SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
21. SIDANG PERCERAIAN


Daffa dan Nadia berjalan beriringan menuju ruang sidang pengadilan agama Jakarta Selatan. Ketika mendekati ruangan itu, Nadia pamit ingin ke kamar mandi karena merasa ingin pipis. Daffa menawarkan diri untuk menunggunya namun di tolak oleh Nadia.


Daffa pun berlalu meninggalkan Nadia dan masuk ke ruangan sidang yang sudah banyak orang berkumpul, menunggu jalannya sidang perceraian mereka, diantara mereka ada keluarganya dan juga keluarga Nadia, yang lebih membuatnya shock ada keluarganya Anjani yang turut hadir dalam sidang perceraiannya itu.


Daffa hanya menghampiri maminya, mencium tangan dan kedua pipi ibu yang telah melahirkannya itu. Nyonya Laila menangis dalam pelukan putranya, ia sangat tidak rela jika putranya harus berpisah dengan gadis pilihannya. Daffa kemudian beralih pada keluarga Nadia, satu persatu ia menyalami keluarga sholeh itu. Sebenarnya ia sangat malu dengan kedua mertuanya karena menceraikan putri mereka dengan cara yang sangat menyakitkan, tapi ia bisa apa, jika dirinya sendiri harus terpasung pada kenyataan pahit yang harus ia terima karena ancaman dari kakeknya sendiri. Daffa bersimpuh dibawah kaki ayah mertuanya dan memohon maaf atas ketidakberdayaannya.


Namun ia tak menyangka, nasehat bijak yang didapatkan dari ayah mertuanya ini, bahwa hidup tetap harus dijalani, inilah kehidupan sebenarnya, tidak perduli kau suka atau tidak, kau hanya ditunjuk sebagai pemeran bukan sebagai sutradara yang bisa seenak hati mengatur hidupmu seperti yang kamu inginkan. Dada lelaki tampan ini makin terguncang dengan tangis kepedihan yang ia rasakan, betapa tidak, keluarga Nadia begitu legowo menerima setiap permasalahan sebagai bagian takdir dari Allah, tidak ada sedikitpun kemarahan yang mereka perlihatkan kepada Daffa menantunya, yang telah dengan tega menceraikan putri mereka.


"Ya Allah, mengapa keluarga ini begitu tangguh, mengapa keluarga ini tidak memakinya atau menamparnya, mengapa ya Allah, mereka begitu sabar menerima cobaan yang mengerikan seperti ini." tanya Daffa dalam tangisannya di bawah kaki ayah mertuanya.


Inikah ajaran Islam sesungguhnya, menilai sesuatu yang sudah terjadi dengan iman mereka, bukan dengan pikiran dan hati mereka, yang hanya dikuasai oleh na*su amarah. Ustadz Aditya begitu hebat mengolah emosinya, hal ini yang ia terapkan kepada keluarganya, tidak mudah putus asa dan mengeluh, karena setiap permasalahan yang datang pasti punya makna sendiri untuk mendidik kita agar lebih mengenal zat Allah sesungguhnya. Allah tidak akan meninggalkan hambaNya sendirian dalam kesulitan yang sedang dialaminya, cukuplah Allah sebagai penolong dalam setiap kemelut yang kini terjadi pada diri hambaNya yang beriman.


Diluar sana, di dalam toilet umum, Nadia yang berpapasan dengan Anjani untuk pertama kalinya mereka bertemu. Anjani yang mengetahui kalau gadis bercadar ini pasti istrinya Daffa yang akan menjadi calon suaminya kelak.


"Hai, apakah kamu istrinya mas Daffa, atau akan menjadi jandanya mas Daffa?" Tanya Anjani sinis dengan gaya berdiri angkuh, sambil bersedekap menatap pupil mata Nadia yang sedang mencuci tangannya di wastafel yang ada di toilet tersebut.


"Apakah ada masalah mbak?" Tanya Nadia yang pura-pura tidak tahu kalau itu adalah Anjani, wanita yang telah mengaku jika suaminya yang telah menghamilinya.


"Kalau kamu benar istri mas Daffa, perkenalkan nama saya Anjani, saya yang akan menggantikan tempatmu di hati mas Daffa nanti, setelah kalian resmi bercerai." Ucap Anjani sambil tersenyum sinis lalu menjulurkan tangannya hendak berkenalan dengan Nadia.


"Anda bukan orang yang penting untuk saya, jadi saya tidak perlu mengenal anda." Balas Nadia datar dan mengabaikan uluran tangan Anjani yang ingin berjabatan tangan dengannya.


"Supaya kamu tahu aja ya!" Akulah gadis impian Daffa, gadis yang pertama kali menyentuh hati Daffa, kalau bisa dibilang sih aku adalah cinta pertamanya mas Daffa." Ucap Anjani angkuh lalu menarik kembali tangannya.


"Kamu memang orang pertama dihatinya mas Daffa, namun sayalah gadis yang menjadi pilihan terakhir yang dinikahinya secara sah dan nama saya telah tercatat dalam buku nikahnya." Ucap Nadia sarkas menatap tajam wajah wanita ular ini.


"Ha..ha..ha.. sombong sekali kamu, bahkan kelewat PD menurutku, hai gadis kampung, dengar ya!" aku sebentar lagi yang akan menyingkirkanmu dari hidup mas Daffa, kamu sebentar lagi hanya menjadi jandanya saja, lagi pula aku heran bagaimana bisa mas Daffa memilihmu untuk menjadikanmu istrinya, dengan penampilanmu seperti ini?" Ucap Anjani kasar pada Nadia yang masih sabar melayaninya.


"Jangan terlalu yakin mbak, jika kamu belum tahu ending hidupmu seperti apa nanti, kamu hanya bagian masa lalunya yang ingin dibuangnya, namun satu kesalahannya yang telah ia lakukan padamu, yaitu menjamah tubuhmu murahanmu itu, hingga ia dipaksa oleh keluargamu itu, untuk menceraikan aku. Ingatlah jika kamu ingin memiliki Daffa dengan cara menjebaknya dengan kehamilanmu itu, maka ketahuilah bahwa jika kamu berbuat makar untuk mendapatkannya, maka Allah yang membuat makar yang sebenarnya untuk menghancurkanmu suatu saat nanti. Jangan terlalu percaya diri jika status bayimu belum jelas siapa ayahnya." Ucap Nadia membungkam nyinyiran gadis yang sedang bunting ini.


Ia lalu meninggalkan Anjani yang tampak kesal dengan ucapannya. Dengan langkah cepat ia berjalan menuju ruang sidang. Ketika ia memasuki ruang sidang tersebut, semua orang menatapnya karena mereka sudah lama menanti kedatangannya.


Daffa bergegas berdiri dari kursi panasnya untuk menyambut istrinya dengan tersenyum manis, walaupun wajah lelaki tampan itu kelihatan kembali muram. Nadia menghampiri suaminya yang menyambutnya, ia masih ingin merapikan jas dan dasi suaminya yang kelihatan sedikit berantakan.


Usai merapikan jas suaminya ia meraih tangan suaminya lalu diciumnya dengan penuh takzim, lama ia mengecup tangan itu, seakan sedang mendoakan sesuatu pada tangan itu, setelah dirasanya cukup, ia mengangkat wajahnya menatap dalam manik mata Daffa, suaminya mengecup lembut pucuk kepalanya membuat hakim dan petugas pengadilan lainnya tertegun menyaksikan adegan langkah ini diruang sidang perceraian pasangan ini. Mereka saling melempar pandang, karena merasa ada yang salah dengan pasangan ini yang seharusnya tidak melakukan perceraian jika dilihat dari kemesraan mereka.


"Sayang, kuatkan hatimu, yakinkan dirimu jika Allah bersama kita kini," ucap Nadia memotivasi suaminya yang sudah nampak bersedih lagi.


Daffa tidak bisa berkata apa-apa, hanya anggukan kepala yang menjawab nasehat dari istri yang sangat dicintainya ini. Nyonya Laila beserta keluarga Nadia tampak haru melihat pemandangan itu.


Sidang perceraian itu pun dimulai, keduanya kembali ke tempat duduk mereka. Nadia tampak tegar mendengar penuturan pengacara Daffa yang sedang membacakan poin-poin yang menjadi alasan keduanya bercerai. Hakim kembali menilai kasus perceraian itu, dan sesaat hakim dan pendampingnya saling berdiskusi satu sama lain. Hingga akhirnya, putusan sidang perceraian dibacakan langsung oleh hakim. Hati pasangan ini remuk seketika, ketika pembacaan sidang perceraian mereka telah diputuskan dan ketukan palu hakim pengadilan agama itu mengakhiri hubungan pernikahan suami istri itu, dengan menyatakan hak-hak mereka berdua setelah menjadi janda dan duda. Tangis kedua keluarga itu tidak terelakkan, nyonya Laila menghampiri putranya yang langsung histeris memanggil nama istrinya. Sedangkan Nadia yang lebih mempersiapkan dirinya tampak tegar menerima putusan pengadilan agama mengenai perceraian mereka.


Gadis ini bangkit berdiri hendak keluar dari ruang sidang, Daffa menghampiri Nadia yang sekarang sudah menjadi mantan istrinya. Ketika Daffa ingin menyalami Nadia, gadis ini hanya mengatupkan kedua tangannya di dadanya sebagai tanda ia tidak boleh lagi disentuh oleh suaminya.


"Maaf tuan kita bukan lagi muhrim." Ucap Nadia lalu meninggalkan ruang sidang dengan hati yang sudah porak poranda.


Di sudut ruang sidang tersebut, seorang gadis muda tersenyum dengan penuh kemenangan jika Daffa akan segera ia miliki. Sedangkan orang tua Anjani dan kakek Subandrio tertawa puas dan saling berpelukan karena mereka berhasil memisahkan suami istri itu.


"Akhirnya kita menjadi besanan tuan Subandrio," ucap tuan Fahri menggenggam erat tangan kakeknya Daffa. Namun ada seorang lelaki yang tidak terlalu senang dengan suka cita mereka, dia adalah ayah Daffa yaitu tuan Edy Subandrio Diningrat. Jauh didalam lubuk hatinya, ia tidak menginginkan putranya bercerai dengan istrinya, walaupun ia sendiri bukan ayah yang baik untuk putranya Daffa.


Tuan Edy yang pernah dua kali mendampingi putranya ketika bertemu dengan Nadia, ketika melamar gadis itu dan mendampingi putranya di acara pernikahan mereka. Ia adalah ayah yang gagal untuk putranya Daffa yang tidak pernah mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada putranya tersebut karena suatu alasan.


🌷🌷🌷


Daffa yang sudah meninggalkan ruang sidang, berjalan dengan langkah gontai menuju ke tempat parkiran mobil. Rio yang mendampingi bosnya ini juga sangat shock ketika mendengar putusan pengadilan agama mengenai perceraian bos dan istrinya ini. Nadia yang sudah tidak ada lagi di area persidangan karena mengikuti mobil abinya, ustadz Aditya. Keluarga itu kembali lengkap setelah terpisah yang genap hari ini satu tahun, pernikahan putri mereka.


Umi Kulsum menggenggam tangan putrinya yang kelihatan tidak meneteskan air matanya. Mungkin luka hati Nadia amat mendalam, hingga ia tidak bisa lagi mengeluarkan cairan bening itu dari kelompok matanya yang indah.


"Nadia, menangislah sayang jika air matamu bisa mengurangi beban di hatimu. Itulah jodoh, kita tidak bisa menebaknya, kapan ia datang dan akan kembali berlalu meninggalkan kita." Ucap umi Kulsum menasehati putrinya.


"Saya nggak apa-apa umi, saya sudah mengetahui jika perceraian ini pasti akan terjadi, makanya Nadia sudah mempersiapkan hati Nadia untuk terluka. Jika Nadia tidak menangis bukan berarti Nadia tidak sedih, Nadia sudah mengembalikan hati Nadia kepada pemilik sebenarnya, Dialah Allah SWT yang jiwa kita ada di dalam genggamanNya." Ucap Nadia begitu tenang membuat umi Kalsum sangat terharu.


"Oh putriku, insya Allah, jika Allah berkenan Allah akan menggantikan kesedihanmu dengan caraNya yang indah." Ucap umi Kulsum mendoakan kebahagiaan putrinya.


"Allah punya rahasia untuk hidup kita sayang, jadi sabar dan sholat sebagai kekuatan kita." Ucap ustadz Aditya ikut menguatkan hati keluarganya yang tidak mudah goyah menyikapi setiap ujian yang datang pada mereka.


"Horeee!" Ada mbak Nadia lagi dirumah kita, bakalan seru nih, kan mbak Nadia sering buat kue untuk kita, jadi kita nggak perlu jajan lagi diluar," ucap Fadil yang ikut menghibur kakaknya. Sebenarnya si kembar juga tidak rela kakaknya berpisah dengan mas Daffa, setahu mereka mas Daffa orangnya baik walaupun kelihatan oleh orang lain, mantan suami kakaknya itu sangat dingin.


Suasana kembali hening, mobil keluarga itu hampir memasuki perumahan tempat tinggal mereka. Nadia menahan emosinya, walaupun hatinya saat ini sudah hampir meledak karena perpisahan dengan suaminya.


"Ya Allah baru tadi pagi, kami melakukan apapun bersama, dan sekarang kami kembali lagi menjadi kedua orang asing yang harus menjauh bahkan harus benar-benar saling melupakan." ucap Nadia dalam lamunannya.


🌷🌷🌷


Daffa yang paling merasa kehilangan cintanya ini, sedang duduk di dalam kamarnya sambil memandangi foto Nadia dan juga memutar kembali video kebersamaan mereka ketika mereka bulan madu dan menghabiskan waktu satu bulan ini dengan berkunjung ke tempat-tempat romantis. Setiap kali wajah Nadia yang muncul di dalam video itu, ia menjerit memanggil nama kekasihnya itu. Sambil sesenggukan, ia berbicara sendiri dengan foto-foto Nadia.


"Nadia, kamar ini terasa sepi sayang, tapi canda tawa dan cintamu masih ada di kamar ini, harum tubuhmu juga masih terasa sayang, Nadia, aku harus bagaimana?" Hiks..hiks!" ucapnya sambil menyeka air matanya yang terus jatuh membasahi pipinya.


Daffa terus menangis seharian, ia juga mematikan ponselnya supaya bisa menghabiskan waktunya dengan segala kenangannya bersama Nadia. Hidupnya seakan berakhir dengan waktu yang telah menghentikan kebahagiaannya. Ia harus siap menerima hukuman kerinduannya kepada gadis yang pernah ia meminta untuk menceraikannya jika ia sudah mendapatkan perusahaan dari kakeknya yang saat ini ia jalani menjadi milik ia seutuhnya.


"Nadia, aku baru tahu betapa berharganya dirimu dari pada nilai perusahaan kakekku dibandingkan dengan dirimu sayang, oh Nadia cintaku, mengapa baru sekarang aku merasa sangat ingin bersamamu, setelah kehilanganmu.


Nadia, kembalilah sayang, aku menunggumu dikamar kita.


"Nadiaaaaaa!!...aaakhhh!" Sakit banget sayang, rinduku ini pada dirimu, apakah kamu tidak merasakannya juga?" mengapa harus sekarang perpisahan ini terjadi setelah cintamu sudah masuk ke dalam hati dan jiwaku, Nadiaaaaa!" mengapa mereka kejam padaku, menjadikan mamiku sebagai alat untuk memeras kebahagiaan kita?"...mengapa..mengapa sayang?"...hiks..hiks!"


Daffa merasa hidupnya sudah tidak ada artinya tanpa kekasihnya Nadia, baru kali ini ia menangisi seorang wanita, yang sebelumnya dengan mudah ia selalu mencampakkan gadis-gadis yang selalu ia tiduri kemudian mencampakkan mereka dengan cara menghamburkan uang untuk kesenangannya yang hanya sesaat yang ia rasakan.


"Duhai cinta mengapa sulit sekali aku menyentuhmu, engkau terlalu angkuh untuk *a*ku taklukkan, engkau terlalu tinggi untuk kembali ku raih, bahkan terlalu mahal untuk ku tebus, dengan apa wahai cinta, aku bisa menawarkan rasamu, untuk bisa kembali kumiliki."