
Tiga bulan kemudian, Daffa dan Rio mengunjungi proyek pembangunan sekolah yang direncanakan untuk memberikan kejutan pada ibu mertuanya ummi Kulsum. Semua yang direncanakan oleh mereka sesuai dengan kebutuhan pendidikan saat ini. Dari segi fasilitas pendidikan yang di butuhkan saat sudah memadai sesuai dengan standar pendidikan nasional. Infrastruktur menuju lokasi sekolah tersebut juga dipikirkan oleh mereka, agar memudahkan akses ke lokasi sekolah itu Daffa membangun jalur tersendiri untuk mencapai sekolah tersendiri. Sekolah menyediakan bis jemputan untuk siswa-siswinya di halte yang telah disediakan hanya untuk siswa yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Walaupun berada dipinggir kota Jakarta namun tetap nyaman untuk belajar.
Sabtu pagi Daffa mengajak istrinya dan putranya Hafiz mengunjungi ummi Kulsum. Nadia yang tidak mengetahui suaminya akan memberikan kejutan untuk umminya tidak menaruh curiga sedikitpun pada suaminya. Seperti biasa Nadia mencari makanan kesukaan umminya dan membeli beberapa gamis yang sudah satu paket dengan hijabnya.
Setibanya mereka di rumah ummi Kulsum, keluarga kecil ini disambut baik oleh neneknya Hafiz. Suara Hafiz sangat nyaring memanggil neneknya ketika pagar rumah itu dibuka oleh ayahnya.
"Assalamualaikum nenek!" teriak Hafiz yang sudah lari menghampiri neneknya.
"Waalaikumuslam sayang, apa kabar cucu nenek!" tanya ummi Kulsum yang sudah menggendong Hafiz.
Hafiz mengecup dua pipi neneknya bergantian, ia bercerita apa saja pada neneknya.
"Nenek hafiz sudah bisa baca iqro enam dan sudah menghafal surat pendek dan doa."Ucapnya bangga didepan neneknya.
"Oh ya!" Coba baca surah Al-fatihah, nenek mau dengar." Pinta ummi Kulsum pada cucunya yang sangat lucu dan cerdas ini.
Hafiz mulai mengawali bacaannya dengan ta'auz lalu melafazkan tujuh ayat induk Al-Qur'an itu dengan baik dan benar. Nadia memang begitu gigih melatih putranya ini dengan tidak boleh sampai salah dalam pengucapannya. Lidah Hafiz memang sengaja dilatih agar tidak salah melafazkan mahrojul hurufnya. Hafiz yang memang sudah terbiasa diperdengarkan bacaan Alquran dari mulai ibunya mengandungnya sampai ia dilahirkan hingga sudah mencapai usia hampir dua tahun ini dengan memperdengarkan murottal Al-Qur'an.
Hafiz menyelesaikan hafalan surah Al-fatihah didepan neneknya. Ummi Kalsum memeluk cucunya tersebut dengan penuh haru.
"Alhamdulillah, MasyaAllah, cucu nenek sudah hebat melantunkan surah Al-fatihah dengan baik dan benar." Puji nenek Kulsum lalu meminta Nadia lebih optimal lagi memperhatikan pendidikan agama Hafiz sejak dini sebagaimana dirinya dulu mendidik Nadia hingga ibunya Hafiz itu menjadi seorang hafizoh dan memiliki banyak prestasi.
"Ummi Daffa ingin mengajak ummi ke suatu tempat, apakah ummi mau?" tanya Daffa di sela-sela menikmati singkong rebus yang disediakan ummi Kulsum untuk mereka.
"Kita mau ke mana?" tanya ummi Kulsum penasaran.
"Ada deh" imbuh Daffa dengan santai.
"Ya sudah kalau begitu tunggu ummi ganti baju dulu ya, Hafiz mau singkong atau ubi?" tanya ummi Kulsum pada Hafiz yang memang tidak pernah diperkenalkan dengan makanan ringan seperti itu.
Hafiz mengambil singkong ditangan neneknya dan mencoba sedikit demi sedikit dan iapun tersenyum karena singkongnya sangat lembut dan mulai menghabiskannya. Daffa juga tidak ketinggalan menikmati lagi umbi-umbian rebusan itu yang jarang ia makan di mansionnya.
"Mas Daffa, ini memang cemilan kami ketika kami masih kecil sampai aku menikah denganmu, karena almarhum Abi, senang dengan makanan seperti ini daripada kue atau roti." Nadia mengisahkan kenangannya yang selalu makan singkong, pisang dan ubi rebus kepada suaminya.
"Aku malah senang sayang disuguhi makanan seperti ini karena tidak ada yang mengandung gula, semuanya asli dari alam" tutur Daffa sambil mengunyah singkongnya.
Tidak lama ummi Kulsum sudah rapi dan siap diajak menantunya ke suatu tempat yang dijanjikan. Mereka pun meninggalkan rumah ummi Kulsum menuju tempat yang dijanjikan Daffa.
"Sayang kita mau ke mana sih?" tanya Nadia penasaran karena Daffa tidak mau mengatakan apapun yang sedang direncanakan suaminya untuk umminya.
"Ikuti saja sayang, nanti juga kamu tahu ko, tapi sebelum sampai ke tujuan, ummi tutup matanya ya." Pinta Daffa kepada ummi Kulsum.
"Ini bukan hari ulang tahun ummi nak Daffa," ucap Ummi Kulsum yang masih bingung dengan tujuan Daffa.
"Tidak perlu menunggu ulangtahun untuk menyenangkan orang yang kita cintai karena setiap waktu adalah berharga ummi." Timpal Daffa senyum-senyum sendiri.
Ok ummi, kita sudah hampir sampai tolong tutup matanya, ucap Daffa lalu meminta Nadia mengikat kain yang sudah ia siapkan untuk menutupi mata umminya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Tibalah mereka di depan pintu gerbang besar yang sudah dijaga oleh dua orang satpam. Mobil Daffa memasuki area sekolah itu dan Nadia baru paham bahwa sekolah itu akan menjadi hadiah utama untuk umminya. Wajah Nadia yang terpana melihat gedung sekolah yang begitu mewah hampir terpekik namun mulutnya langsung di tutup oleh Daffa.
"Mas Daffa!"
"Ssstt!" Daffa menggeleng agar istrinya diam.
Mobil itu berhenti dan pintu mobil sudah di buka oleh Rio. Nyonya Laila yang sudah berdiri di samping mobil menyambut besannya dengan memberikan buket bunga.
Nadia membuka kain penutup mata umminya untuk melihat kejutan yang diberikan oleh Daffa pada ummi Kulsum.
"Selamat datang ke sekolah milik ummi!" Ucap Daffa membuat ummi Kulsum takjub.
"Daffa, apa maksudnya ini nak?" tanya ummi Kulsum bingung.
"Ini sekolah milik ummi, mulai besok ummi mengelola sekolah ini seperti ummi mengelola sekolah yang sebelumnya bersama almarhum Abi, bedanya sekolah ini khusus untuk ummi dan Nadia akan membantu ummi untuk mengelolanya." Ucap Daffa.
"Benarkah ini untuk ummi?" Tanya ummi Kulsum dengan perasaan haru.
"Benar jeng, Daffa menyiapkan ini untukmu, agar jeng bisa mencetak generasi muda dan melahirkan agen-agen baru yang berprestasi di bidang agama dan bidang ilmu lainnya. Terimalah hadiah ini dengan senang hati jeng." Ucap Nyonya Laila lalu memberikan bunga yang dipegangnya tadi untuk besannya.
"Allahuakbar!" Ucapnya lalu di sambut para tamu undangan lainnya yang sebagian besar teman-teman gurunya yang terdahulu yang telah keluar dari sekolah yang pernah mereka mengabdi.
"Selamat ummi Kulsum, kami siap menjadi partnermu untuk menjadikan sekolah ini sebagai pusat ilmu yang melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa yang cerdas dan berakhlak mulia sesuai dengan prinsip-prinsip yang tertanam dalam jiwa Rosulullah." Ucap ibu Yuni pada ummi Kulsum.
Ummi Nadia di minta oleh Daffa menggunting pita untuk meresmikan sekolah tersebut. Ummi Kulsum menangis dan memeluk Daffa haru. Kejahatannya pada menantunya ini membuat dirinya makin merasa tak berarti menjadi seorang publik figur untuk menjadi seorang guru lagi, namun Daffa meyakinkannya bahwa untuk menebus kesalahan masalalu hanya bisa dilakukan dengan beramal sholeh untuk masa depan.
Semua yang mengetahui kisah sebenarnya antara ummi Kulsum dan menantunya itu menangis haru termasuk Rio dan istrinya Hanna. Tidak lama kemudian dua putra kembarnya muncul di balik kerumunan para tamu undangan dengan menyanyikan lagu ummi. Acara yang telah dipersiapkan Daffa dan beberapa orang yang terlibat dalam persiapan kejutan untuk ummi Kulsum berhasil sesuai dengan rencana mereka. Ummi Kulsum di persilahkan duduk di kursinya utama dengan para tamu penting termasuk orang tua Hanna. Acara pun berlanjut sesuai dengan rangkaian acara pembukaan sekolah baru itu berakhir dengan pembacaan doa.
Sepulangnya dari acara tersebut, Daffa meminta Nadia untuk singgah di abang tukang rujak. Nadia merasa sangat heran dengan tingkah Daffa yang ingin makan rujak siang itu.
"Sayang, kita mampir dulu ke Abang tukang rujak, aku ingin makan rujak." Ucap Daffa lalu menepikan mobilnya.
"Mas Daffa tumben mau makan rujak?" tanya Nadia heran.
"Tunggu sebentar sayang, biar aku yang beli sendiri." Daffa turun dari mobilnya dan menghampiri Abang tukang rujak.
"Nadia, coba kamu cek keadaanmu, mungkin saat ini kamu sedang hamil nak, karena seorang suami bisa mengalami kehamilan simpatik." Ucap ummi Kulsum menyarankan putrinya untuk ke dokter kandungan.
"Astaga ummi sepertinya dua bulan ini, Nadia belum haid, apakah Nadia sedang hamil?" tapi kalau ini benar, tolong rahasiakan dulu ummi dari mas Daffa, sekarang gantian kita memberinya hadiah," ucap Nadia yang masih menunggu Daffa membeli rujak buah.