
Kedatangan Daffa dan Nyonya Laila disambut gembira oleh Tuan Edy dan juga Nyonya Maya. Mereka pun melepaskan kerinduan dengan saling cipika cipiki, nyonya Maya menggendong putra Daffa Hafiz. Sedangkan Daffa dan maminya menghampiri brangkar adik tiri Daffa yang sedang menunggu waktunya tiba. Walaupun begitu, Rama masih bisa mengenali orang-orang yang dicintainya, air matanya mengalir di sudut matanya sambil berusaha melepaskan penutup oksigen yang menempel di hidungnya.
"Terimakasih mas kamu mau datang jauh dari tanah air untuk menemuiku." Ucap Rama dengan nafas tersengal.
"Maafkan aku Rama, harusnya aku datang lebih awal mengunjungimu, aku tidak tahu jika sakitmu makin parah." Ucap Daffa menahan tangisnya.
"Aku mau minta maaf selama ini, aku selalu meminta ayah menemaniku daripada dirimu, padahal kamu sangat membutuhkan perhatiannya juga." Rama mengungkapkan perasaan sesalnya pada Daffa saudara seayah ini.
"Tidak apa Rama, kamu lebih membutuhkan perhatian ayah ketimbang diriku." Daffa tidak lagi memikirkan hal yang telah berlalu.
"Boleh aku minta satu hal padamu?" Pinta Rama memelas pada Daffa dengan pandangan wajah sendu.
"Katakan Rama, aku akan melakukannya untukmu," ucap Daffa.
"Tolong jaga bundaku, jika aku tiada nanti, aku tidak bisa menemaninya sampai di hari tua, jagalah dia untukku mas Daffa." Pinta Rama penuh harap pada kakaknya ini.
"Tidak usah kuatirkan bundamu, aku dan ayah akan menjaga bundamu, seperti aku menjaga mamiku." Janji Daffa pada adiknya ini.
"Terimakasih mas Daffa, aku akan pergi dengan tenang setelah mendengarmu berjanji untuk menjaga bunda. Tuntun aku mas, aku ingin pulang. Bunda pegang tanganku, setelah ini aku tidak akan menyusahkanmu lagi, ayah titip bunda ayah," Ucap Rama dengan nafas sudah mulai tersendat-sendat seolah malaikat pencabut nyawa sedang menarik sedikit demi sedikit roh dari raganya.
Daffa membisikkan kalimat tahlil dikuping adik tirinya yang sedang menyambut ajalnya. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Rama menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam dekapan bundanya.
"Selamat jalan putraku, engkau telah lelah berjuang melawan penyakitmu kini, engkau tidak lagi merasakan sakit, bunda ridho atas kepergianmu nak,.... hiks...hiks!" Bunda Maya nampak tegar melepaskan kepergian putranya.
Duka kembali menyapa Daffa, tak henti-hentinya pria tampan ini harus melepaskan kepergian orang-orang yang dicintainya. Dari kakek Subandrio, calon bayinya, ayah mertua dan kini adik kandungnya, anak dari ayahnya. Belum lagi kehilangan istri yang harus menceraikannya tanpa alasan yang jelas. Satu persatu meninggalkannya hampir membuatnya merasa kehilangan harapan hidup, beruntung ada Hafiz putranya yang menguatkan hatinya untuk tetap tegar.
🌷🌷🌷🌷
Keesokan harinya jasad Rama dibawa pulang oleh keluarganya, bertolak ke tanah air. Yang menyedihkan di sini, ketika pesawat Daffa terbang menuju tanah air, malah pesawat Nadia terbang menuju Kairo Mesir bersama keluarganya. Kepergian Nadia tidak meninggalkan satu pesan pun untuk mantan suaminya ini.
🌷🌷🌷
Jenasah almarhum Rama dimakamkan sekitar jam sepuluh pagi. Tidak banyak yang hadir di pemakaman itu kecuali kerabat dekat. Bunda Maya masih terlihat syok melepaskan putra tunggalnya ini. Kakek Hermanto tidak dapat menghadiri pemakaman cucu kesayangannya itu. Keluarga Tuan Fahri nampak ikut di prosesi pemakaman tersebut.
Di Kairo, Nadia dan keluarganya tinggal di salah satu flat house milik kerabat dekat ummi Kulsum yang ada di kota tersebut. Setelah seminggu lebih berdiam diri, Nadia mulai melakukan aktivitasnya sebagai mahasiswa S3 di perguruan tinggi ternama yang ada di Kairo Mesir tersebut. Bersama adik kembarnya ia mulai menyongsong harinya dengan kepedihan dihatinya.
Kerinduannya pada putranya Hafiz yang tidak bisa ia kendalikan walaupun hanya menatap foto bayi lucu yang sekarang sudah menginjak usia satu tahun lebih itu.
Tidak lama mereka menunggu, masuklah seorang pria tampan yang sangat kharismatik, wajahnya tidak asing oleh Nadia. Gadis ini tersentak melihat dosen pertama pagi itu adalah lelaki yang sama yang dikenalnya dua tahun lalu di Istanbul Turki. Anehnya di mata kuliahnya ini, tidak ditemukan nama lelaki itu di mata kuliahnya.
"Farhan??" Gumamnya dalam hati.
Untuk menghindari pertanyaan dari teman yang bersebelahan dengannya, Nadia sedikit mengalihkan pandangannya agar Farhan tidak mengenali sosoknya walaupun ia sendiri menggunakan cadarnya. Acara perkenalan dimulai dengan bahasa pengantar yaitu bahasa Arab dan juga bahasa Inggris. Farhan yang tidak mengetahui jika salah satu mahasiswanya yang hadir saat ini ada nama Nadia yang terselip di buku absen nama mahasiswa tersebut.
Perkenalan singkat itu hanya berlangsung sesaat, perkuliahan yang belum aktif itu tidak berlangsung lama. Tapi ketika dibacakan satu persatu nama mahasiswa dan di minta untuk memperkenalkan diri dan negara asal, Nadia tampak kikuk. Iapun berdiri ditempatnya dan mulai menyebutkan namanya.
"Nama saya Nadia Syafira Az-Zahra berasal dari Indonesia." Ucap Nadia membuat Farhan memicingkan matanya memperhatikan dengan seksama bahwa Nadia adalah gadis yang sama yang pernah merebut hatinya ketika berada di kota Istanbul Turki dua tahun yang lalu.
Nadia duduk kembali setelah memperkenalkan dirinya sebagai mahasiswa dari Indonesia. Usai kelas di tutup, Farhan meminta agar Nadia ke ruangannya.
"Nadia, setelah ini, tolong ke ruangan saya karena ada beberapa hal yang saya akan bahas dengan anda tentang mata kuliah kita. Anda mewakili teman-teman menghadap saya," ucap Farhan sebagai dosen Nadia saat ini.
Nadia yang terlalu lugu mendatangi ruangan Farhan. Gadis itu harus melewati beberapa meja kerja dosen lainnya dan kebetulan Farhan adalah dekan fakultas agama yang di ambil Nadia saat ini. Farhan yang sudah berada di ruang kerjanya, nampak serius menatap laptopnya. Kedatangan Nadia membuat pria berdarah Arab Indonesia ini menutup laptopnya lalu menyapa Nadia dengan ramah.
"Assalamualaikum Tuan!" Sapa Nadia.
"Waalaikumuslam, silahkan duduk Nadia. Apa kabar!" Saya tidak menyangka kamu menjadi mahasiswi saya angkatan tahun ini."
"Alhamdulillah, baik pak."
"Apakah suamimu mengijinkanmu untuk melanjutkan pendidikan S3 di Kairo?" Farhan penasaran ingin mengetahui keadaan Nadia saat ini.
Deg!" Nadia terdiam sesaat, ia sendiri bingung untuk menjawab pertanyaan dosennya ini. Nadia menarik nafasnya dalam, mau tidak mau ia harus berbohong untuk tidak memberikan angin segar pada Farhan yang dari awal pertemuan mereka, Farhan sudah berharap banyak pada Nadia. Iapun menjawab pertanyaan dosennya itu dengan mantap.
"Tanpa ijin darinya, hari ini saya tidak mungkin berada di kelas Tuan. Dan saya juga heran kenapa di RKS yang saya ambil tidak tercantum nama Tuan, malah nama dosen lain yang mengajar filsafat ilmu.
"Awal perkuliahan, mata kuliah masih belum terprogram dengan baik. Seharusnya mata kuliah yang akan saya ajarkan pada kalian adalah ilmu tasawuf karena mata kuliah itu ada di semester dua, jadi saya mengambil filsafat ilmu sebagai pengganti ilmu tasawuf." Jawab Farhan.
"Bagaimana dengan bayimu, apakah ia sudah bisa ditinggal oleh ibunya?" bukankah ia masih dalam masa menyusui?" Tanya Farhan lagi.
"Putra saya sudah bisa belajar makan makanan padat, maka dari itu saya bisa meninggalkannya di tanah air." Nadia memberikan alasan yang cukup akurat pada lelaki tampan ini.
"Jika kamu bisa menyelesaikan program S3 sesuai dengan jadwalnya, mungkin tidak sampai dua tahun waktu tempuh pendidikan S3 akan lebih cepat selesai. Ok nona Nadia selamat datang di kota Kairo, jika anda butuh sesuatu, saya siap membantu, oh ya nomor kontak saya masih yang lama, apakah anda masih menyimpannya?" Tanya Farhan sebelum mengakhiri obrolan mereka siang itu.