
Untuk mengakhiri bulan madu mereka, Daffa dan Nadia bercinta semalaman hingga keduanya telat bangun subuh untuk menjalani ritual sholat wajib. Nadia begitu panik, dengan lembut ia membangunkan suaminya.
"Sayang.. sayang... sayang..mas Daffa!" di sahut oleh Daffa dengan suara dehemen, hmm!" lalu tidur lagi. "Astagfirullah!" sayang bangun kita sudah kesiangan sholat subuhnya. Nadia mulai kesal, ia kemudian bangun sendiri dan menghampiri kamar mandi untuk mandi wajib. Di dalam kamar mandi Nadia memperhatikan dirinya sesaat didepan kaca, lalu ia mengambil sikat gigi kemudian menggosokkan giginya sebelum mandi wajib. Usai berkumur ia menuju ke tempat shower untuk membasahi tubuhnya.
"Perasaan rambutku nggak pernah kering deh, setiap saat harus disiram air karena terus bercinta dengan mas Daffa," keluh Nadia dengan terus mengguyur badannya di bawah aliran air shower yang sudah diatur suhunya agar terasa lebih hangat.
Seketika tubuhnya dipeluk oleh Daffa dari belakang, akkhh!" pekik Nadia kaget dengan ulah suaminya.
"Ya ampun mas Daffa bikin jantungan saja, aku hampir meninju wajahmu tahu." ngomel Nadia dalam guyuran air shower.
"Lagian mandinya nggak ngajak-ngajak suami." timpal Daffa sambil menyabuni tubuh istrinya dan membantu keramas rambut Nadia yang terlalu panjang.
"Aku sudah bangunin kamu sayang, tapi kamunya susah di bangunin, kita sudah ketinggalan sholat subuh." ucap Nadia sedikit cemberut.
"Yuk, cepatlah supaya bisa sholat subuh, kan kita nggak sengaja sayang," imbuh Daffa yang sudah membersihkan tubuhnya juga.
Keduanya menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah walaupun sudah hampir jam 6 pagi waktu setempat. Kedua nampak khusu berdoa di akhir sujud mereka. Banyak sekali yang mereka pinta kepada Sang Khalik untuk kebahagiaan pernikahan mereka.
Usai sholat subuh, Nadia mencium punggung tangan suaminya dengan penuh takzim dan memohon maaf pada Daffa. Sebenarnya Daffa merasa heran dengan kebiasaan ucapan istrinya setiap kali mereka usai menunaikan sholat wajib Nadia selalu meminta maaf. Timbul keinginannya untuk bertanya kepada istrinya itu.
"Sayang, mengapa kamu selalu meminta maaf kepadaku setiap kali kita menunaikan sholat berjamaah?" tanya Daffa merasa penasaran kebiasaan istrinya yang selalu meminta maaf kepadanya.
"Karena aku ingin ketika Allah memanggilku, aku sudah mendapatkan ridho dari suamiku." ucap Nadia menjawab pertanyaan suaminya.
"Nadia kamu bicara apa sih sayang ko seram begitu." ujar Daffa langsung memeluk istrinya.
"Mas, memang itu sudah aturan hukum dalam Islam, hal yang membanggakan seorang istri selain mendapatkan cinta suaminya sekaligus ridho suaminya, karena surgaku ada diridhoi kamu sayang." muucch satu kecupan mendarat dibibir seksi Daffa.
"Sayang, jangan berandai-andai dengan kematian, andaipun ajal itu datang, biarkan itu menjadi rahasia Ilahi bukan kewenangan kita, kewajiban kita hanya beramal baik bukan berharap akan datangnya kematian." ucap Daffa bijak dengan memeluk istrinya erat.
"Entahlah sayang, aku merasa ada sesuatu yang akan hilang dariku, hatiku merasakan kesedihan yang amat sangat, tapi aku tidak tahu kalau itu apa, nggak bisa mengartikan perasaanku ini."
"Sayang, bukankah itu bagian dari bisikan setan, jadi beristighfarlah, mungkin akan meringankan beban perasaanmu."
Setelah saling menasehati dalam kebaikan, keduanya beranjak untuk menuju restoran resort untuk sarapan pagi. Hari ini mereka harus berkemas karena lusa Nadia sudah kembali mengajar. Waktu bulan madu mereka sudah cukup puas dinikmati oleh keduanya, mereka harus segera kembali ke aktifitas masing-masing.
🌷🌷🌷
Kembali lagi ke apartemen mereka, dimana tempat mereka bernaung. Merapikan kembali barang bawaan mereka dari Bali yang mereka jadikan sebagai oleh-oleh yang akan dibagikan untuk keluarga dan rekan kerja keduanya. Nadia menghubungi mami mertuanya untuk membuat janji temu.
"Assalamualaikum mami!" ucap Nadia memberi salam kepada nyonya Laila.
"Waalaikumuslam sayang, apakah kabar nak, bagaimana dengan bulan madu kalian?" ucap nyonya Laila dengan memberondong pertanyaan kepada menantu kesayangan ini.
"Alhamdulillah baik mami, sekarang
Nadia dan mas Daffa sudah berada di Jakarta dan kami membawa oleh-oleh untuk mami.
"Wah, jangan-jangan oleh-olehnya, cucu mami ya sayang." timpal nyonya Laila membuat Nadia sedikit merasa nyeri pada ulu hatinya.
"Doakan saja mami, sekarang lagi dalam proses," ucap Daffa yang juga ikut menjawab pertanyaan maminya karena ia melihat mimik wajah Nadia tiba-tiba menjadi mendung.
"Ya Allah semoga cepat positif ya Daffa, mami kangen pingin gendong cucu mami."
"Ok mamiku yang cantik, nanti Daffa akan memberikan mami banyak cucu." ledek Daffa kepada maminya.
Daffa dan maminya masih saja bercerita tentang keadaan Nadia supaya gadis itu segera hamil, jika tidak ini akan menjadi ancaman untuk Daffa karena perusahaan itu menjadi taruhannya jika dalam satu tahun ini Daffa belum bisa memiliki keturunan.
Daffa menghela nafas berat, ia sangat hafal dengan perlakuan kakeknya yang terus menekan maminya untuk membujuk dirinya supaya bisa memiliki keturunan secepatnya. Dengan berbagai macam alasan akhirnya Daffa mengakhiri perbincangan antara ia dan maminya.
🌷🌷🌷
Musim sekolah telah tiba, dengan wajah ceria Nadia yang diantar sendiri oleh suaminya ke sekolahnya karena Nadia membawa banyak oleh-oleh untuk teman-teman gurunya di sekolah. Dalam perjalanan menuju sekolah Daffa tidak henti-hentinya mengingatkan istrinya untuk tidak boleh sampai kelelahan sambil mengemudikan mobilnya. Dengan anggukan kepala Nadia nampak jengah dengan tuntutan suaminya kerena mengulang terus perkataan yang sama.
Tidak lama sampailah mereka dihalaman parkir sekolah, Nadia turun dengan membawa dua tentengan besar membuat suaminya kembali kesal.
"Sayang kalau kamu bawa barang yang berat, usaha bulan madu kita nggak akan berhasil." sungutnya kepada istrinya yang sangat keras kepala.
"Ya Allah mas anak itu juga bagian dari rejeki, kita nggak akan bisa tahu kapan Allah akan memberikannya karena itu adalah salah satu rahasia Allah." ucap Nadia dengan wajah merengut.
"Aku paham maksud kamu sayang, tapi kita sudah ikhtiar lho, kalau nggak dijaga ya sia-sia. Nah mana lagi satpam sekolah kamu sayang, ko dari tadi nggak kelihatan, padahal aku pingin dia yang bantuin bawa barang kamu ini." ucap Daffa sambil memperhatikan sekitarnya.
"Kalau mas buru-buru pingin ke perusahaan, biar aku saja yang bawain." ucap Nadia yang nggak enak hati kepada suaminya.
"No,..no.. ratuku tidak boleh sampai capek, atau aku akan membawamu pulang lagi ke apartemen!" ancam Daffa yang membuat Nadia kembali termangu.
"Ok jalan, aku yang bawakan kedua kantong ini." potong Daffa mengakhiri protes istrinya.
Keduanya berjalan beriringan menuju ruang guru. Sesampainya di ruangan itu, sebagian besar guru wanita yang juga menggunakan cadar seperti istrinya, ada juga yang menggunakan jilbab panjang saja tanpa penutup cadar. Mereka serentak berdiri menyambut Nadia dan Daffa.
"Assalamualaikum, ucap Nadia kepada teman-temannya, sedangkan Daffa hanya mengangguk hormat kepada rekan guru istrinya."
"waalaikumuslam, ibu Nadia, ya Allah masmu sampai mengantarmu kesini." ucap kepala sekolah Nadia kepada pasangan pengantin baru ini.
"Maaf bu Welly, suami saya cuma membantu membawakan barang-barang saya saja," ujar Nadia yang sedikit grogi depan teman-teman gurunya.
Daffa meletakkan 2 kantong plastik oleh-oleh untuk teman-teman istrinya. Iapun kemudian pamit kembali ke perusahaan kepada teman-teman istrinya. Nadia mengantarkan suaminya ke depan koridor sekolah. Ia kembali menyalami suaminya untuk melepaskan kepergian Daffa.
"Ingat sayang pesanku tadi, bahwa kamu..?
"Tidak boleh kecapean, harus makan tepat waktu dan istirahat yang cukup." ucap Nadia menyela perkataan suaminya yang sudah ia hafal sejak berangkat ke sekolah.
"Nah, istri pintar, aku kerja dulu ya sayang, kalau mau pulang telepon aku, nanti aku jemput."
"Insya Allah, nanti Nadia kabarin lagi mas Daffa, karena ini baru masuk sekolah mungkin pulangnya lebih cepat hari ini.
Keduanya saling melambaikan tangan, Daffa kembali ke mobilnya, Nadia menunggu suaminya sampai kendaraan suaminya bergerak dan hilang dari pandangannya. Ia pun kembali lagi ke ruang guru dan di sambut oleh ledekan teman-temannya.
"Cie..cie!" yang habis bulan madu, makin ceria aja. Apa lagi sampai di antarin ke sekolah sampai ruang guru pula," ucap Eka yang asli putri Medan.
"Apaan sih, mas Daffa antar aku karena aku bawa oleh-oleh untuk kalian."
"Eh, kamu ke mana saja bulan madunya, kasih tahulah aku!" tanya
Eka yang penasaran dengan cerita bulan madu Nadia.
"Ini oleh-oleh dari Bali, cobain deh," ucap Nadia yang mengalihkan pertanyaan Eka yang pasti mengarah ke hubungan intim.
"Ya Allah barakallah, semoga berkah ya rejekinya," ucap Erni ketika melihat oleh-oleh yang berupa tas, baju dan songket Bali sisanya adalah makanan ringan untuk di bagikan ke teman-temannya.
"Pilih sendiri ya, tapi yang bungkusan terpisah itu punya kepsek bu Welly." sahut Nadia mengingatkan teman-temannya.
"Terimakasih lho Nadia untuk oleh-olehnya, semoga cepat di berikan momongan." ucap mereka saling bergantian mengucapkan doa dan ucapan terimakasih kepada Nadia.
Teman-temannya mulai memilih barang apa saja yang dibawa oleh Nadia, mereka mulai memantaskan
untuk fashion yang sesuai dengan style mereka masing-masing. Tidak lama kepala sekolah mengajak mereka untuk mengadakan rapat tapi sebelumnya guru-guru itu harus bertemu dengan para siswa untuk menyampaikan pengumuman penting yang dilakukan oleh para siswa di sekolah tersebut.
🌷🌷🌷
Karena tidak ada lagi acara penting di sekolah itu, Nadia memutuskan untuk menemui suaminya di perusahaannya dengan menumpangi taksi online yang sudah dipesan olehnya. Ia ingin sekali memberi kejutan untuk suaminya, apa lagi ini sudah hampir waktunya makan siang.
Nadia yang baru pertama kali ke perusahaan suaminya, dicegah oleh beberapa satpam yang tidak mengenalnya.
"Permisi nona, anda mau ke mana?" tanya satpam kepada Nadia yang heran seorang wanita menggunakan pakaian syar'i lengkap dengan cadar datang ke perusahaan besar itu.
"Assalamualaikum pak, mohon maaf saya ingin bertemu dengan suami saya mas Daffa pemilik perusahaan ini." ucap Nadia sopan kepada satpam itu dengan wajah tertunduk.
"Hei nona jangan mengaku-ngaku kalau kamu adalah istri tuan Daffa, karena tuan Daffa tidak akan pernah memiliki wanita seperti kamu, jangankan dijadikan istri dijadikan gundiknya saja tuan Daffa mana mau dengan gaya pakaianmu seperti ini." ucap teman satpam yang satunya dengan kata-kata yang melecehkan Nadia.
Beruntunglah Nadia, ketika para satpam itu masih membulynya, datanglah mobil Rio asisten Daffa yang baru masuk ke area perusahaan itu. Ia menghentikan mobilnya ketika melihat wanita dengan baju syar'inya, ia sudah curiga bahwa itu adalah Nadia istri bosnya.
"Permisi, ada apa ini?" tanya Rio asisten Daffa kepada dua satpam itu yang sedang berdebat dengan Nadia.
"Maaf tuan, gadis ini mengaku bahwa dia adalah istri tuan Daffa.
"Apakah anda nyonya muda Nadia?" tanya Rio yang menatap wajah Nadia yang masih saja tertunduk.
"Iya tuan, saya Nadia istri mas Daffa, saya ingin bertemu mas Daffa." ucap Nadia seraya mengangkat wajahnya menatap lekat wajah asisten suaminya ini.
Rio seketika terhentak melihat mata indah istri bosnya yang ia pernah menyimpan foto gadis itu ketika sedang melakukan pencarian Nadia tempo hari.
"Astaga!" maaf nyonya muda, silahkan ikut saya, saya akan mengantar anda ke tempat tuan Daffa," ucap Rio buru-buru mempersilahkan istri bosnya itu berjalan duluan. Tapi sebelumnya ia sangat marah dengan ulah kedua satpam itu yang menahan Nadia.
"Awas kalian, saya belum selesai dengan urusan kalian." ancam Rio kesal pada dua satpam itu.
"Mampus kita hari ini, bakalan kita dipecat deh." ucap keduanya penuh sesal.