
Tiga bulan kemudian semenjak Nadia dan Daffa melakukan hubungan intim, belum ada tanda-tanda kehamilan yang terlihat pada istrinya. Suaminya mulai gelisah karena mendapatkan teror dari pertanyaan sang kakek mengenai keturunannya dari Daffa. Merasa terpojok, Daffa kemudian mengajak istrinya pergi bulan madu ke Bali ketika sekolah di mana Nadia mengajar sudah memasuki liburan semester akhir atau liburan kenaikan kelas.
"Sayang, seminggu lagi aku mau liburan semester kenaikan kelas." ucap Nadia di sela-sela ketika mereka sedang menonton televisi berdua di kamar.
"Kebetulan sekali sayang, aku berniat untuk mengajakmu bulan madu ke Bali, bagaimana kamu suka?" tanya Daffa menatap istrinya yang sedang serius melihat adegan drama Korea kesukaannya."
"Benarkah kita mau berlibur ke sana?" tapi aku dengar daerah Bali banyak sekali bule-bulenya berpakaian minim dan juga mempertontonkan bagian intim mereka di daerah sekitar pantai Kuta Bali."
"Emangnya aku akan mengajakmu jalan-jalan ke pantai sayang?" aku hanya ingin menghabiskan waktu kita berdua saja di kamar dan makan makan di luar di tempat-tempat kuliner yang terkenal di Bali, tentunya makanan yang halal untuk kita." ucap Daffa meralat pernyataan istrinya.
"Baiklah sayang, kalau begitu aku siap bulan madu bersamamu ke Bali." ucap Nadia dengan wajah berbinar menyambut ajakan suaminya.
"Tapi, aku ingin bulan madu disini dulu sebelum lusa kita berangkat ke pulau Dewata Bali." ucap Daffa seraya menarik wajah istrinya menghadap ke wajahnya.
Keduanya kembali tenggelam dalam ciuman panas, saling merasakan sentuhan pada tubuh mereka, alunan lenguhan merdu yang keluar dari mulut keduanya, menjadi paduan kolaborasi mengiringi percintaan yang diawali permainan ringan hingga tubuh keduanya sudah tidak lagi terdapat sehelai benangpun.
Nadia yang sudah banyak belajar dari gurunya sendiri yaitu Daffa, tidak lagi kaku ketika melayani suaminya. Hal itu membuat Daffa makin bangga kepada Nadia yang cepat beradaptasi dengan keinginannya ketika mereka sudah berg*mul dengan percintaan yang tercipta indah dari Nadia, hingga puncak kenikmatan yang mereka raih bersama. Setelah itu kembali berpelukan dengan mengatur sisa nafas yang memburu karena sudah mengejar kenikmatan demi mencapai kepuasan sesaat itu.
"Nadia, terimakasih sayang, aku makin bangga padamu, makin hari kamu makin mahir menyenangkan diriku. Bukan hanya perutku, mataku dan pikiranku saja, namun hasrat birahiku juga, kamu mampu memberikannya dengan sangat sempurna dan itu membuatku makin mencintaimu." puji Daffa tanpa ada unsur gombal maupun rayuan untuk ratunya itu.
"Alhamdulillah sayang, kalau mas Daffa merasa puas dengan pelayanan dariku untuk menyenangkan hatimu, aku merasa sangat senang mendapatkan apresiasi darimu sayang." ucap Nadia yang kembali duduk di atas perut suaminya dengan saling berhadapan. Dengan berhadapan wajah keduanya saling menatap, mencari kebenaran dari ucapan mereka di pancaran manik keduanya, seakan takut jika ucapan itu terselip sebuah kebohongan didalamnya.
Walaupun saling menyatakan perasaan mereka masing-masing, namun tangan nakal Daffa tidak meninggalkan remasan pada kedua gundukan belahan dada Nadia. Gadis itu seketika terdengar mend**h dan secara reflek menggerakkan pinggulnya di milik senjata laras panjang milik suaminya, dengan gesekan-gesekan ringan yang dilakukannya di atas tubuh suaminya. Mendapati pancingan dari istrinya dengan liukan tubuh yang menggoda Daffa kembali mengulangi percintaan untuk sesi berikutnya yang tidak bisa ia tolak karena saking nikmatnya saat merasakan milik istrinya pada milik nya.
🌷🌷🌷
Dengan menumpangi pesawat jet miliknya sendiri, Daffa terbang bersama istri tercinta ke pulau Dewata Bali, pulau surga yang menjadi tempat impian untuk setiap insan yang ingin menikmati liburan mereka di sana. Dalam waktu satu jam lima belas menit yaitu waktu tempuh menuju bandara internasional Ngurah Rai Bali, keduanya memilih tidur hingga pesawat mereka mendarat di bandara setempat.
Setibanya di salah satu resort mewah yang sangat indah yang terdapat di pulau tersebut, keduanya disambut oleh dua orang pelayan di depan pintu masuk hotel menuju ruang resepsionis tersebut. Nadia dengan mengenakan gamis abaya modern, perpaduan warna hitam dan gold di ujung lingkaran pergelangan tangan dan renda di ujung bawah gamis yang kelihatan sangat elegan berjalan mendampingi suaminya. Daffa merasa nyaman ketika berjalan berdua dengan Nadia yang sangat tertutup pakaiannya. Ia tidak perlu merasa cemburu dengan mata pria lain yang akan tergoda dengan kecantikan istrinya.
Setelah mendapatkan kunci kamar mereka, keduanya menuju kamarnya dengan diantar oleh dua orang pelayan yang membawa koper mereka. Ayana resort dan spa Bali dengan ketinggian 35 meter dari atas pantai Jimbaran, keduanya bisa menikmati pemandangan samudera Hindia dengan menginap di hotel mewah ini. Daffa memilih kamar suite seluas 98 meter persegi yang dihargai hampir
10 juta permalamnya. Ditempat di karang mas estate, Jimbaran Bali Kuta Selatan Bali Indonesia.
Kamar mewah ini, akan mengukir sejarah baru dalam perjalanan kisah cinta antara Daffa dan Nadia, keduanya akan menghabiskan bulan madu mereka dengan tenggat waktu yang disesuaikan masa liburan tempat mengajar sang istri. Keduanya berharap di honeymoon kali ini, mereka akan segera memiliki momongan secepatnya.
🌷🌷🌷
Alih-alih mengajak istrinya berkeliling di pulau nan indah itu, Daffa justru terus menggarap milik istrinya lebih dari mereka mengisi perutnya tiga kali sehari. Karena Nadia adalah sosok yang sangat mengerti hukum agamanya, ia sedikitpun tidak mengeluh bahkan menolak ajakan suaminya ketika keduanya berada di dalam kamar hotel tersebut. Kapanpun suaminya menginginkan dirinya, Nadia berusaha sebaik mungkin memenuhi syahwat suaminya.
Kadang Nadia memakai lengerie dengan warna berbeda-beda, kadang ia malas mengenakan gaun tidur itu dan memilih menggunakan pakaian dalamnya saja. Tubuh Nadia yang langsing bak model peragawati yang sedang memamerkan berbagai model bikini yang cantik, Nadia bergerak leluasa di dalam kamarnya. Daffa yang tidak tahan ketika acap kali menatap tubuh istrinya yang sedang berlenggak lenggok di depannya, meraih tubuh itu walaupun hanya sekedar mencicipi bukit kembar istrinya sampai ia merasa puas menikmati milik istrinya.
🌷🌷🌷🌷
"Sayang, mengapa kamu tidak mengenakan bajumu dan terus menggodaku dengan tubuhmu itu," ucap Daffa ketika keduanya menikmati makan malam di restoran yang terdapat di hotel mereka menginap.
"Percuma saja sayang, kamu akan membukanya dan membuangnya ke sembarang arah untuk bisa bercinta denganku, kalau aku membukanya berarti aku ingin memudahkan aksesmu untuk menjamah tubuhku," ucap Nadia gamblang kepada suaminya.
"Seperti jalan tol aja sayang," timpal suami Nadia ini lalu diikuti dengan suara tawa keduanya.
"Segera selesaikan makan malam mu sayang, karena aku menginginkanmu lagi," ucap Daffa yang selalu memikirkan kesenangannya yang sudah menjadikan percintaan adalah kecanduan yang harus ia dapatkan.
Kali ini Daffa menuruti istrinya karena liburan mereka hampir selesai di Jimbaran Bali. Mereka akhirnya menuju ke pantai dan duduk di antara bangku-bangku panjang yang terdapat di sekitar pantai dekat dengan hotel tempat mereka menginap, angin pantai terus meniup cadar hitam milik Nadia. Karena merasa agak sepi di sekitar pantai itu, Daffa memberanikan diri membuka cadar istrinya, ia ingin sekali menikmati wajah cantik Nadia tanpa terhalang oleh cadar.
"Subhanallah, sayang kamu cantik sekali malam ini, walaupun dalam kegelapan di area pantai ini, malah sinar wajahmu terpancar jelas di mataku." puji Daffa menatap lekat wajah Nadia.
"Mengapa tidak henti-hentinya kamu memuji wajahku mas?" emangnya kamu nggak bosan menatapku setiap saat?" ucap Nadia yang selalu tersipu malu jika sudah mendapatkan pujian dari suaminya, walaupun mulut dan hatinya tidak sejalan ketika pujian suami yang terlontar dari bibir seorang lelaki tampan dihadapannya saat ini. Hatinya selalu berbunga-bunga, kadang ingin rasanya terus melayang ke langit ketujuh, iapun bangga dengan pujian itu.
Daffa berjalan lebih dekat dengan bibir pantai, melihat ombak laut datang menghempaskan tubuhnya dibibir pantai, Daffa berteriak memanggil nama Nadia dengan mengucapkan kata-kata cinta untuk sang istri yang juga ikut berdiri di sampingnya.
"Nadiaaaa!!" aku mencintaimuuu!" teriakannya bersamaan dengan hempasan ombak laut yang menerjang terumbu karang yang ada disekitar mereka.
Nadia menyaksikan tingkah laku suaminya yang saat ini sangat tergila-gila kepadanya, senyum terus mengembang menghiasi wajah cantiknya. Rasanya ia ingin terbang ke awan karena saking bahagianya.
Karena merasa cukup menikmati indahnya pemandangan pantai dimalam hari, Daffa mengajak istrinya pulang kembali ke kamar hotel mereka, Nadia hanya mengangguk dan menuruti ajakan suaminya. Daffa menawarkan dirinya untuk menggendong Nadia di balik punggungnya supaya gadisnya itu tidak mudah lelah karena berjalan di permukaan pasir pantai.
"Sayang, mengapa harus menggendongku seperti ini," imbuhnya ketika sudah berada di gendongan punggung suaminya.
"Aku tidak ingin ketika kamu melayaniku, kamu akan merasakan kelelahan sayang." balas Daffa atas pertanyaan Nadia.
"Kamu terlalu berlebihan mas Daffa justru aku ingin melatih otot-otot pahaku supaya lebih kuat dan siap bertempur denganmu nanti." ujar Nadia sedikit protes kepada suaminya.
"Latihannya di atas pembaringan saja, sama aja ko, olahraga jugakan nanti." ucap Daffa disambut gigitan kecil Nadia pada kupingnya Daffa.
"Apakah kamu sedang merangsang aku sayang?" tanya Daffa nakal menggoda istrinya."
"Cih, berhentilah menggodaku mas, jantungku sudah hampir meledak karena terus dipuji olehmu." sahut Nadia sembari mengeratkan pelukan tangannya dileher suaminya.
"Bolehkah aku periksa jantungmu sayang?" goda Daffa yang makin nakal kepada Nadia.
"Nanti saja kalau sudah sampai di pulau kapuk" timpal Nadia yang balik menggoda suaminya.
"Yeh, istriku sudah berani menggodaku," ucap Daffa cekikikan.
Setelah cukup jauh berjalan akhirnya mereka sampai juga di kamar hotel mereka, Nadia masuk ke kamar mandi ingin membersihkan lagi dirinya walaupun ia sendiri tidak terkena pasir karena kakinya terlindungi oleh kaos kaki yang dipakainya.
Daffa yang melihat istrinya mandi, ia juga menyusul masuk menemani Nadia untuk mandi bersama, acara ritual mandi bersama dengan saling menggosokkan badan mereka dengan permainan tangan nakal Daffa di areal sensitif Nadia. Nadia kembali mengeluarkan suara erotis nya, saat jari Daffa masuk ke liang sempitnya, dengan terus menggasak perkakas miliknya. Tidak berhenti disitu, tubuh istrinya di angkat dan diletakkan dipinggir wastafel kamar mandi yang cukup panjang, kemudian melebarkan kedua paha Nadia, menatap milik istrinya sesat dan kembali bermain dengan jilatan lidahnya pada biji kenyal milik Nadia dan mengisap liang sempit itu ketika cairan nikmat milik istrinya mulai membasahi area bawah perutnya. Lidahnya makin menjulur masuk pada milik Nadia, membuat tubuh gadis ini bergetar hebat. Kedua tangan Nadia menekan kuat kepala Daffa agar lebih dalam memberikan nikmat pada miliknya.
Luapan lenguhan dan iringan erangan erotis terlontar indah dari suara merdu milik Nadia.
"Ohhhh... sssttt..akkhh, mas Daffa sayang!" ucap Nadia yang sudah berkali-kali melakukan pelepasan cairan kenikmatannya.
Daffa kembali membawa tubuh istrinya ke atas kasur, ia kembali mengecup bibir Nadia, melesakkan lidahnya dalam rongga mulut istrinya agar lidahnya bisa menyatu dengan lidah istrinya, dengan kembali memasukkan senjatanya ke dalam milik istrinya, lalu menghentakkan tubuhnya berkali-kali pada liang sempit itu yang menawarkan sejuta rasa nikmat untuk keduanya.
Entah sudah berapa kali Nadia berteriak histeris karena memanggil nama suaminya, kepalanya terus bergerak ke kanan dan ke kiri kadang diikuti oleh liukan tubuh yang menggelinjang indah. Daffa yang terus memburu mengejar nikmat pada tubuh istrinya, antara gemas bercampur nikmat pada miliknya. Meracau memanggil nama sang ratu pemuas dahaga syahwatnya. Hingga menggapai puncak terakhir yang akhirnya mereka raih bersama.
"Akkhhh... mas Daffa, ini sangat nikmat sayang." ucap Nadia yang sudah tidak malu lagi mengekpresikan rasa puasnya pada suaminya.
"Uhhhhggg...akkhhjk!" Nadia, sayang, Nadia.. sayangkuh!" ucapnya sambil terus memacu lagi milik istrinya hingga mendapatkan lagi pucak kenikmatan bersama.
Daffa jatuh terkulai lemas diatas tubuh istrinya, ia tidak lagi bisa mengatur posisi tidurnya karena lelahnya ia bercinta. Malam itu Daffa hanya beristirahat sebentar lalu kembali bercinta dan bercinta.