SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
66. MASA BERKABUNG


Sepekan meninggalnya ustad Aditya, ummi Kulsum belum bisa move on dari kesedihannya. Ia lebih banyak berdzikir dalam diamnya, sekarang ia juga mulai sakit-sakitan karena terlalu merindukan suaminya. Daffa sudah mulai beraktivitas kembali ke perusahaannya, sedangkan Nadia masih setia menemani umminya.


Kepergian Daffa ke perusahaannya memudahkan Nadia bisa mengobrol banyak dengan umminya, yang sampai saat ini ia memendam pertanyaan yang ingin ia ketahui penyebab dari abinya meninggal tanpa sebab tertentu seperti penyakit kronis atau apapun itu. Siang itu keduanya makan siang bersama. Nadia sangat bersyukur umminya sudah mulai makan walaupun hanya sedikit, setidaknya umminya mulai menyentuh makanannya perasaannya. Perasaan Nadia sudah mulai tenang melihat kemajuan umminya. Usai menghabiskan makanannya ummi Kulsum mulai berkata-kata kepada putrinya.


"Nadia ini salah, jangan lagi berjalan di jalur yang ini, jangan pulang ke sana lagi!" Ku dengar istrinya Anjani masih belum sadarkan diri. Kamu telah dipoligami. Ummi tidak akan bisa menerima putriku harus menerima kehadiran wanita lain dalam pernikahannya. Ummi tidak bisa sayang, andai ummi menjadi kamu mungkin ummi menolak untuk diduakan. Orang akan berkata apa pada kalian yang sangat mesra sedangkan gadis itu masih berada di rumah sakit sampai saat ini.


"Aku dan mas Daffa saling mencintai ummi, kami tidak peduli apa kata orang asing tentang kehidupan pernikahan kami jalani saat ini." Ucap Nadia santun.


"Apakah orang tua adalah orang asing? kalian tidak bisa tanpa kami


Jika kamu melakukannya sama sekali tidak menguntungkanmu, selama hidupmu, kamu akan hidup dengan rasa bersalah, karena kamu hanya memonopoli Daffa tanpa berbagi dengan wanita itu.


"Aku tidak melakukan kesalahan apapun, mengapa aku harus merasa bersalah?" Hari itu dua tahun yang lalu, apa yang paling menyakitkanku, kami harus mengakhiri hubungan, saat kami terpaksa melakukannya demi orang lain. Disaat cinta kami lagi bersemi, dan kami mulai menerima kekurangan dan kelebihan kami masing-masing, saat kami belajar bagaimana cara mencintai dan akhirnya saling mencintai tapi harus memilih bercerai demi orang lain, ummi ingin aku merasakan itu lagi hmm?" Tanya Nadia dengan menahan tangisnya.


"Kamu pikir, kalian akan romantis dan manis seperti sekarang? tidak akan, saat hidupmu menjadi lebih sulit, ketika keluarga itu menjadi bagian dari hidup kita, di mana kesalahan mereka, yang membuat Abi dan ummi harus dipecat karena alasan suamimu yang paling kau cintai itu masuk penjara karena mencoba membunuh istri keduanya. Hanya gara-gara suamimu, bahkan kakeknya, keluarga kita akhirnya menjadi sorotan bahkan jadi terkenal di media karena kasus serupa.


Kamu pasti ingin mencongkel matamu karena telah memilihnya. Cinta?" Kamu akan melupakan itu dan melanjutkan hidup" beginilah aku harus hidup tanpa suami disisiku, yang tiba-tiba meninggal karena hukuman yang harus diterimanya atas kesalahan menantunya sendiri. Jika kamu menyerahkan segalanya, kamu masih bisa melalui ini semua untuk melanjutkan lagi hidupmu." Ummi Kulsum memohon pada putrinya agar meninggalkan Daffa.


"Kalau begitu, apakah aku harus menceraikannya lagi? Mungkin saat aku dan mas Daffa tidak lagi merasakan hal yang sama atau saat perceraian itu tidak terlalu menyakitkan bagi kami, kalau begitu, aku baru mau bercerai dengan mas Daffa, jika aku yang berubah atau dia yang ingin berhenti, selain dua alasan itu, aku tidak bisa menerima alasan apapun. Bagaimana aku harus menghabiskan sisa hidupku dan membuang waktu untuk sekian tahun, berpisah dengan putraku dan suamiku, bagaimana caraku untuk melalui itu lagi ummi hmm?" Ujar Nadia sambil berurai air mata.


"Nadia, masih banyak laki-laki di luar sana yang menerima dirimu nak, kamu masih muda dan sangat cantik, kamu bisa mendapatkan seorang suami lagi jika kamu mau membuka hatimu untuk laki-laki lain yang tidak memiliki keluarga bermasalah seperti mereka. Ummi tidak rela kamu dimadu nak dan menjadi bahan gunjingan orang di luar sana, karena keluarga itu, hidup kita makin menderita, jika kamu masih ingin melihat ummimu hidup, berpisahlah dengannya nak, jika bukan karena Daffa, Abi tidak mungkin meninggalkan kita secepat ini.


Kalau kamu bersikukuh dengan pilihan hidupmu untuk menentang orangtuamu, meskipun sulit, kamu tidak akan sanggup mengatakan kebenarannya, bahwa suamimu lah yang secara tidak langsung menyebabkan abimu meninggal." Ucap umminya lalu kembali berbaring membelakangi Nadia yang masih ingin bicara dengannya.


Hal yang tidak terduga oleh mereka, bahwa Daffa mendengar semua percakapan istri dan ibu mertuanya itu, karena pintu kamar itu tidak di tutup. Nadia keluar dari kamar umminya dan menuju ke kamarnya, ia begitu terkejut melihat suaminya sudah berada di kamarnya.


"Mas Daffa!" Pekiknya.


Daffa langsung menutup mulut istrinya agar tidak menimbulkan suara keras karena ummi Kulsum sedang istirahat. Daffa menarik tangan istrinya dan di bimbingannya ketempat tidur. Sebelum Nadia ingin bicara padanya, Daffa sudah menyumpal bibir kenyal itu dengan bibirnya. Nadia yang gelagapan dengan serangan ciuman suaminya itu berusaha melepaskan diri, namun Daffa tidak membiarkan Nadia bebas dari cengkeramannya. Akhirnya Nadia pasrah dan mengikuti alur ciuman suaminya sampai keduanya melepaskan sendiri pagutan itu, karena kehabisan stok oksigen.


"Mas Daffa, sudah pulang dari tadi?" Tanya Nadia ketika nafasnya sudah mulai teratur.


"Boleh kita keluar mencari udara segar sayang?" Tanya Daffa yang tidak ingin menjawab pertanyaan istrinya ini.


"Aduh sayang, mengapa kamu malah menggodaku, membuka bajumu dihadapanku?" Daffa bergumam lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Nadia sudah selesai dengan dandanannya. Daffa menggandeng tangan istrinya dan keluar dari rumah mertuanya. Tapi sebelum mereka pergi, Nadia sudah meminta Fadhil untuk segera pulang menemani umminya agar orang tua itu tidak kesepian.


"Kita mau ke mana sayang?" Tanya Nadia ketika mereka sudah setengah perjalanan dari rumah ummi.


"Kita ke hotel saja sayang supaya kita lebih bebas ngobrol, kalau di tempat umum aku tidak bisa melihat wajahmu seutuhnya. Kamu akan memperlakukan aku seperti yang lainnya yang hanya melihat bola matamu saja." Tukas Daffa memberi alasan.


Mobil itu bergerak menuju hotel yang pernah menjadi tempat pertemuan mereka beberapa bulan yang lalu ketika mereka backstreet. Setibanya di kamar hotel keduanya belum mau bertukar cerita karena harus berc*mbu terlebih dahulu agar lebih rileks menyampaikan perasaan mereka.


"Mas Daffa mendengarkan semua percakapanku dengan ummi?" Nadia mengulang lagi pertanyaannya yang sama usai keduanya berc**bu.


"Iya sayang, tidak ada yang terlewatkan olehku setiap perkataan yang kalian ucapkan." Imbuh Daffa jujur.


"Sekarang kita harus bagaimana mas, apa yang harus kita lakukan untuk meyakinkan ummi agar hubungan kita tidak seperti tuduhan ummi. Aku tahu ini sulit tapi aku bingung untuk memilih kalian berdua, siapa yang harus ku utamakan di sini. Ummi adalah ibu yang melahirkanku dan kamu adalah suamiku penjamin surgaku." Ucap Nadia dengan perasaan kalut saat ini.


"Apakah kamu ingin menceraikan aku karena aku penyebab dari Abi meninggal Nadia?" Tanya Daffa spontan.


"Itu bukan alasannya karena ajal di tangan Allah mas, karena bukan kamu atau sekolah itu hanya sebagai akibatnya saja. Ajal Abi adalah ketentuan Allah yang tidak dapat diganggu gugat. Andai pun kasusmu itu sebuah kebetulan yang dihembuskan oleh orang yang tidak bertanggung jawab atas pemecatan Abi. Tapi aku minta maaf mas Daffa, aku mohon agar kita segera mengurus perceraian kita." Ucap Nadia membuat wajah Daffa terkesiap mendengar kata cerai dari istrinya.


"Nadia, apakah tidak ada jalan lain untuk menyelesaikan perselisihan antara keluarga kita terutama ummi?" Tanya Daffa.


"Maafkan aku mas Daffa, bukan permintaan ummi saja yang membuatku ingin berpisah denganmu, tapi ada janji yang harus aku tunaikan dengan tuan Fahri karena telah membebaskanmu hingga kamu masih berduaan dengan aku di sini di kamar ini." Ucap Nadia dalam hatinya.


"Maafkan aku mas Daffa, aku tidak tahu lagi, jalan mana yang harus aku pilih. Mungkin ini sudah suratan cinta kita, yang harus segera berpisah." Jawab Nadia tegas.


"Apakah kamu tidak mencintai aku lagi sayang?"


"Ini bukan masalah cinta, tapi ini lebih kepada sebuah keputusan yang paling menyakitkan untuk kita. Ummi bisa menerima kita kecuali mas Daffa harus membuktikan bahwa mas Daffa tidak bersalah atas kecelakaan yang dialami oleh Anjani, dengan begitu aku baru bisa memohon kepada ummi, agar dia mau tidak mau beliau harus merestui pernikahan kita untuk tidak lagi berpisah selamanya.