
Setiap detik adalah perputaran waktu yang akan menuju menit lalu jam dan hari, bagaimana dengan dua orang yang sedang dilanda nilai asmara, kemudian menantikan perpisahan yang tidak mereka inginkan . Tidak ada pasangan manapun yang telah saling menguatkan cinta mereka, kemudian harus berpisah dengan sebuah alasan yang menyakitkan.
Hampir satu bulan Daffa dan Nadia menghabiskan sisa waktu mereka dengan bercinta, walaupun terus diperingatkan kakek Subandrio untuk menikahi Anjani yang kini usia kandungannya sudah memasuki enam bulan, namun Daffa tidak memperdulikan ultimatum itu.
Ia ingin melakukan apa saja dengan istrinya, setiap akhir pekan selalu saja mengunjungi tempat-tempat wisata walaupun hanya sekitar wilayah Puncak Bogor maupun kota Bandung. Banyak sekali foto-foto yang mereka simpan untuk mengobati rasa rindu jika mereka sudah tidak lagi hidup bersama. Masih ada satu harapan dari Daffa yaitu berharap Nadia akan segera hamil dan tuntutan kakeknya untuk menikahi Anjani akan gugur dengan sendirinya.
Di tempat wisata puncak Bogor, Daffa dan Nadia berada kini, tepatnya di taman bunga Nusantara.
Taman Bunga Nusantara ini adalah sebuah tempat wisata seru yang ada di daerah puncak, tempat yang berupa taman bunga world sebenarnya karena di tempat ini mereka akan menjumpai bunga-bunga yang berasal dari seluruh dunia seperti Prancis, Mediteranian, Jepang dan banyak lainnya.
Daffa meminta Nadia untuk membuka cadarnya sebentar karena ingin mengambil foto gadis nya. Nadia memperhatikan sekitarnya untuk memastikan keadaan aman agar ia bisa memenuhi keinginan suaminya.
"Sayang buka dulu cadarnya, aku ingin mengambil fotomu di taman bunga ini sendiri lalu foto berdua denganmu," pinta Daffa karena ingin mengabadikan momen mereka di taman bunga tersebut.
"Tunggu sebentar sayang, masih pada ramai." ucap Nadia yang sedikit gelisah memperhatikan pengunjung lainnya walaupun mereka tidak memperdulikan kehadiran Daffa dan Nadia.
Setelah dirasa aman, Nadia kemudian membuka cadarnya, awalnya Daffa ingin mengambil Nadia sendiri di hamparan bunga yang beranekaragam warna tersebut. Ketika ingin mengambil gambar istrinya, ia memperhatikan pose Nadia yang begitu terlihat mempesona. Sesaat, Daffa tidak langsung mengambil gambar Nadia, ia memperhatikan wajah Nadia dalam lensa kameranya. Ia hanya bergumam sendiri mengagumi istrinya walaupun setiap saat ia tidak pernah berhenti mengagumi kecantikan Nadia.
"Sayang, apakah aku harus melepaskanmu setelah kamu sudah berada di dalam genggamanku, bahkan kecantikanmu mengalahkan keindahan hamparan bunga yang ada di sekitar kita saat ini." ucap Daffa melamunkan angannya mengagumi kecantikan wanitanya.
Kecantikan istrinya membuatnya ingin berlama-lama menatap Nadia. Gadis ini sedikit kesal karena suaminya terlalu lama mengambil gambar dirinya.
"Sayang buruan fotonya, keburu banyak orang yang memperhatikan wajah aku," ucap Nadia yang sudah mulai tak nyaman dengan para pengunjung lain, walaupun sebagian ada yang wanita yang menatap wajahnya cantiknya tanpa henti, seakan mereka sedang melihat kehadiran bidadari di taman bunga ini.
"Iya sayang, berpose lagi yang bagus, cukup 1 menit aku akan mengambil fotomu." pinta Daffa yang sudah star lagi membidikkan kameranya ke arah sang istri.
Daffa yang memang memiliki hobi memotret apa saja yang dianggapnya indah dan unik. Sekarang obyek pemandangannya adalah istrinya sendiri, seolah alam tidak lagi menjadi daya tarik untuknya kini, karena telah tergantikan oleh primadona hatinya. Beberapa gambar Nadia sudah ia abadikan, tapi teriakan terakhir Nadia spontan membuatnya langsung memeluk istrinya.
"Mas Daffa, ada yang sedang memotretku secara diam-diam," teriak Nadia histeris memanggil suaminya. Seketika Daffa berlari mengalihkan tubuh Nadia dari pandangan orang yang sedang memotret istrinya tanpa izin.
"Tenang sayang aku akan mengurus ini, di mana posisi orang itu?" tanya Daffa yang masih memeluk Nadia tanpa membalikkan wajahnya untuk melihat seseorang yang dimaksud istrinya.
"Arah pukul sebelas," jawab Nadia seraya mengikat lagi cadarnya.
"Sekarang kita berjalan seolah tidak terjadi apa-apa, dengan begitu kita bisa mengambil kameranya. Ayo ikut aku!" desak Daffa yang ingin menghampiri pria yang tidak punya sopan santun itu terhadap istrinya.
"Tapi mas, apakah kamu akan menghajarnya?" tanya Nadia yang begitu kuatir jika Daffa akan melakukan kekerasan pada pemuda yang sudah diam-diam mengambil foto dirinya.
"Kita lihat saja nanti, ucap Daffa yang sudah dekat jaraknya antara mereka dengan lelaki yang dimaksud istrinya.
Ketika sudah dekat dengan pria itu, Daffa langsung menegur lelaki itu, sedangkan lelaki itu pura-pura mengambil gambar ke arah yang lain, hal ini membuat daffa makin geram dengan lelaki tersebut.
"Permisi bung, boleh aku meminjam kamera milikmu?" tanya Daffa yang masih sabar menghadapi pria yang kelihatannya seorang fotografer handal jika dilihat dari tas kameranya yang agak sedikit uang karena seringnya ia menggunakannya.
"Oh maaf, apakah anda sedang memanggilku?" tanya pria fotografer itu pura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Saya boleh meminjam kamera anda?" tanya Daffa yang mengulangi lagi pertanyaannya.
"Ada apa dengan kamera anda tuan sehingga meminjam kameraku?" tanya lelaki itu yang sudah menyembunyikan kameranya dari tatapan mata Daffa.
Nampaknya Daffa sudah tidak sabar lagi menghadapi pria ini, iapun mengambil paksa kamera pria itu.
"Hei, apa yang akan kamu lakukan dengan kameraku?" tanya pria itu berusaha merebut kembali kameranya dari tangan Daffa.
"Sebentar bung, anda sudah tidak sopan mengambil foto istri saya tanpa ijin." ucap Daffa memberi alasan.
Daffa memeriksa kamera pria itu, ternyata banyak sekali foto Nadia yang dia ambil oleh lelaki ini. Daffa segera menghapusnya walaupun foto yang diambil pria itu sangat bagus hasilnya dari pada miliknya. Gaya pose Nadia seperti model pakaian syar'i jika dilihat dari hasil bidikan kamera milik pria itu.
"Saya akan melaporkan perbuatan anda yang tidak menyenangkan karena mengambil gambar orang lain tanpa ijin, apa lagi anda tahu kalau istri saya menggunakan cadar, ini adalah fitnah baginya." ujar Daffa menatap tajam wajah lelaki didepannya.
"Maaf tuan, saya hanya seorang fotografer yang selalu melihat keindahan itu sebagai seni, lagian saya nggak akan menyebarkan foto istri anda ke internet." jawab lelaki itu membela diri.
"Sudah syukur kameramu tidak aku banting bung, dan tolong hargai privasi orang lain, kamu pasti tidak inginkan istri atau kekasihmu mungkin juga saudaramu jika dilecehkan oleh orang bukan?" tanya Daffa sembari menyerahkan kamera milik pria itu lagi.
Nadia yang mengerti kalau perasaan suaminya saat ini sedang murka, iapun tidak ingin banyak berkomentar tentang kejadian hari ini. Ketika sudah berada di dalam mobil Daffa kembali memeluk tubuh istrinya lalu mencium bibir itu lembut.
"Maafkan aku sayang, ini semua salahku yang sudah memaksamu untuk membuka cadar." ucap Daffa dengan penuh sesal.
"Aku nggak apa mas Daffa, lagian foto-fotonya sudah kamu hapus, jadi tidak lagi ada masalah." ucap Nadia menenangkan suaminya.
"Kamu merasa nggak masalah, tapi saya yang merasa bersalah bahkan saya ingin mencongkel kedua mata pria itu tadi, karena sudah berani menatap wajahmu dan sekarang wajahmu sudah terekam jelas diingatannya." sesal Daffa seraya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ya Allah sayang, mengapa kamu jadi senewen begitu sih, kita doakan saja semoga ia lupa ingatan khususnya pada wajahku ini," ucap Nadia menghibur suaminya.
Daffa merasa sangat geli dengan hiburan yang sedang diberikan Nadia kepadanya. Gadis ini sempat-sempatnya membuat ia tertawa. Namun tawanya seolah terbenam begitu saja ketika mengingat wajah kakeknya yang terus hadir dalam pikirannya.
"Kenapa mas Daffa tiba-tiba diam?" apakah masih memikirkan kejadian tadi?" tanya Nadia yang melihat perubahan wajah suaminya menjadi murung.
"Tidak apa sayang, kita makan yuk!" ajak Daffa langsung membelokkan mobilnya masuk ke restoran masakan sunda.
Daffa memarkirkan kendaraannya. Mereka kembali memesan makanan khas sunda, nasi liwet dan lengkap dengan lauk pauknya.
Keduanya nampak lahap menikmati makanan mereka. Daffa yang menghabiskan makanannya terlebih dahulu lalu ke wastafel untuk membersihkan tangannya. Ia kembali duduk menunggu istrinya menyelesaikan makanannya.
"Sayang, apakah aku boleh menceritakan sesuatu kepadamu?" tanya Daffa yang ingin bicara jujur kepada istrinya tentang Anjani.
"Silahkan sayang, aku siap mendengarkannya," jawab Nadia yang sudah mengakhiri sisa makanannya.
"Ini mengenai Anjani, gadis yang mengaku jika akulah yang telah menghamilinya." jelas Daffa kepada istrinya.
Nadia sebenarnya tidak ingin mendengar pengakuan suaminya, tapi ia juga mau tidak mau harus mendengarkan kenyataan pahit ini. Melihat istrinya diam saja, Daffa merasa istrinya sudah siap mendengarkan pengakuan darinya. Iapun mulai mengungkapkan dosa yang selama ia tutupi.
"Anjani adalah keponakannya ibu tiriku, istri pertama dari ayahku. Kami dulu tumbuh bersama dan ketika usia remaja, kami berpacaran seperti layaknya cinta monyet saat itu. Ia yang selalu menghiburku ketika aku sedang kesal dengan ayahku yang jarang pulang menemani mamiku.
Hubungan kami awalnya biasa saja, tapi ketika kami sedang merayakan kelulusan tingkat SMA, kamipun bercinta dan saat itu ia sudah tidak gadis lagi, aku merasa sangat kecewa dengannya lalu kami pun putus, setelah aku tamat kuliah dan ia yang baru pulang dari Australia mengajakku untuk berkencan tapi aku menolaknya karena aku tidak ingin terikat padanya. Dan terakhir ketika aku diminta mami untuk menikahimu aku cukup setress karena tidak suka dengan urusan perjodohan.
Karena ingin menyakitimu supaya kamu bisa pergi dari hidupku, aku kembali memintanya untuk tidur bersamanya. Setiap kali aku bercinta dengan wanita manapun termasuk Anjani, aku selalu memakai pengaman walaupun Anjani mengaku ia akan minum pil pencegah kehamilan tapi tetap saja aku tidak ingin dijebak dengan wanita manapun. Aku tidak ingin terikat dengan wanita manapun yang sudah aku tiduri, Itulah mengapa aku bersikeras untuk tidak mengakui anak yang dikandung oleh Anjani kini adalah milikku." ucap Daffa mengakhiri kisah pertemuannya dengan Anjani.
"Apa yang mas Daffa harapkan dariku setelah menceritakan ini semua kepadaku." tanya Nadia sedikit menekan perasaan kecewanya.
"Aku tidak perduli dengan pendapat orang lain padaku, tapi aku hanya ingin kamu percaya bahwa aku tidak menghamili Anjani sayang." sahut Daffa dengan memohon istrinya agar percaya padanya.
"Mas, mengapa kamu seolah ingin menyelamatkan diri dari aibmu, yang kamu sudah lakukan pada Anjani, mungkin bagimu titik permasalahannya adalah hasil dari perzinahan kalian yaitu anak, bagaimana dengan perzinahan yang kamu lakukan padanya, bukankah itu juga harus ada tanggungjawabnya?" jika kamu kuat, mengapa tidak kamu nikahi semua wanita yang pernah kamu tiduri, dengan begitu kamu bisa dianggap lelaki yang bertanggungjawab, bukan seorang lelaki yang hanya mencari kesenangan sesaat, dengan banyak uang yang kamu miliki saat ini." ucap Nadia yang membuat Daffa seketika terbelalak merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Sayang, mengapa saranmu kedengaran menakutkan seperti itu, mana mungkin aku menikahi semua mereka dalam waktu yang bersamaan, mereka adalah bagian masa laluku bukan masa depanku. Aku hanya bersenang-senang dengan mereka, bukan ingin menjalin hubungan dengan mereka. Aku butuh hiburan dan mereka butuh uang, bukankah itu timbal balik yang seimbang?" ucap Daffa memberi pengertian kepada istrinya.
"Ayo mas kita pulang ke Jakarta, aku sudah lelah seharian berkunjung dari tempat satu ke tempat lainnya, semua tidak lagi menarik untuk aku nikmati." ucap Nadia yang tidak ingin lagi mendengar kisah petualangan suaminya.
Mungkin bagi Daffa, kejujurannya tentang masa lalunya, bisa membuatnya sedikit lega, setelah berbicara langsung pada Nadia, namun kejujuran suaminya seperti ribuan sembilu yang siap mengiris setiap jengkal tubuhnya.
"Nadia, apakah kamu kecewa sayang?" tanya Daffa kuatir melihat wajah datar istrinya.
"Apakah aku harus kelihatan senang setelah mendengarkan semua pengakuanmu yang telah meniduri banyak wanita diluar sana?" tanya Nadia sarkas kepada suaminya.
Daffa memegang tengkuknya, ia merasa serba salah, jika sudah berhadapan dengan istrinya yang kadang membuat lidahnya menjadi kelu, jika mereka sedang terlibat perang mulut. Daffa seolah mati kutu dengan istrinya yang selalu saja kembali melempar umpan balik jika ia bertanya kepada Nadia, kalau sudah menyangkut dengan tabiatnya yang buruk.
"Nadia kamu memang kelihatan lembut dan anggun namun, kepribadianmu juga sulit untuk ditaklukkan." ucap Daffa dalam hatinya.
Keduanya kembali menuju ke apartemen mereka, Nadia merebahkan tubuhnya di jok mobil, ia tidak ingin lagi mendengar ocehan suaminya. Ia ingin memejamkan matanya hingga perjalanan mereka sudah masuk ke jalan bebas hambatan. Daffa mulai fokus membawa mobilnya dan tidak ingin lagi menganggu istrinya yang sedang tidur.
Ia sendiri menjalankan mobilnya sambil melamun, apakah yang akan terjadi nanti, jika mereka akhirnya akan berpisah. Daffa begitu takut kehilangan Nadia, jika bisa memilih ia ingin membawa lari istrinya jauh dari keluarga besarnya dan meninggalkan semua kemewahan yang ia miliki.
Tapi bagaimana dengan maminya, walaupun maminya sangat dibenci oleh keluarga besar ayahnya, tapi mami sangat mencintai ayahnya. Cinta yang bodoh, atau kesetiaan yang tidak jelas arah perjalanannya, rasanya ini seperti bumerang untuk dirinya. Menyelamatkan pernikahannya atau menyelamatkan pernikahan kedua orangtuanya. Dua wanita yang sangat ia cintai, harus ia pertaruhkan untuk memilih salah satunya baik suka atau tidak, pilihan itu hanya satu.