
Tinggal 1 bulan lagi baby pertama mereka akan segera launching dan hari ini bertepatan dengan Aiden harus menjalankan tugasnya keluar luar negeri beberapa hari kedepan. Sedih memang namun ini sudah menjadi tuntutan pekerjaannya, mau di wakilkan tapi situasi perusahaannya sedang membutuhkan dirinya bukan orang lain dan jika ia ingin mengajak Della, sang istri sudah mengandung besar. Mau tak mau ia harus berpisah dengannya satu minggu.
Aiden menghembuskan nafas panjang tak rela rasanya berjauhan dengan Della.
"Hati-hati sayang," ucap Della sembari memeluk tubuh Aiden. Aiden pun membalas pelukan sang istri sembari menghirup aroma tubuh istrinya yang akan ia rindukan nanti.
"Jaga kesehatan sayang. Jangan kerjain apapun yang berat-berat tinggal minta tolong sama bik Fitri kalau mau apa-apa. Dan kalau mau kemana-mana jangan pakai mobil sendiri harus diantar sopir. Tiga hari lagi Airen akan kerumah, mau nemenin kamu katanya. Jaga diri baik-baik sayang," tutur Aiden sembari mengecup dahi Della dan kini ia menjongkokan tubuhnya agar sejajar dengan perut Della. Diusapnya perut buncit Della tersebut dan Aiden merasakan tendangan dari sang baby. Aiden tersenyum dan menempelkan kupingnya di perut Della.
"Sayang dengar Daddy ya. Jangan nakal sama Mommy, sehat-sehat didalam ya sayang. Daddy tinggal sebentar. Love you baby," ucap Aiden sembari mengecup perut Della.
Della yang selama mengandung tak pernah ditinggal Aiden pun merasa sedih dan tanpa meminta izin air mata Della menetes begitu saja.
"Hei jangan nangis dong. Kalau kamu nangis jadi gak tega ninggalinnya," tutur Aiden dengan menghapus air mata Della. Della menatap wajah suaminya dan memeluk erat tubuh tegap Aiden. Aiden membalas pelukan Della sembari mengelus rambut sang istri.
"Jaga diri baik-baik disana. Aku akan merindukanmu dan cepatlah pulang kalau bisa jangan sampai 1 minggu disana," ucap Della sesegukan.
"Aku usahain gak sampai 1 minggu urusan kantor disana akan selesai," janji Aiden dan Della pun akhirnya melepaskan pelukan dari Aiden.
"Senyum dong." Dengan berat hati Della memaksakan senyumnya. Setelah mendapatkan senyum dari sang istri, Aiden pun mengecup seluruh wajah Della tanpa celah sedikitpun.
"Aku berangkat dulu," ucap Aiden. Della mengangguk dan Aiden pun berjalan meninggalkan Della hingga badan Aiden sudah tak dilihat lagi oleh Della.
Della menunduk lesu. Setelah itu bik Fitri menghampiri Della.
"Mari nyonya kita pulang sekarang," ucap bik Fitri sembari menuntun tubuh lesu Della untuk meninggalkan bandara tersebut.
Tak perlu waktu lama kendaraan yang Della tumpangi pun akhirnya sampai dirumah mewahnya. Tanpa banyak bicara Della langsung menuju kamarnya untuk menenangkan pikiran yang sedari tadi tak fokus dan ada rasa kekhawatiran pada Aiden bahkan dirinya sendiri.
Della merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia mengambil bantal yang sering di gunakan Aiden dan memeluknya erat.
"Hais baru beberapa menit ditinggal tapi udah kangen aja," gerutu Della. Ia pun menghirup aroma Aiden yang tertinggal di sana.
"Huwaaaaa rindu," teriak Della yang tertahan oleh bantal yang menutup mukanya.
Della terus memeluk bantal tersebut hingga ia terlelap dalam tidurnya.
Paginya Della baru membuka mata setelah mendengar nada dering di ponselnya berbunyi. Dengan semangat Della mengangkat panggilan yang ternyata dari sang suami.
Della tersenyum ketika melihat wajah tampan Aiden terpampang jelas dilayar ponselnya. Setidaknya rasa rindu yang sedari kemarin dapat sedikit terobati.
📞 : "Assalamualaikum sayang. Selamat pagi," ucap Aiden.
"Waalaikumsalam, selamat pagi juga sayang," jawab Della.
📞 : "Baru bangun kah?"
"Hehehe iya."
📞 : "Udah sarapan?"
"Belum lah kan baru bangun ini," ucap Della.
"Waalaikumsalam. Jangan lupa makan siang," tutur Della memperingati sebelum akhirnya sambungan video call mereka terputus.
Della pun bergegas untuk membersihkan dirinya, setelah itu ia berniat untuk pergi berbelanja pakaian bayi dan keperluan lainnya.
Tak berselang lama Della sudah siap untuk keluar rumah dengan tampilan anggun dan cantik walaupun dengan perut yang membuncit. Namun ketika ia ingin masuk kedalam mobil yang kebetulan sudah ditunggu sopir, mata Della menatap keluar pagar rumahnya yang terbuka lebar. Ia menyipitkan matanya ketika melihat ada seseorang yang tengah memperhatikan rumahnya dari sebrang jalan.
"Itu orang mau ngapain ya? Ngeliatin rumah orang kayak ngelihat uang 100 ribu jatuh dijalan," gerutu Della.
"Bentar ya Pak," ucap Della dan menutup kembali pintu mobil tersebut. Tanpa pikir panjang Della memutuskan untuk keluar dari halaman rumahnya.
Ia menatap pos satpam yang terdapat di depan rumahnya yang ternyata kosong tak ada satu pun disana. Dan saat dirinya menatap orang misterius tersebut dan ingin mendekatinya untuk menanyai apa tujuannya. Siapa tau orang itu tengah mencari alamat rumah dan berniat untuk bertanya orang disekitar sana namun berhubung tak ada orang di pos satpam jadinya orang misterius itu berhenti sejenak. Namun ketika Della baru satu langkah kedepan orang tersebut sudah menancap gas motor maticnya yang membuat Della tampah terheran-heran.
"Tuh orang takut sama gue apa gimana? Disamperin malah pergi, ya udah lah bodoamat. Mending otw belanja aja," ucap Della sembari melenggang menuju mobilnya tadi.
Mobilnya pun melaju membelah jalanan kota disana dan tak lama Della telah sampai di salah satu mall yang tak jauh dari rumahnya. Della pun memilih untuk menuju ke tujuan utamanya.
Tak terasa memilih baju untuk bayi benar-benar sangat menyenangkan dan juga membuat dilema untuk Della, sampai sang calon Mommy itu membeli baju bayi hingga dua paper bag berukuran besar. Della merasa puas dengan belanjaannya dan ia memilih untuk makan sebelum memutuskan pulang kerumah.
Della memilih tempat duduk yang tak jauh dari pintu keluar dan saat Della menunggu pesanannya, ada suara yang tak asing memanggil dirinya. Della menengok kesumber suara dan ternyata Airen tengah berjalan mendekatinya.
"Hai kakak ipar," ucap Airen sembari cipika-cipiki dengan Della.
"Hai juga adik ipar. Kapan pulang dari Rusia? Dan kata Aiden kamu mau kerumah?" Ucap Della beruntun. Airen mendudukkan tubuhnya sebelum Della menyuruh adik iparnya itu duduk.
"Sudah dua hari yang lalu. Hehehe sebenarnya mau kemarin langsung kerumah kalian tapi ada problem yang harus aku selesaikan dulu. Mungkin besok aku baru kesana," ucap Airen dan diangguki oleh Della.
"Kak Del kesini sendirian?" Tanya Airen.
"Enggak tadi dianter sopir," jawab Della.
"Ck maksud aku tuh gak bawa temen. Kayak Tania atau Desi gitu." Della menggelengkan kepalanya. Mana bisa ia mengajak Tania yang juga tengah mengandung besar dan Desi mungkin sekarang ia tengah berfikir keras tentang pekerjaannya.
"Oh ya kamu kesini sendirian?" Tanya Della penasaran. Airen menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
"Terus sama siapa? Aku liat dari kamu nyamperin kesini gak ada tuh satu orang disamping kamu."
"Orangnya lagi dikamar mandi. Tunggu aja sebentar lagi juga kesini. Tapi awas aja ya kalau sampai naksir. Aku peringatkan dia calon adik ipar kamu dan kamu udah nikah sama Aiden," ucap Airen. Della memutar bola matanya malas. Mana bisa ia berpaling dari Aiden sedangkan sang suami aja memiliki pelet yang begitu kuat hingga membuat dirinya selalu rindu.
Mereka terus mengobrol hingga akhirnya pesanan makanan Della sampai dihadapannya begitu juga dengan pacar Airen yang baru keluar dari toilet dan mencari keberadaan sang kekasih.
"Baby," ucap Airen sembari melambaikan tangan kepada pria yang menyandang status sebagai pacarnya. Pria itu pun tersenyum dan mendekati Airen.
"Maaf lama," ucap kekasih Airen tersebut dan Airen hanya menjawab dengan senyuman.
Sedangkan Della yang tengah menundukkan kepalanya karena fokus dengan makanan yang saat ini tengah ia nikmati pun akhirnya mendongakkan kepalanya kala mendengar suara pria itu menyapa Airen.
Della menatap pria itu tak percaya. Apa ini? Kenapa harus orang itu yang akan menjadi calon adik iparnya? Kenapa Airen harus memilih pria itu sebagai kekasihnya?. Tubuh Della sekarang lemas, nafsu makannya seketika menghilang kala melihat wajah itu muncul kembali ke hadapannya.