SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
35. KABAR SUKA DAN DUKA


Nyonya Laila sangat antusias mendengar kabar bahagia tentang kehamilan Nadia. Ia lalu menanyakan apa saja keinginan menantunya yang biasa dialami oleh wanita yang hamil muda yang identik dengan namanya ngidam.


"Sayang, kamu lagi ngidam apa sekarang, biar mama belikan untukmu atau mbok Ina yang akan membuatkan masakan kesukaan untukmu?" tanya nyonya Laila kepada menantu idamannya ini.


"Nadia ngidamnya pingin dekat sama Daffa terus mami." kata Daffa mengedipkan satu matanya ke arah Nadia.


"Itu ngidamnya kamu Daffa bukannya Nadia." gerutu nyonya Laila pada putranya itu.


"Kan seorang calon ayah bisa ngidam kalau istrinya lagi hamil kan mami?" timpal Daffa nggak mau kalah.


"Nadia mami nanya kamu sayang, bukan nanya suamimu yang nakal itu, jawab dong cantik!" pinta mami Laila pada Nadia.


"Nadia hanya pingin makan buah segar, lagian Nadia selalu memuntahkan makanannya setelah itu, sayangkan mami kalau beli mahal-mahal terus dimuntahkan lagi." ucap Nadia dengan wajah merenggut kesal.


"Ya nggak apa sayang, dulu mami juga gitu, lagi hamil Daffa, selalu muntah lagi usai makan, tapi mami makan lagi setelah itu, lihatkan hasilnya putra mami tampan dan cerdas." ucap nyonya Laila memberi saran kepada Nadia dengan memuji putranya Daffa.


Karena nggak mau mengecewakan mami Laila, Nadia mengatakan keinginannya untuk membelikan makanan ini dan itu. Nyonya Laila mengingat semua pesanan menantunya ini. Ia kemudian memesan makanan yang ada di restoran langganannya. Nadia yang kaget mendengar pesanan makanan untuknya dibeli semua oleh nyonya Laila.


"Mami, kenapa diborong semua, Nadia nggak sanggup habisin sekaligus dalam sehari." ucap Nadia yang tidak ingin makanan itu bakalan mubasir.


"Katanya kamu selalu muntah, berarti kamu bisa makan lagi setelah makanan yang dimuntahkan semuanya itu." ucap nyonya Laila yang begitu bersemangat melakukan apapun untuk menantunya ini.


"Oh iya mami, Nadia lupa." ucap Nadia dengan tersenyum malu pada nyonya Laila.


"Kalau begitu mami pulang dulu, dan mbok Ina tolong layani menantuku dengan baik, pastikan dia tidak kekurangan apapun selama masa kehamilannya." titah nyonya Laila kepada mbok Ina.


"Baik nyonya, saya akan melayani semua kebutuhan nona muda." ucap mbok Ina santun kepada nyonya Laila.


Setelah cipika cipiki diantara mereka bertiga, nyonya Laila meninggalkan kamar apartemen milik putranya ini dengan diantar Daffa sampai ke tempat di parkiran mobil. Daffa menanyakan keadaan istri keduanya Anjani kepada maminya.


"Mami bagaimana kabar kehamilan Anjani saat ini?" tanya Daffa


"Dia baik, hanya saja sering kontraksi akhir-akhir ini, tapi biarkan dia mami yang urus, kamu fokus rawat Nadia, dan kabar rujuk kalian jangan sampai kakekmu tahu." ucap nyonya Laila mewanti-wanti putranya ini.


"Terimakasih mami sudah memahami keinginan Daffa untuk mempertahankan Nadia. Tanpa Nadia di sampingku, Daffa tidak ingin melanjutkan hidup." ucap Daffa yang merasa lega karena maminya terus mendukung hubungannya dengan Nadia.


"Kalau begitu jaga Nadia dengan baik, dan jangan keluyuran ke manapun dengan Nadia, bisa jadi tuan Fahri akan bertindak kejam kepada menantu cantik kesayangan mami itu, assalamualaikum." ucap maminya lalu menjalankan mobilnya yang dari tadi sudah ia nyalakan mesinnya.


"Waalaikumuslam, da..da..mami sayang, hati-hati di jalan!" ucap Daffa yang tetap berdiri menunggu hilangnya mobil maminya dari tempat parkiran.


Daffa kembali ke kamar apartemennya, menemui lagi cintanya. Didalam apartemen, Nadia sedang menunjukkan kamar untuk mbok Ina tidur. Wanita berusia 55 tahun ini menaruh barang-barangnya di kamar untuknya tersebut. Nadia memberi tahu tugas-tugas penting yang harus dikerjakan oleh mbok Ina, kecuali memasak, biar ia sendiri yang mengerjakannya untuk suaminya. Mbok Ina menyanggupi permintaan Nadia.


"Nona muda, terimakasih sudah meminta mbok melayani kalian berdua, bertemu lagi dengan tuan Daffa sangat membuat mbok senang. Tuan Daffa adalah anak yang baik, hanya saja kehidupannya tidak seenak dengan kemewahan yang didapatkannya.


Mbok senang melihat perubahan sikap tuan Daffa yang awalnya jutek sekarang ramah dengan semua orang, setelah menikah dengan nona muda Nadia. Tolong jangan tinggalkan tuan Daffa nona muda. Walaupun dari luar ia kelihatan tegar, sebenarnya ia adalah sosok lelaki rapuh yang membawa air matanya di kamar tidurnya jika ia tersakiti oleh keluarganya sendiri." ucap mbok Ina dengan wajah sendunya.


"Insya Allah mbok, makasih banyak sudah membagikan cerita tentang masa lalu mas Daffa denganku." ucap Nadia sambil mengusap tangan mbok Ina.


"Nadia,... Nadia!" panggil Daffa yang lagi mencari keberadaan istrinya dari luar kamar mbok Ina.


"Saya keluar dulu ya mbok, kalau ada hal yang mbok tanyakan, panggil saja saya. Sekarang mbok istirahat saja di kamar mbok, nonton televisi atau apa saja yang mbok suka, tolong jangan keluar dari kamar ini kalau tidak saya panggil. Fasilitas kamar ini cukup baik, jadi mbok nggak perlu keluar kamar kecuali ada hal yang sangat penting." ucap Nadia mengingatkan mbok Ina.


"Baiklah nona muda, terimakasih untuk semuanya." ucap mbok Ina dan di sambut oleh anggukan Nadia.


"Iya, sayang, aku di sini!" ucap Nadia menghampiri suaminya.


Daffa memeluk istrinya, lalu mengecup bibir itu, Nadia sangat bahagia karena Daffa makin sayang kepadanya. Mereka kembali ke kamar lalu mengobrol hal-hal penting. Lalu kembali melanjutkan lagi ritual hubungan intim mereka hingga keduanya lelah dan tidur sambil berpelukan dengan posisi Daffa yang masih mengisap put*ng bukit kembar Nadia dengan satu tangannya yang masih menggasak liang sempit milik istrinya. Karena lelah Nadia tertidur dan Daffa beraksi sendiri menggerayangi tubuh istrinya dengan mengisap atas bawah milik istrinya.


🌷🌷🌷🌷


Satu bulan kemudian, Daffa menemani Nadia ke dokter ingin melakukan pemeriksaan lanjutan kehamilannya Nadia yang sudah memasuki bulan ke empat, perut Nadia yang sudah mulai membuncit tapi tidak begitu terlihat karena baju longgar syar'i yang dipakainya. Hanya cara jalannya yang agak lamban. Paras cantiknya makin bertambah tambah, dengan pay**ra yang lebih kelihatan membesar.


Berada di salah satu rumah sakit mewah yang terkenal di Jakarta, Daffa dan Nadia yang menunggu giliran mereka untuk dipanggil oleh suster. Tidak lama kemudian nama Nadia disebut, keduanya masuk ke ruang dokter spesialis kandungan yaitu dokter Risna.


"Selamat malam dokter!" sapa Nadia dan Daffa bersamaan.


"Selamat malam nona, silahkan duduk." ucap dokter Risna.


"Ini anak ke berapa nona?"


"Anak pertama dokter."


"Sebelumnya sudah pernah diperiksa kehamilannya?"


"Ok, berarti kita harus lihat di posisi bayinya dengan perkembangan organ vital lainnya melalui USG." ucap dokter Risna lalu meminta Nadia untuk berbaring.


Dengan bantuan suster, Nadia mengangkat bajunya untuk bisa memudahkan dokter melakukan USG kepada perutnya. Dokter Risna menjelaskan keadaan kandungan Nadia sesuai dengan usia kandungannya yang sudah berusia empat bulan dengan memperlihatkan keadaan janin di layar lebar monitor yang ada di hadapan dokter Risna tersebut.


"Perkembangan janin pada usia 4 bulan, tepatnya usia 20 minggu adalah janin sudah sebesar buah pisang. Janin sudah memiliki berat 290 gram dan panjang 16,5 cm. Pada usia ini janin sudah tumbuh semakin besar sehingga tekanan pada perut, paru, hingga kandung kemih akan nona rasakan." jelas dokter Risna kepada pasangan calon ayah dan ibu muda ini.


Daffa dan Nadia memperhatikan tubuh bayi mereka yang ada dilayar tersebut. Daffa sangat senang melihat bagaimana calon bayinya tumbuh didalam rahim kekasih jiwanya ini. Setelah menjelaskan semuanya termasuk memberi saran apa saja yang harus diperhatikan oleh Nadia selama masa kehamilannya.


"Terimakasih dokter atas penjelasannya." ucap Nadia yang sudah menutupi kembali perutnya setelah olesan jeli pada permukaan perutnya dibersihkan oleh dokter dengan tisu.


Dokter mencatat resep obat dan vitamin untuk di minum Nadia. Daffa membantu istrinya untuk turun dari tempat tidur. Sekilas dokter Risna dan suster melirik kecantikan Nadia yang hampir sempurna saat Nadia membuka cadarnya untuk dirapikan kembali. Dalam hati mereka begitu tertegun paras cantik gadis ini.


"Pantas saja suaminya menyayangi nya, istrinya secantik itu." ucap dokter Risna membatin.


Usai pemeriksaan kehamilan Nadia, keduanya pamit dari hadapan dokter lalu menebus resep obat dan vitamin untuk Nadia di bagian apotik rumah sakit tersebut.


Ketika keduanya sudah berada di koridor rumah sakit, mereka berpapasan dengan keluarga Anjani dengan nyonya Laila yang mengantar Anjani yang ingin melahirkan. Istri kedua Daffa ini yang sedang menahan sakit diperutnya karena kontraksi sesaat berhenti meringis. Matanya terbelalak dengan mulut yang terbuka melihat Daffa begitu mesranya memeluk pinggang istrinya Nadia. Bukannya takut atau gugup melihat Anjani dan keluarganya, Daffa malah lebih mengeratkan pelukannya pada pinggang sang istri.


Nyonya Laila sudah memberi kode kepada putranya itu dengan matanya untuk meminta Daffa menyapa Anjani, namun Daffa tidak peduli, hingga akhirnya Nadia yang duluan menyapa Anjani yang sedang berada di kursi roda rumah sakit.


"Mbak Anjani mau melahirkan?" tanya Nadia namun Anjani tidak memperdulikan perhatian Nadia kepadanya, matanya hanya tertuju pada Daffa yang tidak mau melihat istri keduanya itu sama sekali.


"Daffa, temanin Anjani lahiran, lihatlah ia begitu kesakitan seperti ini. Harusnya kamu berada disisinya saat ini." ucap ibunya Anjani mengharapkan menantunya ini mau mendampingi putrinya.


"Nadia juga membutuhkanku karena dia juga sedang hamil anak kami. Bukankah Anjani sudah ditemani orangtuanya, mengapa harus aku yang mendampinginya?" ucap Daffa dengan nada datar.


"Mas Daffa ini juga anakmu, mengapa kamu tidak ingin mendampingiku dan melihatnya lahir ke dunia ini, auhhgg!" ucap Anjani setengah menahan sakit pada perutnya.


"Anjani itu anakmu dengan lelaki yang kamu tiduri dan kamu lebih jelas mengetahui siapa ayah kandungnya." ucap Daffa dengan penuh penekanan pada kalimatnya.


"Akkkhhh!" sakit, cepat mama aku nggak kuat lagi." ucap Anjani meminta suster yang mendorong kursi rodanya untuk segera membawanya ke ruang bersalin.


Semuanya pada panik, keluarga Anjani mengikuti langkah suster yang mendorong kursi roda Nadia. Sedangkan nyonya Laila meminta putra dan menantunya Nadia untuk ikut serta. Daffa awalnya menolak, namun Nadia memintanya untuk ikut mendampingi Anjani.


"Daffa bagaimanapun, dia istrimu walaupun kamu tahu jika itu bukan anakmu, setidaknya dampingi Anjani." pinta nyonya Laila memohon kepada putranya yang masih saja keras kepala.


"Sayang ayolah!" tidak ada salahnya, mendampinginya demi kemanusiaan tanpa harus menghukum bayinya yang tidak berdosa itu atas kesalahan ibunya, karena dia juga tidak ingin berada dirahim ibunya jika ia dihadapkan dengan pilihan." ucap Nadia membujuk suaminya.


"Baiklah, aku akan menemaninya tapi setelah dia melahirkan kita pulang." pinta Daffa yang terpaksa menerima permintaan Nadia dan maminya.


Mereka akhirnya berjalan menuju ruang bersalin dimana keluarga Anjani begitu gelisah menanti kelahiran cucu mereka dengan terus mondar mandir disekitar ruang tunggu keluarga pasien tersebut.


Daffa dan Nadia duduk berdampingan disusul mami Laila yang tetap terus berdzikir untuk keselamatan Anjani dan bayinya. Di dalam sana Anjani mati-matian berjuang untuk mengejan mendorong bayinya keluar dari rahimnya, membebaskan rasa sakit di perut dan bagian intimnya, hingga akhirnya bayi itu lahir juga ke dunia.


Namun sayang, bayi itu tidak menangis sama sekali walaupun sudah ditepuk-tepuk pantat mungilnya oleh dokter, namun ia masih saja tidak menangis sama sekali. Bayi berjenis kelamin perempuan ini sepertinya mengalami kelainan pada fisiknya. Dokter Risna yang kebetulan menolong persalinan istri kedua Daffa ini, terus berusaha agar bayi ini menangis. Karena tidak ada reaksi apapun dari sang bayi malang itu, dokter Risna menyimpulkan jika bayi itu terlahir sebagai tuna wicara.


Setelah memastikan keadaan fisik bayi dari Anjani, dokter Risna meminta suster untuk membersihkan bayi malang itu dan berikan kepada ibunya, supaya mendapatkan ASI pertamanya dari put**g ibu. Dokter Risna menemui keluarga pasien untuk memberi tahu kabar duka ini kepada keluarga Anjani. Ketika dokter Risna membuka pintu ruang bersalin itu, orangtua Anjani sudah siap didepan pintu itu, menunggu informasi dari dokter Risna tentang proses persalinan putri mereka.


"Bagaimana dokter keadaan putri dan cucu kami?" tanya maminya Anjani yang penasaran dengan persalinan putrinya.


"Alhamdulillah putri anda sudah melahirkan dengan selamat melalui proses persalinan secara normal, namun saya meminta maaf harus mengabarkan kabar duka ini, bahwa cucu perempuan anda mengalami...?


"Apa yang terjadi dengan cucu kami dokter?" tanya tuan Fahri yang menyela ucapan dokter Risna yang belum sempat menyelesaikan perkataannya.


"Cucu kalian mengalami cacat fisik, dari hasil pemeriksaan yang saya lakukan saat ini, bahwa cucu anda mengalami tuna wicara atau tuli dan bisu." ucap dokter Risna yang merampungkan kalimatnya untuk memberikan informasi yang sangat tidak mengenakkan bagi keluarga pasien.


Degg!" hati tuan Fahri dan istrinya mengkerut seketika mendengar kabar duka itu. Ibunya Anjani yang hampir pingsan karena tidak kuat menerima kenyataan itu jika cucunya menjadi seorang anak yang cacat karena gagu.


"Astaghfirullah ya Allah." ucap nyonya Laila seketika dengan membekap mulutnya, begitupun Daffa dan Nadia yang mendengar berita duka itu merasa terpukul dengan kenyataan pahit itu.


"Siapa suami dari nyonya Anjani, mohon untuk mengumandangkan adzan kepada bayinya?" tanya dokter Risna yang mencari sosok suami pasiennya.


Ketika Daffa muncul dihadapan dokter Risna yang menyatakan jika dirinya suami dari Anjani, dokter Risna merasa bingung karena ia baru saja melihat Daffa bersama dengan istrinya yang menggunakan cadar dan sekarang berubah jadi suami Anjani membuatnya bingung melihat keluarga aneh ini. Iapun kembali ke ruang bersalin untuk melihat pasiennya Anjani yang harus ditanganinya kembali bersama dua suster yang membantunya di ruang bersalin tersebut.


Daffa meminta izin istrinya Nadia untuk mengumandangkan azan pada bayi Anjani. Tanpa ada rasa keberatan sedikitpun, Nadia mengangguk perlahan untuk memberikan ijinnya pada suaminya Daffa.


"Tunggu sebentar sayang, setelah ini kita akan pulang, kamu sama mami ya, jaga kandunganmu." ucap Daffa lalu mengecup punggung tangan istrinya.


Baru saja ia berjalan menuju ruang bersalin untuk menemui bayi Anjani, tiba-tiba satu bogem mentah mendarat ke pipinya, membuat tubuhnya terhuyung kebelakang beberapa langkah. Bogem mentah yang dilakukan oleh tuan Fahri kepada menantunya Daffa membuat Nadia dan nyonya Laila terpekik histeris melihat suami dan putranya dipukul oleh tuan Fahri tanpa tahu permasalahannya. keributan kembali terjadi di ruang bersalin tersebut.