
Hari demi hari cepat berlalu. Kini usia kandungan Della memasuki bulan ke 7. Perut yang awalnya rata kini sudah muncul gundukan lucu yang menandakan ada malaikat kecil didalamnya.
Della kini tengah mengaca sembari memperlihatkan perut buncitnya itu. Sedangkan Aiden ia baru saja keluar dari kamar mandi. Saat dia baru melangkahkan kakinya, ia dibuat tersenyum bahagia dengan tingkah Della yang begitu menggemaskan. Aiden menghampiri Della dan memeluk tubuh Della yang semakin hari semakin berisi.
"Lucu sekali sih,"gemas Aiden sembari mengelus perut Della dari belakang. Della menatap pantulan kaca tersebut hingga ia bisa melihat sang suami tengah asik mengelus perutnya.
"Aku udah gak sabar deh pengen cepet ketemu sama baby," sambung Aiden.
"Sabar tinggal 2 bulan lagi," ucap Della sembari mengelus tangan Aiden.
Aiden tersenyum dan mengecup pipi Della setelah itu ia beranjak dari belakang Della menuju ruang ganti. Tak butuh waktu lama Aiden keluar dari ruangan ganti dengan memakai Hoodie hitam dan celana jeans panjang yang memiliki warna senada.
"Ke mall yuk sayang," ajak Aiden yang sudah mendekati Della yang nampak sibuk dengan dunia persosmedan. Della mendangak menatap wajah Aiden dengan senyum sumringah.
"Aku ganti baju dulu. Kamu tungguin sebentar gak lama kok," tutur Della girang sembari berlari kecil menuju ruang ganti.
"Jangan lari-lari sayang," teriak Aiden memperingati.
Dengan secepat kilat Della telah selesai. Ia berjalan santai kearah Aiden yang setia memandangi dirinya.
"Yok berangkat," ajak Della sembari menggandeng tangan Aiden.
"Kamu gak dandan dulu?" Tanya Aiden yang terheran dengan Della sekarang yang jarang bersolek hanya memakai bedak dan lipstik saja itu pun kalau mood Della bagus kalau tidak ia tak akan mungkin menyentuh make-up yang biasa menghiasi dirinya. Tak seperti dulu sebelum hamil anak mereka yang membuat Aiden harus menunggu lama hingga puluhan menit.
"Enggak. Kelamaan dan aku lagi malas dandan," tutur Della sembari bergelayut ditangan Aiden.
"Gak dandan aja udah cantik kok istriku ini," ujar Aiden sembari mencubit pipi Della.
Mereka berdua keluar dari rumahnya tak lupa sudah menitipkan semuanya kepada mang Ujang untuk handel semua pekerjaan dan juga mengawasi para maid di rumah itu.
Di dalam perjalanan banyak yang mereka obrolkan tak terkecuali dengan nama anak mereka nantinya karena ia sudah mengetahui jenis kelamin baby yang akan segera launching beberapa bulan lagi dan sekarang mereka ingin membeli keperluan untuk kamar baby nanti. Sebenarnya Della tak ingin membuatkan kamar untuk anaknya sebelum umur 1 tahun karena ia ingin anaknya tidur bersama mereka nantinya namun sang Daddy sepertinya tak mau ada yang menganggu acara romantisnya ketika malam hari bersama Della makanya dengan penuh semangat Aiden merencanakan sebuah kamar untuk babynya.
Mereka telah sampai di dalam mall terbesar di kota tersebut dan tanpa basa-basi lagi kedua calon orangtua itu menuju ke area anak-anak dan juga interior.
Selama berbelanja keperluan untuk calon baby mereka, Della hanya bisa mengikuti Aiden kemana pun sang suami bergerak. Mulai dari memilih wallpaper, warna cat, dan masih banyak lagi serta yang mendesain kamar baby adalah Aiden sendiri. Della hanya bisa tersenyum melihat Aiden yang begitu antusias menyiapkan segalanya bahkan nama pun Aiden yang mengusulkan dan Della hanya menerimanya tanpa menyanggah usulan Aiden. Biarlah sang suami melakukan semuanya karena ini juga anak pertama mereka dan akan menjadi kebanggaan tersendiri oleh Aiden nantinya.
"Udah selesai belum?" Tanya Della yang mulai bosan menunggu Aiden berbelanja.
Aiden menghentikan aktivitas memilih pakaian bayi. Ia pun menghampiri Della yang tengah terduduk lesu.
"Bosen ya?" Della pun mengangguk. Aiden hanya tersenyum dan mengelus pipi Della.
"Ya sudah. Kita ke kasir dulu habis itu makan baru pulang atau mau jalan-jalan lagi?"
"Makan habis itu langsung pulang aja," ucap Della. Aiden mengangguk dan mereka pun menuju ke area kasir.
"Mau makan apa?" Tanya Aiden setelah mereka keluar dari toko sebelumnya.
"Gado-gado. Tapi yang ada di pinggir jalan," ucap Della merengek.
"Ya sudah kita cari." Della tersenyum bahagia dan mereka akhirnya meninggalkan mall yang sedari tadi mereka tempati.
Jalanan bisa dibilang sepi karena tak seperti biasanya yang tampak padat merayap di penuhi oleh para darah muda yang tengah dimabuk asmara karena ini malam dimana sering dijadikan berkencan oleh mereka.
Aiden terus menjalankan mobilnya perlahan sembari memperlihatkan sekitarnya sudah 1 jam lebih namun tak ada satupun penjual gado-gado disana.
"Sayang gak ada yang jualan gado-gado. Beli yang lain aja ya," ucap Aiden.
"Gak mau. Pokoknya harus makan gado-gado," ucap Della yang sedikit tak jelas karena makanan dimulutnya.
"Ditelan dulu sayang. Kebiasaan kalau mulut penuh gak ditelan dulu langsung aja jawab orang yang ngomong," tutur Aiden memperingati.
"Pinter juga cari alasan, dasar," ucap Aiden lirih namun bisa didengar oleh Della.
"Apa yang kamu tadi bilang? Coba ulangi sekali lagi!" Aiden meringis ketika Della sudah menatapnya dengan tatapan horor. Bisa tidur diluar kalau dia mengulangi ucapannya tadi.
"Enggak sayang. Tadi aku cuma ngomong istriku makin hari makin cantik," alasan Aiden.
"Dari dulu udah cantik kali," ujar Della sombong.
"Iya percaya kok. Istri aku emang perempuan yang paling cantik di dunia ini," ucap Aiden yang malah mendapat geplakan tangan dari Della.
"Gak ada gombalan yang lebih baru gitu. Itu udah sering aku denger dimana-mana. Inisiatif kek cari gombalan yang lebih fresh. Jangan gombalan yang jaman dulu dipakai lagi jatuhnya jadi basi," ujar Della. Aiden menggaruk tengkuknya. Dia bukan tipe cowok yang suka menggombal dengan wanita bahkan ucapannya tadi tulus dan benar adanya dari hati paling dalam. Hanya saja mungkin Della dulu sering mendapatkan gombalan dari cowok lain sehingga ucapan Aiden yang apa adanya itu dikira gombalan oleh dirinya.
"Cari gombalan yang lain cepetan!" Perintah Della membuat Aiden gelagapan.
"Aku gak bisa gombal sayang. Tadi itu ungkap dari hati aku yang sesungguhnya bukan hanya sekedar membual saja," tutur Aiden jujur.
"Bohong banget sih. Pokoknya cari gombalan buat aku yang baru jangan versi yang udah sering aku denger." Aiden memutar otaknya mencari gombalan apa yang cocok untuk sang istri.
"Lama banget," ucap Della tak sabaran.
"Aku gak bisa bikin gombalan kayak cowok lain sayang." Della mengerucutkan bibirnya kala permintaannya tak dipenuhi oleh sang suami. Aiden menggigit bibir bawahnya. Jangan sampai sang istri nangis saat ini karena akhir-akhir ini Della sering sekali menangis walaupun itu cuma hal sepele seperti Aiden memakan cemilannya tanpa seizin Della terlebih dulu bahkan jika ada orang yang tak sengaja membereskan sisa cemilannya pun ia akan marah besar dan berujung nangis. Sungguh bumil yang baperan sekali dan moodnya sekarang seperti roller coaster. Membuat Aiden pusing bukan kepayang menghadapi Della sekarang.
"Please jangan nangis sayang. Itu didepan ada yang jual gado-gado kita kesana yuk," ucap Aiden mengalihkan perhatian Della.
Tanpa hitungan detik ekspresi Della yang sebelumnya mendung dan hampir hujan kini cerah kembali. Aiden menghembuskan nafas lega, setidaknya Della tak jadi menangis dan dia harus berterimakasih kepada penjual gado-gado tersebut yang telah menyelamatkan dirinya.
Della dengan antusias melangkah lebih dulu dari Aiden yang baru saja keluar dari mobil. Setelah sampai tanpa pikir panjang Della langsung duduk disalah satu meja yang sudah disiapkan penjual tersebut.
"Mang. Gado-gadonya dua yang super pedas ya," ucap Della.
"Siap neng," jawab sang penjual tersebut dan dengan cekatan ia meracik pesanan Della.
Aiden saat ini sudah duduk di samping Della menatap istrinya yang tengah tersenyum. Tak berselang lama mang penjualan pun menghampiri mereka dengan membawa dua posisi gado-gado ditangannya.
"Silahkan dinikmati," ucap mang penjualan.
"Terimakasih mang," ucap Della dan Aiden berbarengan.
Ketika Aiden ingin melahap gado-gado yang sudah ditangannya, Della lebih dulu menghentikan Aiden.
"Itu punya ku. Jangan dimakan," ucap Della sembari merebut gado-gado dari tangan Aiden.
"Kamu kan pesan dua sayang. Satu buat aku lah," ucap Aiden dan ingin merebut gado-gadonya kembali.
"Gak akan," tutur Della final. Aiden hanya bisa mengerucutkan bibirnya melihat Della yang tengah lahap memakan gado-gado tersebut. Aiden ingin memesan sendiri namun rasa malas mencegahnya untuk melakukan itu.
Della melirik Aiden yang tengah menatapnya. Tak tega sebenarnya tapi ia juga tak mau berbagi. Della menyendok gado-gado tersebut dan menyodorkan kearah Aiden.
"Sayang aaaa," ucap Della. Aiden menatap Della berbinar dan membuka mulutnya lebar.
Hampir saja satu sendok gado-gado itu masuk ke mulutnya namun Della malah membelokkan tangannya hingga gado-gado itu masuk kedalam mulut Della sendiri dengan ekspresi menyebalkan yang ia tunjukkan ke Aiden.
"Beli sendiri dong," tutur Della. Aiden berdiri dari duduknya.
"Dasar pelit," ucap Aiden sebelum pergi memesan sendiri makanannya.
"Istri laknat. Itu juga yang bayar gue, mau sesuap aja pelitnya nauzubillah. Untung sayang lagi hamil anak gue pula kalau gak udah gue pastiin seluruh penjualan gado-gado gue beli dan gak akan gue kasih ke dia," gerutu Aiden sebal.