SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
82. MENDADAK NIKAH


Setibanya di hotel, Daffa dan istrinya serta Rio mengantar Hanna ke kamarnya. Orangtuanya yang mendengar ketukan pintu kamar langsung membuka pintu itu dan mendapati putri mereka diantarin oleh orang baik-baik.


"Alhamdulillah ya Allah, Hanna ayah dan ibu hampir mati karena tidak bisa menemukanmu tadi nak, ibuu!" Putri kita sudah pulang." Ayah Hanna memanggil istrinya yang sedang menangis di dalam kamarnya.


"Hah... putriku!" Hanna sayang kamu ke mana saja sayang?" Kamu tidak apa-apa?" Tanya Nyonya Nur sambil memastikan tubuh anaknya tidak mengalami suatu cedera apapun, iapun memeluk putrinya saking senangnya melihat putrinya kembali dengan selamat.


"Ummi perkenalkan ini mbak Nadia dan suaminya dan itu saudara mereka Tuan Rio, yang telah menyelamatkan Hanna yang hampir jatuh dari atas Jabal Rahmah." Hanna memperkenalkan orang-orang yang telah menolongnya.


"Silahkan masuk ade-ade sekalian, hampir lupa ada tamu" ucap Nyonya nur lalu mempersilahkan tamu putrinya masuk.


"Alhamdulillah ibu, Hanna bertemu dengan mereka, kalau tidak Hanna tidak tahu bagaimana Hanna di sana tanpa orang yang Hanna kenal." Hanna menceritakan kembali kronologi dirinya bisa kehilangan orangtuanya dan bertemu dengan Rio dan bosnya.


"Terimakasih banyak ya de kalian sangat baik pada putriku, nama saya pak Ridwan," ucap Tuan Ridwan memperkenalkan dirinya dan istrinya kepada keluarga Daffa.


"Hanna adalah putri kami satu-satunya, kami tidak bisa meninggalkannya sendirian di Indonesia walaupun ada saudara lain yang bisa menemaninya. Putriku ini sangat mahal karena untuk mendapatkannya kami harus menunggu sepuluh tahun lebih baru ibu bisa mengandung Hanna." Nyonya Nur menceritakan perjuangannya bisa mengandung Hanna.


"Apakah Hanna belum memiliki. jodoh bu?" tanya Rio to the point.


"Yang suka sama Hanna banyak, tapi Hannanya yang belum bisa menetapkan pilihannya yang sesuai dengan kriteria pria yang akan menjadi imamnya." Imbuh nyonya Nur.


"Bolehkah saya meminta putri bapak yang berharga itu untuk menjadikan ibu dari calon dari anak-anakku nanti? aku punya pekerjaan dan masih bujangan, aku pekerja keras dan sedang mendalami ilmu agama untuk bisa menjadi imam shalat untuk keluargaku kelak" Ucap Rio tanpa basa-basi.


Ucapan Rio yang terlalu berani membuat Daffa dan Nadia hampir kehilangan udara. Rio tidak menunda-nunda lagi keinginannya ketika pertama kali memegang tangan Hanna yang lembut dan dingin yang langsung menyerap ke dalam jiwanya.


Kedua orangtua Hanna tidak langsung menjawab, tapi Hanna merasa ucapan lamaran Rio seperti pernah terjadi didalam mimpinya. Kedua orangtuanya meminta waktu untuk berdiskusi sebentar tanpa mengusir tamu mereka.


Keluarga kecil itu naik ke lantai dua, karena di hotel yang ada di Mekah memiliki dua lantai untuk empat orang maupun untuk dua orang. Sepeninggal keluarga kecil itu Daffa mendekati Rio yang telah nekat meminang putri orang dengan tangan kosong.


"Apa kamu gila Rio, jika lamaran kamu ditolak oleh keluarga itu bukankah itu sangat menyakitkan bagimu dan memalukan buat kami berdua." Daffa mengomeli asistennya ini.


"Namanya juga ikhtiar bos, mungkin dengan berdoa didepan Ka'bah akan dikabulkan langsung oleh Allah. Jadi saya sedang ikhtiar doanya sudah kemarin. Kalau mereka menolak berarti belum jodoh saya bos, itu saja ko repot" ucap Rio.


"Kau, mau cari mati ya!" Daffa menghardik asistennya ini.


"Mas Daffa ini kota suci sayang, hati-hati dengan ucapanmu, sifat buruk yang pernah terjadi di tanah air akan Allah perlihatkan disini" Nadia mengingatkan suaminya yang gregetan dengan jawaban Rio yang seakan meledeknya.


"Ehhhm!" Tuan Ridwan menyela pembicaraan tamunya dengan deheman khasnya.


Tamu-tamunya merapikan posisi duduk mereka dan siap mendengarkan jawaban dari tuan Ridwan dengan penuh ketegangan. Rio berkali-kali menghirup nafasnya untuk mengusai kegugupannya sedangkan Daffa menjadikan tangan istrinya sebagai tempat untuk mendapatkan ketenangannya. Keluarga Hanna sudah kembali duduk siap menyampaikan balasan pinangan dadakan dari Rio.


"Alhamdulillah ya Allah, Engkau tidak menyia-nyiakan doaku tanpa mengulur waktu untuk menjemput jodohku." Ucap Rio dalam sujudnya. Rio bangkit dan menyalami calon mertuanya itu.


"Hanna perlihatkan wajahmu kepada calon suamimu nak!" pinta tuan Ridwan pada putrinya.


"Sebentar tuan, suami saya bukan muhrim Hanna biar dia keluar sebentar." Nadia mencegah Hanna membuka cadar sebelum suaminya keluar dari ruangan itu.


Daffa menuruti permintaan istrinya. Hanna membuka cadarnya memperlihatkan kecantikannya pada Rio dan Nadia.


"MasyaAllah cantiknya" Ucap Rio serta merta membuat Nadia dan Hanna merasa malu.


Ibunya Hanna menahan tawanya.


Rio menunduk malu, Daffa di persilakan kembali masuk untuk mendengarkan instruksi selanjutnya dari orangtua Hanna untuk Rio.


"Nak Rio, jika kamu siap kita bisa melangsungkan pernikahan secara agama disini nanti urusan administrasinya bisa dilakukan di Jakarta untuk diakui sah oleh negara." Ujar tuan Ridwan.


"Itu lebih baik pak, saya setuju lebih cepat lebih baik," jawab Rio antusias.


Daffa dan Nadia saling melempar pandangan, mendengar penuturan Rio yang terlalu semangat untuk mendapatkan Hanna. Mereka pun pamit untuk kembali ke kamar masing-masing. Daffa langsung menemui keluarganya untuk membicarakan pernikahan mendadak antara Rio dan Hanna. Tuan Edy dan Nyonya Laila merasa takjub dengan pernikahan yang akan diadakan diputuskan dalam sehari. Nyonya Laila dibantu oleh ummi Kulsum dan Nadia membeli perlengkapan penghantar pernikahan dan mas kawin untuk Hanna yang ada di pusat perbelanjaan sekitar kota Mekkah.


Tuan Edy dan Nyonya Laila sebagai wali dari Rio menyambangi kamar Hanna, sebelum hari pernikahan untuk berkenalan secara dekat sebelum pernikahan itu terjadi. Tuan Edy baru mengetahui bahwa Tuan Ridwan merupakan salah satu pejabat penting ditanah air. Iapun merasa terhormat mendapatkan perlakuan istimewa dari tuan Ridwan.


Keesokan harinya tepatnya di masjidil haram sepasang pengantin itu mengikat janji suci mereka. Setelah sah menjadi istri Rio, Hanna mengungsi ke kamar Rio yang memang menginap sendirian tanpa ditemani oleh siapapun karena adik kembar Nadia satu kamar dengan ummi Kulsum.


Daffa dan Nadia merasa sangat lega karena Rio telah menemukan pasangan hidupnya di tempat terindah di dunia yaitu tanah suci Mekkah yang merupakan kota yang selalu dijaga oleh malaikat di depan pintu gerbang utama kota tersebut dari serangan Dajjal di akhir zaman nanti.


Bulan madu bukan hanya milik Daffa dan Nadia lagi, karena pasangan pengantin baru antara Rio dan Hanna juga menikmati bulan madu mereka ditempat suci tersebut.


Malam itu Rio memberi salam kepada istrinya sebelum membuka pernak pernik perhiasan yang menempel di tubuh Hana. Yang dimulai dari cadar, kemudian hijab. Baru saja bagian hijab Rio sudah gemetar menatap wajah cantik milik Hanna yang kini sudah menjadi istrinya. Lagi-lagi ia terus mengagumi kecantikan Hanna.


Rio bukannya berhasrat pada istrinya, ia malah merasa sedang bermimpi bertemu dengan bidadarinya. Rasa takjubnya membuat ia tidak berhenti memandang wajah cantik itu dengan rambut panjang tergerai indah.


"Apakah mas Rio tidak ingin menyentuhkan?" tanya Hanna polos.


"Bagaimana aku bisa menyentuhmu, tubuhku saja gemetar seperti ini karena melihat kesempurnaan ciptaan Allah dihadapanku saat ini, kamu benar manusia bukan?" Tanya Rio yang coba mengusap wajah Hanna.


Hanna tersenyum malu dan merasa lucu melihat tingkah Rio yang terlalu gugup menghadapinya. Iapun berinisiatif untuk menanggalkan pakaiannya untuk menggoda suaminya ini.