SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
31. PERSELISIHAN


Ketika ummi Kalsum meninggalkan Daffa dan Nadia untuk kembali ke kamarnya, Daffa juga ikut melangkah keluar untuk mengambil udara segar di luar rumah, yang saat ini sudah mulai kelihatan fajar. Karena sebentar lagi akan memasuki waktu subuh.


Nadia juga tidak mau membiarkan Daffa pergi begitu saja tanpa memberi kesempatan lelaki tampan itu berbicara padanya, setidaknya memarahinya karena ibunya sudah menghinanya tanpa henti.


Ketika melihat Nadia mengikutinya, Daffa meminta Nadia kembali kedalam rumahnya.


"Mas Daffa, maafkan aku, maafkan sikap ummi yang sengaja menyakiti hatimu." ucap Nadia sedih sambil menundukkan kepalanya dihadapan Daffa yang melihatnya sangat shock saat ini.


"Masuklah sayang, kamu sedang hamil anak kita, jangan terpengaruh dengan kejadian hari ini, jangan merisaukan bagaimana perasaanku, kita berdua sangat lelah dari perjalanan jauh, aku sangat khawatir akan kehamilanmu. Aku pulang dulu ya, jangan lupa makan teratur dan hindari setress berat, ingat apa kata dokter!" hati-hati Nadia, karena separuh nyawaku sudah ada dalam rahimmu, buah cinta kita." ucap Daffa sambil tersenyum dan mengusap kepala mantan istrinya dengan lembut.


"Baiklah, pulanglah mas Daffa, istirahatlah, kamu kelihatan lebih lelah daripada diriku." ucap Nadia dengan air mata yang tercekat menahan kesedihannya melihat Daffa yang sangat tegar menghadapi amukan umminya.


Mobil itu kembali bergerak meninggalkan rumah kekasih hatinya. Didalam mobil, Daffa sedang berpikir, bagaimana keluarga Nadia bisa mengetahui masa lalu ibunya yang tidak mungkin Nadia memberi tahu umminya tentang aib dari maminya.


Hanya satu saat ini yang membuatnya sangat curiga adalah kakeknya yang pernah mengancamnya kemarin, jika ia tidak kembali ke Indonesia maka aib ibunya akan ia beberkan ke keluarga Nadia.


"Ya Allah kakek, mengapa kamu sangat tega padaku, tidak cukupkah kamu menghinaku selama ini dan sekarang, kamu juga menyebarkan aib itu kepada keluarga Nadia." ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya dengan satu tangannya sedangkan tangan lainnya memegang stir mobil.


Di rumah Nadia, gadis ini mengambil air wudhu dan menunaikan sholat subuh karena azan sudah berkumandang dekat daerah tempat tinggalnya. Usai menunaikan sholat subuh ia pun merebahkan tubuhnya karena lelah tubuhnya dua kali lipat saat ia sedang mengandung daripada ketika ia masih belum tahu ada benih Daffa sedang tumbuh subur dalam rahimnya.


"Sayang, kamu datang di waktu yang salah, ketika semua orang tidak menginginkan kehadiranmu, kecuali ayah dan ibumu ini yang menginginkan dirimu hadir, tapi sudah terlambat menyadari kedatanganmu ketika kami sudah berpisah." ucap Nadia lirih lalu tertidur pulas melepaskan penat ditubuhnya.


🌷🌷🌷


Keesokan paginya Daffa kembali ke perusahaan setelah dijemput oleh asistennya Rio. Dengan setia, Rio menjelaskan keadaan perusahaan selama ditinggalkan oleh Daffa. Lelaki tampan ini nampak serius mendengarkan penjelasan asistennya mengenai perkembangan produksi unit kendaraan baru yang sebentar lagi akan di launching produk baru mereka ini.


Ditambah lagi sudah ada banyak pesanan pasar untuk produk baru mereka. Daffa tersenyum puas, karena kehadiran calon babynya di rahim Nadia, membawa keberuntungan dan banyak keberkahan untuk mereka. Betapa tidak, ibunya Nadia, memenangkan lomba juara 1 pembacaan Al-Qur'an, sedangkan perusahaan ayahnya akan maju pesat seiring dengan launching produk baru mereka nanti yang sudah tercium oleh pasar domestik maupun negara tetangga yang sudah mendapatkan banyak pesanan.


Di sisi lain Nadia yang baru saja bangun tidur, menghampiri meja makan karena ia merasa sangat lapar. Keadaan rumah yang cukup sepi karena penghuni rumah sudah berada di sekolah kecuali abinya yang saat ini masih diluar kota karena urusan rapat dewan guru yang di adakan di daerah Bandung.


Nadia yang baru mau memasak mie instan dikejutkan dengan bel rumahnya, ia menghampiri pintu pagar melihat siapa yang datang, ternyata ojek online yang membawa sesuatu untuk dirinya.


"Assalamualaikum mbak, apa benar ini alamat nona Nadia?" tanya abang ojek tersebut pada Nadia.


"Benar bang ini dengan saya sendiri." ucap Nadia menjawab pertanyaan ojek online tersebut.


"Ini pesanan anda!" ucap ojek online tersebut.


"Maaf bang, saya tidak memesan makanan ini." ucap Nadia sedikit heran, siapa yang memesankan makanan untuknya.


"Ini atas nama tuan Daffa mbak." ucap abang ojek itu lagi.


"Oh terimakasih bang." ucap Nadia lalu membawa masuk makanan itu.


Sesampainya di dalam rumah, Nadia meletakkan makanan itu di atas meja makannya ternyata menu sarapan pagi yang di pesan Daffa di salah satu restoran yang menyediakan menu sarapan secara online. Di dalam kap kemasan makanan itu tertulis caption,


"Untuk dua nyawaku yang saat ini sedang jauh dariku, selamat menikmati makanan sarapan dengan penuh cinta. Yang mencintai kalian berdua, ayahmu Daffa."


"Ya Allah mas Daffa, apa yang kamu lakukan sampai bisa menyempatkan waktumu, mengirimkan makanan ini untuk kami, sedangkan hatimu sendiri masih terluka tapi kamu masih mengkuatirkan keadaan aku dan calon bayimu." ucap Nadia sambil mengusap perutnya.


Nadia membuka bungkusan makanan itu dengan hati gembira, walaupun kesedihan masih bergelayut dalam hatinya, tapi kata-kata manis yang diucapkan untuknya dan babynya sangat membuatnya tersentuh. Apalagi nasehat Daffa yang masih terngiang dipikirannya, agar menjaga kondisinya yang sedang hamil muda saat ini.


Usai menyantap sarapannya, Nadia memeriksa lagi ponselnya, apakah ada notifikasi pesan masuk dari Daffa untuknya atau tidak, begitupun dengan Daffa yang juga memeriksa ponselnya apakah ada notifikasi pesan dari Nadia untuknya atau tidak.


Saling menunggu informasi dan mengharapkan siapa diantara mereka yang akan mengirim pesan duluan membuat keduanya termenung gelisah menatap ponselnya mereka masing-masing.


Daffa kembali dengan kegiatannya menatap layar monitor laptop yang ada di mejanya, sedangkan Nadia tidak ingin berlama-lama mendiamkan masalah yang sempat memanas dini hari masih belum diselesaikan olehnya. Ia pun membersihkan dirinya dan berniat untuk menemui Daffa di perusahaan milik mantan suaminya itu.


🌷🌷🌷


Di sore hari ketika semua karyawan perusahaan Daffa sudah beranjak meninggalkan ruang kerja mereka, Nadia datang menemui Daffa setelah menanyakan keberadaan Daffa di meja resepsionis.


"Selamat sore mbak!" apakah pak Daffa masih ada diruang kerjanya?" tanya Nadia kepada salah satu resepsionis itu, yang belum meninggalkan tempatnya.


Rina sangat senang dengan kedatangan Nadia dari pada Anjani yang sangat angkuh, jika datang ke perusahaan menemui Daffa, tanpa permisi kepada mereka, walaupun mereka sudah tahu jika itu adalah istri muda bos mereka.


Nadia pelan-pelan berjalan menuju ruang Daffa yang ternyata pintu ruangan itu sedang terbuka. Ia masuk dengan memberi salam kepada Daffa yang sedang mematikan layar monitor di laptopnya.


"Assalamualaikum mas Daffa!" sapa Nadia dengan lembut, membuat lelaki ini terperanjat dari tempat duduknya, yang tidak menyangka Nadia akan mengunjungi dirinya di perusahaan.


"Waalaikumuslam Nadia, kamu datang sayang!" ucap Daffa putus-putus merasa sangat senang.


"Kebetulan sekali kamu datang, padahal aku ingin mengunjungimu usai pekerjaanku selesai, aku ingin berbagi kebahagiaan denganmu karena hari ini, perusahaanku menerima banyak pesanan dari pasar domestik maupun Asia tenggara. Mereka terpikat dengan unit produk baru kami yang sebentar lagi akan launching." ucap Daffa dengan ekspresi wajah gembira namun disambut dingin oleh Nadia.


"Kenapa kamu tampak baik-baik saja, kenapa kamu tidak meneleponku, mengapa kamu tidak mengatakan apapun kepadaku?" tanya Nadia yang sudah tidak sabar menunggu pria tampan ini memarahinya karena kesalahan umminya.


"Bahkan bahkan setelah mendengar semua itu dari umiku seharusnya kamu mengatakan sesuatu kepadaku, ada apa dengan ibumu?" teganya dia mengatakan itu padaku?" mengapa kamu tidak menelpon atau marah soal kejadian kemarin, mengapa kamu tidak melakukan apapun yang dia katakan." teriak Nadia histeris di hadapan Daffa yang masih saja diam.


"Yang dia katakan tidak salah!" ucap Daffa tetap dengan pandangan matanya yang hangat kepada Nadia.


"Mas Daffa!" bentak Nadia kesal.


"Tidak apa aku sering mendengarkannya, beberapa orang yang mengatakan langsung kepadaku dengan mata mereka, tapi memang benar aku anak dari ibu seorang pela**r." ucap Daffa yang tidak ingin memperpanjang lagi masalah antara ia dan ummi Kulsum.


"Tapi itu bukan salahmu, kamu tidak bisa menerima begitu saja." ucap Nadia sengit.


"Dia marah padaku." ucap Daffa dalam hati dengan menatap mata Nadia yang sangat kesal pada dirinya.


"Kenapa kamu membiarkan orang-orang mengutukmu karena itu, Kamu tidak melakukan kesalahan, jadi kenapa kamu menoleransinya?" ucap Nadia dengan menahan kesedihannya.


"Dia mengatakan yang belum pernah dikatakan orang padaku, walaupun itu adalah ayahku sendiri yang tidak berdaya membelaku, di saat aku harus menerima semua penghinaan dari keluarganya." ucap Daffa bermonolog sambil mendengarkan omelan dari mantan istrinya ini.


"Apakah ini untukku?" jika ini membuatmu bersabar, aku tidak bisa lagi mengharapkan engkau kembali kepadaku. Jika mengetahui kamu terluka seperti ini tanpa melawan, lebih baik jangan pernah bertemu denganku lagi." ucap Nadia yang tidak tahan melihat sikap tenang Daffa yang tidak terganggu dengan kejadian dini hari tadi.


"Dia tidak berhenti marah padaku, kurasa aku menemukan kembali hatiku yang telah hilang selama 10 tahun ini. Dia adalah cinta sejatiku, belahan jiwaku." ucap Daffa membatin.


Nadia ingin beranjak keluar dari kantor Daffa, namun Daffa mencegahnya dengan kata-kata yang membuat langkah Nadia terhenti.


"Aku mencintaimu!" ucap Daffa menghentikan langkah gadisnya.


"Aku begitu marah jika ada yang tidak ku sukai, aku lebih sakit, jika orang yang aku cintai terluka karena penghinaan orang kepadanya." ucap Nadia tanpa membalikkan tubuhnya karena tidak ingin melihat wajah melankolis Daffa saat ini.


"Aku akan tetap mencintaimu." ucap Daffa yang tidak peduli dengan amarah Nadia padanya.


"Jika sikapmu begini terus, aku bersumpah, tidak akan memaafkan dirimu." ujar Nadia yang sudah mulai merasa matanya makin panas karena bulir bening sudah memenuhi kelopak matanya.


"Aku mencintaimu Nadia."


"Jika kamu terus seperti ini, aku akan akan benar-benar meninggalkanmu!" ucap Nadia dengan emosi yang sudah meledak.


"Mengapa kamu harus merasa tersakiti dengan perkataan ibumu, karena dia ibumu yang telah menghadirkan Nadiaku di bumi ini.


Sakit sakit yang dideritanya tidak seberapa yang aku rasakan kini. Aku berterima kasih kepadanya dan aku sangat bersyukur karena ia rela memberikan miliknya yang sangat berharga pada lelaki bejat sepertiku, memilihku menjadi suamimu tanpa syarat saat itu.


Pemahaman agamaku tidak sedalam denganmu, tapi aku tahu bagaimana seorang ibu akan bertahan untuk anaknya dalam situasi apapun, tidak peduli betapa nakal anaknya, tidak perduli bagaimana anaknya sangat durhaka kepadanya, karena yang ia tahu kasih sayangnya tidak pernah berkurang kepada anak-anaknya, karena ia yakin sejauh mana anaknya pergi, pasti akan kembali memikirkan ibunya, ketika ia dalam kesulitan dan kembali pulang menemui dirinya. Seorang anak dengan membawa beban dihatinya akan datang kepada ibunya, lalu merebahkan kepalanya diatas pangkuan ibunya, karena ia tahu kasih sayang ibunya tak ada bandingannya di dunia ini.


Jadi apa hakku membalas perkataan kasar ibumu demi membela harga diriku, membela kehormatan mamiku, jika ia bisa melampiaskan kekecewaan kepadaku, karena mempermainkan cintamu itu sangat wajar Nadia. Mana ada seorang ibu yang diam saja ketika anaknya tersakiti.


Cintaku padamu sama besarnya, dengan cintaku kepada ibumu. Bagiku yang membuatku terluka jika kamu berhenti mencintaiku, jika kamu mengusir cintaku dalam hidupmu, itu yang membuatku sangat sakit Nadia." ucap Daffa lalu membalikkan tubuhnya dan menyeka air matanya, yang sudah mengalir usai menyampaikan perasaannya kepada Nadia.


"Mas Daffa, mengapa kamu begitu kuat, kamu rela merendahkan harga dirimu atas nama cinta yang mungkin akan pudar seiring berjalannya waktu." ucap Nadia membatin.


Rasanya saat ini, ia ingin menghamburkan pelukannya di tubuh kekar itu, rasanya ia ingin mengusap pipi Daffa dan mengecup bibir yang masih bergetar itu, rasanya ia ingin mengatakan seribu kata cinta dan rindu yang sudah menumpuk selama hampir dua bulan ini, yang sudah menahan tubuhnya yang tidak halal lagi untuk suaminya ini.