SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
88. AKHIR CERITA


Nama yang disematkan pada baby kembar adalah Nafa Dalilatul Inayah dan Difa Hilyah Adzkiya. Nama panggilan keduanya adalah Nafa dan Difa merupakan penggabungan nama kedua orangtuanya, Nadia dan Daffa. Sedangkan nama belakang keduanya diberikan oleh nyonya Laila dan ummi Kulsum.


Setelah sebulan melahirkan, Daffa menggelar aqiqah di kediamannya untuk baby kembar dan juga Abang Hafiz yang memang belum sempat aqiqah saat itu, karena Nadia masih dalam keadaan koma pasca melahirkan bayi pertamanya.


Acara yang dihadiri oleh kerabat dan kolega tuan Edy dan juga Daffa diadakan jam sepuluh pagi waktu setempat. Baby kembar yang dipangku oleh nyonya Laila Dan Ummi Kulsum sedangkan Hafiz lebih memilih dipangku umminya.


Hafiz mulai merasa cemburu kepada adik kembarnya karena perhatian orang rumah lebih tertuju pada baby kembar dari pada dirinya. Jika ada kesempatan bundanya sendirian tanpa adik-adiknya, ia mulai mencari alasan untuk bisa berduaan dengan bundanya.


Daffa yang mengerti putranya sedang cemburu membisikkan hal itu pada Nadia. Bunda Hafiz ini langsung memeluk erat putranya ketika mengetahui diam-diam Hafiz sedang cemburu pada adik kembarnya. Hafiz sangat senang bundanya saat ini sedang memanjakan dirinya.


"Bunda sayang nggak sama aku?" Tanya Hafiz ketika acara aqiqah sudah selesai.


"Tentu bunda sangat sayang sama Hafiz, apakah Hafiz tidak merasa bunda sayang lagi sama Hafiz?" Tanya Nadia seraya menatap mata putranya.


"Aku takut, sayang bunda sedikit saja sama Hafiz karena adik kembar." Ujar Hafiz dengan wajah tertunduk sedih.


"Bunda mohon maaf jika perhatian bunda lebih banyak pada adik kembarmu. Bunda janji akan memperhatikan mas Hafiz juga." Nadia ingin membesarkan lagi hati putranya yang sempat menciut karena cemburu.


Daffa menggendong putranya ketika baby kembar diserahkan lagi ke Nadia untuk disusui.


"Hafiz mau main sama ayah?" Tanya Daffa untuk mengalihkan perhatian putranya.


"Iya ayah!" Jawab Hafiz yang masih melirik bundanya yang tersenyum padanya sambil menyusui adiknya.


Daffa mengajak putranya main bola di taman belakang. Keluarga yang masih berkumpul menyaksikan permainan itu yang sekarang sudah bertambah personilnya, adik kembar Nadia dan Rio. Baru saja lima belas menit berlalu terdengar pekikan Hanna yang diserang oleh kontraksi. Permainan itu terhenti. Rio menggendong istrinya langsung membawa ke mobil. Tuan Ridwan dan nyonya Nur tidak ketinggalan mendampingi keduanya menuju rumah sakit.


Daffa yang ingin ikut dicegah oleh Rio untuk tetap menemani Hafiz.


"Bos di sini saja dengan Hafiz, aku akan mengabari kalian kalau istriku sudah melahirkan bayi kami, mohon doanya untuk keduanya semoga lancar proses persalinannya." Ucap Rio mantap.


"Ok bro, jangan lupa, kami tunggu kabar baik darimu." Ucap Daffa melepas kepergian keluarga asistennya itu ke rumah sakit.


Sekitar satu jam kemudian, Rio melakukan video call dengan bosnya memperlihatkan jagoan tampannya ketika sudah dirapikan oleh suster.


"Hallo, assalamualaikum bos, lihatlah jagoanku, ia sangat tampan sepertiku," ucap Rio seraya memperlihatkan bayinya pada keluarga Daffa.


"Selamat bro atas kelahiran putra pertamanya dan selamat juga status barunya menjadi ayah. Insya Allah kami akan menjenguk dede nanti, salam untuk ibunya." Ucap Daffa lalu melambaikan tangannya pada asistennya yang sedang berbahagia itu. Nadia pun mengucapkan kata-kata yang sama untuk Hanna.


"Aku tidak menyangka rejeki Rio datang bertubi-tubi sayang, dari cepat mendapatkan istri dan istrinya langsung hamil. Sekarang ia sudah mendapatkan anugerah seorang bayi lelaki yang sangat tampan." Ucap Daffa kepada Nadia ketika anak-anaknya sudah tidur.


"Sayang setiap orang memiliki rejekinya masing-masing, ada yang cepat dan ada juga yang kudu sabar jalanin berbagai macam ujian baru mendapatkan kebahagiaannya, jadi jangan cemburu dengan asistenmu itu." Nadia menasehati suaminya sambil menggantikan baju tidurnya dengan lengerie warna pastel.


Daffa yang melihat cara istrinya yang sedang memberi lampu hijau padanya saat ini mulai membakar birahinya. Tubuh Nadia yang makin montok usai melahirkan membuat Daffa menelan salivanya dengan kasar. Matanya tidak berhenti menatap belahan paha putih putih mulus itu.


"Sayang gimana kalau kita membuat kesatuan sepak bola" Daffa merayu istrinya seraya menyusupkan tangannya dibelahan paha Nadia.


Sesaat Nadia mend**h ketika tangan nakal Daffa mulai bermain di area bawah perutnya.


Jeritan nikmat serta lenguhan terdengar erotis di kuping suaminya yang sudah terbuai dengan alunan permainan panas mereka.


"Hati-hati sayang, ini seperti pertama kali lagi bagiku." Pinta Nadia ketika suaminya sudah mulai memasuki dirinya walaupun Daffa sudah melakukan permainan ringan pada miliknya.


Daffa merasakan milik istrinya tetap sama sebelumnya, rasa nikmat itu tidak berkurang sedikitpun. Ia terus menggempur milik istrinya dengan gaya yang berbeda-beda. Pelayanan Nadia pada dirinya makin lebih agresif hingga Daffa tidak ingin mengakhirinya. Permainan panas itu berakhir saat bayi mereka menangis. Daffa memakluminya karena istrinya harus berbagi waktu dengan kehadiran buah hatinya.


🌷🌷🌷🌷


Dua tahun kemudian Naffa dan Diffa sudah mulai tumbuh menjadi balita yang lucu dan menggemaskan. Kecantikan keduanya diwarisi dari Nadia. Daffa mengajak keluarganya kecilnya mengunjungi pasar raya. Perhatian beberapa pengunjung pasar raya tertuju pada dua gadisnya Daffa.


Ketika ada yang ingin mendekati putrinya Daffa langsung menegur orang-orang itu, apa lagi ada yang nekat mengambil foto baby kembar dan juga Hafiz yang makin tampan mewarisi wajah Daffa. Karena tidak merasa nyaman, mereka pun cabut dari tempat itu dan memilih untuk pulang.


"Sayang, nanti kalau putri kita sudah berusia sepuluh tahun, lebih baik mereka mengenakan cadar sepertimu, perasaanku tidak tenang jika putriku menjadi tontonan banyak orang. Aku harus lebih ekstra jadi ayah menjaga putri kembarku." Ucap Daffa kesal setibanya mereka di mansion.


Nadia yang sedang memegang pelipisnya karena sangat merasa pusing, tidak menanggapi perkataan suaminya. Melihat wajah pucat istrinya, Daffa pun sangat panik. Tanpa bertanya pada Nadia ia menghubungi dokter pribadinya.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Dokter pun sudah bersama Nadia. Ibu dari tiga putra itu di tangani oleh dokter Hilda. Setelah beberapa saat, dokter Hilda mengucapkan selamat kepada keduanya karena Nadia mengandung lagi. Daffa pun sangat senang mendengar kabar itu.


Sembilan bulan kemudian Nadia melahirkan lagi bayi kembar laki-laki yang di beri nama Hanan dan Hanin. Daffa memberi kejutan untuk istrinya berupa istana mewah lengkap dengan Taman Tahfiz untuk Nadia yang ingin sekali memiliki rumah Tahfiz untuk mengajarkan anak-anak Al-Qur'an dan hadits. Nadia sangat antusias ketika pulang dari rumah sakit langsung menuju ke istana baru mereka.


"Sayang, ini untukmu, maaf agak lama memberikan hadiah ini padamu karena aku ingin mempersembahkan hadiah ini sesuai dengan keinginanmu yang kamu ucapkan padaku." Ucap Daffa ketika mereka sudah memasuki rumah itu.


"MasyaAllah mas Daffa ini sangat keren dan sangat indah, aku sangat suka dengan gaya bangunannya lebih minimalis dan elegan, tidak terlalu besar tapi sangat nyaman. Kalau bisa jangan menyertakan pelayan laki-laki di rumah kita supaya aku lebih leluasa bergerak dalam rumah kita." Pinta Nadia.


"Siap permaisuriku, ibu dari anak-anakku, aku akan melaksanakan semua perintahmu." Daffa menuruti apa yang menjadi keinginan istrinya.


Keluarga besar itu berkumpul lagi merayakan syukuran kedatangan tamu baru.


Hafiz yang sudah berusia enam tahun sekarang sudah duduk di bangku SD. Putra sulung Nadia dan Daffa ini berhasil mengkhatamkan Al-Qur'an dan sesuai namanya ia sekarang sudah menghafal 30 juz Alquran dalam waktu dua tahun dibawah asuhan Nadia. Bukan hanya Hafiz yang sudah menghafalkan Al-Qur'an, Daffa dan Rio kompak menghafalkan 30 juz. Daffa sudah sangat percaya diri jika menjadi imam di mesjid perusahaannya, yang sengaja ia bangun untuk para karyawannya dan juga di buka untuk umum.


Perusahaannya sendiri mencapai puncak kejayaannya setelah menerapkan bisnis ala Rosulullah. Daffa selalu menyisipkan limapuluh persen dari keuntungan perusahaannya untuk Allah. Itu adalah bagian dari rasa syukurnya yang tak akan pernah terhenti setelah mengalami banyak ujian dari Allah dengan mengembalikan bidadarinya dalam pelukannya, sehingga ia benar-benar memiliki keluarga yang sempurna saat ini sakinah, mawadah, warahmah yang menjadi impian setiap rumah tangga dunia ini.


Sekolah yang diberikan oleh Daffa pada mertuanya dikelola dengan baik oleh ummi Kulsum yang dibantu oleh Fadhil dan Fadhlan. Sekolah itu makin maju dengan banyaknya siswa yang mendaftar di sekolah itu, yang saat ini sudah memiliki tiga jenjang, yaitu tingkat SD, SMP dan SMA. Ela adik dari Rima ikut mengabdi di sekolah itu. Farhan dan Rima memiliki sepasang putra di Kairo Mesir.


Asisten Rio sedang menantikan kelahiran bayi kedua mereka yang diprediksi oleh dokter Risna adalah bayi perempuan.


Dilain sisi, nyonya Maya meminta cerai dari suaminya tuan Edy dan memilih menikah dengan dokter berkebangsaan Amerika yang pernah merawat almarhum putranya Rama, setelah ayahnya tuan Hermanto meninggal dunia di rumah sakit jiwa. Tuan Edy pun tidak keberatan dengan permintaan istri pertamanya itu. Mereka pun bercerai secara baik-baik.


Tuan Fahri dan putrinya Anjani sekarang sudah insaf dan lebih banyak mendalami ilmu agama didalam rutan dengan beberapa guru agama yang didatangkan oleh pihak penjara tersebut. Putrinya Anjani Nayla, dibawa oleh ayah biologisnya ke Amerika untuk berobat karena dokter bisa melakukannya operasi pada gadis yang berusia 7 tahun itu agar bisa berbicara lagi.


Semua keluarga hidup dengan baik dengan cara mereka sendiri. Mereka menata hidup mereka sesuai dengan tuntutan Allah dan rasulnya hingga keluarga itu selalu mendapatkan keberkahan.


"Belajarlah menerima setiap ujian yang Allah berikan dengan sabar dan sholat, sebagai penggugur dosa dan pengangkat derajat, jangan terlalu banyak mengeluh dengan ujian yang ada, karena Allah tahu setiap hambaNya mampu menjalaninya. Jika diantaramu bersedih hati karena suatu ujian, kembalikan itu kepada pemilik ujian, sesungguhnya bukan ujian yang besar menghampiri hidupmu kini, tapi Allah yang maha besar yang akan menyelesaikan ujian kecilmu itu. Maka bagi kalian yang sudah berumah tangga cintailah pasanganmu karena Allah, maka Allah akan mendatangkan berkah yang amat banyak untuk keluargamu. Tetaplah memegang tali Allah niscaya kalian tidak akan tersesat di dunia ini."


"TAMAT"