
Nadia yang baru saja sadar dari mimpinya, tentang pertemuannya dengan Daffa, langsung bangkit dari tidurnya lalu duduk dengan membaca ta'auz.
"Astaghfirullah, Ya Allah, ada apa dengan mas Daffa, apa terjadi sesuatu dengannya?" ya Allah semoga ini cuma mimpi, bukan kebenaran, lindungi mas Daffa ya Allah, jangan biarkan sesuatu terjadi pada dirinya, dia adalah saudara seimanku saat ini." ucap Nadia lalu melihat ponselnya, ternyata baru jam 3 pagi. Berarti di Jakarta sudah jam 7 pagi.
Nadia bangkit menuju kamar mandi, ia ingin membersihkan tubuhnya dan menunaikan sholat tahajud. Setelah itu, seperti biasa ia kembali membaca Alquran yang menjadi obat hatinya.
Usai menunaikan shalat subuh, Nadia menghubungi mbak Andini, ia ingin hari ini pindah hotel karena tidak ingin bertemu lagi dengan Farhan.
Di Jakarta, pesawat jet milik pribadi Daffa baru tinggal landas menuju Istambul Turki. Ia yang merasa ngantuk karena dokter memberikannya obat tidur ketika mengobati tangannya yang terluka, agar ia bisa beristirahat. Kali ini ia tidak sendirian ke Istambul Turki, tapi ia juga ditemani oleh asistennya Rio.
Setibanya mereka di hotel tempat Nadia menginap, rupanya gadis itu sudah cek out dari hotel tersebut, ketika di tanya oleh Daffa kepada resepsionis hotel dimana Nadia menginap. Apakah ada informasi tentang tempat penginapan Nadia yang baru, ternyata pihak hotel tidak mengetahui tujuan tamu hotel mereka di tempat yang baru.
Akhirnya Daffa tetap memilih untuk menginap dikamar yang sudah dipesan oleh asistennya Rio, di hotel tersebut. Dengan di antar oleh petugas hotel ke kamar mereka masing-masing, Daffa masuk ke kamarnya persis sebelah kamar Nadia, sayangnya Nadia sudah tidak ada lagi di kamar itu.
Entah kemana gadis itu pergi. Rio berusaha mencari tahu keberadaan mantan istrinya bosnya itu, tapi anak buahnya tidak mengetahui jika Nadia sudah meninggalkan hotel tersebut. Tapi satu hal yang mereka tahu, tempat lomba Nadia yang sampai hari ini masih berlangsung. Daffa tidak ingin menganggu jalannya acara lomba tersebut, kuatir menganggu konsentrasi Nadia, yang saat ini masih fokus pada lomba yang diikuti oleh mantan istrinya itu.
Ia hanya menunggu malam babak final, yang merupakan malam puncak, di mana akan menentukan siapa diantara para peserta yang akan masuk ke tiga besar grand final tersebut. Daffa mengharapkan bahwa mantan istrinya yang memenangkan lomba tersebut.
🌷🌷🌷
Malam ini adalah malam babak final untuk peserta yang tersisa tiga orang yang akan memperebutkan hadiah berupa piala penghargaan beserta uang tunai sebesar 2 miliar jika dirupiahkan dalam mata uang Indonesia.
Nadia tampak semangat karena pembacaan juara 1 sampai tiga itu, akan diucapkan oleh MC acara ajang lomba tersebut. Dari ketiga orang peserta itu, tidak henti-hentinya berdoa agar diantara mereka ada yang meraih juara pertama dari perlombaan itu.
Nafas Nadia yang tersengal-sengal dengan degup jantung yang berdebar tak menentu membuat Andini yang ada disebelahnya menggenggam tangan Nadia erat. Nadia merasakan energi positif yang diberikan Andini padanya saat ini, karena ini yang diharapkannya saat ini, agar ada seseorang yang ia bisa berbagi suka dan dukanya malam ini.
Kedua gadis yang beda usia sekitar lima tahun ini sangat deg-degan, ketika MC acara tersebut membaca nama pertama untuk juara ke tiga lalu juara ke dua, ketika menyebutkan juara kedua Nadia dan Andini melompat kegirangan bersama dua panitia lainnya dari Indonesia, keduanya adalah laki-laki, jadi hanya memberikan jempolnya kepada Nadia, sebagai ucapan selamat mereka pada Nadia yang telah mengharumkan nama bangsa Indonesia yang telah memenangkan lomba bergensi tersebut.
"Juara satu lomba pembacaan Al-Qur'an tahun ini, jatuh pada Qoriah terbaik kita adalah Nadia Saphira Az-Zahra dari Indonesia," ucap MC tersebut lalu memanggilnya untuk maju ke depan panggung untuk menerima piala dan papan simbolis besarnya uang yang diterimanya nanti.
Nadia tidak sadar melompat ke badan Andini yang tambun itu, agar gadis itu memeluknya sebagai luapan kegembiraannya.
"Mbak Andini, akhirnya kita menang, aku masuk dulu ya." kata Nadia pada tim panitianya itu.
"Alhamdulillah, sukses ya mbak Nadia." ucap Andini haru.
Nadia memasuki panggung besar itu dengan jutaan penonton dari berbagai negara yang hadir di malam itu. Yang lebih mengejutkannya, ia harus menerima hadiah berupa piala itu dari Farhan sebagai juri utama lomba tersebut.
Nadia sedikit kesal dan juga grogi saat Farhan tersenyum padanya seraya memberikan piala itu kepadanya. Nadia hanya mengangguk hormat tanpa membalas ucapan Farhan kepadanya.
"Selamat nona Nadia, atas prestasi mu yang luar biasa ini." ucap Farhan kepada Nadia yang disambut anggukan kepala oleh Nadia.
Farhan mengetahui, jika gadis ini masih marah padanya, iapun kembali ke tempat duduknya, begitu juga dengan Nadia kembali menemui tim panitianya. Dengan berakhirnya pembacaan peserta juara, acara itu masih diisi dengan berbagai acara hiburan lainnya yang bernuansa Islam, entah nyanyian maupun tarian, dan kebetulan Indonesia membawa tarian kebanggaannya yaitu tari Saman yang sudah mendunia.
Nadia dan Andini yang sudah janjian ingin pulang duluan ke hotel, tiba-tiba dikejutkan oleh Farhan yang sudah menunggu mereka di pintu keluar gedung. Nadia tersentak ketika Farhan nekat meraih tangannya mengajaknya untuk berbicara.
"Nona Nadia, aku ingin bicara denganmu sebentar." ucap Farhan seraya meraih pergelangan tangan Nadia dan menjauh dari Andini.
Belum saja Nadia menolak permintaan Farhan, datang lagi Daffa yang langsung meleraikan tangan Farhan pada pergelangan tangan Nadia. Keduanya sama-sama berbalik ketika melihat siapa yang sengaja memisahkan pegangan tangan mereka.
"Mas Daffa!" pekik Nadia dengan mulut setengah terbuka dengan pupil matanya terbelalak menatap wajah tirus Daffa dan lebih mengagetkan dirinya, bahwa mimpinya benar adanya, jika tangan Daffa saat ini terluka dengan balutan perban coklat yang ada ditangannya.
"Lepaskan dia!" bentak Daffa kepada Farhan yang belum dikenalnya itu, dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Siapa kamu, berani mengganggu hubungan kami." ucap Farhan dalam bahasa yang sama yang diucapkan oleh mantan suami Nadia ini.
"Bukan urusanmu." ucap Daffa yang sekarang menarik tangan Nadia.
Farhan tidak mau mengalah begitu saja pada Daffa, ia juga kembali meraih tangan Nadia. Tarik menarik antara keduanya, untuk memperebutkan Nadia sangat menegangkan. Andini yang bingung dengan ketiga orang ini, terpaksa turun tangan karena ia juga tidak tega melihat temannya, jika Nadia jadi rebutan dua lelaki ini, walaupun ia sudah tahu siapa kedua lelaki tampan ini dari cerita Nadia.
"Lepaskan tangan kalian dari gadis ini, atau saya akan melaporkan kalian ke petugas keamanan gedung ini untuk membawa kalian ke polisi." ucap Andini dengan penuh wibawa menegur kedua lelaki terhormat ini.
Keduanya melepaskan tangan Nadia, Nadia berlari memeluk Andini dengan rasa ketakutan kepada dua lelaki yang sedang berada di dalam pikirannya ini.
"Nadia, biarkan aku mengantarmu sayang." ucap Daffa dengan setengah memohon.
"Hei, tuan-tuan yang terhormat, mengapa anda sangat repot untuk mengantar Nadia?" gadis ini adalah tanggung jawabku, karena aku panitia yang diutus oleh KBRI untuk menjaga Nadia aman selama berada di negara ini, tidak kamu dan kamu yang membawa dia dari hadapanku, karena dia tidur sekamar denganku, mengerti!" ucap Andini sambil mengacungkan jarinya ke wajah dua lelaki tampan yang berdiri didepannya ini.
Rio yang dari tadi memperhatikan adegan dramatis itu hampir tergelak karena merasa geli dengan tingkah dua cowok itu diomelin singa betina dan keduanya mati kutu tanpa berkata-kata lagi.
Andini membawa Nadia menuju parkiran mobil mereka, namun baru saja melangkah tubuh Nadia langsung limbung dan dengan sigap Daffa berlari menahan tubuh indah itu.
"Nadiaaa!" teriak Daffa diikuti Farhan.
Andini yang nampak bingung melihat gadis cantik ini tiba-tiba pingsan disampingnya.
"Astagfirullah ya Allah, bagaimana ini." ucap Andini panik melihat Nadia.
"Rio, siapkan mobil, kita harus segera membawa Nadia ke rumah sakit." titah Daffa yang sudah menggendong Nadia menuju mobil .
Rio segera membawa mobil yang kebetulan dekat dengan tempat mereka berdiri, sudah siap dan membuka pintu untuk Daffa. Daffa membawa masuk tubuh Nadia dan ia meminta nona Andini untuk ikut bersamanya ke mobil mereka dan duduk di depan bersama Rio. Mobil itu bergerak menuju rumah sakit.
Daffa yang berusaha menyadarkan Nadia dan ingin membuka cadar gadis ini, supaya Nadia bisa mendapatkan pasokan udara. Daffa berpikir lagi untuk tidak melakukannya karena ada Rio yang akan melihat paras wajah mantan istrinya ini, lagi pula, Nadia bakalan marah kalau ketahuan ada orang lain yang melihat wajahnya.
Farhan yang ikut cemas mengikuti mobil Daffa dengan bantuan seorang sopir pribadinya temannya yang ada negara tersebut. Ia juga tidak mau ketinggalan menjadi pahlawan untuk gadis pujaannya itu.
Tidak butuh waktu lama mobil itu sudah memasuki gerbang rumah sakit. Rio yang keluar duluan menyapa petugas medis untuk membawa brangkar karena ada pasien yang butuh penanganan medis. Para petugas medis dengan sigap membawa tubuh Nadia ke dalam ruang IGD rumah sakit mewah yang ada di kota Istanbul tersebut.
Daffa yang ikut mendorong brankar Nadia di minta suster untuk tidak ikut masuk, iapun keluar dari ruangan itu dan menunggu di depan kamar IGD bersama Rio dan Andini yang sudah duduk di sudut ruangan dekat dengan lobby rumah sakit. Tidak jauh dari mereka, duduk seorang lelaki tampan yang tidak lain adalah Farhan. Daffa ingin sekali menampar wajah Farhan yang so pahlawan itu.
Di dalam ruang IGD, Nadia sudah siuman, iapun mengedarkan pandangannya ke ruangan sekitarnya, ternyata ia sedang berada di rumah sakit. Suster yang melihat Nadia bangun, segera memanggil dokter yang tadi menangani Nadia.
"Suster, apa yang terjadi padaku." tanya Nadia dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Sebentar nona, nanti biar dokter saja yang menjelaskan keadaan nona secara medis." ucap suster itu ramah menatap wajah cantik Nadia yang tidak membuatnya bosan.
"Assalamualaikum nona Nadia!" sapa dokter Gulya yang merupakan dokter spesialis kandungan di rumah sakit tersebut.
"Waalaikumuslam dokter, apa yang terjadi pada saya." tanya Nadia lagi pada dokter cantik tersebut yang juga menggunakan hijab.
"Nona Nadia, kapan terakhir anda haid?" tanya dokter Gulya
"Sekitar dua bulan ini, dokter dan saya merasa haid saya datangnya selalu tidak teratur." jawab Nadia yang curiga dengan maksud pertanyaan dokter Gulya.
"Kesimpulan dari diagnosa saya ternyata benar, bahwa saat ini anda sedang hamil dan usia kandungan anda sudah memasuki sembilan minggu, selamat nona Nadia." ucap dokter Gulya pada Nadia yang tampak termangu mendengar penuturan dokter kepadanya.
Antara percaya, bahagia dan juga sedih menyatu dalam hati dan pikiran Nadia saat ini, begitu ironisnya ketika mengetahui calon bayinya seakan sedang menunggu kedatangan ayahnya untuk mendapatkan pengakuan dari seorang ayah atas keberadaannya dalam kandungan ibunya saat ini, entah kebetulan atau calon bayinya yang sedang merindukan sosok ayahnya yang tepat datang ketika ibunya pingsan.
Nadia juga begitu sedih untuk enam bulan ke depan, ia harus menahan semua perasaannya karena harus menjalani kehamilannya tanpa seorang suami disisinya. Ingin rasanya ia meminta dokter ini, agar tidak membuka mulutnya ketika memberi tahukan kabar kehamilannya pada Daffa. Tapi apakah dokter ini mau bekerjasama dengannya. Belum selesai ia berpikir bagaimana cara mengatasi untuk mencegah Daffa agar tidak mengetahui kehamilannya, ternyata Daffa sudah masuk ke ruang IGD atas izin dokter karena Daffa mengaku bahwa ia adalah suaminya Nadia.
"Silahkan temui istri anda tuan," ucap dokter Gulya pada Daffa.
"Terimakasih dokter." ucap Daffa lalu menghampiri Nadia yang sudah kembali menutup wajahnya dengan cadar.
"Selamat tuan, istri anda saat ini sedang mengandung calon bayimu." ucap dokter Gulya lalu memberikan kesempatan kepada Daffa berdua dengan Nadia
"Alhamdulillah, ya Allah akhirnya Nadia hamil anakku." ucapnya penuh syukur.
"Tolong menjauh dari saya mas Daffa, jangan sampai kamu menyentuh tubuhku karena kita bukan lagi muhrim." ucap Nadia yang membalikkan tubuhnya tidak ingin melihat tampang Daffa, walaupun hatinya saat ini sangat merindukan ayah dari calon bayinya ini.
"Jika kamu tidak ingin bertemu denganku, tidak mengapa Nadia, tapi izinkan aku bertemu dengan calon bayiku, untuk mendoakan keselamatannya dan juga dirimu agar kalian berdua dalam keadaan sehat." ucap Daffa yang tidak ingin menyentuh tubuh Nadia karena ia tidak ingin Nadia berubah marah padanya, karena hal ini tidak baik untuk kondisinya yang lagi hamil muda.
Daffa kembali lagi ke dokter untuk menanyakan apakah Nadia perlu dirawat atau bisa pulang ke negara asal mereka. Jika dilihat kondisi fisik Nadia sepertinya Nadia butuh perawatan intensif dan untuk melakukan perjalanan jauh, itu sangat tidak mungkin karena kondisinya sangat rentan dengan keadaannya saat ini, mengingat Nadia sedang hamil muda, itu yang dikatakan oleh dokter Gulya kepada Daffa.
Akhirnya Daffa yang tidak ingin terjadi sesuatu pada Nadia, meminta dokter untuk menyiapkan kamar inap VVIP untuk Nadia dan ia meminta Rio untuk kembali ke Indonesia bersama dengan tim panitia penyelenggara acara lomba tersebut menggunakan pesawat jet pribadi miliknya. Tentu saja hal ini disambut antusias oleh mbak Andini, iapun segera menghubungi timnya untuk bersiap-siap menuju bandara karena mereka akan menumpangi pesawat jet milik mantan suami Nadia ini.
"Ya Allah mimpi apa gue semalam, hingga dapat rejeki, bisa naik pesawat jet pribadi milik si ganteng itu, ya Allah Nadia, loe tega banget sih sampai mau bercerai dengan suami setampan tuan Daffa, kalau gue jadi elo, gue bakal kekapin lelaki itu." ucap Andini yang sekarang ini sudah berada di mobil bersama Rio menuju hotel tempat dia dan Nadia menginap untuk mengambil barang-barangnya yang masih berada di kamar hotel tersebut.