SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
26. KERINDUAN DAFFA


Keesokan harinya, Farhan yang sudah membuat janji untuk mengajak Nadia mengunjungi tempat-tempat bersejarah di kota Istanbul Turki. Farhan yang sudah siap menunggu di lobby hotel nampak gelisah karena Nadia belum juga muncul dihadapannya. Iapun mencoba mengusik kegelisahannya dengan membaca setiap pesan whatsapp group perusahaan maupun group kampusnya sesama para dosen.


Di dalam kamar hotel, Nadia mendapatkan notifikasi pesan masuk, dari Daffa. Sesaat ia membaca pesan itu, meresapi setiap kata-kata rindu dari mantan suaminya. Ia yang sudah rapi ingin melangkah pergi, terpaksa menghentikan langkahnya karena tidak mampu menguasai perasaan rindunya. Kata-kata Daffa yang sangat dalam, menyentuh sampai ke bilik jantungnya.


Bagaimanapun hatinya bukanlah batu, jantungnya bukanlah besi, iapun tidak bisa menipu dirinya sendiri bahwa kerinduan yang sama, bahkan melebihi yang dirasakan oleh Daffa jauh di negeri tercinta Jakarta Indonesia. Isi pesan itu dibacanya sekali lagi karena untaian kata-kata Daffa yang berasal dari hatinya yang tulus yang sedang menumpahkan kerinduannya pada dirinya.


"Assalamualaikum kesayanganku Nadia. Sedang apa kamu saat ini sayangkuh?" apakah kamu sedang merindukanku juga saat ini?"


Nadia sayangku, purnama sudah berganti lagi, namun mendung kesedihanku masih seperti kemarin, seperti saat kau tinggalkan aku sendirian di ruang putih, yang hanya tercium obat yang menyengat karena sakit di jiwaku karena terlalu merindukanmu tanpa ada kata pisah yang kau ucapkan untukku.


Sayangku Nadia, ingatkah engkau, bagaimana hari ku lalui bersamamu seperti pohon cinta yang berakar polos membawa kita menjadi dewasa dalam kehidupan dunia yang sekarang ini. Kini tak ada lagi yang bisa kulihat arti ketulusan di dunia ini, setelah berakhir hubungan kita berdua. Yah, hanya status kita, bukan hati kita.


Tahukah kau, ketika khayalanku di saat aku meraba bayangmu, hingga aku takut akan kehilanganmu sebelum dapat melukiskan perasaan cintaku yang belum sempurna untukmu. Hanya padamu, selalu ada senyum indah yang meredakan lelahku karena penatnya tubuhku.


Hanya padamu, ceritaku yang baru dimulai saat aroma tubuhmu membunuh setiap kehidupanku yang meliputi gelapnya dunia malam, dan hanya padamu, hatiku selalu bernyanyi akan cinta yang telah kau beri, hingga aku takut cintamu telah usai untukku. Rinduku pun akan berlalu dari hatimu dan harapanku tuk kembali bersatu hilang dari pikiranmu.


Rindukah kau padaku, ketika ditidur malammu sayang?" bergumamkah kau saat memanggil namaku ketika kau membangunkan ku dari tidur nyenyak untuk mengingatkanku di setiap awal azan memanggil hamba untuk bersuci.


Apakah mungkin, rinduku seperti takdir hujan yang turun ke bumi dan tak mungkin kembali ke langit lagi?" dan kini aku kesepian oh sayangku tanpa dirimu, dan aku berdiam di kamar kita dalam kesunyian ditemani dentingnya waktu dan detakan jantungku disini yang terdengar sumbang, yang selalu menantikan kehadiranmu oh cintaku. Mungkin jika kamu disini aku akan merasa tenang."


Setelah membaca tulisan Daffa di notifikasi pesan dalam ponsel miliknya, Nadia menangis histeris sambil mengucapkan kerinduan yang sama untuk kekasih tercinta.


"Mas Daffa, maafkan aku sayang, aku juga mencintaimu, tubuhmu seakan tinggal dalam jiwaku, menyatu dalam pikiranku, dan tak ada kata pisah dalam cinta kita sayang, hanya ada kata rela dalam hatiku untuk memberikan sesuatu pada orang terkasih, yang harus aku lepaskan karena ingin mengabdi pada cinta seorang ibu." ucapnya sambil menangis lagi dan lagi. Jika kamu tidak mengerti rasanya sia-sia aku berkorban untuk ibumu.


Nadia tidak ingin membalas pesan itu, ia hanya memuaskan dirinya dengan tangisannya mengurangi rasa rindunya pada sang arjuna yang telah membawa panji-panji cinta untuknya, yang pernah berkibar indah dihatinya, setiap saat ucapan cinta itu selalu didengungkan Daffa sebagai pengantar tidurnya, kata-kata yang sama, bahkan terdengar monoton dan klise, tapi satu kalimat itu, "Aku mencintaimu sayang."


Mengapa tak terasa basi maupun jenuh yang ia rasakan kalimat singkat untuk dirinya dari sang suami saat itu. Daffa yang malang dengan hati yang terkoyak, karena rindu yang terlarang berujung duka, yang telah meremukkan setiap asa yang tersisa, untuk kekasih jiwa yang ada di sana.


Sekitar 30 menit kemudian, Nadia dikejutkan dengan deringan nada panggil dari ponselnya. Ia beringsut malas meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera dilayar ponsel miliknya itu, yang ternyata adalah Farhan.


"Astagfirullah, ya Allah mengapa saya sampai lupa sudah buat janji dengan tuan Farhan." ucapnya sambil menepuk jidatnya.


Iapun buru-buru menggeser tombol hijau itu dan menyapa nama Farhan.


"Assalamualaikum tuan!" ucap Nadia dari kamar hotelnya.


"Waalaikumuslam, nona Nadia, apakah anda baik-baik saja?" tanya Farhan dengan nada cemas.


"Maaf tuan, tadi ada telepon dari umi saya, menanyakan keberadaan saya di sini." ucap Nadia berbohong kepada Farhan.


"Apakah kita jadi pergi hari ini, atau anda berubah pikiran?" tanya Farhan yang sedikit ragu pada gadis yang membuatnya penasaran dengan kehidupan Nadia.


"Saya tinggal turun menghampiri anda, tunggulah 10 menit lagi." ucap Nadia yang tidak ingin membuat pria yang baru diketahui namanya kemarin pagi merasa kecewa.


"Baiklah, aku akan menunggumu disini, santai saja nona Nadia, tidak usah mengkuatirkan saya." ucap Farhan lembut.


"Terimakasih tuan atas pengertiannya, saya akan segera turun." ucap Nadia lalu menutup pembicaraannya dengan salam.


Nadia merapikan kembali riasannya yang berantakan karena menangisi Daffa, kekasih hatinya yang masih ia rindukan. Setelah dirasanya cukup ia menarik nafasnya halus lalu menghembuskan nafasnya dengan ucapan basmallah dan doa mau pergi, lalu meninggalkan kamarnya, menghampiri Farhan yang telah menunggunya hampir satu jam di bawah lobby hotel.


🌷🌷🌷🌷


Di Jakarta, Daffa yang masih menunggu balasan dari Nadia yang tidak kunjung masuk di notifikasi pesan masuk di ponsel miliknya. Daffa mengambil foto Nadia yang ia simpan di laci mejanya. Foto Nadia yang memakai gaun seksi yang dicetaknya sendiri, dengan pose menantang di atas ranjang miliknya, ketika masih menjadi istrinya.


"Sayang, kamu sangat cantik, baik, lembut, penyayang dan apa lagi kelebihan dirimu hingga aku sulit menemukan sedikit celah di sifatmu yang hampir sempurna di mataku." ucap Daffa sambil tersenyum dengan linangan air mata kerinduannya pada mantan istrinya ini.


Hingga akhirnya ketukan pintu ruangannya terdengar nyaring, karena seseorang yang ingin masuk menemuinya. Iapun menyeka air matanya lalu meminta seseorang yang dibalik pintu itu masuk ke ruangannya.


"Permisi tuan, ini pesanan makan siang anda." ucap pak Icha yang merupakan OB di perusahaan Daffa seraya meletakkan kotak makan siang di atas meja ruang tamu untuk tuannya itu.


"Tunggu pak Icha, saya ingin bicara dengan anda." titah Daffa kepada pak Icha yang hendak meninggalkan ruang kerjanya.


"Apakah anda seorang muslim?" tanya Daffa menatap lelaki yang hampir seusia dengan ayahnya.


"Iya tuan, agama saya Islam." jawab pak Icha dengan nada suara bergetar menahan kegugupannya di depan Daffa.


"Kalau begitu, mulai hari ini biasakan diri anda dengan menyapa saya dan karyawan lain yang sesama muslim dengan ucapan salam layaknya seorang muslim sejati dan katakan pesan saya ini yang berlaku juga untuk teman sejawatmu." pinta Daffa lalu menghampiri pak Icha.


"Baik tuan, saya dan teman-teman akan melakukannya sesuai permintaan anda."


"Itu bukan permintaanku, itu adalah kewajiban kita sesama muslim, yang saling mendoakan jika bertemu dengan muslim lainnya seperti yang diajarkan Rosulullah. Benarkan ucapanku pak Icha?" tanya Daffa pada pak Icha seraya mengusap bahu pak Icha lembut.


"Benar tuan, seharusnya memang seperti itu tapi saya takut..?


Belum selesai pak Icha meneruskan kata-katanya, Daffa langsung memotong perkataannya.


"Lupakan sikap salah saya yang dulu pak Icha, lakukan apa yang menjadi kebaikan untuk kita, mungkin dengan ucapan sederhana itu, bisa menghapus dosa-dosaku di masa silam selama aku memegang perusahaan ini. Mungkin amalan yang kelihatan sederhana ini namun bermakna disisi Allah." ucap Daffa lalu tersenyum manis pada pak Icha.


"Baik tuan, maafkan sikap saya yang lancang pada anda, kalau begitu saya permisi tuan kembali ke tugas saya." ucap pak Icha dengan merendahkan dirinya.


"Tunggu pak Icha, ini untukmu, belilah sesuatu untuk keluargamu, Tolong, doakan saya ya pak, semoga hati saya selalu mengingat Allah dengan banyak beristighfarlah." ucap Daffa sembari menyelipkan 5 lembar uang merah dalam kantong baju kerja pak Icha.


"Ya Allah, terimakasih tuan Daffa semoga Allah memuliakanmu," ucap pak Icha diikuti ucapan aamiin oleh Daffa.


Pak Icha lalu buru-buru keluar dengan wajah sumringah karena mendapat rejeki nomplok dari tuannya yang terkenal dengan wajah bongkahan es itu.


"Ya Allah, apa saya nggak salah lihat dan salah dengar perkataan bijak dari bos Daffa hari ini, sejak kapan ia anggap saya ada, bukannya selama ini orang itu selalu mengalihkan wajahnya ke laptop ketika saya melayani kebutuhannya, baik minum maupun makanannya. Tapi, tunggu dulu, setahu saya, bukankah dia memiliki istri yang bercadar itu. Subhanallah, hebat gadis itu bisa melumerkan hati tuan Daffa dengan sentuhan kelembutannya." ucap pak Icha yang tidak mengetahui jika bosnya sudah berpisah dengan istri sholehahnya itu.


Sepeninggalnya pak Icha Daffa sedang melakukan sholat dhuhur di ruangannya dengan begitu khusu, karena ia sedang meresapi setiap ayat-ayat yang dibacakannya untuk berkomunikasi dengan Robb nya. Ia ingin merasakan bagaimana nikmatnya ibadah sholat wajib ini dengan membawa segunung dosa untuk ia keluhkan kepada Tuhannya, yang telah memberikannya nikmat yang banyak selama ini, namun telah di sia-siakannya selama hidupnya.


"Ya Robbi, tidak ada dosa yang tidak Engkau ampuni dengan keridhaan-Mu, maka ampunilah hambaMu yang bergelimpangan dosa ini, ya Allah janganlah Engkau mencabut nyawaku hingga dosa-dosaku telah Engkau ampuni." ucapnya dengan menengadahkan kedua tangannya usai sholat dhuhur di siang itu dengan bercucuran air mata.


Seperti kebiasaan Nadia lakukan, ia juga mulai membaca Alquran walaupun hanya satu lembar setiap usai sholat fardhu, baginya itu membaca ayat-ayat Al-Qur'an itu, sudah cukup menenangkan jiwanya yang saat ini sudah lebih tenang menghadapi kehidupannya dengan lebih mendekatkan dirinya kepada Sang Khalik. Ia kini benar-benar mau berubah walaupun tidak ada lagi guru spiritualnya Nadia. Kata-kata mantan istrinya yang terakhir untuknya telah merubah kepribadiannya menjadi manusia yang beradab, namun kebaikannya itu tidak berlaku pada Anjani dan kakeknya yang sulit ia maafkan.


🌷🌷🌷


Kembali ke Istambul Turki, Farhan dan Nadia saat ini sedang mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Istanbul Turki tersebut. Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah Hagia Sophia.


Bangunan yang indah dan terlihat kokoh ini dulunya adalah sebuah gereja tapi berubah fungsi menjadi masjid dan setelah perkembangan zaman sekarang bangunan ini pun berubah menjadi museum. Hagia Sophia adalah salah satu prestasi arsitektur terbesar di dunia. Setelah bertahun-tahun di restorasi, Hagia Sophia (Aya Sofya) akhirnya bisa dinikmati kemegahannya. Satu hal yang menarik adalah jika kita berkesempatan berdiri di tengah-tengah hagia sophia ini maka akan terlihat bentangan kubah dengan lebar 43 meter yang 65 meter di atas kepala anda dan hal ini akan menantang anda untuk berfikir bagaimana teknologi dan kecanggihan arsitektur saat itu bisa membuat kubah itu tetap tegak berdiri hingga saat ini. Disana kita juga disuguhi keindahan seni mosaik Bizantium yang indah, diantaranya adalah Kristus yang diapit oleh Kaisar Constantine IX dan istrinya Empress Zoe.


Puas berjalan-jalan menikmati area Hagia sophia dan tempat lainnya yang berada di satu kota dengan dua benua itu, merekapun menuju ke sebuah restoran untuk mengisi rasa lapar yang sudah bernyanyi didalam perutnya yang kosong itu. Sejenak Nadia melupakan kesedihannya walaupun tawanya terkesan hambar namun ia bisa menutupi kesedihannya dihadapan Farhan, lelaki tampan yang saat ini sedang mampir dipikirannya yang sedang mumet.


"Kamu mau makan apa nona Nadia?" tanya Farhan ketika mereka sudah duduk di meja restoran yang menyediakan berbagai menu kuliner yang menggiurkan mata memandang berbagai menu yang ada di buku menu itu.


"Yang ini saja, kelihatannya enak." ucap Nadia sambil menunjukkan menu makanan yang ia sukai pada Farhan.


"Baiklah kalau begitu kita panggil pelayannya," ucap Farhan lalu memberikan kode tangannya pada pelayan restoran tersebut untuk mencatat pesanan keduanya.


Pelayan itu menghampiri mereka dengan menuliskan beberapa jenis pesanan mereka, lalu meninggalkan keduanya menuju dapur restoran.


Sambil menunggu pesanan mereka, Farhan dan Nadia memeriksa ponsel mereka, kuatir ada pesan untuk mereka yang dianggap penting. Usai melihat ponsel mereka keduanya saling membuka obrolan secara bersamaan hingga memancing keduanya terkekeh.


"Silahkan tuan!" katakan apa yang ingin anda bicarakan pada saya." ucap Nadia yang menahan diri untuk tidak mengucapkan kata-katanya sebelum Farhan.


"Oh silahkan nona Nadia duluan, saya nggak apa-apa," ucap Farhan yang menolak untuk bercerita kepada Nadia.


Saling mengalah dan mempersilahkan lawan bicara, untuk mengucapkan kata-kata lebih dulu diantara mereka berlangsung alot dengan tertawa lepas, hingga akhirnya pesanan menu makanan mereka tiba di meja mereka dengan selamat. Tiga orang pelayan dengan masing- masing-masing membawa satu baki hidangan, lalu mengatur tata letak hidangan untuk pengunjung restoran yang tidak lain adalah Nadia dan Farhan.


Keduanya menikmati hidangan mereka dan meneruskan pertanyaan yang mereka ajukan tadi, sebelum pesanan makanan mereka tiba. Tawa canda terdengar jelas diantara keduanya sambil menawarkan menu makanan mereka yang berbeda itu untuk saling mencoba satu sama lain.


Farhan yang lebih tua tujuh tahun dari Nadia merasakan kenyamanan ketika mereka mulai kelihatan akrab. Farhan Kelihatan senang memperhatikan gestur tubuh Nadia yang kelihatan sangat senang berada di sampingnya.