SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
53. HARI KEMENANGAN


Di malam lebaran Nadia sibuk membantu umminya menyiapkan menu masakan untuk di hidangkan di hari lebaran esok hari. Tidak lama terdengar bunyi bel rumah, Fadil yang berada di depan ruang tamu segera membuka pintu dan ternyata yang datang adalah Daffa dalam keadaan panik.


"Assalamualaikum Fadil, apakah ada mbak Nadia?" tanya Daffa dengan wajahnya yang sangat pucat.


"Ada mas, ayo masuk dulu." Ucap Fadil lalu membuka pintu lebih lebar untuk kakak iparnya.


Ustadz Aditya menghampiri menantunya ini dan menanyakan keadaan Daffa.


"Apa kabar Daffa!" Apakah ada sesuatu yang membawamu kemari?" Tanya ustadz Aditya sedikit sinis kepada menantunya ini.


"Alhamdulillah Abi, saya tidak sedang dalam baik-baik saja, saya datang ke sini memohon ijin kepada abi dan ummi untuk membawa Nadia ke rumah sakit, karena hafiz saat ini dalam keadaan sakit parah, tubuhnya kejang-kejang." Ucap Daffa menahan gugupnya menghadapi ayah mertuanya ini.


"Mas Daffa!" Ada apa mas? ada apa dengan Hafiz?" tanya Nadia yang sudah berada dibalik punggung suaminya.


"Nadia, putra kita sedang sakit sayang, sekarang ini dia dirawat di RS, tolong sayang temui anak kita!" Ucap Daffa yang sudah sangat frustasi.


Ummi Kulsum yang ingin berteriak membentak Daffa dicegah oleh suaminya dengan menggeleng kepalanya, agar istrinya tidak boleh lagi melarang putri mereka pergi dengan suaminya. Fadil dan Fadhlan memohon kepada abinya, agar merelakan Nadia untuk pergi ke rumah sakit menengok keponakan mereka. Nadia masih menunggu ridho dari abinya tanpa mau melihat wajah umminya.


"Pergilah Nadia!" temui bayimu, beri kabar kepada kami tentang perkembangannya, besok sepulang dari sholat Ied abi akan menengok cucu abi bersama dengan ummi kamu," ucap ustadz Aditya kepada putrinya.


"Jazzakallah Abi, umi, Nadia berangkat dulu, assalamualaikum!" pamit Nadia setelah mencium tangan Abi dan umminya diikuti oleh Daffa.


"Terimakasih abi dan ummi," ucap Daffa santun lalu menggenggam tangan istrinya untuk berangkat ke rumah sakit.


"Aku ikut mas Daffa!" teriak Fadhlan yang sudah melepaskan handsetnya yang sejak tadi dipakai olehnya untuk mendengarkan takbir.


Daffa hanya memberi isyarat dengan tangannya mengizinkan adik iparnya itu untuk ikut.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Daffa mengendarai mobilnya cukup kencang. Keadaan jalan yang lengang di temani suara gema takbir makin membuat Daffa dan Nadia terus menerus menangis mengingat bayi mereka yang saat ini sedang terbaring sakit.


"Mengapa mas Daffa nggak telepon saja Nadia, supaya Nadia langsung ke rumah sakit." Ucap Nadia yang menyayangkan sikap suaminya yang kurang tanggap di situasi yang sangat genting ini.


"Bukankah kamu yang mengatakan kita harus lebih mengutamakan adab, makanya aku ingin meminta ijin pada abimu secara langsung supaya bisa membawamu ke rumah sakit." Jawab Daffa yang tidak ingin disalahkan oleh istrinya.


"Ya Allah semoga putraku dalam keadaan baik-baik saja." Ucap Nadia langsung di aamiinkan oleh suaminya dan adiknya Fadlan.


Daffa memarkirkan mobilnya, lalu bersama Nadia dan adik iparnya, ketiganya sama-sama menuju ke kamar inap VVIP di mana baby Hafiz saat ini sedang di rawat.


"Mungkin ia sedang merindukanmu sayang, makanya dua hari ini tidak melihatmu membuatnya malas minum susunya." Ucap Nyonya Laila untuk memberikan informasi tentang bayi putranya Daffa dan Nadia.


"Maafkan bunda sayang karena tidak bisa berada di sisimu setiap waktu,... hiks..hiks.. hiks!" tangisnya makin menjadi.


"Sayang, kita doakan semoga Allah segera mengangkat penyakitnya dan kita bisa merayakan hari kemenangan bersama esok hari. Mungkin dengan kehadiranmu, bayi kita akan segera sembuh." Ucap Daffa menenangkan hati istrinya.


"Daffa!" mami dan ayah pulang dulu, besok kita gantian nungguin baby Hafiz. Kalau kita semua berada di sini, malah pada kelelahan semuanya." Ucap tuan Edy mengingatkan putranya.


"Baiklah ayah, pulanglah bersama mami dan terimakasih mami sudah mau menemani baby Hafiz." Ucap Nadia tulus kepada ayah mertuanya itu.


Mami Laila memeluk menantunya Nadia, entah mengapa hatinya sangat pilu melihat ketabahan menantunya ini.


"Sayang kami sangat merindukanmu kembali ke rumah kita, semoga hari kemenangan esok menjadi milikmu atas buah kesabaranmu menjalani sebuah pengorbanan yang tidak semua manusia bisa melaluinya." Ucap mami Laila sebelum meninggalkan rumah sakit tersebut.


"Aamiin, insya Allah semoga kita kembali bersama." Ucap Nadia mengecup pipi mertuanya.


"Oh ya Daffa besok sebelum subuh mami akan meminta pak Ramli , mengirim peralatan sholat dan ketupat lebaran untuk kalian" ucap maminya lalu meninggalkan suami istri ini untuk kembali ke mansionnya.


Di sisi lain ustadz Aditya menasehati istrinya yang masih tidak rela putrinya kembali ke rumah keluarga suaminya.


"Ummi, cukuplah engkau menyiksa putrimu. Selama ini ia sangat menuruti maumu hingga putranya jatuh sakit, pikirkan sedetik saja untuk menjadi dirinya, yang sengaja kamu pisahkan dengan putranya yang baru lahir demi keegoisanmu itu." Ujar ustadz Aditya yang geram dengan istrinya ini.


"Tapi Abi, tidakkah Abi sendiri merasakan imbas dari permasalahan keluarga itu pada nama baik kita, berapa bulan kita harus menderita karena terpaan gosip itu baik yang dimuat diberita maupun dari kalangan jamaah yang sudah terhasut oleh berita yang sempat heboh itu." Ucap ummi Kulsum yang masih dendam bagaimana perlakuan orang di luar sana terhadap keluarganya.


"Tapi sejalannya waktu mereka lambat laun melupakannya ummi, mereka akan ramai bergosip karena beritanya masih hangat untuk dikonsumsi, bagaimana dengan kebahagiaan putri kita, apakah ummi mampu menggantikannya dengan kepuasan orang diluar sana yang sudah menjatuhkan harga diri kita?" Timpal ustadz Aditya untuk meredakan amarah istrinya.


"Lihat saja nanti Abi, tidak semudah itu keluarga Subandrio Diningrat melewati beberapa rintangan yang telah diperbuat olehnya, apa lagi Daffa bukan hanya memiliki putri kita saja dalam hidupnya, akan tetapi ia juga memiliki Anjani yang akan menghancurkan kehidupan putri kita.


Aku memiliki firasat buruk abi, jika Nadia kembali ke keluarga itu sama saja masuk ke dalam lembah neraka selanjutnya." Ucap ummi Kulsum yang merasa putrinya tidak bisa menemukan kebahagiaan jika kembali bersama dengan Daffa.


"Biarkan waktu yang membuktikan kebenarannya ummi, cukuplah doa dan tawakal yang kita miliki saat ini, biarlah mereka melewatinya dengan iman dan ikhtiar mereka, dukung mereka ummi dan besok adalah hari kemenangan Ketika umat Islam sudah melewati masa kritisnya untuk menahan diri dari segala godaan juga memperbanyak amal untuk mendapatkan ampunan dari Allah, tidakkah ummi memikirkannya?" Jika ummi masih bersi keras, pahala ummi hanya dihadiahkan kepada orang-orang yang ummi benci dan ummi termasuk orang yang bangkrut." Ucap ustadz Aditya lalu memilih tidur karena beliau akan memberikan khotbah sholat Ied esok hari di salah satu mesjid di Jakarta.


Ummi Kulsum hanya merenungi perkataan suaminya, antara sedih, kecewa dan harus merelakan putrinya bersama dengan menantunya Daffa. Hatinya masih berat untuk putrinya mengenyam kebahagiaannya jika ada wanita lain yang setiap waktu bisa menghancurkan kebahagiaan putrinya.


"Ya Allah jika keputusan suamiku benar dengan jalan yang dia ambil untuk putri kami, maka mudahkan jalan itu, namun jika kebahagiaannya hanya sementara, kembalikan putriku kepadaku ya Robbi karena aku tidak ingin melihatnya terluka. Aamiin." Doanya mengakhiri perdebatannya dengan suaminya yang sudah melewati pintu mimpi indahnya malam ini.