
Tiga hari berlalu, sejak perceraian Daffa dan Nadia, perusahaan milik Daffa dalam keadaan goyah, karena ketidakhadiran Daffa sebagai CEO perusahaan besar otomotif itu. Daffa benar-benar tidak ingin dihubungi oleh siapa pun sekalipun itu adalah asistennya Rio, ia tidak mengindahkannya. Ia hanya menenggelamkan dirinya dengan kenangannya bersama Nadia. Gadis yang sekarang ini sudah menjadi jandanya. Ia telah terperosok tanpa daya di dalam mantra Nadia, tanpa tahu kapan ia bisa kembali bangkit menghadapi kenyataan pahit ini.
Selama tiga hari itu, ia juga tidak ingin ingin menyentuh makanannya yang sekarang sudah dikirim langsung oleh maminya lewat ojek online. Hanya air yang ia bisa teguk sekedar untuk membasahi kerongkongannya yang kering.
Tiga malam ini, ia tidak bisa tidur hingga terdapat lingkaran hitam dimatanya. Sesakit apapun ia ketika tidak mendapat kasih sayang dari ayahnya, tidak separah dengan sakit yang ia rasakan kini.
Kehilangan cinta sejatinya sama saja ia kehilangan kembali jati dirinya sebelum ia mengenal Nadia. Malam ini sudah hampir jam satu pagi, ia merasa lebih sakit merindukan kekasihnya itu, ia meraung sendirian di kamarnya apa lagi ditambah suasana malam itu sedang hujan deras, ia kemudian bangkit karena sudah tidak mampu lagi menahan kerinduannya pada Nadia. Foto dan video yang menampilkan wajah Nadia sudah tidak mampu lagi mengobati kerinduannya pada gadis bercadar itu.
Daffa begitu semangat ingin bertemu lagi dengan Nadia. Ia tidak perduli lagi dengan hukum agama, yang tidak memperbolehkan ia bertemu lagi dengan Nadia. Ia meraih kunci mobilnya di atas meja dekat tempat tidurnya, ia menyeka air matanya dan keluar menuju tempat parkir mobil di area apartemennya.
Setibanya ia di depan rumah Nadia, ia kembali merasa bingung, keraguannya kembali muncul dihatinya, nyalinya sekejap menciut. Ia kemudian berdiam diri didalam mobilnya sambil menyalakan lampu kendaraannya.
Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi, berarti sebentar lagi Nadia akan bangun untuk menunaikan shalat tahajud, itu yang ada di dalam pikirannya. Hujan diluar makin menjadi, bunyi dentuman guntur dan kilat menggema bumi, kilat menyambar dan petir menari memercikkan sinarnya menyilaukan bumi sesaat. Hujan terus menyiram rahim bumi agar tumbuhan dipermukaan bumi kembali hidup dan menjadi lebih segar dedaunan maupun akarnya.
Pukul 2.30 pagi ia keluar dari mobil tanpa membawa payung karena hujan turut membawa angin kencang. Ia membiarkan tubuhnya basah dibawah guyuran hujan. Ia hanya berdiri di depan pintu pagar rumah milik mantan istrinya itu tanpa berusaha membangun penghuni didalam rumah tersebut.
Dari dalam Nadia tidak menyadari kehadiran Daffa, ia yang sudah rapi dengan mukenanya siap menghadap Allah di sepertiga malam itu. Nadia dengan khusu membaca ayat demi ayat begitu fasenya. Hanya itu cara mengobati setiap serpihan dukanya. Bermunajat kepada Allah menjadikan obat untuk jiwanya yang rapuh.
Di sebelah kamarnya kedua adik kembarnya rupanya masih asyik dengan game online. Merasa ada sinar lampu yang terus menyenter ke arah jendela kamar mereka, keduanya bangkit meninggalkan ponsel mereka, melihat mobil siapa yang terus menyalakan lampu
hazard.
"Fadlan, kamu lihat nggak kalau dari tadi sinar lampu mobil itu terus mengarah ke arah jendela kamar kita?" tanya Fadil kepada kembarnya fadil.
"Iya dari tadi mobil itu nggak pergi-pergi, apa jangan-jangan itu perampok?" ucap Fadlan lalu memeluk saudara kembarnya.
"Ah, apaan sih loe, penakut gitu, kita keluar yuk siapa tahu orang itu sedang menguntit rumah kita." ucap Fadil langsung keluar menuju pintu utama.
"Fadil tunggu, diluar masih hujan deras." ucap Fadlan yang tidak ingin basah-basahan di luar sana.
"Ya sudah aku sendiri saja, ini baru hujan air bukan hujan batu, minggir penakut." ujar Fadil yang sedang mengambil payung lalu meninggalkan adik kembarnya.
Dengan hati-hati ia membuka pintu rumahnya, lalu melihat mobil yang dari tadi terus berkedip. Betapa terkejutnya Fadil ternyata Daffa sudah berdiri didepan pintu pagarnya dengan tubuh basah kuyup. Fadil tidak berani menyapa Daffa, ia kembali masuk ingin menemui kakaknya Nadia. Ia mengetuk pintu pelan sambil memanggil nama kakaknya.
"Tok..tok..tok!" ka nadia,..kakak tolong buka pintunya." panggil Fadil dari luar kamar Nadia.
Nadia yang baru mengakhiri sholat tahajudnya beranjak hendak membuka pintu kamarnya. Setelah pintu dibuka, terlihat ada adiknya Fadil yang sedang memanggilnya.
"Ada apa Fadil, kamu belum tidur?" tanya Nadia sambil mengernyitkan dahinya menatap wajah Fadil yang kelihatan gelisah.
"Mbak, di luar ada mas Daffa sedang berdiri di depan pintu pagar kita, dengan tubuhnya sudah basah kuyup." ucap Fadil yang membuat Nadia membelalakkan matanya merasa tak percaya pada pendengarannya.
"Masa sih Fadil, malam-malam begini, ia nekat datang kesini dan membiarkan tubuhnya kehujanan berdiri di luar rumah?" tanya Nadia sedikit ragu atas pengakuan adiknya.
"Mbak, temuin saja dia dulu mbak, kasihan tahu. Kelihatannya ia sudah lama berdiri di luar pagar dengan tubuh kedinginan." ucap Fadil terus memaksa kakaknya menemui mantan suaminya itu.
"Fadil, mbak ini hanya mantan istrinya, kami tidak boleh lagi saling bertemu, hukumnya sudah haram." ucap Nadia menolak permintaan adiknya Fadil.
"Mbak, setidaknya lihatlah dulu, jika aku adalah dia, aku akan merasa sangat sakit hati dan kecewa berat, jika kekasihku mencampakkan aku begitu saja." ucap Fadil kesal dengan mbaknya yang terlalu kejam sama mantan suaminya.
Baru saja ia berpikir untuk tidak menemui Daffa, tiba-tiba bunyi petir menggelar lagi membuat Nadia dan Fadil spontan berpelukan.
"Ya Allah mbak, bunyi petirnya seram banget, kasihan mas Daffa di luar sana mbak, aku mohon mbak, tolong temuin dia, aku tidak tega melihatnya terluka seperti itu" ucap Fadil masih merengek, sambil memohon kepada mbaknya agar bisa menemui dulu Daffa sebentar.
"Baiklah Fadil, aku akan menemuinya sebentar, tapi nanti bagaimana kalau ketahuan sama abi dan umi kalau kakak masih bertemu dengan mas Daffa?" tanya Nadia kuatir.
"Aku yang akan bertanggungjawab mbak, yang jelas selamatkan dulu hati mas Daffa." ucap Fadil sedikit memaksa mbaknya yang terlalu keras kepala.
Nadia akhirnya mengalah, ia bersedia menemui kekasih yang sebenarnya ia juga merindukannya. Dengan langkah cepat ia berlari keluar menembus hujan yang makin deras dan tidak menggunakan payung demi menemui hatinya di luar sana. Ia melihat Daffa sedang berjalan ke arah mobilnya dengan langkah gontai. Nadia berlari mengejar mantan suaminya itu karena kerinduannya juga sama besarnya pada Daffa selama tiga hari ini. Ia memeluk tubuh lemah kekasihnya itu.
"Mas Daffa," aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu." ucapnya sambil memeluk Daffa dari belakang punggung suaminya.
"Nadia!" pekik Daffa serasa tidak percaya jika bidadari yang dirindukannya ini, sedang memeluknya dengan menyatakan cinta padanya, yang selama ini ia harapkan kata cinta itu keluar dari bibir Nadia.
"Mengapa baru kamu katakan sekarang sayang usai pernikahan kita yang telah gagal tanpa harapan, inikah kata cinta itu yang kamu bilang akan menolongku?, menolong untuk apa Nadia, jika semua pintu sudah tertutup untukku dan aku dikembalikan pada jurang luka yang menenggelamkan jiwaku sampai ke palung laut kesedihan." ucap Daffa tanpa membalikkan badannya melihat sang ratunya.
"Maafkan aku mas Daffa, maafkan aku terlambat menyatakan perasaan cintaku sebanyak yang kamu inginkan." ucap Nadia yang makin erat memeluk tubuh Daffa.
"Aku menyesal menemuimu mas Daffa, kamu tidak bisa menjaga kehormatanku sebagai jandamu." ucap Nadia kencang karena hujan makin menjadi gila seperti kegilaan Daffa yang tidak lagi membedakan halal dan haram memperlakukan mantan istrinya ini.
Nadia berlari kembali ke rumahnya tapi Daffa langsung pingsan ketika ditinggal pergi oleh Nadia. Fadil yang sejak tadi mengawasi kakaknya berteriak memanggil Nadia yang sudah masuk ke dalam rumah.
"Mbak Nadia, mas Daffa pingsan." ucapnya panik.
Nadia berbalik kemudian kembali keluar dengan tubuh yang masih basah, dilihatnya dari jauh, tubuh Daffa sudah tergolek diatas aspal tanpa daya.
"Fadil bantu mbak, lihat keadaan mas Daffa." ucap Nadia meminta tolong adiknya.
"Sebentar mbak aku panggil Fadlan dulu untuk membantu mbak Nadia menolong mas Daffa." ucap Fadil lalu berlari ke kamarnya memanggil Fadhlan yang masih asyik bermain game online.
Tidak lama kemudian, ketiga kakak beradik itu menghampiri tubuh Daffa yang masih tergeletak dibawah guyuran hujan.
"Mas Daffa mau dibawa ke mana mbak?" tanya Fadil bingung untuk menolong Daffa.
" Bawa ke dalam mobilnya saja Fadil, kita harus bawa mas Daffa ke rumah sakit. Mbak yang akan membawa mobilnya." teriak Nadia kepada kedua adiknya untuk membantunya mengangkat tubuh Daffa ke dalam mobil milik Daffa.
Nadia mengambil kunci mobil dalam kantong celana Daffa supaya mobil itu bisa dibuka. Bersama kedua adiknya, ia mengangkat tubuh Daffa masuk ke dalam mobil. Nadia meminta Fadil mengambil tas dan ponselnya. Fadil kembali lagi ke dalam rumah mengambil tas dan ponsel milik kakaknya. Dalam beberapa menit adiknya sudah keluar membawa bungkusan sedikit besar. Ia kembali masuk ke dalam mobil, menemani Nadia membawa tubuh Daffa ke rumah sakit. Fadlan diminta kembali ke rumah agar remaja itu tidak usah ikut. Tinggal Nadia dan Fadil yang langsung menjalankan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Mobil itu kembali bergerak, melaju dengan kecepatan tinggi menembus derasnya hujan. Banjir nampak menggenangi sebagian besar jalanan ibu kota karena hujan yang semalam tanpa mau berhenti mengguyur bumi. Karena keadaan jalan raya yang lengang, membuat mobil itu cepat sampai ke rumah sakit.
Di depan ruang IGD, tubuh Daffa disambut dengan brangkar yang didorong oleh dua orang suster masuk ke dalam ruang IGD. Tubuh Daffa segera ditangani oleh dokter jaga malam itu. Nadia yang dalam keadaan basah merasa kedinginan hingga menggigil. Fadil membawa tas besar menyerahkannya ke Nadia.
"Mbak, ganti baju basahnya di kamar mandi, aku sengaja mengambilnya untuk mbak." ucap Fadil seraya menyerahkan tas pakaian untuk Nadia.
"Alhamdulillah Fadil, kamu sangat pengertian." ucap Nadia lalu mengambil tas pakaiannya dari tangan adiknya Fadil.
Nadia pamit kepada adiknya Fadil untuk mengganti bajunya yang basah, setelah Fadil yang sudah terlebih dahulu mengganti bajunya. Ia meminta adiknya untuk tidak meninggalkan ruang tunggu keluarga pasien sampai ia kembali.
Fadil mengangguk menyanggupi permintaan kakaknya. Nadia pun berlalu meninggalkan tempat itu.
Setelah ditunggu berapa lama Nadia sudah kembali dengan baju bersih lengkap dengan cadarnya. Ia kembali duduk sebelah adiknya Fadil yang setia menemaninya.
"Mbak Nadia, mengapa mas Daffa bisa pingsan begitu ya, apa dia kepikiran terus sama mbak Nadia hingga ia pingsan?" tanya Fadil penasaran setelah mereka berdua duduk menunggu Daffa yang masih ditangani oleh tim dokter didalam ruang IGD.
"Kita tunggu saja hasil pemeriksaannya dokter yang sedang menyelamatkan hidup mas Daffa, mohon doanya Fadil, supaya mas Daffa tidak kenapa-kenapa." ucap Nadia lalu menghembuskan nafasnya lembut.
Nadia yang dari tadi duduk menunggu dokter yang memeriksa Daffa, baru ingat kalau ia belum mengabarkan ibu mertuanya, nyonya Laila. Ia lalu mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada ibu mertuanya yang mengabarkan bahwa Daffa saat ini sedang dirawat dirumah sakit. Tidak lama pesan itu dibalas nyonya Laila, bahwa ia akan segera ke rumah sakit. Sekitar setengah jam mereka menunggu, baru ada dokter yang keluar dari ruang IGD memanggil keluarga pasien atas nama Daffa. Nadia bergegas bangkit menghampiri dokter.
"Apakah anda walinya," tanya dokter Alim kepada Nadia yang sudah berada di hadapannya.
"Iya dokter!" jawab Nadia singkat.
"Apakah anda istrinya?" tanya dokter Alim lagi.
"Degg!" seketika Nadia menelan ludahnya dengan perasaan gugup.
"Saya mantan istrinya dokter, kami baru bercerai beberapa hari ini." jawab Nadia jujur kepada dokter Alim.
"Pantas nyonya, mantan suami anda mengalami mag akut, lambungnya parah karena beberapa hari ini ia tidak makan, hal itulah yang membuatnya tubuhnya lemah ditambah lagi dengan kondisi kejiwaannya yang tertekan dan membiarkan tubuhnya berada di bawah guyuran hujan begitu lama yang menjadikan ia sakit makin parah. Anda beruntung membawanya ke rumah sakit lebih cepat kalau tidak, nyawa nya tidak akan bisa tertolong." ucap dokter Alim membuat Nadia langsung shock.
"Mas Daffa, mengapa kamu tidak bisa bersabar dengan ujian ini?" tanyanya membatin.
"Nyonya, jika Anda ingin dia sembuh, tolong selamatkan jiwanya karena dari tadi nama anda yang selalu disebutnya di alam bawah sadarnya. Itu berarti hanya andalah yang ada di pikirannya saat ini." timpal dokter Alim meneruskan perkataannya.
"Baik dokter, terimakasih atas penjelasannya, saya akan perhatikan semua saran dokter." ucap Nadia santun.
"Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke kamar inap, silakan diselesaikan administrasinya," ucap dokter Alim lalu meninggalkan Nadia yang masih termangu setelah mendengar penuturan dokter Alim yang membuat hatinya sangat sakit.
Ia kembali ke tempat duduknya dan menjelaskan keadaan Daffa kepada adiknya Fadil. Adiknya sangat prihatin dengan keadaan Daffa dan kakaknya Nadia.
"Mbak, mas Daffa tidak sama seperti kita, yang selalu mempersiapkan hati kita untuk terluka jika datangnya ujian. Kita sudah di tempa oleh abi dan umi untuk menyerahkan kembali setiap permasalahan yang kita alami kepada Sang Khaliq. Beda halnya dengan mas Daffa yang imannya mungkin masih sejengkal untuk menerima ujian ini mbak." ucap Fadil sedih.