
Tiga bulan kemudian kesehatan tuan Subandrio Diningrat mulai membaik, selama tiga bulan itu persidangan kembali kasus pembunuhan yang dilakukan oleh tuan Hermanto ditangguhkan oleh kejaksaan karena faktor kesehatan tuan Subandrio yang masih dalam perawatan.
Sedangkan untuk penjemputan paksa tuan Hermanto sedikit menemukan kesulitan. Dalam beberapa kasus, tersangka kejahatan berusaha menghindari hukuman dengan lari ke luar negeri. Pengacara nyonya Laila menanyakan perihal ini kepada Kadiv Humas mabes polri untuk memastikan status hukuman bagi tersangka tuan Hermanto yang saat ini masih berada di Australia. Hal ini membuat polisi negara asal atau negara tempat terjadinya tindak pidana terhambat mengejar pelaku. Pasalnya ada batas yuridiksi antar negara yang tidak boleh dilanggar.
Namun, setelah seorang buronan lari ke luar negeri, bukan berarti upaya pengejaran berhenti. Kadiv Humas Polri, menyebutkan ada tiga mekanisme yang biasa ditempuh polisi Indonesia untuk menangkap buronan di negara orang. Tiga cara itu adalah ekstradisi, Mutual Legal Assistance (MLA), dan hubungan antar polisi.
Dari ketiga mekanisme itu, ekstradisi yang paling jarang dilakukan polisi. "Jarang dilakukan ekstradisi karena memerlukan waktu yang panjang, kemudian juga ribet," Ujar Kadiv Humas Mabes polri Jakarta Selatan.
Selain ekstradisi, ada mekanisme MLA. Biasanya cara ini sebelum dipraktikkan, ada kerja sama formal yang disepakati sehingga melibatkan otoritas sentral negara. otoritas sentral ini merupakan kewenangan dari kementerian hukum dan HAM. Polisi juga tidak berwenang esktradisi. Jadi bukan polisi, yang menentukan adalah central authority.
Kesimpulannya proses hukum untuk kasus pembunuhan yang dilakukan oleh tuan Hermanto agak berjalan alot karena memerlukan waktu yang cukup lama dalam penangkapan tuan Hermanto di luar negeri.
Walaupun begitu tuan Edy dan nyonya Laila berusaha tetap tenang dan meminta mang Anton tetap bersabar, karena mereka tetap memproses kasus ini terus berlanjut, hanya saja belum tahu kapan itu akan diadakan dipersidangan nanti sampai bisa mendatangkan penjahat itu dari luar negeri.
Ketika ketenangan keluarga tuan Edy sedang menantikan kehadiran cucu mereka, tuan Fahri dan putrinya mendatangi mansion nyonya Laila. Saat itu usia kandungan Nadia sudah memasuki usia delapan bulan.
"Daffa keluar kau!" teriak tuan Fahri di ruang keluarga, ketika masih waktu masih berada di pagi hari saat itu dan Daffa baru menyiapkan dirinya berangkat ke perusahaan.
"Mas Daffa itu siapa yang berteriak memanggil mas?" Tanya Nadia merasa ketakutan.
"Sepertinya itu suara tuan Fahri sayang. Kamu di sini saja tidak usah turun." Pinta Daffa yang tidak ingin kondisi Nadia yang akan shock jika terjadi sesuatu kepada keluarganya.
Tuan Edy Subandrio dan istrinya Laila ikut turun tangga bersama Daffa menghampiri tuan Fahri yang terus berteriak memanggil nama Daffa.
"Kamu masih yakin bahwa kamu tidak menghamili Anjani putriku hah!" Lihat ini surat hasil tes DNA dari rumah sakit yang menyatakan bahwa anak yang dilahirkan oleh putriku Anjani adalah 99,9% adalah anak kandungmu." Bentak tuan Fahri seraya melemparkan laporan medis tentang tes DNA terhadap putrinya Anjani di wajah Daffa yang baru saja sampai di lantai bawah rumahnya.
Daffa sedikitpun tidak bergeming karena ia tahu benar apa yang bisa dilakukan oleh seorang Anjani untuk memanipulasi dokter atau siapa saja yang bisa ia manfaatkan untuk kepentingannya.
"Tes ini tidak berpengaruh terhadap pendirianku, karena aku tidak mengakui putrinya Anjani adalah anak kandungku." Ujar Daffa yang tidak kalah sengit menghadapi hardikan tuan Fahri terhadapnya.
"Baiklah, mungkin kamu dan reputasimu sebentar lagi yang akan tamat riwayatnya, karena saya akan memproses penolakanmu ini ke jalur hukum." Ucapnya lalu menarik tangan putrinya keluar dari mansion tuan Edy.
Nadia yang menyaksikan perdebatan itu dari atas tangga dengan menahan nafas dan tangisnya karena merasa sangat tegang. Gadis ini tak berhenti membaca istighfar dan ayat qursy untuk mengusir setan yang sedang mengepung mansion milik mertuanya. Daffa melihat istrinya yang sudah meneteskan air mata itu, nampak tertegun dan juga takut jika Nadia akan percaya begitu saja dengan hasil tes DNA tersebut. Ia pun langsung naik kembali ke atas menghampiri istrinya. Ia memeluk Nadia dan membawa istrinya ke dalam kamar.
"Sayang tolong percaya kepadaku jika hasil tes DNA itu tidak benar, semuanya bisa dimanipulasi oleh Anjani karena aku sangat mengenal kepribadiannya." Ucap Daffa bersimpuh dibawah kaki istrinya yang sedang duduk diatas pembaringan.
"Jangan takut mas Daffa, aku tidak pernah berhenti mempercayai dirimu, aku tidak mau keadaan ini menghancurkan hubungan rumah tangga kita, jika aku goyah, Anjani semakin berani mengendalikan dirimu dengan kebohongan demi kebohongan. Biarkan aku meminta petunjuk pada Allah siapa diantara kalian yang berbohong." Ucap Nadia yang berusaha untuk tidak kepincut dengan apa yang terjadi barusan.
"Terimakasih sayang sudah mempercayaiku sejauh ini, aku tidak tahu apa jadinya diriku jika tidak ada kamu." Ujar Daffa lalu mengecup telapak tangan Nadia.
"Aku selalu ada untukmu, mendukungmu dengan cinta dan doaku, aku tidak akan menyerah begitu saja melepaskanmu untuk Anjani, walaupun itu adalah kebenaran jika bayi itu adalah putri kandungmu dan aku akan merawat bayimu itu seperti putriku sendiri.
"Nadia sumpah demi Allah, bayi itu bukanlah milikku, aku berani bersumpah demi anakku yang sedang kamu kandung ini." Ucap Daffa mulai putus asa mendengar keraguan Nadia padanya.
"Mas Daffa aku mohon jaga ucapanmu, Allah lebih tahu apa yang terjadi pada hambaNya, coba mas terima ini sebagai bentuk penghapusan dosa yang sudah mas lakukan, jangan terlalu merasa sangat gusar dengan keadaan ini. Beri aku kesempatan juga untuk menelaah rentetan peristiwa yang terjadi dalam rumah tangga kita."
Belum saja Daffa bernafas lega di luar gerbang utama mansionnya sudah berkerumun para pemburu berita. Para keamanan mansion menghadang para wartawan yang ingin memaksa masuk untuk mendapatkan informasi mengenai kasus pembunuhan yang dilakukan oleh tuan Subandrio Diningrat kepada orang tua dari model terkenal tahun 90an yaitu Larasati.
"Permisi nyonya diluar banyak wartawan yang ingin meliput berita tentang kasus pembunuhan." Ucap kepala keamanan mansion tuan Edy kepada nyonya Laila yang sedang menikmati kopinya dengan suami tercinta.
"Jangan beri informasi apapun dan jangan biarkan mereka masuk ke halaman mansion." Ucap nyonya Laila sedikit melirik suaminya yang nampak gelisah.
"Baik nyonya, kami akan meningkatkan keamanan mansion untuk menghadang para wartawan." Ucap kepala keamanan. tersebut lalu pamit kembali ke pos penjagaannya.
Daffa menemui orang tuanya, ia meminta solusi untuk bisa tetap berangkat ke perusahaan. Tidak lama Rio datang menjemputnya, tuan Edy kebingungan mengatasi masalah yang makin membuatnya tertekan. Yang membuatnya bingung adalah sidang perkara ini belum digelar di pengadilan, mengapa sudah tercium oleh wartawan. Belum lagi ketegangan mereka mereda, orangtua Nadia datang menemui orang tua Daffa setelah mendengar berita yang sudah menyebar di media televisi dan bahkan sudah viral di medsos.
Yang membuat Daffa kaget jika berita itu tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya, di media elektronik mengatakan jika tuan Subandrio Diningrat adalah otak dari pembunuhan tersebut dan memaksa putri Indra Kusuma menikah dengan putranya Edy Subandrio, hal ini makin memperkeruh suasana. Caci maki para netizen yang mengutuk tuan Subandrio dan putranya Edy berimbas pada perusahaan Daffa yang saat ini sedang gempar karena para pemegang saham menarik saham mereka dari perusahaan milik Daffa setelah Rio menjelaskan apa yang terjadi di perusahaan tuannya itu.
Keluarga ini benar-benar digoncang dengan masalah yang datang bertubi-tubi, Daffa rasanya ingin pingsan kalau tidak ditahan oleh Nadia. Ustadz Aditya yang baru saja menyambangi putrinya dirumah besannya itu, dengan menyampaikan sesuatu yang tidak terduga oleh tuan Edy dan istrinya Laila.
"Maafkan atas musibah ini ustadz Aditya, saya sebagai kepala keluarga di sini dan juga ayah kandung Daffa memohon keikhlasan anda untuk bisa bersabar dalam ujian ini, karena ini masih dalam proses hukum." Ucap tuan Edy dengan wajah sendu.
"Tuan Edy, kami tidak mau berurusan dengan keluarga pembunuh dan penipu seperti kalian, karena sejak Nadia dalam kandungan umminya, tidak secuil makanan dan setetes air pun yang ditelannya berasal dari harta yang haram, jadi saya sebagai ayah kandungnya meminta putri kami kembali kepada kami, dan setelah putri kami melahirkan, proses gugatan cerai akan kami layangkan ke pengadilan agama negeri." Ucap ustadz Aditya tanpa ada lagi kompromi diantara mereka.
"Ummi Kulsum kalian hanya salah paham, berita yang disampaikan oleh media massa itu tidak akurat, saya adalah putri dari Indra Kusuma sebagai satu-satunya saksi utama dari kasus pembunuhan kedua orang tua saya 28 tahun yang silam, saya...?
Belum sempat nyonya Laila menceritakan tentang kisah sebenarnya, Ummi Kulsum langsung menarik tangan Nadia untuk ikut pulang bersama mereka.
"Ummi, Nadia mohon ummi jangan pergi sekarang, di luar banyak wartawan, nanti saja kalau wartawannya sudah pergi." Ucap Nadia mengiba pada ibunya yang tidak sedikitpun memberi toleransi kepada keluarga ini.
"Nadia apakah kamu mau anakmu dicap sebagai keturunan pembunuh?" Ucap umminya sangat kasar kepada putrinya di depan besan dan menantu mereka.
"Astagfirullah ummi, mengapa ummi selalu mengikuti emosi dan mengapa ummi hanya memikirkan gunjingan para netizen, apakah ummi tidak merasa bahwa ummi sudah dzolim kepada keluarga ini, ingat ummi!" Rasulullah datang membawa risalah Islam di tengah kaum kafir Quraisy yang saat itu sangat hancur akhlak dan tauhid mereka. Bukankah mereka mengubur bayi perempuan mereka hidup-hidup, belum lagi saling membunuh dan berzina tanpa tahu status ayah mereka dan masih banyak lagi kejahatan yang mereka lakukan selain menyembah berhala-berhala di Ka'bah, bukankah kesyirikan mereka bisa diatasi dengan ketulusan Rasulullah berda'wah ditengah kaumnya yang melakukan kemaksiatan, tugas kita menyambung da'wah Rasulullah kepada sesama manusia." Ucap Nadia menasehati orang tuanya yang tidak lagi mengutamakan akal sehatnya itu karena termakan isu dari warta berita yang sudah menyebar cepat ke seantero negeri.
"Nadia pulang ke rumah kita sekarang, karena tempatmu bukan di sini tapi di rumah orangtuamu, jika kamu tidak menuruti perintah ummi, aku akan pastikan Daffa yang akan menuruti perintah ummi untuk menceraikanmu." Titah Ummi Kulsum tanpa menghiraukan nasehat putrinya, dengan terus memaksa Nadia untuk pulang bersama mereka.
"Tidak ummi!" Nadia tidak mau berpisah dengan mas Daffa lagi, lebih baik Nadia mati daripada harus berpisah dengan mas Daffa." Ujar Nadia sambil menangis dengan menahan tubuhnya agar tidak terseret oleh tarikan umminya pada pergelangan tangannya.
Plak!" tamparan keras mendarat di pipi cantik Nadia dari umminya. Dengan sedikit memaksa ummi Kulsum menarik Nadia hingga gadis itu tersandung salah satu sofa mungil yang ada dihadapannya karena tarikan ummi Kulsum yang begitu kencang.
Nadia pun akhirnya jatuh terjerembab ke lantai menyebabkan benturan pada perutnya membuat serangan kontraksi yang mendadak datang menyerang perutnya, darah segar mengalir dari jalur lahir, Nadia merintih kesakitan sambil memegang perutnya yang sakit.
"Akkhhh!" ya Allah sakit, anakku tidakkkk!" Teriak Nadia histeris ketika melihat darah sudah membanjiri lantai rumah, sambil memegang perutnya yang sakit.
"Nadiaaa!" teriak keluarga secara serentak ketika melihat Nadia jatuh.
Daffa yang panik meneriaki istrinya yang langsung pingsan, ia pun menggendong tubuh istrinya membawa keluar menuju pintu utama sambil memanggil asistennya Rio.
"Rio tolong siapkan mobil!" Kita harus membawa ke rumah sakit." Ucap Daffa dengan tergesa-gesa meninggalkan mansion.
Rio yang masih berada di situ buru-buru berlari membuka pintu mobil yang sejak tadi parkir di halaman mansion.
Keluarga ustadz Aditya dan tuan Edy turut menyusul Daffa dengan mobil mereka masing-masing. Fadil yang begitu geram melihat umminya yang tega mencelakai kakaknya Nadia karena terbakar emosi.
"Mengapa ummi jadi seegois itu pada mbak Nadia, memaksanya pulang padahal ia sedang membutuhkan suaminya yang siap siaga menunggunya menjelang kelahiran cucu ummi dan abi." Ucap Fadil yang sudah tidak tahan dengan kelakuan umminya yang membabi buta karena terpengaruh oleh berita tentang keluarga dari besan mereka.
"Diam kamu Fadil!" Mengapa kalian jadi kurang ajar begini pada umi dan abi karena keluarga terkutuk itu?" Tanya ummi Kulsum yang masih sakit hati kepada keluarga besar tuan Subandrio.
"Ummi apa yang dikatakan Fadil benar, harusnya kita mendukung mereka sebagai kerabat dekat, apakah ummi tidak lihat tante Laila sendiri sebagai korban dari peristiwa itu, sama sekali tidak marah pada suaminya atau meninggalkan suaminya ketika mengetahui pembunuh sebenarnya. Tadi Fadlan sedikit banyak mendengar cerita itu dari mas Daffa ketika ummi sedang berbicara dengan tante Laila.
"Ummi tidak peduli, kita harus menjauhkan kakak kalian dari keluarga itu. Benar-benar keluarga nggak jelas, aku menyesal menikahkan putriku dengan keluarga itu." gerutu ummi Kulsum tanpa terpengaruh oleh klarifikasi Fadhlan tentang berita yang mereka dengar pagi ini dari mulut Daffa.
Tidak lama kemudian mobil mereka sudah memasuki gerbang rumah sakit. Nadia sekarang sedang di tangani oleh dokter, proses persalinan lebih cepat dilakukan karena ari-ari bayi sudah terlepas sebelum waktunya, itu yang dikatakan oleh dokter Risna pada Daffa. Di dalam ruang bersalin Nadia yang berusaha melahirkan putranya secara normal. Ia benar-benar berjuang menyelamatkan bayinya walaupun pendarahan yang dialaminya tidak terelakkan, sudah berapa botol transfusi darah yang mengalir dalam tubuhnya untuk mengganti darahnya yang hilang.
"Terus nona, sedikit lagi, kamu bisa." Pinta dokter Risna yang terus mensuport Nadia yang sudah makin lemah tapi kepala bayinya masih terjepit di mulut rahim.
Jika Nadia lemah bayinya tidak akan bisa diselamatkan.
"Nadia sayang, tolong selamatkan bayi kita dan dirimu, ku mohon sayang!" Pinta Daffa seraya mencium pipi istrinya berulang kali dengan wajahnya yang juga amat tegang melihat perjuangan istrinya menyelamatkan bayi mereka.
"Bismillahirrahmanirrahim, Allahuakbar!" Teriak Nadia untuk terakhir kalinya meminta pertolongan Allah, lalu mengejan sekali lagi hingga akhirnya bayinya bisa diselamatkan namun sayang tidak dengan Nadia yang langsung drop kondisinya setelah membebaskan putranya dari alam rahimnya untuk bisa menghirup udara segar pertamanya di bumi Pertiwi. Nadia kehilangan kesadarannya, dokter Risna hampir gemetar saat memotong plasenta bayi. Daffa berteriak histeris. Alat kejut jantung disiapkan segera untuk menyelamatkan nyawa Nadia.
Wajah Nadia sudah seperti mayat hidup. Nadinya mulai melemah. Daffa diminta keluar dari ruang bersalin karena Nadia harus segera mendapatkan pertolongan. Dokter yang lain dikerahkan untuk menyelamatkan nyawa ibu yang baru saja berjuang menyelamatkan bayinya di sisa tenaganya yang terakhir.
"Nadia cintaku, tolong jangan tinggalkan kami hiks..hiks..hiks!" Ucap Daffa ketika suster mendorong tubuhnya untuk meninggalkan kamar bersalin itu.
..."Mas Daffa jika aku hidup hanya untuk memilih berpisah denganmu lagi, lebih baik aku memilih mati sayang, bukankah kematian lebih baik untukku saat ini, aku lelah menghadapi kenyataan ini karena dihadapkan terus pada pilihan yang sulit ku tentukan, mas Daffa jagalah putra kita sayang jika aku tidak bisa kembali kepada dirimu." Ucap Nadia dari alam bawah sadarnya lalu menjauh dari tempatnya berbaring....