SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
64. UJIAN


"Nadia!" Daffa sudah berada di balik punggung istrinya.


"Mas Daffa, alhamdulillah kamu sudah bebas sayang?" Ucap Nadia seakan pura-pura tidak mengetahui kebebasan suaminya dari tuntutan hukum yang menjeratnya dengan tuduhan sengaja menghilangkan nyawa orang lain. Keduanya saling berpelukan dan menangis bersama. Daffa merasa lega bisa bertemu lagi dengan istrinya.


"Aku sengaja langsung ke sini menjemputmu, ayo kita pulang menemui mami dan putra kita." Ucap Daffa mengecup bibir istrinya.


"Aku minta maaf mas Daffa, karena aku tidak bisa menjaga calon baby kita" Nadia menyesali perbuatannya yang terlalu emosional ketika mengetahui suaminya dibawa ke kantor polisi.


"Insya Allah, ke depannya kita memiliki kesempatan lagi untuk mendapatkan momongan," Daffa menghibur istrinya agar tidak terus menerus merasa bersalah.


Degg!" Maafkan aku sayang, rasanya kesempatan itu tidak akan datang lagi karena aku dan kamu harus berpisah." Nadia bergumam dalam hatinya yang kian lara.


"Ayo kita pulang, Rio sudah menunggu kita, pakai kursi roda aja ya supaya kamu tidak mudah lelah.


"Iya mas Daffa," ujarnya mengangguk.


Di mobil, Daffa tidak melepaskan lingkaran tangannya pada pinggang Nadia. Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. Entah karena lelah dengan masalah yang mereka hadapi atau memikirkan langkah apa selanjutnya yang akan mereka hadapi. Daffa yang tidak tahu dibalik kebebasannya ada peran Nadia di dalamnya. Ia hanya tahu bahwa tuan Fahri hanya membebaskannya dengan tetap menjalani wajib lapor selama 3 bulan.


Setibanya di mansion, mereka mendapat kejutan yang mengharukan. Hafiz putra mereka berdiri dan berjalan tertatih-tatih menghampiri kedua orangtuanya.


"Bundaaa...ayahh!" panggilnya sambil merentangkan kedua tangannya meminta di gendong.


"Baby!" Kamu sudah bisa jalan sayang?" Nadia berlutut sejajarkan tubuhnya seraya memeluk putranya.


"Sini, peluk ayah!" Daffa juga merentangkan kedua tangannya ingin memeluk putranya.


"Bibi Riri, di mana mami?" tanya Nadia pada kepala pelayan Riri, karena ia belum melihat ibu mertuanya itu.


"Nyonya besar masih sakit nona, beliau ada di kamarnya." Riri memberi tahu keadaan Nyonya Laila yang jatuh sakit karena terlalu memikirkan putranya.


Nadia dan Daffa saling menatap dan berjalan menuju ke kamar maminya sambil membawa putra mereka Hafiz. Di kamar nyonya Laila masih berbaring lemah, iapun tidak tahu jika putranya sudah dibebaskan, karena Daffa melarang asistennya Rio mengabari maminya dan Nadia.


"Mami!" Panggil Daffa yang sudah duduk di samping maminya yang sedang tidur membelakanginya.


"Daffa!" Benarkah ini kamu sayang?" pekik nyonya Laila menangis membawa tubuh putranya ke dalam pelukannya. Keduanya terisak, seakan sudah lama sekali mereka tidak pernah bertemu.


"Nadia, kamu juga sudah pulang sayang, maafkan mami tidak bisa menemanimu saat kamu mengalami keguguran." Ucap Nyonya Laila sedih.


"Tidak apa mami, keadaan kita yang tidak kondusif sehingga tidak bisa membagi waktu untuk selalu bersama. Maafkan Nadia karena menambah kesedihan mami...?


"Hussstt!" Semua sudah kehendak Allah, jika kamu harus kehilangan calon bayimu. Semoga Allah gantikan dengan yang lebih baik." Mami Laila menyela perkataan menantunya Nadia agar gadis itu tidak perlu merasa bersalah.


"Jangan menangis bunda!" serunya pada bundanya dengan bahasa yang masih belum utuh untuk berkata-kata kepada bundanya.


" Uhhhhggg!" Sayang bunda nggak nangis ko, bunda lagi bahagia bisa berkumpul lagi dengan Oma dan ayahmu," jawab Nadia seraya memangku putranya.


Kehadiran Daffa seperti obat untuk maminya, demam tinggi yang dialami oleh nyonya Laila seketika turun. Keajaiban terjadi ketika jiwanya terobati. Keceriaan terlihat jelas pada wajah cantik maminya menyambut kepulangan putranya yang telah dibebaskan tanpa menanyakan mengapa dibebaskan secepat ini.


🌷🌷🌷


Seminggu kemudian, hal yang tidak terduga terjadi lagi di keluarga Nadia. Ustadz Aditya di panggil oleh pemilik yayasan di mana tempatnya ia mengabdikan ilmunya untuk anak didiknya di sekolah swasta tersebut. Ia yang sudah sepuluh tahun menjabat sebagai kepala sekolah kini harus berhadapan dengan rapat mendadak oleh para pemangku jabatan di yayasan tersebut.


"Silakan duduk ustadz Aditya!" Pinta ketua yayasan itu.


Ustadz Aditya yang tidak tahu ada kepentingan apa dirinya di panggil oleh ketua yayasan itu, merasa tidak terbebani dengan panggilan itu. Dengan tenangnya ia duduk di hadapan ketua yayasan pendidikan Islam yang menaungi sekolah yang terdiri dari tiga jenjang tersebut.


"Ustadz Aditya, mohon maaf sebelumnya, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada anda, saya ingin menyampaikan sesuatu yang sangat berat untuk saya bicarakan ini pada ustadz. Seperti yang kita ketahui, sudah lama anda mengabdi di sekolah ini sampai anda bisa meningkatkan mutu pendidikan sekolah ini dalam manajemen pendidikannya yang sangat profesional dan itu menjadikan sekolah ini terkenal dan animo masyarakat sangat senang dan puas, ketika hasil didikan disekolah, ini mampu mencetak generasi muda yang bukan cuma memiliki intelektual tinggi namun juga akhlak mereka yang menjadi lebih baik setelah mendapatkan didikan terbaik di sekolah kita ini. Dan kami tidak menutup mata atas kesuksesan sekolah ini karena tangan dingin anda." Ucap ketua yayasan tersebut kepada ustadz Aditya.


Abi dari Nadia ini dengan tenang mendengar setiap pujian yang disampaikan oleh ketua yayasan itu. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba, ketua yayasan ini menjadi banyak bicara sedangkan selama ini ia sangat kenal kalau ketua yayasan ini pelit bicaranya.


"Terimakasih banyak pak Ridwan atas apresiasi yayasan untuk kinerja saya selama ini. Tapi apakah ada hal lain yang ingin bapak Ridwan sampaikan kepada saya mengenai pendidikan sekolah ini?" Tanya ustadz Aditya yang merasa ada yang aneh dengan pujian yang dilimpahkan kepadanya dari ketua yayasan ini.


"Saya langsung saja ke pokok permasalahannya tentang wilayah pribadi ustadz Aditya yang sangat menganggu koneksi yayasan kita akhir-akhir ini. Publik sudah mengenal siapa menantu ustadz Aditya yang bernama Daffa yang saat ini tersangkut masalah hukum tindak kriminal yang menyeretnya ke jeruji besi.


Yayasan begitu kuatir dengan masalah keluarga anda, yang akan berdampak buruk bagi sekolah ini. Kami takut nanti ke depannya, untuk penerimaan tahun ajaran baru sekolah ini akan sepi dengan pendaftaran siswa baru." Jawab pak Ridwan yang menyampaikan keberatannya pada ustadz Aditya.


"Lalu apa hubungan kasus menantu saya dengan saya pak Ridwan?" Tanya ustadz Aditya lagi.


"Setelah di pertimbangkan baik buruknya citra sekolah ini, yayasan memutuskan untuk memecat ustadz Aditya dan istri anda untuk tidak lagi meneruskan pengabdian kalian pada sekolah ini, itu dilakukan yayasan untuk menjaga kestabilan pendidikan di sekolah ini." Pak Ridwan menyampaikan juga tujuannya memanggil ustadz Aditya di yayasan sekolah Al-Kautsar.


Degg!" Ucapan pemecatan yang didengar ustadz Aditya seperti puluhan panah yang menikam jantungnya. Bagaimana tidak, kinerjanya yang selama ini ia bangun dengan susah payah harus dihentikan hanya karena kesalahan menantunya yang sampai saat ini proses hukumnya belum jelas kebenarannya.


"Apakah tidak bisa dipertimbangkan lagi pak Ridwan untuk mempertahankan pekerjaan kami?" setidaknya saya di mutasikan ke cabang sekolah lain yang masih dibawah naungan yayasan Al Kausar sebagai guru biasa sambil menunggu keputusan pengadilan apakah menantu saya Daffa bersalah atau tidak." Ustadz Aditya masih mau bernegosiasi dengan pak Ridwan selaku ketua yayasan.


"Ini sudah keputusan final ustadz Aditya, apa lagi bukan wewenang saya untuk mempertimbangkan kembali keputusan yayasan untuk meminta Ustadz Aditya segera meninggalkan sekolah ini." Timpal pak Ridwan.


"Baik pak Ridwan terimakasih sudah memberi kepercayaan dan kehormatan untuk saya memimpin sekolah ini, semoga Allah tetap menjaga sekolah ini dari hal-hal buruk entah apapun itu. Saya permisi pak Ridwan."Ustadz Aditya pamit dari hadapan pak Ridwan.


Dalam perjalanan kembali ke sekolah, ustadz Aditya nampak nelangsa memikirkan kembali keputusan yang tidak adil yang dilakukan oleh yayasan terhadap dirinya dan istrinya yang sudah 40 tahun mengabdi di sekolah tersebut.