
"Mas Daffa mengapa kamu menangis sayang? apakah kamu sedang merindukanku?" Tanya Nadia duduk di taman bunga yang didepannya terdapat danau yang sangat indah.
"Alhamdulillah sayang, mengapa kamu baru datang menemuiku, aku sangat kesepian Nadia tanpamu." Ucap Daffa memeluk istrinya erat.
"Aku juga sangat merindukanmu sayang, kamu tahu bayi kita selalu memanggil namaku seolah dia takut aku akan meninggalkannya." Ujar Nadia memberi tahu suaminya tentang keadaannya.
"Makanya jangan pergi kelamaan, kamu tidak tahu jika kami semua sangat merindukanmu," Ucap Daffa terisak haru karena istrinya sudah menemuinya.
"Tapi aku datang untuk pamit kepadamu, aku ingin pergi lagi mas Daffa, jagalah buah hati kita, ia yang akan menjadi penghiburmu, maafkan aku mas Daffa karena tidak bisa terlalu lama berada disisimu." Ucap Nadia mengurai pelukannya dari tubuh Daffa.
Tidak lama kemudian datang dua orang yang memakai baju serba putih yang memiliki wajah bercahaya begitu menyilaukan mata Daffa menghampiri ia dan istrinya.
"Nadia, ikutlah dengan kami waktumu sudah habis, kamu harus kembali ke langit." Ucap dua lelaki itu yang tidak begitu jelas wajahnya oleh pengelihatan Daffa.
"Mas aku pergi ya, jangan bersedih sayang, lebih baik kita berpisah alam dari pada bersamamu di dunia akan membuat kita harus berpisah selamanya."
"Nadia apa yang harus aku lakukan agar engkau kembali kepada aku dan putra kita, kami sangat merindukanmu, kami tidak bisa hidup tanpamu." Ucap Daffa yang terus mengejar Nadia yang makin menjauhi dirinya.
"Mas Daffa pergilah ke rumah Allah sucikan dirimu di sana, aku akan menunggumu di sana, segeralah datang sayang ke rumah Allah, kita akan kembali bertemu di sana!" Teriak Nadia sebelum menghilang dari pandangan suaminya.
"Nadia, di mana rumah Allah itu supaya ia aku bisa menjemputmu?" Tanya Daffa sambil berteriak dari kejauhan.
"Di Ka'bah, tempat kiblat umat muslim sedunia." Jawab Nadia lalu menghilang dalam kabut putih yang menyilaukan mata Daffa.
"Nadiaaa, tunggu jangan pergi sayang, ajak aku bersamamu, Nadiaaaa!" Teriak Daffa lalu bangun sambil mengerjapkan matanya. Astaghfirullah!" Rupanya aku hanya mimpi, Nadia sayang." Ucap Daffa memanggil nama istrinya yang masih belum sadar.
Ia melihat lagi monitor EKG dan tekanan darah Nadia yang masih stabil.
"Alhamdulillah sayang, aku cuma mimpi tapi, bagaimana dengan permintaanmu di dalam mimpiku, apakah benar kamu memintanya sayang, jika itu yang kamu inginkan aku akan melakukannya untukmu, tapi siapa yang akan menjagamu jika aku pergi? apakah aku minta saja kepada ummimu, ah jangan kasihan beliau sudah tua kalau ia sakit karena menunggumu disini itu malah akan merepotkannya.
Lebih baik aku akan meminta beberapa perawat disini yang mau menjagamu selama aku tidak ada dan mbok Ina untuk gantian dengan perawat itu." Ucapnya lalu mencium bibir istrinya dengan lembut.
🌷🌷🌷
Di pagi hari saat matahari sudah mulai menampakkan wajahnya dengan sinarnya yang lembut, Daffa kedatangan tamu istimewa, putranya Hafiz bersama kedua orangtuanya menjenguk istrinya Nadia. Hafiz yang sudah berusia tiga bulan sudah mulai banyak berbicara dengan ucapan-ucapan aneh layaknya bayi usia tiga bulan. Wajahnya yang makin tampan dan mata indahnya diwarisi oleh bundanya Nadia.
"Assalamualaikum ayah!" Ucap Nyonya Laila meniru suara bayi mewakili cucunya menyapa putranya Daffa.
"Waalaikumuslam baby tampan ayah, sekarang sudah makin besar ya, oh..oh..tambah montok ya!" Ucap Daffa menggendong putranya lalu mengangkatnya lebih tinggi dari tubuhnya.
"Uhhh...ahhhkk..ha..ha..!" Tawa canda Hafiz memperlihatkan gusinya dengan liurnya yang menetes di sudut bibirnya.
"Nadia lihat putra kita ia makin besar dan tumbuh dengan baik tapi, bukan berarti dia tidak membutuhkanmu sayang, hanya saja dia sedang toleransi dengan keadaan karena ia memahami kondisinya tanpa bunda disisinya.
Bangunlah sayang, cepatlah sadar, jika tidak ada malaikat kecil ini mungkin aku sudah menyerah karena hampir putus asa melihat keadaanmu yang mati segan hidup pun tak mau." Ucap Daffa setengah mengguncangkan tubuh Nadia.
"Tapi semalam aku mimpi aneh tentang Nadia mami, ia datang padaku memintaku untuk berdoa di rumah Allah, dan ketika aku tanya dia bilang Ka'bah, apa yang harus aku lakukan mami dengan permintaannya?" Tanyanya sambil menangis memeluk putranya Hafiz.
"Ba..ba...hmmm! ...muumm!" Hafiz mengecup pipi ayahnya bercampur liurnya.
"Hiks... hiks... hiks!" Hafiz, ayah tidak bisa apa-apa tanpa bundamu sayang.. ayah kangen sama bunda." Tangisnya sambil mendekap putranya.
Seperti mengerti ucapan ayahnya, Hafiz menjulurkan tangannya untuk lebih mendekatkan tubuhnya ke bundanya Nadia. Daffa menuruti keinginan putranya, ia meletakkan putranya disisi Nadia. Bayi mungil itu merambah mendekati wajahnya di atas wajah ibunya. Ayah dan Oma serta opanya memperhatikan apa yang dilakukan bayi itu pada bundanya. Satu kecupan mendarat di pipi cantik Nadia lalu beralih ke dada ibunya. Alhasil Nadia memberi respon, air matanya mengalir dari sudut matanya dengan menggerakkan sedikit jarinya. Daffa berteriak memanggil istrinya ketika melihat reaksi tubuh Nadia atas ciuman bayinya.
"Nadia!..mami lihat Nadia menangis, ia menggerakkan jarinya barusan, mami lihat bukan, ayah juga lihat, Nadia tahu bayinya datang." Ucap Daffa sambil menunjukkan jari tangan Nadia yang barusan bergerak.
Tuan Edy langsung menekan bel untuk memanggil dokter maupun suster untuk melihat keadaan Nadia. Dokter bergegas menghampiri kamar inap Nadia, lalu mendengarkan penuturan tuan Edy tentang reaksi menantunya barusan. Dokter segera menangani Nadia dengan beberapa tes yang mereka lakukan pada tubuh gadis malang itu.
Suster meminta keluarga pasien untuk keluar dari ruang kamar itu sebentar, agar dokter lebih fokus memeriksa keadaan Nadia. Setelah dilakukan beberapa tindakan pada tubuh Nadia, dokter hanya menggeleng kepalanya, karena yang mereka inginkan belum ada tanda-tanda pasien ingin segera sadar. Dokter meminta suster untuk memanggil lagi keluarga pasien agar bisa mendengarkan penjelasan dokter tentang keadaan Nadia.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter, apakah sudah ada perkembangan kesehatannya dokter." Tanya Daffa dengan sedikit berharap ada jawaban yang membuatnya bisa bahagia.
"Maafkan kami tuan Daffa, ini hanya respon spontan dari pasien di mana kesadaran pasien hanya terjadi sesaat karena rangsangan yang diakibatkan kontak batin antara ibu dan anak saja, mudah-mudahan sedikitnya tanda yang diberikan oleh nona Nadia mampu memberikan harapan atas doa-doa dari keluarganya." Ucap dokter yang tidak bisa memberikan kepastian kesadaran Nadia dari komanya.
"Terimakasih dokter!" ucap tuan Edy mewakili putranya yang sangat syok ketika mendengarkan penjelasan dokter tentang keadaan Nadia yang belum pulih dari komanya.
Dokter dan dua orang suster meninggal kamar inap Nadia.
Baby Hafiz sudah mulai pulas dalam gendongan omanya. Tuan Edy menyarankan putranya agar mengikuti permintaan Nadia dalam mimpi putranya itu.
"Daffa sebaiknya kamu berangkat umroh dan ayah akan mendampingimu, mungkin ini cara satu-satunya agar Nadia lebih cepat sadar dari komanya. Untuk urusan Nadia biarlah ayah yang akan diskusikan dengan dokter bagaimana baiknya dalam mengawasi Nadia ketika kamu umroh, apa lagi momennya tepat diawal ramadhan, mungkin Allah ingin kamu mengunjungi rumahnya, untuk bermunajat doa dan harapanmu di sana." Ucap tuan Edy memberi saran kepada putranya Daffa sesuai dengan petunjuk dalam mimpi putranya.
"Iya sayang berangkatlah umroh bersama ayahmu, jangan kuatirkan Nadia. Lakukan permintaannya, jika doamu adalah kekuatan untuk membuatnya kembali sadar dari koma." Timpal mami Laila untuk meyakinkan putranya.
"Baiklah ayah, tolong daftarkan segera keberangkatan kita di biro perjalanan umroh, insya Allah doaku mungkin lebih diijabah oleh Allah di depan Ka'bah." Sahut Daffa menimpali nasehat maminya.
"Alhamdulillah, semoga semuanya berjalan dengan lancar, doakan juga agar nanti kita bisa berangkat semuanya ke tanah suci jika Nadia sudah sadar." Pinta Nyonya Laila kepada putranya.
"Itu yang aku harapkan mami, aku ingin kita berangkat bersama dengan keluarganya Nadia juga.
Sayang kamu dengar itu, jika kamu sudah sadar kita akan umrah bersama dengan baby kita." Ucap Daffa kepada mami Laila dan istrinya Nadia.
"Kalau begitu mami dan ayahmu pulang dulu sayang, kasihan baby Hafiz kelamaan di rumah sakit, tidak baik untuk kesehatannya. Tadi mami ke sini karena baby Hafiz mau mendapat imunisasi. Takutnya entar lagi ia akan rewel usai imunisasi." Ucap mami Laila lalu mencium pipi putranya, begitupun Daffa mengecup kening bayinya sebelum mereka berpisah.
"Terimakasih mami, ayah, hati-hati, kabari aku ayah jika pendaftaran umrahnya sudah berhasil karena Daffa sudah tidak sabar untuk mengunjungi rumah Allah yang pertamakali sebagai pengelaman ibadah Daffa bersama ayah," pinta Daffa pada ayahnya.
Keluarga itu kembali berpisah, Daffa hanya berdiri di luar sebentar melihat kepergian orangtuanya dengan bayinya sampai hilang dari pandangannya.