SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
13. PILIHAN YANG SULIT


Dengan di antar Rio, Nadia berjalan mengikuti langkah Rio ke ruang kerja Raffi. Kedatangan Nadia menjadi pusat perhatian para karyawan Daffa. Mereka mengira gadis bercadar itu adalah pacarnya asisten Rio, mereka pun mengabaikannya. Keduanya sudah memasuki lift yang membawa mereka ke ruang VVIP milik Daffa.


Ketika pintu lift terbuka, Nadia menegur Rio untuk tidak memberitahukan kedatangannya kepada suaminya karena ini adalah surprisenya untuk sang suami. Rio yang memahami keinginan istri bosnya itu memilih menghentikan langkahnya yang ingin mengantar gadis bercadar ini ke ruang bosnya Daffa. Iapun kembali ke ruangannya sendiri dan membiarkan Nadia masuk ke ruang Daffa tanpa dirinya.


Nadia mengendap-endap perlahan menuju ruang kerja suaminya, hampir satu langkah lagi ia menuju pintu ruang kerja Daffa. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara bentakan seseorang diikuti lemparan benda beling yang pecah, tidak tahu itu apa, suara itu kedengaran lebih mendominasi meneriaki Daffa.


Langkah kaki Nadia terhenti. Tubuhnya gemetar bersamaan dengan pompa jantungnya yang sudah tidak beraturan detakannya. Nadia sengaja menguping pembicaraan dua orang di dalam sana yang satunya jelas itu suara Daffa sedangkan yang satu lagi suaranya belum begitu familiar ditelinga Nadia.


"Kamu sudah menghamili ponakan ibu tirimu, sekarang kakek minta kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu kepada Anjani." ucap kakek Subandrio Diningrat membentak cucunya Daffa.


"Aku memang pernah tidur dengannya kakek, tapi aku selalu memakai pengaman kakek dan hubungan kami tidak memiliki komitmen apa pun karena kami tidak ingin terikat satu sama lain. Hubungan itu dilakukan atas suka sama suka." imbuh Daffa tidak kalah sengitnya dengan suara kakeknya.


Sekarang Nadia baru tahu itu adalah kakeknya Daffa. Ia membekap mulutnya ketika mengetahui suaminya telah menghamili wanita lain jauh sebelum mereka melakukan hubungan intim sebagai suami istri.


"Dengar anak bodoh, jika kamu tidak menikahi Anjani maka semua harta warisan kakek dan juga perusahaan ini akan kakek ambil alih kembali!" ancam kakek Subandrio dengan penuh penekanan pada perkataannya.


"Silahkan ambil kakek, aku tidak membutuhkan harta kakek, aku sekarang sudah kaya dan hartaku melebihi dari harta kakek juga perusahaan ini, kakek tahu siapa yang menjadi sumber kekayaanku?" dia adalah istriku Nadia sumpah demi Allah aku rela meninggalkan segalanya, yang penting aku tidak mau kehilangan istriku itu, bidadariku itu yang telah membuatku jadi orang yang paling berharga, hidupku berubah ketika ia hadir dalam hidupku yang sangat menyedihkan ini.


"Oh ya, apakah kamu masih mau mempertahankan perempuan mandul itu yang hampir setahun tidak bisa memberikanmu keturunan?" tanya kakeknya dengan nada sinis.


"Tunggu sebentar lagi, ia akan mengandung anakku." ucap Daffa memberi alasan.


"Ceraikan gadis itu dan nikahi Anjani, kalau tidak ibumu akan aku buat menjadi seorang janda, aku akan meminta ayahmu untuk menceraikannya." ancam kakeknya Daffa tidak main-main, seketika Daffa mematung ketika kebahagiaannya dipertaruhkan dengan nasib maminya. Ia hanya punya maminya yang sangat ia cintai. Ia memiliki ayah tapi ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah untuk dirinya. Ayahnya hanya mengutamakan istri pertamanya dan juga saudara tirinya.


"Mengapa kakek selalu memojokkan aku dengan mamiku?" apa salah mamiku hingga kakek tega dan selalu ingin menjatuhkannya." tanya Daffa penasaran.


"Ia sama bejatnya dengan dirimu, karena asalnya sama dengan para pel***r yang kamu tiduri itu. Ayahmu mengambil ia dari kubangan lumpur hanya ingin mendapatkan seorang anak seperti mu.


"Degg!" nafas Daffa memburu menahan kesal dengan mengepalkan dua tangannya, ingin rasanya ia meninju wajah lelaki tua ini yang selalu mengatur hidupnya.


"Jika kamu tidak percaya silahkan tanyakan mamimu yang sekarang sudah mulai so suci itu, ia lupa dari mana ia berasal. Jika kamu masih mempertahankan pernikahanmu dengan gadis itu, bersiap-siaplah kamu dan ibumu, akan kakek lemparkan ke jalanan." ancam kakeknya berang, menatap wajah cucunya yang tidak tahu terima kasih menurutnya.


"Kakek hentikan ancaman kakek!" jangan pernah menghina mamiku, seburuk apapun dia dimata kakek, tetap dia adalah wanita yang melahirkan aku. Jika kakek menganggap aku cucu kakek, berarti kakek harus terima mamiku karena darah kakek sudah tercampur dengan darah wanita pela**r yang kakek hina itu." timpal Daffa sarkas menatap kakeknya.


"Dasar bajingan!" plak!" satu tamparan mendarat di pipinya Daffa. Tubuh suami Nadia ini terhuyung ke belakang. Setelah memberikan tamparan pada cucunya, tuan besar Subandrio keluar dari ruang kerja Daffa dengan mengingat lagi cucunya.


"Ceraikan istrimu itu atau ibumu yang kakek hukum." ucap kakek Subandrio lalu melangkah pergi.


Diluar sana Nadia sangat ketakutan. Ia kemudian bersembunyi karena tidak ingin melihat kakeknya Daffa. Tubuh Nadia begitu lemas. Hasratnya terasa surut untuk bertemu suaminya. Belum sempat ia keluar dari persembunyiannya, Daffa menutup pintu ruangannya dengan sangat kencang membuat Nadia dan staf yang ada di depan ruang Daffa sama-sama tersentak kaget.


"Astagfirullahallazim, ya Allah kuatkan mas Daffa ya Robby." ucap Nadia yang suaranya sudah mulai parau tercampur dengan air mata yang tidak diundangnya.


Nadia kemudian pulang, ketika menuju pintu lift, ia berpapasan lagi dengan Rio, entah dari lelaki itu yang jelas ia ingin mengatakan sesuatu kepada Rio asisten suaminya.


"Nona muda sudah bertemu dengan tuan Daffa?" tanya Rio yang sedikit curiga dengan gestur tubuh Nadia yang kelihatan sangat lemas walaupun wajahnya tertutup cadar, Rio bisa menebak gadis ini tidak sedang baik-baik saja.


"Maaf tuan apakah saya boleh minta tolong kepada anda?" tanya Nadia balik ke Rio tanpa menjawab pertanyaan Rio padanya.


"Silahkan nona muda dengan senang hati, saya akan menolong anda." ucap Rio senang bisa bicara dengan istri bosnya yang dikira Nadia seperti bidadari walaupun dilihat tatapan mata indahnya saja sudah mewakili satu wajah itu dengan satu kata "cantik."


"Jangan katakan kalau aku datang menemui mas Daffa, tolong rahasiakan ini dan tolong lihat mas Daffa apakah dia baik-baik saja." ucap Nadia membuat Rio tidak mengerti dengan permintaan Nadia.


"Maksud anda apa nona muda, saya tidak paham." ucapnya lagi kepada gadis bercadar ini.


"Kamu akan paham jika kamu bertemu dengannya. Saya mau pulang ke apartemenku." Setelah mengatakan itu pintu lift sudah terbuka tepat dilantai yang dituju.


Nadia berjalan cepat, ia ingin menahan taksi supaya tidak ketahuan suaminya. Taksi yang ditunggunya pun datang. Dengan menyebutkan alamat yang dituju kepada sopir taksi itu, Nadia merebahkan tubuhnya sedikit di mobil taksi tersebut. Air matanya kembali mengalir, ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang, tubuhnya terasa panas dingin menelan ludah saja, rasanya sangat sakit di tenggorokannya. Ketika taksi itu sudah memasuki jalan menuju apartemennya, ia kemudian meralatnya,


Mobil itu pun menepi, Nadia membayar taksi itu tanpa minta kembalian dari sopir taksi tersebut.


"Kembaliannya ambil saja pak," ucapnya tanpa menghiraukan lagi ucapan terimakasih dari pak sopir taksi.


Ia mampir ke restoran siap saji yang tidak jauh dari apartemennya. ia mengantri di belakang satu orang pengunjung, setelah itu baru dirinya memesan makanan paket komplit yang tersedia di pilihan menu yang di ada di meja kasir.


Tidak lama makanannya datang, ia membawa makanannya kemudian mencari tempat yang paling sudut agak jauh dari para pengunjung lainnya. Ia menaruh nampan makanannya dan menuju wastafel cuci tangan. usai mencuci tangan ia kembali ke tempat duduknya dan mulai menikmati makanannya, tapi apa yang dimakannya terasa sangat hambar. Karena merasa sudah membeli ia memaksa untuk tetap menelannya walaupun lidahnya sangat pahit.


🌷🌷🌷


Di perusahaan, Daffa yang baru saja menenangkan pikirannya setelah perang mulut dengan kakeknya, ia baru menyadari kalau ia sudah janji untuk menjemput Nadia. Daffa berlari meninggalkan ruangannya namun ia berpapasan dengan Rio yang baru mau masuk ke ruangannya.


"Tuan mau ke mana," tanya Rio yang melihat wajah Daffa gelisah.


"Aku sudah janji, mau jemput istriku disekolah, sudah ya aku tinggal dulu, tolong bersihkan ruanganku." perintahnya kepada Rio yang masih bingung dengan pasangan ini.


Setibanya disekolah nampaknya sudah sepi, satpam yang melihat Daffa, lalu menghampiri mobil Daffa dan mengatakan sekolah sudah bubar dari jam 10 pagi, ia kemudian beralih melajukan mobilnya ke arah apartemen.


Daffa menginjakkan gas mobilnya supaya lebih cepat sampai ke apartemen, entah kenapa ia merasa sangat merindukan istrinya. Tapi sayang, ketika ia sampai di apartemennya, ia tidak menemukan jejak istrinya di ruang manapun. Daffa menghubungi ponsel istrinya, rupanya Nadia sengaja mematikannya.


Daffa mulai cemas, rasanya ia ingin menangis karena tidak menemui istrinya. Tapi tubuhnya sendiri juga sangat lemas sebab mengingat lagi ancaman kakeknya padanya, dua wanita yang sangat penting dalam hidupnya harus menjadi korban dari keegoisan seseorang entah demi apa.


"Brengsek kamu Anjani, kamu sudah menyebabkan semua ini. Aku akan membuktikan bahwa anak yang kamu kandung itu bukanlah darah dagingku. Entah fitnah keji apa yang dilancarkan perempuan ular itu kepada kakeknya." ucapnya bermonolog sambil mengatupkan rahangnya.


Daffa merebahkan dirinya ke atas sofa, ia ingin menunggu istrinya sendiri pulang ke apartemen mereka. Jika ia mencari lagi, takutnya malah selisih jalan. Mungkin karena lelah hati atau fisiknya, Daffa akhirnya terlelap, ia tidak lagi merasa apa-apa disekitarnya.


Selang beberapa jam, Daffa mendengar suara sambaran petir disertai guntur yang menggelegar, iapun terperanjat dan mulai mencari istrinya namun tidak ditemukan. Diliriknya jam digital yang ada di ruang tamu ternyata sudah hampir jam 7 malam. Pikiran nya sudah mulai tak tenang ditambah lagi hujan di luar sudah mengguyur bumi. Petir dan suara geledek makin menjadi, suara itu saling bersautan. Mungkin alam malam ini sedang mengamuk, seperti pikiran kedua insan yang dilanda masalah makin berkecamuk.


Daffa meraih lagi kunci mobilnya, kali ini ia ingin mencari lagi istrinya karena sulit sekali untuk dihubungi.


Di sisi lain, Nadia sedang berjalan kaki dibawa guyuran hujan, banyak gojek yang menawarkan tumpangan kepadanya, namun ia menolaknya lalu kembali berjalan di atas trotoar. Ia seakan tidak perduli dengan kilat dan petir yang sejak tadi terus menggema.


Apa lagi melihat keadaannya sekarang yang sudah basah kuyup, ia tetap saja berjalan menuju apartemennya. Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di sampingnya, iapun menoleh melihat mobil itu, karena menghafal plat mobil itu, ia kemudian menghentikan langkahnya. Daffa turun dari mobil dengan membawa payung, memanggil namanya dalam derasnya hujan.


"Sayang, kenapa kamu berjalan dibawah guyuran hujan." tanya Daffa dengan bersuara keras bersaing dengan derasnya hujan.


Ucapannya tidak ditanggapi Nadia, gadis itu langsung masuk ke mobil dalam keadaan basah. Daffa ikut masuk ke dalam mobilnya, ia tidak langsung menjalankan mobilnya, malah masih bertanya lagi pada Nadia dengan pertanyaan yang sama.


"Aku lagi kepingin mandi hujan sayang," ucap Nadia membohongi suaminya yang sebenarnya ia sedang merasa terluka dengan ancaman kakek suaminya yang memaksa Daffa harus meninggalkannya dan suaminya harus menikahi wanita lain karena gadis itu sedang hamil anak dari Daffa.


Daffa membuka cadar istrinya, ia ******** bibir istrinya untuk memberikan kehangatannya kepada gadis itu. Nadia menikmati sentuhan dari suaminya. Rasanya ciuman ini akan segera berakhir pada saatnya nanti, gumamnya dalam hati. mobil itu kembali bergerak cepat karena Daffa takut istrinya akan merasa kedinginan. Setibanya mereka di parkiran apartemen. Daffa menggendong tubuh istrinya membawa Nadia ke kamar mandi untuk mengguyur tubuh istrinya dengan air hangat.


Ia sendiri mengurus istrinya seperti gadis kecil. Dari mulai memandikan hingga mengeringkan tubuh dan rambut Nadia dengan sangat telaten. Setelah dirasanya cukup ia menggendong lagi tubuh itu, membawanya ke tempat tidur, mengambil baju piyama Nadia dan dirinya.


"Kamu istirahat dulu aku buatkan teh manis hangat untukmu ya sayang." ucap Daffa sangat manis. Nadia mengangguk dan tersenyum, ia berusaha bersikap wajar seakan tidak mengetahui kejadian tadi siang, di ruang kerja suaminya.


Tidak lama Daffa datang membawa teh hangat dan memberikannya kepada Nadia. Ia juga mengambil minyak kayu putih, untuk menggosok perut dan punggung Nadia supaya tidak masuk angin.


"Sayang, kamu kenapa sih main hujan, udah gitu malam lagi, kalau nanti kamu sakit gimana dengan aku, siapa yang akan mengurusku kalau kamu sakit," tanya Daffa manja sambil mengoles perut istrinya.


Ketika ia menggosok perut istrinya, tangannya merayap ke belahan dada Nadia, tangan itu kembali meremas buah kesukaannya dan ia kembali membuka dua kancing baju istrinya dan mengisap biji coklat kenyal itu. Nadia membiarkan suaminya melakukan itu, karena ia juga menginginkan


sentuhan itu, apa lagi nanti, dia tidak akan lagi merasakan sentuhan yang sama di suatu hari nanti, di mana ia akan mendengar saat ketukan palu hakim untuk mengakhiri pernikahan mereka.


Lama Daffa memainkan dan menghisap kuat kedua pu**ngnya secara bergantian hingga ia kembali mendesis merasakan hangatnya isapan mulut suaminya pada ujung bukit kembarnya. Tidak berhenti sampai disitu Daffa merajalela tubuhnya dengan satu tangannya sudah menyentuh wilayah sempitnya dibawah sana. Nadia kembali merintih lirih sambil memanggil nama suaminya. Hingga akhirnya ia terkulai dengan matanya yang tampak berat saat mendapatkan or**menya hanya dengan permainan tangan nakal suaminya pada miliknya dibawah perutnya.