SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
56. TERSENYUM


Nadia dan Rio sama-sama berdoa ketika Daffa perlahan-lahan membuka hasil laporan DNA milik putrinya Anjani. Dengan ucapan bismillah ia membuka matanya dan menarik nafas lembut.


"Hasil tes DNA tersebut menunjukkan bahwa 99,9% negatif." Yang menyatakan bahwa Daffa bukan ayah biologis putrinya Anjani, yang bernama Nayla.


"Alhamdulillah terimakasih ya Allah atas petunjukMu," ucap Daffa lalu bersujud syukur kepada Tuhannya.


Daffa lalu memeluk istrinya, Rio hanya mengusap wajahnya ikut merasakan kebahagiaan tuan dan nyonya ini. Ia lalu menggendong bos kecilnya baby Hafiz.


"Hallo bos, apa kamu mau uncle Rio gendong?" ucapnya lalu membawa bayi itu keluar menuju tempat parkir.


"Alhamdulillah mas Daffa, kita sudah terlepas dari jeratan tipu muslihat Anjani, aku tidak bisa bayangkan bagaimana dia akan sangat malu jika kedoknya kita buka di depan ayahnya tuan Fahri," sambungnya Nadia.


"Itu akan kita pikirkan nanti, jangan sekarang ini karena aku ingin kita berlibur dulu ke luar negeri, pulangnya baru memikirkan langkah selanjutnya untuk menjerat Anjani dengan tuntutan hukum." Timpal Daffa.


Daffa mengecup lembut bibir istrinya dan mereka menyusul Rio dan Hafiz yang sudah duluan ke tempat parkir.


Tidak lama kemudian, mobil mewah itu sudah berjalan ke arah mansion Oma dan opa Hafiz dengan diantar oleh Rio. Dalam perjalanan Rio membahas tentang hasil tes DNA tersebut dengan Daffa.


"Bos kapan anda akan memberikan bukti ini kepada keluarga tuan Fahri?" tanya asisten Rio.


"Tunggu kami pulang liburan dulu Rio, karena aku sudah berjanji dengan keluargaku untuk mengunjungi tempat wisata di kota Madrid" ucap Daffa yang tidak ingin secepatnya membuka kedoknya Anjani.


"Baiklah bos, selamat berlibur semoga nanti pulang liburan lebih mantap menghadapi kemurkaan mertua bos tuan Fahri." Ucap Rio santai.


Tidak lama mobil itu sudah memasuki gerbang utama mansion. Mami Laila yang sudah menunggu putra dan menantunya serta cucu tercinta, tersenyum ketika melihat cucunya yang sangat ia rindukan. Raut kebahagiaannya menyambut kedatangan keluarga kecil itu yang sudah dimatikannya sejak tadi.


Tuan Edy menggendong cucunya dan mengajak Hafiz main piano, sesaat keluarga itu saling berpelukan untuk melepaskan rindu. Para pelayan sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka. Sebelum makan malam dimulai Daffa menyerahkan hasil tes DNA milik putrinya Anjani kepada orang tuanya.


Keluarga itu merasa bahagia karena tuduhan kotor itu sudah bisa teratasi dengan baik.


"Alhamdulillah, akhirnya terkuak juga kebohongan Anjani, pasti ia menggunakan segala cara untuk bisa mendapatkan tes DNA dengan laporan palsu ini." Ucap Nyonya Laila sangat kesal dengan kelakuan menantu keduanya itu.


"Aku juga akan menuntut rumah sakit itu, untuk menyingkirkan oknum petugas medis yang bekerjasama dengan Anjani." Ujar Daffa geram.


"Bicarakan ini dengan pengacara kita Daffa untuk mengambil langkah hukum selanjutnya," sahut Tuan Edy.


"Baik ayah, Rio akan mengurus itu semua karena aku akan melakukan perjalanan tour ke Madrid bersama keluarga kecilku." Ucap Daffa ceria.


"Jadi mami dan ayah nggak diajak nih, hitung-hitung bulan madu kedua ya ayah?" seloroh nyonya Laila dengan melirik suaminya yang asyik main bersama cucunya.


"Itu malah lebih seru mami, kalau mami dan ayah ikut serta." ucap Nadia sangat antusias.


"Ajak keluargamu sekalian Nadia," ucap tuan Edy.


"Abi dan ummi sedang mempersiapkan ujian nasional untuk peserta didik tahun ini, mungkin keduanya tidak bisa ikut ayah." Ucap Nadia menjelaskan keadaan orang tuanya yang tidak bisa ambil cuti.


Hanya Rio yang tidak bisa menikmati liburan, ia harus menghandle semua tugas Daffa ketika bosnya ini sedang memiliki kesibukan untuk urusan keluarga. Daffa selalu memberikan apresiasi lebih untuk kinerja asistennya yang satu ini.


"Nyonya, makan malam sudah siap," ucap Riri kepala pelayan di mansion tersebut.


"Ayo kita makan malam dulu!" Rio ikut gabung makan malam bersama," ucap tuan Edy menawarkan asisten putranya ini lalu berjalan menuju ruang makan.


Makan malam bersama selalu rutin dilakukan oleh keluarga ini, semenjak tuan Subandrio meninggal dunia. Keharmonisan keluarga ini membuat keluarga lain yang ada di seberang sana tidak menyukai kekompakan itu. Siapa lagi kalau bukan tuan Fahri.


🌷🌷🌷


Liburan yang dinantikan telah tiba. Daffa beserta keluarga besar dan juga dua pelayan sudah berada di dalam pesawat jet pribadi miliknya. Nadia yang menggantikan baju syar'inya yang biasa warna gelap dengan baju syar'i yang berwarna lebih terang. Karena tidak ada pelayan laki-laki yang ikut dalam rombongan tersebut, membuatnya lebih bebas membuka cadarnya. Pramugari cantik yang biasa melayani tuan Daffa, sangat kaget melihat permaisuri tuannya ini.


Dari dulu pramugari cantik ini tergila-gila dengan ketampanan Daffa. Pria tampan yang selalu tampil cool ini membuat ia tidak mampu menunjukkan perasaannya pada tuannya itu. Sekarang yang membuatnya lebih sakit melihat orang yang dicintainya memiliki wajah bidadari. Daffa memangku putranya dan Nadia memilih membaca Alquran yang ada di ponselnya.


"Selamat pagi nyonya!"


"Pagi nona!" jawab Nyonya Laila ketika memasang site belt di pinggangnya.


"Anda mau minum atau makan apa nyonya?" tanya pramugari Wulan.


"Satu cappucino moka dan roti croissant." Ucap Nyonya Laila tersenyum manis pada pramugari tersebut.


Semua kebutuhan penumpang pesawat itu dilayani dengan baik oleh Wulan dan dua rekannya. Pesawat jet itu sudah mengangkasa menembus awan demi awan dan berjalan tenang menyesuaikan lalu lintas udara. Waktu tempuh Jakarta Madrid sekitar 18 jam lebih dengan perbedaan waktu Indonesia yaitu 6 jam lebih lama dari pada waktu Jakarta. Sekitar jam tiga pagi waktu Madrid, pesawat mereka akhirnya tiba di bandara internasional Adolfo Suárez Barajas.


Tiba di hotel mewah yang sudah dibooking sebelumnya oleh asisten Rio, Daffa dan rombongan menuju kamar mereka masing-masing yang diantar oleh petugas hotel. Karena masih dini hari, mereka memilih untuk istirahat sejenak demi memulihkan kembali stamina sebelum melakukan tour di kota terbesar di negara Spanyol tersebut.


Di Jakarta Indonesia, Anjani mengumpat Daffa dan Nadia, ketika mengetahui suaminya itu sedang bersenang-senang dengan istri pertamanya di luar negeri. Ia membanting semua yang ada di kamarnya dengan berteriak seperti orang gila. Pelayan nampak ketakutan mendengar amukan Anjani yang tidak berhenti hampir satu jam terus mengamuk.


"Bre**k kamu Daffa, aku juga istrimu, tapi tidak sekalipun kamu pernah datang ke rumahku, apa lagi untuk menyentuhku, kau harus membayar semua ini Daffa dengan air mata darah untuk bersujud di depanku," ucapnya sambil menyeka air matanya.


"Anjani,... Anjani, buka pintunya sayang!" pinta tuan Fahri yang sangat kuatir dengan putri semata wayangnya itu.


"Pergi, tinggalkan aku ayah, aku makin menderita setiap saat karena suamiku tidak mempedulikan diriku bahkan putriku yang malang..hiks...hiks..hiks!" Ucapnya seraya melempar foto pernikahannya tepat di pintu kamarnya.


Prangggg!"


Bunyi pecahan kaca yang berhamburan itu membuat Tuan Fahri dan istrinya terhenyak di depan pintu kamar putrinya itu. Tuan Fahri makin geram dengan Daffa.


"Daffa aku bersumpah bagaimana pun caranya, aku akan memisahkanmu dengan istrimu itu." Ucapnya lalu meninggalkan kamar putrinya.


Di dalam sana Anjani sudah merasa kelelahan, amarahnya telah menguras energinya. Entah niat busuk apa lagi yang sedang ia rencanakan. Namun satu hal yang membuatnya terhibur yaitu menghubungi pria yang biasa ia ajak untuk menyenangkan dirinya di atas ranjang.