
Aiden mendudukkan tubuhnya di kursi yang tersedia disana. Aiden mengelus puncak rambut Della dan satu tangannya yang lain ia gunakan untuk menggenggam tangan Della.
"Sayang aku kangen kamu. Kangen bawelan kamu, kangen sikap menjamu, kangen semua yang dulu kita lakukan. Kamu tau, aku sebenarnya ingin membuat surprise untuk kamu tapi tak disangka malah kamu yang buat kejutan dengan begitu mendebarkan. Huh rasanya benar-benar surprise yang membuat hidupku hancur ketika melihat kamu lemah seperti ini. Bukankah sejak kita kenal dulu kamu orangnya kuat tak mau mengalah? Dan aku harap kamu juga akan tetap kuat, karena aku yakin bidadariku ini wanita paling tangguh yang tak pantang menyerah. Cepat sadar ya sayang. Aku benar-benar merindukanmu," tutur Aiden sembari mencium tangan Della.
*****
Tak disangka waktu terus bergulir. Pagi menjadi siang, siang menjadi malam begitu seterusnya hingga hari kini berubah menjadi minggu dan minggu berubah menjadi bulan namun tak membuat perempuan cantik itu tersadar dari komanya.
Aiden terus menemani Della sepanjang hari hingga 1 bulan lebih ia tak mau meninggalkan Della sedetik pun. Ia terus merawat Della dengan telaten. Mulai dari membasuh tubuh Della dan mengganti pakaian sang istri. Urusan kantor ia serahkan ke Reiki untuk sementara waktu. Dan anak buah yang ia suruh mencari tau penyebab dan tersangka dari kecelakaan Della pun tak kunjung menemukan titik terang.
"Sayang kapan kamu sadar," ucap Aiden yang sudah mulai frustasi.
"Sabar lah sayang. Mommy yakin sebentar lagi Della juga akan sadar," ucap Mommy Geva menenangkan.
"Tapi Mom ini sudah satu bulan lebih dan Della sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda untuk segera sadar. Aku takut Mom kalau Della harus meninggalkan Aiden selamanya seperti anak Aiden waktu itu," tutur Aiden mengingat anaknya kembali.
"Sudah jangan diingat lagi dan kamu perlu meyakinkan dirimu sendiri bahwa Della akan baik-baik saja. Kamu belum makan kan hari ini?" Aiden menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah Mommy sama Daddy cari makanan dulu," ucap Mommy Geva sebelum meninggalkan Aiden di kamar inap Della sendirian.
Aiden terus menggenggam tangan Della dan berusaha untuk mengajak Della mengobrol walaupun tak ada jawaban dari sang istri.
Hingga ia merasa lelah dan terlelap dalam tidurnya. Tak berselang lama setelah Aiden terlelap, Della membuka matanya perlahan hingga akhirnya terbuka sempurna. Ia menatap setiap sudut ruangan tersebut yang terasa asing baginya dan pandangannya kini teralihkan ke samping yang terdapat Aiden tengah tertidur dengan pulasnya sembari menggenggam tangan Della.
Della tersenyum ketika pertama kali saat ia sadar yang ia lihat adalah Aiden. Della menggerakkan satu tangannya yang tak digenggam oleh Aiden untuk mengusap lembut rambut Aiden. Aiden yang merasakan sentuhan hangat tersebut bergegas membuka matanya dan betapa kaget serta bahagia dirinya melihat Della tengah menatapnya dengan senyum yang selama 1 bulan lebih ini tak ia lihat dan selalu ia rindukan.
"Sayang. Ini beneran kamu udah sadar kan? Atau aku hanya mimpi," ucap Aiden masih tak percaya.
Della yang begitu gemas dengan ekspresi wajah Aiden dan sekalian untuk membuat Aiden percaya bahwa ini semua bukan mimpi, akhirnya Della mencubit tangan Aiden dengan keras.
"AW sakit," rintih Aiden.
"Udah percaya kan kalau ini bukan mimpi." Aiden mengangguk sembari tersenyum dan ia tak mau mengulur waktu lagi Aiden pun memeluk tubuh Della dan tangis syukur pun menetes dari matanya. Della membalas pelukan Aiden.
"Terimakasih ya Allah, engkau masih memberikan kesempatan kedua buat hamba untuk menjaga istri hamba," batin Aiden penuh syukur.
Aiden melepaskan pelukannya dan menatap wajah Della.
"Apa masih ada yang sakit sayang? Katakan!" Della menggelengkan kepalanya. Ia hanya masih pusing sedikit tak seperti sakit waktu pertama ia terpental ke aspal.
"Sudah tak ada yang sakit cuma sedikit pusing aja. Kenapa kamu nangis? Bukannya bahagia aku udah sadar eh malah mewek gimana sih," ucap Della. Aiden menghembuskan nafas lega dan juga gemas dengan Della yang tak tau jika ia menangis karena saking bahagianya.
"Ck ini tuh nangis bahagia namanya sayang. Bahagia tuh gak harus di ekspresikan dengan tertawa, karena tertawa juga bisa untuk menutupi luka. Begitu juga dengan tangisan yang gak selamanya di artikan dengan kesedihan namun nangis juga ada diartikan dengan luapan bahagia yang luar biasa." Della mengangguk mengerti dengan penjabaran dari Aiden tadi.
"Ya udah gak usah dipikirin lagi mending kamu istirahat," tutur Aiden.
"Ck istirahat terus. Aku ini lapar tau sayang."
"Katakan mau makan apa?" Tanya Aiden.
"Ah iya aku mau seblak juga," sambung Della.
"Seblak? Makanan apaan itu? Aku baru dengar nama makanan ini. Emangnya ada gitu?"
"Ck orang Indonesia gak tau seblak? Astaga kayaknya kamu baru keluar dari goa deh sayang."
"Enak aja keluar dari goa. Yang ada aku tuh baru keluar dari istana karena aku pangeran yang harus selalu dilindungi dari godaan para wanita yang ingin menjadi selirku." Della memutar bola matanya. Sudahlah kepedean suaminya emang yang paling juara.
"Yuk sayang bangun yuk jangan halu mulu. Mending sekarang beliin aku makanan yang aku sebut tadi," tutur Della dengan mata berbinarnya.
"Mana ada halu, aku tuh berucap yang sebenarnya. Nanti akan aku belikan kalau kamu udah keluar dari sini," ucap Aiden sembari menarik hidung mancung Della pelan.
"Ck terserah deh. Tapi kalau soal makanan aku maunya sekarang," rengek Della.
"No sayang. Sekarang makan yang sehat-sehat dulu. Kalau kamu udah keluar dari sini apapun yang kamu mau akan aku berikan," tutur Aiden namun tak membuat Della berhenti merengek. Aiden menghembuskan nafas panjang. Kalau sudah begini ia hanya bisa pasrah.
"Ya sudah aku beliin bakso tapi bentar aku cari suster dulu buat jagain kamu," ucap Aiden dan diangguki oleh Della antusias.
Aiden pun beranjak dari duduknya dan segera berjalan keluar ruangan namun ketika ia ingin meraih gagang pintu, suara Della menghentikannya.
"Sayang aku sudah disini berapa lama?" Tanya Della. Aiden memutar tubuhnya kembali menghadap Della.
"Hmmm hampir 2 bulan kayaknya," jawab Aiden.
"Owh lama juga ya. Terus kalau gitu gimana sama baby kita. Apakah dia sudah besar sekarang?" Boom ucapan Della mampu membuat Aiden mematung dan ia tak bisa menjawab ucapan Della. Pertanyaan yang selalu Aiden khawatirkan kini menjadi kenyataan. Ia harus menjawab bagaimana? Aiden tak mau membuat Della sedih dan drop lagi.
Aiden terus mencari cara supaya Della tak mengetahui tentang yang sebenarnya. Dan keberuntungan bagi Aiden hari ini. Saat dia terus berfikir mencari jawaban untuk Della, ternyata Mommy Geva dan Daddy Geno sudah sampai di depan kamar Della. Mommy Geva membuka pintu kamar tersebut.
"Lho Aiden kenapa kamu didepan pintu gini?" Aiden memutar tubuhnya menghadap Mommy Geva dan tersenyum. Setelah itu ia bergeser untuk memberi jalan mertuanya itu.
"Della," ucap Mommy Geva saat melihat Della sudah sadarkan diri.
"Mommy," tutur Della. Mommy Geva pun bergegas menghampiri sang putri dan memeluk tubuh Della erat.
"Kangen," ucap Della manja.
"Mommy juga kangen sama kamu nak," tutur Mommy Geva sembari mengelus rambut Della.
Aiden yang melihat itu pun sedikit merasa lega setidaknya ucapan Della tadi terelakan untuk saat ini.
"Mom, Dad. Aiden tinggal dulu sebentar ya. Mau cariin Della bakso. Dia pengen makan bakso katanya," pamit Aiden.
"Baiklah kita akan menjaga Della disini. Hati-hati, makan siang kamu sudah Mom belikan," ucap Mommy Geva. Aiden pun mengangguk dan segera pergi dari kamar Della.
"Ya Allah aku harus bagaimana jika Della nanti menanyakan soal anak kita? Aku tak tega jika harus melukai hatinya," batin Aiden sembari mengusap kasar wajahnya. Bagaimana pun juga cepat atau lambat ia harus memberitahu Della yang sebenarnya dan semoga pada saat itu datang Della bisa menerimanya dengan lapang dada.