SADURAN KITAB CINTAKU

SADURAN KITAB CINTAKU
17. KERIBUTAN


Sore ini Nadia sengaja berdandan lebih cantik dari biasanya, memakai baju terbaiknya dengan memadukan sepatu dan tas branded yang dibelikan oleh suaminya.


Ia ingin mengunjungi perusahaan suaminya, karena mereka sudah sepakat untuk pergi ke pasar raya dan menonton film di bioskop yang saat ini filmnya, sedang tayang perdana di bioskop yang mereka sudah incar jauh-jauh hari karena gencarnya iklan flm itu di salah satu aplikasi yang ada di dalam ponsel keduanya. Mereka juga ingin mencari baju-baju model terbaru yang akan dipakai Nadia khusus untuk suami tercinta, pastinya saat berada di dalam apartemen mereka. Film yang akan mereka tonton nanti, hari ini akan ditayangkan di bioskop yang terdapat di dalam gedung pasar raya tersebut.


Cantik dan elegan itulah pendapatnya ketika ia kembali bercermin melihat penampilannya yang sudah sempurna. Ia ingin menunjukkan keberadaannya sebagai seorang istri CEO muda yang tampan dan berkharisma. Tidak lama dering ponselnya berbunyi dan ia meraih ponselnya itu, ternyata panggilan itu datang dari taksi online yang sedang menunggunya di tempat parkir di lantai apartemennya. Dengan langkah mantap ia berjalan menuju taksi tersebut.


🌷🌷🌷


Setibanya ia di perusahaan suaminya, ia di sambut lagi oleh dua orang satpam yang pernah membully dirinya. Dengan anggukan hormat, satpam itu menyapanya. Ia pun membalas sapaan kedua satpam itu dengan sedikit menundukkan wajahnya. Iapun kembali berjalan menuju lift utama di mana para eksekutif muda menggunakan lift tersebut yang langsung mengarah ke ruang kerja Daffa.


Ia mengetuk pintu ruangan itu, dan terdengar suara dari dalam, yaitu suara alto Daffa yang hanya menjawab satu kata "Masuk."


"Assalamualaikum suami tercinta!" sapanya seraya membuka cadarnya sambil menyuguhkan senyum terindahnya.


"Waalaikumuslam sayang," ucap Daffa dengan kata terputus-putus menatap wajah istrinya yang makin cantik dan makin bersinar.


"Apakah mas Daffa sudah siap?" tanyanya sambil menyunggingkan senyumnya lagi dengan menampakkan barisan giginya yang rapi, putih dan bersih.


Senyum ini, wajah ini, yang selalu menghipnotis Daffa yang tidak bisa berkutik, mematung menatap paras wajah cantik istrinya.


"Sayang, mengapa kamu hari ini malah lebih cantik, tidak seperti biasanya," ucap Daffa memuji istrinya dengan mata sendu, karena miliknya di dalam sana juga ikut berontak ingin bertemu dengan sarang halalnya.


"Emang nggak boleh aku dandan cantik untukmu?" tanya Nadia yang sudah berhadapan dengan suaminya lalu mengecup punggung tangan kekar itu sebagai bentuk penghormatannya.


"Sepertinya kita nggak jadi nonton sayang?" ucap Daffa membuat wajah Nadia berkabut lesu.


"Lho kenapa dibatalkan, mas Daffa sudah janji lho sayang, sama aku?" tanya Nadia dengan memasang wajah cemberut.


"Kamu yang sudah membuatku membatalkan acara nonton kita, jadi aku tidak akan pergi dari sini sebelum mendapatkanmu, siapa suruh kamu sudah menggodaku dengan kecantikanmu," ucap Daffa langsung menggendong tubuh istrinya dan membawa masuk Nadia ke dalam kamar pribadinya yang ada di ruang kerjanya.


"Mas, aku sudah rapi, nanti saja kalau sudah pulang nonton," ucap Nadia sedikit kesal dengan ulah suaminya yang diluar dugaannya. Nanti saja sayang nonton filmnya karena filmnya bakal ditayangkan sampai tengah malam, jadi nggak usah kuatir kalau kita nggak nonton di awal waktu." ucap Daffa yang sudah melucuti pakaian istrinya.


Kini tubuh itu sudah polos, giliran Daffa yang sedang dibantu istrinya mencopot pakaiannya. Acara pendakian puncak dimulai, saling memberikan sentuhan yang terbaik mereka dengan lihai dan menyenangkan, menari berdua diatas pembaringan dengan gaya yang berbeda-beda mereka sedang ciptakan. Erangan dan lenguhan erotis, jangan ditanya kemerduannya. Daffa tidak lagi menghiraukan ia sedang bercinta di mana saat ini, bagaimana caranya ia harus menyelesaikan hasratnya yang kian menggebu untuk menikmati sentuhan istrinya juga pada miliknya.


Peluh mulai membasahi tubuh keduanya tanpa mereka pedulikan, dengan hentakan terakhir suaminya hingga mengeluarkan dua cairan nikmat yang bertemu dalam satu sarang sebagai tanda kepuasan yang mereka telah raih. Nafas diatur kembali untuk menetralisir kelelahan yang mereka dapatkan ketika menggapai indahnya alam surgawi.


Daffa memeluk tubuh istrinya yang saat ini masih berada diatasnya. Ingin rasanya ia mengulang sekali lagi permainan panas mereka namun ia tidak tega pada Nadia karena sudah berusaha tampil cantik untuk dirinya.


"Maaf sayang, aku telah merusak makeup di wajahmu, kamu sih yang salah sendiri, mengapa berani tampil lebih cantik dari biasanya. Kamu juga tahu, jika aku tidak kuat menahannya ketika melihat pesonamu yang hampir membuat ku gila. Mau tidak mau, aku harus menghajar tubuhmu terlebih dahulu, baru aku akan memenuhi semua keinginanmu hmm!" ucapnya mengelus punggung istrinya yang lembut.


Jauh didalam lubuk hati Nadia, yang sedang bersorak gembira karena pujian suaminya, walaupun awalnya ia kesal dengan ajakan suaminya yang telah membuat berantakan riasannya. Ia tersenyum bahagia mengingat permainan mereka yang membuatnya menagih untuk disentuh kembali. Lamunannya kembali bermain dalam pikirannya, bahwa persetubuhan itu yang menjadi lagu wajib untuk sepasang suami-istri.


Pantas saja orang menjadi gila hanya karena ingin mendapatkan nikmat sesaat tapi membekas dan berkesan pada setiap jiwa yang haus akan kenikmatan itu. Bahkan orang rela menghamburkan harta mereka hanya mengejar kelezatan ini, ada yang nekat berselingkuh hanya karena hal yang satu ini yang tidak bisa mereka dapatkan dari pasangan karena pasangan mereka tidak tahu cara memuaskan pasangan mereka.


Daffa tersenyum ketika istrinya yang sudah duduk diatas perutnya dengan bertelanjang dada. Dua gantungan indah buah kembar itu ikut menatap wajah tampannya, perut ramping tanpa lemak dengan bentuk tubuh yang mempesona, betapa tidak bisa ia berpaling walaupun raganya lelah menuntutnya rehat sesaat. Seakan tahu bahwa istrinya masih menginginkannya, ia mulai lagi menjamah tubuh indah itu. Tempuran kembali terjadi hingga akhirnya tubuh keduanya terhempas diatas kasur nan empuk. Keduanya tersenyum puas dan kembali memagut bibir mengucap terima kasih telah memberikan kehangatan yang memuaskan birahi.


Tiba-tiba terdengar ketukan kamarnya yang terdengar dari ruang kerjanya. Daffa segera turun dari pembaringannya dan memungut lagi pakaiannya. Nadia membantu suaminya untuk merapikan lagi kemeja dan jas serta dasi yang dipakai suaminya. Ia meminta Nadia untuk tetap dikamar pribadinya sampai menunggunya disaat yang tepat untuk keluar.


Nadia mengunci kamar itu dan segera ke kamar mandi. Ia membersihkan dirinya dan kembali berdandan rapi seperti sedia kala, seperti ketika ia baru datang menemui suaminya. Walaupun tubuhnya terasa lelah tapi senyumnya terus mengembang, ia tidak henti-hentinya berdendang hingga akhirnya ia mendengar perang mulut terjadi lagi di luar sana, sama seperti pertama kali ia mengunjungi perusahaan suaminya tempo hari.


"Ya Allah apa lagi itu, apakah kakeknya Daffa itu datang lagi dan mengintimidasi lagi suaminya, untuk menikahi Anjani." tanyanya bermonolog.


Nadia merapatkan kupingnya ke arah pintu, jantungnya kembali berdetak tanpa irama. Kali ini tangis seorang gadis terdengar diluar sana.


"Ya Allah apakah gadis itu ikut kemari juga." tanyanya lalu jatuh lunglai dan bersandar dipintu kamar pribadi diruang kerja Daffa.


Pertengkaran itu melibatkan dirinya, dengan ancaman supaya Daffa meninggalkannya. Nadia mengatupkan bibirnya menahan tangis dengan bulir yang sudah tertumpah di permukaan pipinya. Suara itu lebih dari tiga orang yang beradu mulut di luar sana. Terdengar teriakan-teriakan Daffa yang memilih mempertahankannya. Tapi satu orang nama menjadi sandera untuk cinta mereka. Nyonya Laila yang akan menjadi tumbal bagi keduanya jika mereka tidak segera mengakhiri pernikahannya.


"Dasar cucu tidak tahu diri, kamu sudah berani berbuat harusnya kamu juga berani bertanggungjawab, dasar baji**n," maki kakek Subandrio lalu menampar pipi Daffa juga menganiaya hati cucunya dengan kata-kata sumpah serapah. Daffa yang tetap berusaha bertahan dengan argumennya, bahwa bukan ia yang menghamili Anjani.


"Anjani!" kamu tahu, aku melakukan denganmu dalam keadaan sadar dan tidak sedang mabuk terakhir kita melakukannya, aku juga menggunakan pengaman karena tidak ingin terikat dengan dirimu, kau juga begitukan ketika kita sepakat melakukan hubungan badan hanya ingin mencari kesenangan. Dan mengapa sekarang kamu malah datang meminta pertanggungjawabanku?" tanya Daffa sambil memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan kakeknya.


Sahut menyahut berlangsung menegangkan diruang kerja Daffa, kedua orang tua Anjani turut serta menghardik Daffa. Namun suami Nadia ini tidak gentar sedikitpun menghadapi kakek serta kedua orangtua Anjani.


"Kau telah menghamili putriku, kau masih berani mangkir juga dari perbuatanmu hmm!" ucap tuan Fahri seraya menarik kemeja Daffa kasar lalu mendekati ke wajahnya.


"Kenapa tuan tidak menanyakan putrimu, bahwa sudah berapa lelaki yang sudah tidur dengannya?" bukankah dia dihamili lelaki lain yang sudah menikmati tubuhnya juga!" sahut Daffa sarkas menatap tajam wajah ayah dari Anjani.


"Oh ya jadi kamu mau mengatakan putriku sama rendahnya dengan derajat ibumu? dasar putra seorang pelacur murahan!" maki tuan Fahri lalu melayangkan bogem mentah tepat di rahang Daffa hingga sudut bibirnya berdarah.


"Kalian adalah manusia munafik, mengatakan ibuku seorang pelacur tapi, kalian datang mengancamku untuk menikah dengan putrimu anak dari seorang pelacur, bukankah itu sama saja kamu sedang menurunkan hargamu, tuan Fahri ha..ha.ha!" ucap Daffa dengan tertawa mengejek orang tua Anjani hingga membuat wajah tuan Fahri merah padam menahan emosinya.


"Tuan Subandrio jika kalian tidak bertindak cepat menikahkan putriku dengan baji**an ini, aku tidak segan akan menarik semua sahamku di perusahaan ini dan aku juga akan membongkar kedokmu yang telah memiliki menantu seorang pelacur yang selama ini kamu berusaha menutupinya rapat-rapat dari para incaran para wartawan. Aku juga bisa dengan mudah menjatuhkan reputasi pemuda so berkelas ini!" ancam tuan Fahri lalu mengajak putri dan istrinya meninggalkan ruang kerja Daffa.


Sepeninggalnya tamu tak diundang tadi, kini giliran kakek Subandrio yang maju menghadang Daffa yang masih berdiri menyandarkan bokongnya di sudut meja kerjanya. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya, sambil menahan darah itu dengan tisu, Daffa menatap garang kakeknya yang tersenyum sinis menatap cucunya ini.


"Dengar Daffa, ceraikan istrimu atau ibumu yang akan menjadi janda dan menanggung malu atas kisah masa lalunya yang suram." ucap kakek Subandrio lalu melangkah pergi meninggalkan Daffa yang masih menahan sakit pada rahang dan sudut bibirnya yang mengalir darah segar.


Ketika dirasakannya aman, Daffa masuk menemui istrinya. Nadia yang sudah siap di balik pintu menangkap tubuh suaminya yang hampir limbung. Keduanya menangis saling berpelukan. Nadia menggiring tubuh suaminya ke atas kasur. Ketika Nadia ingin mengambil obat P3K, Daffa menahan tangannya untuk tidak meninggalkan dirinya.


"Sayang, aku akan segera mengobati lukamu," ucap Nadia lembut.


"Yang aku butuhkan saat ini hanya pelukanmu Nadia karena lukaku tidak seberapa sakitnya dibandingkan dengan rasa pedih yang sangat menyakitkan dihatiku saat ini yang teramat perih." ucap Daffa berbisik lirih lalu menarik tubuh istrinya agar bisa menghadap ke arahnya.


Dengan lembut Nadia memeluk tubuh kekar suaminya yang kini tak berdaya menghadapi cemoohan dari kakek dan juga kerabatnya orangtua dari Anjani. Nadia kembali membuka jas dan kemeja suaminya karena darah yang terus menetes, Daffa juga ikut menanggalkan lagi pakaian istrinya dan keduanya berpelukan dalam tubuh mereka yang sudah polos. Nadia menarik selimut menutupi tubuh mereka.


Mungkin dengan penyatuan tubuh itu, tanpa ada sentuhan birahi lebih nyaman bagi Daffa, pelukan hangat istrinya mampu meredam segala amarahnya yang menyiksa. Kasih sayang Nadia yang ia butuhkan untuk mengobati jiwanya yang telah terluka karena takdir hidup yang tak berpihak indah untuk dirinya.


Berada di dalam kemewahan dengan menahan semua sakit karena memiliki ibu seorang gadis panggilan di masa mudanya. Itu yang selalu didengungkan kakeknya serta almarhumah neneknya dulu semasa beliau masih hidup. Kepercayaan dirinya hilang, hingga ia melarikan dirinya ke lembah hitam, di mana para gadis muda dengan tubuh indah menawarkan kesenangan semu di atas ranjang. Ia hampir nyaris tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah yang jelas-jelas masih hidup. Nasibnya tidak lebih dari anak yatim yang ada di panti asuhan.


Tapi ketika menemukan bidadari sesungguhnya pada istrinya, ia tidak lagi merasa kesepian, ia lupa segala perkataan keluarganya tentang dirinya. Bertemu dengan Nadia, ia seakan berada dalam surga yang menawarkan limpahan kelezatan. Kasih sayang, perhatian dan sentuhan seorang Nadia mampu merubah dirinya yang seorang petualang menjadi lelaki setia. Prinsip hidupnya mulai terbentuk dalam kepribadiannya yang pernah rapuh. Ia kembali tegar dan berani tampil percaya diri bahwa dirinya layak bersanding dengan seorang gadis alim dan secantik Nadia, bidadari surganya kelak.


Lama mereka berpelukan dalam selimut itu. Pelukan kehangatan bukan lagi pelukan yang merangsang. Sentuhan bibir keduanya hanya mengobati rapuhnya jiwa Daffa saat ini. Takdir begitu kejam menghukumnya karena masalalu seorang ibu yang sangat ia cintai. Ia rela menahan rasa malunya dari terpaan gosip menyakitkan yang ia dengar dari keluarga besar ayahnya saat mereka sudah mulai berkumpul pada momen-momen penting.