SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
69. HIJRAH


Proses gugatan perceraian yang diajukan oleh pengacara Nadia berlangsung begitu cepat, keputusan sepihak tanpa ada mediasi dari pihak Nadia dengan pengacara Daffa membuat ayah dari Hafiz ini sangat terluka. Pengadilan agama yang memutuskan proses perceraian sudah menjatuhkan keputusan untuk kedua belah pihak dengan alasan Nadia tidak ingin dimadu.


"Nadia kita sudah sepakat untuk menyelesaikan permasalahan ini, kamu ingin aku mendapatkan bukti dari Anjani bahwa bukan aku yang telah mendorongnya dari tangga, sedang aku usahakan. Sekarang kamu tidak mau bersabar dan langsung memutuskan untuk bercerai denganku, mau kamu apa sebenarnya." Ucap Daffa murka ketika mereka sudah berada di luar gedung pengadilan agama Jakarta Selatan.


"Maafkan saya mas Daffa, suatu saat nanti kamu akan tahu tujuanku melakukan ini semua, kita hanya butuh proses untuk mencapai kebahagiaan dengan jalan harus menelan kepahitan." Sahut Nadia tanpa melihat wajah Daffa.


"Nadia aku tidak tahu apa yang ada dipikiranmu saat ini, aku sangat kecewa padamu dan jangan berharap kamu akan bertemu dengan putra kita, jika kamu ingin meninggalkan kami, pergilah sejauh mungkin dari hidup kami. Terimakasih sudah mau menjadi bagian dari hidupku, tempuh lah jalan hidup sesuai yang kamu inginkan, aku tidak akan peduli lagi dengan hidupmu. Aku permisi, assalamualaikum." Daffa meninggalkan Nadia lalu menuju mobilnya. Ia pulang dengan membawa amarah dalam hatinya.


Baru saja ia berada di dalam mobilnya, ia mendapat telepon dari ayahnya yang berada di Amerika. Iapun menjawab panggilan itu.


"Hallo ayah!" Sapa Daffa setenang mungkin.


"Hallo nak, ayah mohon kalian segera ke Amerika karena adikmu ingin bertemu dengan kalian. Keadaannya sudah sangat parah, ia ingin bertemu denganmu Daffa, ada yang ingin ia sampaikan kepadamu." Ucap ayahnya dari seberang telepon dengan suara yang terdengar sedih.


"Baik ayah, kami akan segera ke sana," ujar Daffa panik.


"Ayah tunggu kedatangan kalian secepatnya, ayah mohon maaf karena tidak bisa mendampingimu ketika kamu dalam kesulitan nak." Ujar Tuan Edy penuh penyesalan pada putra sulungnya ini.


"Tidak apa ayah, cukup doakan saja semoga Allah selalu melindungi Daffa dari hal yang buruk." Ucap Daffa tanpa menceritakan kemelut rumah tangganya yang dihadapinya saat ini.


Keduanya sama-sama mengakhiri pembicaraannya, Daffa meminta Rio untuk kembali ke mansion menemui mami Laila dan putranya Hafiz. Nyonya Laila memang tidak mengikuti proses sidang perceraian itu terjadi karena ia berpikir dengan mediasi, pernikahan putranya dapat dipertahankan.


Rio kembali menasehati bosnya untuk sabar menerima keputusan perceraian keduanya Daffa.


"Bos, jangan terlalu terbawa perasaan, karena bos dan nona muda Nadia baru melakukan perceraian kedua, bukan yang ketiga, jika perceraian ke tiga terjadi, mau tidak mau nona muda Nadia harus menikahi lelaki lain, lalu bercerai setelah itu bisa menikah dengan bos lagi, saya harap bos bersabar dan terus berdoa agar Allah memberikan pertolongan-Nya ketika tingkat kepasrahan hambaNya sudah di ujung jurang keridhoannya pada Sang Khaliq." Ujar Rio menasehati bosnya dari sisi religi yang ia ketahui.


"Tapi aku tidak sekokoh itu imanku Rio, aku sangat mencintai Nadia, sedetikpun aku tidak ingin berpisah dengannya." Ujar Daffa.


"Apakah bos tidak ingat, dulu bos mendapatkannya dengan mudah karena di jodohin oleh nyonya besar, setelah menikah dengannya, bos menyia-nyiakannya, bahkan tidak segan menyakitinya, gadis itu dengan sabar mendampingimu bos, tanpa mengeluh pada siapapun, sekarang Allah sedang mengujimu untuk mendapatkannya kembali dengan memperjuangkannya melalui air mata, sakit hati bahkan dengan darah sekalipun.


Mungkin dengan cara ini Allah mengugurkan dosa bos perlahan-lahan, sampai dosamu bersih setelah itu Allah akan mengembalikan hadiah indah itu kepada bos karena bos iklash menjalani setiap ujian yang diberikan Allah kepada hambaNya yang bersabar." Jelas asisten Rio panjang lebar.


"Apakah seperti itu proses jalan hidup manusia ketika ingin hijrah ke arah yang lebih baik Rio? mengapa kamu banyak tahu yang tidak aku ketahui cara Allah mengampuni dosa hambaNya." Ujar Daffa yang heran dengan banyaknya perubahan spritual Rio saat ini.


"Karena aku sering mendengar kajian ulama-ulama sholeh yang berilmu bos, ketika aku sudah berada dirumah, karena aku banyak tahu makanya aku berani menyampaikan nasehat bijak ini pada bos." Jawab asisten Rio lugas.


"Kamu diam-diam menghanyutkan Rio, apa motivasimu hingga kamu sekarang lebih religius Rio?" Tanya Daffa.


"Kalau pingin dapat istri sholeha, saya harus lebih sholeh untuk menjadi imam yang baik bos, saya sudah tertular dari anda karena bos sudah banyak berubah ketika menikah dengan nona muda Nadia yang lebih banyak memberi efek positif dalam rumah tangga anda tuan, walaupun saat ini anda sedang menerima lagi perceraian setidaknya anda masih bisa mendapatkannya kembali, sabar bos, semua ada waktunya untuk meraih lagi kebahagiaan." Ujar Rio menghibur Daffa yang masih murung.


"Baik bos, akan aku lakukan secepatnya."


🌷🌷🌷🌷


Daffa dan maminya beserta putranya Hafiz sudah berada di pesawat jet pribadi, menuju Amerika serikat. Mereka hanya bertiga yang berangkat ke Amerika. Daffa menceritakan perceraiannya dengan Nadia yang begitu mendadak kepada maminya ketika mereka sudah di dalam pesawat.


"Apa tidak ada jalan lain untuk kalian tidak bercerai Daffa, Nadia tidak mungkin seceroboh itu hingga ia memutuskan menceraikanmu nak." Ungkap nyonya Laila.


"Aku juga masih bingung mami, sekarang ditambah lagi adik tiriku yang saat ini makin kritis, walaupun hubungan kami selama ini tidak baik-baik saja, tapi demi permintaan terakhirnya, aku harus menemuinya mami." Jawab Daffa yang makin terpuruk saat ini.


"Tahun ini kita mengalami banyak ujian demi ujian yang harus kita hadapi, tapi setiap ujian memiliki tingkat kemampuan yang ditanggung oleh hamba Allah sesuai dengan kesanggupannya, selain untuk mengugurkan dosa namun akan dinaikkan setiap derajat hambaNya, jadi jangan dulu menyerah Daffa karena ada kemenangan yang indah akan menantimu." Ucap Nyonya Laila menyemangati putranya agar tidak terlalu terpuruk dengan perceraian yang kedua ini.


"Aku kasihan Hafiz mami, ia yang jadi korban dari ketidakadilan ini."


"Ikutin permainan ini Daffa, sampai kamu keluar jadi pemenangnya, kamu harus yakin bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan ini diluar dari kemampuan hambaNya.


Mereka kemudian memilih istirahat sambil menunggu perjalanan mereka tiba sampai tujuan.


Di Jakarta, ummi Kulsum meminta putrinya untuk berhijrah bersama adik kembarnya yang ingin melanjutkan pendidikan mereka ke Kairo Mesir.


"Nadia mulailah hidup baru. Manfaatkan harimu dengan hal yang bermanfaat, bersiaplah sayang karena kita semua harus berhijrah ke Kairo Mesir. Kamu bisa melanjutkan pendidikan S3 di sana bersama dengan adik kembarmu." Ucap ummi Kulsum yang sedang mengepakkan barang-barang yang akan dibawa oleh si kembar.


"Ummi untuk apa jauh-jauh menempuh pendidikan S3 di Kairo, Jakarta memiliki fakultas yang bagus untuk mendalami ilmu agama, bagaimana kalau saya merindukan Hafiz, bagaimana kalau anakku sakit?" Tanya Nadia yang sudah tidak sabar menghadapi umminya yang makin menjadi piara egoisnya.


"Ummi tidak ingin kamu bertemu lagi dengan mantan suamimu, kalau kalian dekat bahkan rujuk lagi." Ancam ummi Kulsum dengan suara yang makin meninggi.


"Ummi!" Mengapa ummi setega itu padaku? Apakah dengan memuntahkan semua kebencian ummi dan menginginkan balas dendam pada mas Daffa mampu menghidupkan lagi Abi?" Tanya Nadia tanpa sadar melawan umminya.


Plak!" Satu tamparan keras mendarat di pipi Nadia dari ummi Kulsum.


"Hanya karena lelaki itu kamu berani melawan ummi?" apakah ini hasil didikan orangtua yang selama ini membesarkanmu?"


"Ummi sudah berhasil memisahkan aku dan mas Daffa, tapi ummi masih tidak puas memisahkan aku dengan anakku?" harus bagaimana lagi membuat ummi puas memanfaatkan kekuasaan ummi sebagai ibu yang melahirkan Nadia, ummi egois!" Nadia meninggalkan ummi Kulsum dan menangis dikamarnya.


"Astaghfirullah ya Allah, apa yang telah kulakukan kepada putriku? apakah aku salah jika aku ingin memberikan kebahagiaan baru untuknya?" Tangisnya luruh dengan tubuhnya jatuh terduduk di sofa.