia tidak mampu lagi menahan tangisnya.
"Assalamualaikum ummi!" ucap Nadia sembari menyalami tangan umminya.
"Waalaikumuslam Nadia, apakah kamu bersama dengan lelaki ini lagi, bukankah ummi sudah bilang jika ummi tidak suka melihatnya lagi di rumah kita." ucap umi Kulsum sinis menatap wajah tampan Daffa.
"Ummi tolong dengar kami dulu, tolong jangan memperkeruh suasana dulu ummi, aku dan mas Daffa ingin bicara dengan ummi tentang hubungan kami." ucap Nadia berharap agar umminya mau mendengar penjelasannya dengan Daffa.
"Apa yang kalian ingin sampaikan?" tanya umminya ketus.
"Ummi saya dan mas Daffa sudah rujuk." ucap Nadia dengan kepala tertunduk.
"Nadiaaa!" mengapa kamu tidak diskusi dengan ummi dan abi dulu, sebelum kamu bertindak untuk rujuk dengan putra dari seorang wanita pela**r ini?" tanya umminya dengan rasa kecewa kepada putrinya.
"Ummi, Daffa mohon maaf sudah mengecewakan ummi, Daffa lakukan ini karena Nadia sedang hamil dan aku tidak ingin membiarkan istri dan anakku dalam kandungannya tanpa aku disisi mereka." sahut Daffa tegas.
"Degg!" wajah Ummi Kulsum seketika pucat pasi, ia tidak menyangka bahwa apa yang dari awal ia harapkan agar Nadia bisa hamil supaya rumah tangganya bisa diselamatkan dengan kehadiran seorang anak untuk keluarga besar Daffa.
Dan sekarang ketika ia mengetahui bibit bebet bobot Daffa, ia begitu enggan untuk memiliki cucu dari seorang putra yang memiliki ibu mantan wanita penggoda pria hidung belang.