
Bagi umat muslim pasti tidak asing dengan istilah Tawaf. Tawaf merupakan salah satu rukun haji dan umrah yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran. Perintah untuk melakukan tawaf tertuang jelas dalam Q.S Al-Hajj ayat 29.
Ketika langkah pertama Tuan Edy dan putranya Daffa masuk ke Masjidil haram hati keduanya bergetar hebat. Langkah demi langkah bersama rombongan umroh lainnya ingin melakukan tawaf membuat Daffa seperti salah tingkah yang ingin menemui kekasih hati.
Dadanya makin bergemuruh ketika dari jauh sudah nampak kain kiswah yang menutupi Ka'bah, hingga begitu sempurna pandangannya melihat indahnya Ka'bah membuatnya menjerit seketika mengangumi rumah Allah yang dirindukan oleh berjuta-juta umat Islam di seluruh penjuru dunia.
Tangisnya tak bisa berhenti, sambil melakukan tawaf dengan bacaan doa dunia akhirat berulangkali, yang dimulai dari titik Hajar Aswad berputar berlawanan dengan arah jarum jam sampai tujuh kali putaran. Kemudian rombongan beralih ke Safa dan Marwah melakukan sa'i hingga tujuh kali. Sesudah sai, jemaah melakukan ritual tahalul.
Artinya dihalalkannya kembali perbuatan yang sebelumnya dilarang selama jemaah berpakaian ihram. Tahalul ditandai dengan memotong rambut, minimal tiga helai. Dengan meminum air zamzam yang tersedia sepanjang tempat sa'i, Daffa dan tuan Edy menikmati semua ritualnya dengan penuh penghayatan.
Keesokan paginya Daffa kembali ke baitullah sendirian, tanpa ditemani oleh ayah tercinta karena semalaman mereka menjalani ibadah ritual umrah usai menunaikan ibadah sholat tarawih, tubuh Tuan Edy yang nampak lelah memaksanya untuk tidur supaya bisa melakukan ibadah lainnya karena bertepatan dengan puasa ramadhan pertama mereka di tanah suci Mekkah.
Daffa yang sudah berdiri persis disisi pintu Ka'bah dengan banyak jama'ah umrah dari berbagai negara dengan berbagai ras berkumpul di rumah Allah tersebut, ia bermunajat membaca doa-doa dan harapannya dengan khusu sambil terisak. Hatinya yang sangat pilu tatkala mengingat dosa-dosa masa lalunya yang tak terhitung banyaknya. Rasa penyesalan dan kehinaannya dihadapan Robbnya, ia membawa harapannya dihadapan Robbnya.
"Ya Allah ampunilah dosa-dosaku dan dosa kedua orangtuaku, ya Allah hamba datang dengan membawa dosa hamba yang tidak terhitung dalam keadaan hina. Hamba datang untuk memohon di rumahMu, agar Engkau memberikan kesempatan untuk istriku Nadia agar kembali sadar dari komanya, aku sangat mencintainya ya Allah dan lebih merindukannya, jika Engkau titipkan ia untukku, aku akan menjaga amanahMu yang sangat berharga untukku.
Ya Allah aku tidak punya amal yang bisa ku jadikan niat untuk meminta kepadaMu sebanyak yang ku inginkan, tapi aku mohon persatukanlah kembali aku dan istriku agar selalu tetap bersama dengan putra kami tercinta Hafiz. Ya Allah, izinkan hamba membina rumah tangga yang sakinah seperti keluarga lain, yang merasakan kebahagiaan dengan hidup mereka untuk beribadah kepadaMu.
Ya Allah, aku datang padaMu yang maha tanpa batas untuk meminta pertolongan kepadaMu, jika doaku ini tidak Engkau kabulkan juga ya Robb, lalu dengan cara apa lagi aku meminta padaMu dan kepada siapa lagi aku datang untuk memohon pertolongan selain kepadaMu ya Robb... hiks..hiks..hiks..
Hari ini adalah ramadhan pertama yang aku jalani di tanah haramMu dan berdoa di depan rumahMu, kabulkan semua permohonanku ya Allah, kasihanilah diriku yang tidak pernah putus asa berdoa kepadaMu demi istriku tercinta, Nadia Syafira Az-Zahra binti Aditya...hiks..hiks!" Ucapnya tanpa henti memanggil Robbnya di sisi pintu Ka'bah yang nampak sedikit sepi pagi itu.
Tangisnya yang menyayat pilu, raganya tergoncang dalam lautan kesedihan, jiwanya meratap dengan asa yang dibawanya karena mengharapkan ridho Illahi Robby.
Entah kenapa perasaannya menjadi sangat tenang setelah meluapkan laranya yang menghimpit dada selama tiga bulan ini. Dan lebih mengejutkan dirinya, ketika ia melihat di sampingnya sudah berdiri sosok yang baru saja ia tangisi yaitu istrinya Nadia, sudah berada disebelahnya sambil tersenyum kepadanya.
"Terimakasih atas doa-doamu untukku, aku akan kembali kepadamu sayang." Ucap Nadia lalu menghilang dari sisi Daffa yang masih termangu antara percaya dan tidak melihat adanya sosok istrinya yang baru saja berbicara kepadanya.
"Subhanallah ya Robby, apakah Engkau langsung mengijabah doaku?" tanya Daffa dalam hatinya sambil tersenyum menengadahkan wajahnya ke atas langit. Udara sejuk menghampirinya, bau harum kain kiswah menjadi aromaterapi untuk dirinya saat itu. Ia yakin jika saat ini, istrinya Nadia pasti sudah sadar. Tak mau buru-buru kembali ke hotel, ia ingin menjalani ritual lainnya, mumpung masih di baitullah, ibadah dan doa apapun dinilai pahala seribu bahkan sepuluh ribu kali lipat seperti yang dijanjikan Allah SWT kepada hambaNya yang beribadah di rumahnya beda pahalanya ketika berada di negara asal mereka, apa lagi bertepatan dengan bulan Ramadhan pasti pahalanya lebih banyak lagi.
Puas bermunajat ia melakukan sholat Dhuha di dalam Hijr Ismail, berdoa sebentar dan kemudian kembali ke hotel untuk merebahkan tubuhnya yang lelah karena semalaman melakukan ritual umrah bersama rombongannya.
🌷🌷🌷
Di Jakarta Indonesia
Di rumah sakit kedua orangtua Nadia sudah dua hari ini menunggu Nadia menggantikan suster dan mbok Ina, yang sudah menunggu putri mereka karena kepergian Daffa yang saat ini sedang melakukan ibadah umroh. Ummi Kulsum yang sedang membersihkan wajah putrinya dengan waslap sambil memijit-mijit kaki tangan Nadia agar tidak kaku karena terlalu lama berbaring. Lama-kelamaan Nadia mulai bergumam memanggil suaminya.
"Mas Daffa, terimakasih sudah mendoakan aku, kamu benar-benar datang menemuiku di baitullah, aku sangat bahagia sayang" ucapnya lalu kembali diam dan tidur.
"Nadia..sayang, bangun nak, ini ummi dan abi ada disini untukmu, sayang bangun, ummi mohon sayang" ucap ummi Kulsum sambil mengguncang tubuh Nadia, alhasil Nadia pelan-pelan mulai membuka matanya menatap wajah yang ada didepannya dengan mengernyitkan alisnya.
"Putriku, alhamdulillah nak kamu sudah sadar, Abi putri kita sudah sadar" teriak ummi Kulsum dengan suaranya mulai serak saking senangnya.
Ustadz Aditya yang sedang fokus
membaca Alquran bangkit dari duduknya menuju brangkar putrinya.
"Alhamdulillah nak, akhirnya kamu sadar juga, kalau begitu kita panggilkan dokter ummi" ucap ustadz Aditya lalu memencet tombol panggilan untuk dokter.
"Ummi ke mana mas Daffa mengapa dia tidak disini menungguku?" tanya Nadia agak sedih karena tidak melihat sosok yang ingin ia lihat ketika dirinya baru sadar.
"Nadia kamu baru sadar sayang, jangan terlalu banyak bertanya, nanti ya kita ngobrol lagi, sekarang biarkan dokter memeriksamu terlebih dahulu." ucap ummi Kulsum tanpa menjawab pertanyaan putrinya.
Dokter melakukan tugasnya dengan baik. Usai memeriksa kondisi Nadia, iapun melaporkan kembali hasil pemeriksaannya kepada keluarga pasiennya.
"Alhamdulillah nyonya, nona Nadia akhirnya sadar dari komanya, mungkin besok dia boleh pulang kalau kondisinya sudah dipastikan membaik. Kami permisi dulu." ucap dokter Rani kembali ke tempatnya.
"Ummi, di mana putraku dan sekarang bulan apa dan tanggal berapa, apakah aku koma selama ini, seperti yang dikatakan dokter ummi?" tanya Nadia bertubi-tubi pada umminya yang hanya bungkam tanpa mau menjawab pertanyaannya.
"Nadia kamu makan dulu ya nak, supaya kamu bisa cepat pulang dari sini." Hibur ummi Kulsum.
"Nadia tidak mau makan sebelum ummi menjawab pertanyaan Nadia." Ucap Nadia dengan sedikit meninggikan suaranya.
"Putramu bersama mertuamu dan suamimu sedang umroh saat ini dan jangan berharap kamu akan kembali ke mereka, karena ummi akan membawamu pulang ke rumah kita sayang" ucap ummi Kulsum dengan tega menyakiti lagi hati putrinya.
"Ummi rumahku bersama dengan suamiku juga anakku, aku sudah menikah dengan mas Daffa, jadi tidak ada alasan aku untuk kembali ke rumah ummi, apa lagi aku belum lihat bayiku sama sekali, mengapa ummi tega memisahkan kami?" ucap Nadia dengan bibirnya yang bergetar menahan tangisnya.
"Nadia selama kamu koma, kamu tidak tahu apa yang dialami oleh kedua orangtuamu karena keluarga pembunuh itu telah mencoreng nama baik kita, yang membuat orangmu harus menanggung hinaan karena berbesan dengan keluarga itu, pikirkan juga orangtuamu Nadia, jangan hanya memikirkan kesenanganmu sendiri." Ucap ummi Kulsum menjelaskan keadaan mereka yang harus menerima nyinyiran netizen terhadap keluarganya.
"Ya Allah ummi, mengapa ummi lebih peduli penilaian orang lain ketimbang penilaian Allah untuk keluarga kita yang tidak ada urusan kehidupan kita dengan mereka. Netizen memang begitu kerjaan mereka yang hanya berkomentar apa yang mereka lihat tanpa tahu penderitaan orang yang mereka sedang gunjingkan. Kita berbuat baik saja, masih saja ada celah untuk mereka mengkritik, apa lagi jelas-jelas kita berbuat salah, mereka akan lebih gila lagi menghujat kita tanpa ampun, sampai mereka lupa mereka juga memiliki aib yang masih ditutupi rapat oleh Allah. Mereka juga manusia ummi, jangan terlalu terbawa perasaan ummi." ucap Nadia yang ingin umminya tidak terlalu terprovokasi oleh komentar orang lain atas kehidupan keluarga suaminya.
"Nadia, hanya karena lelaki itu kamu tega membiarkan keluargamu mendapatkan hinaan setiap saat?" tanya ummi Kulsum sangat geram dengan putrinya yang tidak mengerti keadaannya sedikitpun.
"Baiklah ummi, tolonglah jangan membahas tentang ini lagi, kalau perpisahan Nadia dan mas Daffa bisa membuat ummi dan abi bahagia, Nadia akan lakukan apa yang ummi pinta, mungkin dengan begitu ummi juga bisa menyenangkan hati para netizen agar mereka kembali menyanjung keluarga kita" ucap Nadia dengan sinis kepada umminya yang terlalu menekannya.
"Ehhhm!" deheman ustadz Aditya mendiamkan istri dan putrinya yang sedang membaca Alquran.
Keduanya terdiam setelah mendengar teguran dari ustadz Aditya. Nadia kembali tidur dan menutup wajahnya dengan selimut, lalu kembali menangis dibawah selimutnya. Hatinya sangat sakit karena umminya yang tidak mau memihaknya, tapi malah lebih mementingkan pandangan orang lain atas nama sebuah reputasi dari pada kebahagiaan putrinya sendiri.