SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
52. PERTEMUAN PERTAMA BEBY HAFIZ DAN NADIA


Malam berikutnya, baby Hafiz dibawa oleh ayahnya menemui ibunda tercinta. Sesuai perjanjian, keduanya bertemu di hotel yang mereka booking untuk waktu yang tidak ditentukan. Nadia yang sudah berdandan cantik dengan gaun yang sedikit terbuka menyambut suami tercinta dan putra tersayang. Tidak lama bel kamar hotel itu berbunyi, dengan sedikit melihat kembali penampilannya di kaca, Nadia menghampiri pintu itu dan membukanya.


"Assalamualaikum bunda!" ucap Daffa mengikuti suara bayinya.


"Waalaikumuslam sayang, oh ini anak bunda, ya Allah tampan sekali kamu sayang, lebih tampan dari dari foto-fotomu yang bunda lihat." ucap Nadia yang sudah menggendong bayinya dan tidak lupa mengecup bibir suaminya.


"Kamu cantik sekali sayang, makin bersinar dan kamu makin membuatku tergoda." Ucap Daffa yang sudah duduk sisi istrinya sambil mencium ceruk leher Nadia yang sangat harum.


"Sayang ada baby kita, jangan begitu," ucap Nadia yang merasa terganggu dengan ulah nakal suaminya mencium setiap jengkal tubuhnya.


"Mainlah dengannya, biarkan aku dengan urusanku sendiri." Ujar Daffa masih cuek menyentuh bagian-bagian sensitif Nadia.


Karena tidak bisa dibilangin, Nadia membiarkan suaminya melakukan apapun pada tubuh bagian bawahnya, sedangkan Nadia sibuk menggoda putranya sambil berbaring dengan sesekali mende***h lirih.


"Dede Hafiz sudah bisa apa sayang?" kangen nggak sama bunda?" akkhhh....mas Daffa!" ucap Nadia merintih menahan nikmat ketika lidah Daffa asyik menari dibagian intimnya.


"Mas Daffa, tunggu putramu tidur sayang, ini babynya sudah mengantuk," ucap Nadia memohon kepada suaminya menghentikan aksinya di bagian tubuhnya di bawah sana.


Daffa bukannya berhenti, makin dilarang makin ia berselancar dengan hisapan pada bagian bawah perut istrinya hingga Nadia berteriak histeris sampai tubuhnya bergetar hebat menahan sesuatu yang keluar dibawah sana.


Hafiz yang melihat wajah bundanya sedikit meringis membuat bayi ini menatap wajah bundanya bingung dan hampir menangis.


"Hussstt!" sayang tidak apa dede mau bobo?" tanya Nadia dengan nafas yang tersengal-sengal setelah mendapatkan org**me pertamanya.


Nadia memberikan susu formula kepada bayinya yang sudah disiapkan oleh Daffa dari mansion. Lama kelamaan bayi itu akhirnya tidur pulas dalam pelukan bundanya. Perlahan-lahan Nadia menarik lengannya untuk meletakkan kepala putranya di atas bantal.


Melihat putranya sudah pulas, Daffa mempersiapkan senjata laras panjangnya untuk menemui sarang milik istrinya. Perang ranjang kembali menggelora. Lontaran erangan erotis keduanya membangkitkan semangat gairah untuk mencari titik kenikmatan yang hampir mereka raih. Hingga hujaman terakhir membuat keduanya sama-sama histeris ketika lahar itu sudah meledak dibagian bawah sana. Keduanya tersenyum puas dengan saling menatap dengan tatapan kelompok matanya yang berat.


"Maafkan aku sayang, aku tadi tidak kuat melihat kecantikanmu yang memancing milikku untuk menyentuhmu." Kata Daffa kembali mengenakan pakaiannya setelah mandi wajib bersama.


"Tapi kasian dede Hafiznya jadi nggak bisa main sama aku." Ucap Nadia sedih.


"Besok aku akan membawanya lagi, jangan sedih seperti itu sayang. Terus sampai kapan kita begini? ironis banget nasib kita yang memiliki hubungan yang sah tapi melakukannya dengan cara back street seperti ini, bukannya ini hal yang sangat aneh?" tanya Daffa yang tidak kuat lagi terus bersandiwara.


"Sayang percayalah kepada Allah seperti janjinya dalam Alquran, maka bersama kesulitan pasti ada kemudahan, itu janji Allah pada hambaNya yang bersabar dan janji Allah itu di ulang sampai dua kali dalam surah Al-Insyira. Jadi ku mohon yakin dengan janji Allah untuk ujian ini. " ucap Nadia menghibur suaminya.


"Aku suamimu, aku berhak atas dirimu dan siap membawamu pulang ke rumahku kapan saja aku bisa lakukan itu." Ujar Daffa yang merasa sesak dengan keadaan ini.


Bagaimanapun juga aku adalah anak, yang belum tentu mengabdi kepada mereka sampai mereka menemaniku di hari tua. Usia mereka hanya sesaat menemani kita, namun usiaku mungkin akan menua bersamamu, bersabarlah sedikit lagi maka kebahagiaan ini akan menjadi milik kita selamanya aamiin." Ucap Nadia bijak dalam memberikan pengertian kepada suaminya.


"Subhanallah sayang, mamiku tidak salah memilihmu untuk menjadikanmu istriku, kau adalah duniaku yang aku percayai selain Allah dan Rasul kita, aku percaya janji Allah dan aku ingin satu bukti lagi dariNya" ucap Daffa lalu memeluk tubuh istrinya erat.


Setelah itu mereka bersiap-siap untuk pulang, malam ini mereka tidak ingin berlama-lama karena membawa bayi mereka larut malam. Mami Laila sudah wanti-wanti kepada putranya agar tidak kelamaan membawa bayi keluar di malam hari karena usia Hafiz yang masih bayi yang sangat rentan dengan udara malam.


Nadia ingin menggendong Hafiz sampai ke mobil. Daffa hanya membelitkan tangannya ke pinggang sang istri tercinta. Keduanya berjalan beriringan menuju lobby hotel dan Rio sudah siap dengan kendaraannya menjemput lagi pasangan back street ini.


🌷🌷🌷🌷


Hari berganti hari, pertemuan itu tidak kunjung usai hingga jatuh hari ke 21 Ramadhan, di mana sepuluh hari terakhir sebagian umat Islam melakukan itikaf yaitu berdiam diri di mesjid sambil melakukan ritual ibadah untuk mengharapkan ridho Allah.


Ummi Kulsum dan ustadz Aditya sebagai penceramah otomatis ikut melakukan kegiatan itu. Dengan begitu Nadia dan Daffa memanfaatkan momen itu untuk bertemu di hotel yang sama.


Tinggal tiga hari lagi lebaran idul Fitri. Daffa mengajak anak dan istrinya berbelanja keperluan lebaran. Keluarga kecil ini tampak mesra menyambut hari lebaran yang sebentar lagi akan tiba.


Mereka tidak sendirian, ada Oma, opa dan adik kembar Nadia yang ikut mengotak-atik barang-barang yang ada di pasar raya di kawasan Jakarta Selatan. Daffa menghadiahi adik iparnya yang kembar ini dengan membelikan keduanya laptop dan ponsel keluaran baru. Keduanya sangat girang mendapatkan barang yang selama ini mereka idam-idamkan.


"Mas Daffa tahu aja apa yang kita idamkan," ucap Fadhlan sambil menyikut Fadil yang sudah asyik membuka aplikasi apa saja yang ada di dalam ponsel baru tersebut.


"Aku tahu anak muda seperti kalian akan mengincar benda-benda seperti ini." Ucap Daffa yang sedang menemani ngobrol adik kembarnya ini tentang ponsel dan laptop baru, yang baru saja ia belikan untuk keduanya.


"Terimakasih ya mas Daffa, semoga Allah memberikan kemudahan agar mas Daffa dan mbak Nadia kembali bersama, bahagia selamanya." Ucap Fadil tulus mendoakan kebahagiaan kakak iparnya ini.


"Aamiin, sama-sama Fadil dan Fadhlan semoga bermanfaat ya untuk kalian, jangan lupa belajar yang rajin dan buatlah abi dan ummi bangga pada kalian." Balas Daffa tersenyum puas melihat kedua adik iparnya yang selama ini sudah banyak membantunya.


"Apakah kalian sudah selesai mas?" tanya Nadia yang sudah lelah mutar-mutar di area pasar raya dari lantai ke lantai.


"Mami dan ayah sudah selesai?" tanya Daffa ketika melihat orang tuanya sudah siap untuk pulang.


Kedua orangtuanya kompak mengangguk.


Daffa mengambil Hafiz yang sudah terlelap dalam gendongan Nadia. Ia tidak ingin ratunya ini kelelahan, karena jauh dalam relung hatinya ia berharap Nadia akan segera hamil lagi dalam waktu dekat ini.