SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
48. PULANG


Kepulangan Nadia dari rumah sakit tidak menuju ke mansion mertuanya, ia dipaksa umminya yang ingin dirinya harus kembali ke rumah masa kecilnya itu. Setibanya di rumah, adik kembarnya sangat senang melihat kakaknya sudah sadar walaupun kesehatannya belum begitu pulih seratus persen. Nadia yang malas berdebat lebih memilih untuk menuruti kemauan umminya, walaupun ia ingin sekali menemui bayinya yang sampai saat ini belum melihat seperti apa wajah putranya itu.


"Lho ko mbak Nadia pulang ke sini? emang mbak Nadia minta pulang ke sini?" Tanya Fadil yang merasa ada yang janggal dengan kepulangan mbaknya ke rumah mereka.


"Dia tidak boleh lagi kembali ke sana Fadil, karena ummi tidak mau dia bersama dengan keluarga pembunuh itu." Timpal Ummi Kulsum kepada Fadil.


"Ummi, mengapa ummi jadi jahat begitu, mengapa Ummi tidak berhenti menyalahkan keluarga Daffa, yang salah itu bukan keturunannya tapi kakeknya dan itu juga bukan kakek Subandrio yang bunuh, dia hanya orang yang terlibat dan membunyikan perbuatan pelaku sebenarnya." Ucap Fadhlan yang kali ini ikut andil menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


"Diammm!" Kalian tidak tahu apa-apa, ummi minta kalian diam dan kembali ke kamar kalian." Bentak ummi Kulsum yang tidak ingin putra kembarnya ikut campur atas tindakannya, yang membawa pulang putrinya kembali ke rumahnya.


"Astagfirullah ummi, mengapa sekarang ummi berubah menjadi orang yang sangat kejam, Fadil sudah kehilangan kelembutan dan kebijaksanaan ummi ketika menyikapi masalah. Iman ummi belum lulus dalam ujian Allah." Ucap Fadil lalu menarik tangan Fadhlan kembali ke kamar mereka dan menutup pintu itu dengan sangat kencang.


"Kamu masuk ke kamarmu Nadia, jangan bermimpi untuk bisa kembali ke rumah suamimu, besok ummi akan mengurus perceraian kalian, emang hanya mereka yang bisa sewenang-wenang dengan keluarga kita." Ucapnya sambil menarik sudut bibirnya dengan pandangan sinis.


Nadia yang lemah dan lelah masuk ke dalam kamarnya, dengan tangis yang tak dapat lagi dibendung, ia membenamkan wajahnya ke dalam bantal, hatinya sangat terluka atas umpatan umminya kepada keluarga suaminya.


"Ya Allah semua manusia tidak akan luput dari salah dan dosa, tapi Engkau memberi pintu tobat untuk hambaMu yang bergelimang dosa untuk Engkau ampuni. Ya Allah aku belum bertemu dengan bayiku dan juga suamiku, tolong persatukan kami ya Robby, jangan biarkan kami tercerai berai karena kesalahan dan dosa orang lain." Ucap Nadia yang sedang berdoa kepada Tuhannya.


Di rumah sakit, Nyonya Laila yang sedang mengunjungi menantunya dikejutkan dengan informasi yang menggembirakan sekaligus menyedihkan, pasalnya ia senang dan bersyukur ketika menantunya sudah sadar namun menantunya, sudah dibawa pulang oleh orangtuanya tanpa konfirmasi dengannya sebagai mertua dari Nadia.


"Permisi suster, pasien Nadia mengapa tidak ada di ruangannya ya?" tanya Nyonya Laila yang merasa kebingungan karena tidak menemukan menantunya.


"Maaf Nyonya menantu anda sudah sadar dua hari yang lalu, dan tadi pagi sudah boleh pulang oleh dokter." Ucap salah satu suster yang pernah bertugas menjaga Nadia.


"Alhamdulillah menantuku akhirnya sadar juga, tapi mengapa anda tidak mengabarkan kepada saya, kalau menantu saya sudah sadar dan boleh pulang hari dua hari yang lalu?" Tanya nyonya Laila merasa sudah terkecoh dengan kelihaian besannya ummi Kulsum yang pura-pura ingin membantu malah punya niat jahat untuk memisahkan Nadia dan putranya.


'Maafkan saya Nyonya, saya kira ibu dari menantu Nyonya sudah memberi tahukan berita gembira ini kepada keluarga Nyonya dan mereka akan mengantar nona Nadia kembali ke rumah Nyonya." Ucap suster itu dengan penuh sesal karena tidak menjaga amanahnya dengan baik.


"Sudahlah suster, anda tidak bersalah dalam hal ini, hanya saja kami yang kurang fokus memperhatikan menantu kami karena sibuk mengurus cucu kami." Ucap Nyonya Laila sambil menghembuskan nafasnya kasar.


"Permisi ya suster, kami minta maaf jika selama menantu saya menjalani perawatan, ada saja kekhilafan yang kami perbuat kepada kalian dan terimakasih banyak atas waktu dan tenaganya, yang sudah menjaga dan merawat menantu saya." Ungkap Nyonya Laila dengan penuh kerendahan hatinya didepan suster jaga di rumah sakit tersebut.


Ia kemudian mengeluarkan dua buah amplop yang cukup tebal untuk dua suster yang telah menjaga menantunya Nadia selama kepergian putranya Daffa ke tanah suci Mekkah. Dua suster itu sangat bersyukur mendapatkan rejeki dari orang hebat yang mereka sudah kenal dari media siapa sebenarnya Nyonya Laila ini.


Nyonya Laila kembali ke mansionnya dan tidak berani mendatangi kediaman besannya guna mengetahui keadaan menantunya Nadia. Sedih dan sangat kecewa yang saat ini ia rasakan, ia hanya pasrah kepada Allah karena ia harus membelenggu amarahnya di bulan suci ini. Ia juga harus menunggu kepulangan suami dan putra tercintanya Daffa yang saat ini masih di kota Madinah Al Munawwarah yang merupakan tempat pertama hijrahnya Rasulullah sampai ia wafat dan dimakamkan di dalam mesjid Nabawi.


"Tiga hari lagi kalian akan pulang lagi ke tanah air, biarlah kalian fokus dengan ibadah kalian dan aku tidak ingin memberikan kabar buruk ini kepada kalian saat ini." Ucapnya membatin sambil terus berdzikir dalam perjalanan pulang menuju ke mansionnya.


Di Madinah, tepatnya di mesjid Nabawi Daffa dan ayahnya nampak khusu berdoa di depan makam Rasulullah, bersalawat kepada Rasulullah dan memanjatkan doanya kepada Allah dengan segala keluh kesahnya yang masih ingin ia tumpahkan ke Robbnya.


Entah sudah berapa kali air matanya yang ia seka, yang jelas, kerinduannya kepada sang Rasul menyentuh hati dan jiwanya kini. Rasa hinanya karena dosa di masa lalu masih saja membuatnya merasa malu pada Robbynya. Di sepertiga malam di bulan Ramadhan begitu lezat ketika umat muslim bermunajat kepada Tuhannya, apa lagi berada di depan makam Rosulullah, suasananya lebih terasa berbeda dari pada di mesjid di tanah air atau di negara lain.


"Ya Allah, undanglah kami sekali lagi untuk datang berkunjung ke baitullah dan mesjid kekasihmu Rosulullah. Semoga di tahun berikutnya aku bisa membawa istriku Nadia berkunjung lagi di sini.


Ya Allah jauhkan kami dari cobaan yang tidak mampu kami atasi, jika Engkau titipkan ujian itu pada kami, mohon berilah kami kemudahan untuk bisa kami lalui dengan tuntutanMu ya Robby." Ucapnya lalu menyalami ayahnya yang saat ini sudah duduk membaca Alquran.


"Ayah maafkan Daffa atas kesalahanku selama ini kepada ayah." ucapnya sambil sesenggukan.


"Sayang, ayah selalu memaafkanmu nak, " ucap Tuan Edy memeluk putranya yang sudah bengkak matanya karena terlalu banyak menangis.


"Ayah besok kita sudah pulang kembali ke Indonesia, Daffa takut jika Nadia masih belum juga sadar." ucap Daffa setelah tampak tenang mengendalikan kesedihannya.


"Daffa bukankah ini adalah bulan Ramadhan? apakah kamu masih ragu dengan kebesaran Allah atas doamu? hakmu hanya meminta dan menjalani kewajibanmu sebagai hambaNya dan kewajiban Allah yang akan mengabulkan permohonan dan permintaanmu untuk mengabulkan doamu. Jadi yakinlah bahwa Allah senantiasa mengabulkan permohonan hamba Nya yang sangat tulus di bulan suci ini dan di tempat- tempat mustajabnya doa." Ucap tuan Edy menenangkan hati putranya yang masih gundah gulana.


"Apa lebih baik kita hubungi mami untuk menanyakan keadaan Nadia ya ayah?" Tanya Daffa yang ingin segera ke hotel untuk bisa menelepon maminya Laila.


"Tidak usah sayang, biar nanti saja ketika kita pulang ke Indonesia kita sudah melihat NADIA berdiri di depan pintu utama mansion menyambut kedatanganmu." Titah Tuan Edy menghalangi putranya untuk mengetahui keadaan menantunya Nadia.


"Maunya begitu ayah, semoga saja impian kita menjadi kenyataan ayah, aku sangat rindu kepada Nadia dan bayiku Hafiz.


"Ayo kita kembali ke hotel, sebentar lagi mau acara sahur," pinta Tuan Edy lalu segera berdiri meninggalkan mesjid Nabawi bersama putranya.


Keduanya langsung menuju hotel yang sekat dengan mesjid Nabawi dengan berjalan kaki sepuluh menit sudah sampai di hotel mereka nginap. Raut wajah bahagia Daffa dan ayahnya setelah pulang dari hotel. Hiruk pikuk penduduk Madinah yang menawarkan makan sahur kepada jamaah mesjid Nabawi. Banyak sekali kejadian aneh selama mereka berada di Mekah dan Madinah. Kebaikan orang-orang yang selalu saja menawarkan mereka makanan atau benda apapun ketika menjelang buka puasa. Daffa merasakan hal yang berbeda berpuasa dengan dua tanah suci itu.


🔥Mampir juga di novel baru author ya dengan judul IBU SUSU UNTUK PUTRA KEMBAR CEO 🔥