My Bos CEO

My Bos CEO
100


Tepat 3 hari setelah sadarnya Della dari koma dan hari ini Della sudah di perbolehkan pulang kerumah. Aiden tengah membereskan keperluan Della sebelum meninggalkan ruangan tersebut sedangkan Della ia tengah terduduk di sofa sembari mengamati setiap gerakan Aiden.


"Sayang. Kalau kita pulang boleh kan aku ketemu baby kita?" Ucap Della tiba-tiba. Aiden menghentikan tangannya ketika ingin memasukan pernak pernik keperluan Della selama di rawat dirumah sakit yang masih berceceran di atas meja kedalam tas.


Aiden tak menjawab ucapan Della ia melanjutkan aktivitasnya hingga selesai.


"Udah selesai. Yuk kita pulang," ucap Aiden sembari menggandeng tangan Della.


"Let's go. Aku udah gak sabar lagi ketemu baby. Pasti dia lucu banget. Iya kan sayang?" Aiden yang terus mendengarkan ucapan Della pun merasa miris. Huh apakah ini saatnya dia memberitahu Della? Kalau iya semoga sang istri kuat saat mendengar kenyataannya.


Mereka berdua pun terus berjalan hingga sampai di parkiran rumah sakit. Aiden membukakan pintu mobil untuk Della.


"Silahkan tuan putri," ucap Aiden ala-ala pangeran kerajaan.


"Terimakasih my king," tutur Della membalas sambutan dari Aiden. Aiden tersenyum dan setelah ia memastikan Della sudah duduk dengan aman, Aiden bergegas menuju kursi kemudi dan menjalankan mobilnya.


Di setiap perjalanan Della begitu antusias dengan membicarakan tentang bayi mereka. Aiden hanya bisa membalas dengan senyum miris di bibirnya.


"Sayang," panggil Aiden sembari memegang erat sebelah tangan Della.


"Iya."


"Ada hal yang harus aku sampaikan ke kamu." Della menatap Aiden yang masih setia memfokuskan pengelihatannya ke arah jalan.


"Hal apa?" Tanya Della penasaran.


"Hmmm. Nanti saja setelah kita sampai dirumah baby kita," ucap Aiden yang semakin membuat Della penasaran.


"Baiklah," tutur Della final.


"Tapi sebelumnya kita beli bunga dulu ya."


"Bunga? Buat apa. Baby kita belum tau kalau dikasih bunga sayang. Harusnya kan di kasih mainan," ucap Della.


"Dia udah tau sayang sama bunga. Jadi kita beli bunga dulu habis itu kita beli mainan ya," tutur Aiden sembari mengelus rambut Della. Della mengangguk setuju.


Aiden meminggirkan mobilnya ketika sampai di toko bunga. Mereka bergegas untuk masuk kedalam dan memesan buket bunga mawar dan satu ranjang bunga tabur. Della mengernyitkan dahinya ketika melihat Aiden membawa bunga tabur tersebut.


"Beli bunga tabur buat apa?" Tanya Della. Aiden memberikan uang kepada penjual sebelum meninggalkan toko bunga tersebut tanpa menjawab ucapan Della. Hingga mereka telah sampai di mobil kembali.


"Ish sayang kok aku dicuekin sih." Della mengerucutkan bibirnya. Aiden tersenyum dan mencubit pipi Della gemas.


"Cuek gimana sih sayangku?"


"Tadi aku tanya. Kenapa kamu beli bunga tabur segala buat apa coba?" Tutur Della mengulangi pertanyaannya tadi.


"Nanti kamu juga akan tau sayang. Kita jadi beli mainannya?" Tanya Aiden mencoba mengalihkan ucapan Della.


"Jadi dong. Tuh didepan ada toko mainan," ucap Della sembari menunjuk salah satu toko mainan yang berada di sebelah jalan.


Aiden kembali meminggirkan mobilnya. Belum sempat Aiden membukakan pintu untuk Della, Della lebih dulu keluar dari mobil dan bergegas memasuki toko mainan tersebut. Aiden yang melihat Della pun hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Dan otaknya terus berfikir apakah ini waktu yang tepat untuk memberi tahu Della? Tapi kalau tidak memberitahu sekarang mau kapan lagi? Toh lebih awal lebih baik.


Della memilih banyak mainan yang ada disana tanpa berfikir panjang. Apapun yang menurut dia bagus kualitasnya pasti ia beli. Hingga mainan tersebut hampir menghabiskan uang sebanyak 1 juta. Della sangat bahagia ketika mainan-mainan tersebut sudah berada digenggamannya.


"Itu udah semua?" Tanya Aiden. Della menganggukkan kepalanya.


"Kamu udah siap sayang?" Tanya Aiden ragu.


Aiden menghela nafas dan menjalankan mobilnya menuju makam putri kecil mereka. Tak berselang lama mereka pun sampai di TPU yang menjadi tempat peristirahatan terakhir malaikat kecil mereka.


"Sudah sampai," ucap Aiden. Della menatap kesamping kirinya.


"Lho kenapa kita ke makam sih sayang? Bukannya langsung pulang," protes Della.


Aiden keluar dari mobilnya menuju pintu sebelah Della dan membuka pintu tersebut.


"Kita kesini cuma sebentar kok sayang. Turun yuk. Jangan lupa bawa 1 mainan kecil yang kamu beli tadi," ucap Aiden. Della tambah bingung dibuatnya. Kenapa harus bawa mainan segala kedalam makam?


Della pun menuruti perintah Aiden. Ia keluar dari mobil dengan membawa boneka kecil dan buket bunga yang dibeli Aiden tadi ditangannya.


"Bukannya buket ini untuk baby sayang?" Tanya Della.


"Iya itu memang buat baby," jawab Aiden mencoba tenang walaupun jantungnya sudah tak bisa diam.


Mereka terus berjalan hingga ketengah pemakaman umum tersebut dan sampai di salah satu makam dengan ukiran batu nisan yang terdapat nama "Aila William Abhivandya". Ketika membaca tulisan tersebut Della merasa sakit di dadanya. Della menatap Aiden yang sudah berjongkok disamping makam tersebut.


"Siapa dia? Kenapa namanya ada nama belakang Aiden?" Batin Della. Ia belum melihat seluruh tulisan pada batu nisan tersebut. Ia menatap suaminya yang tengah tersenyum dan menaburkan bunga tadi. Della ikut berjongkok di samping Aiden tanpa melepas tatapannya kearah Aiden seakan-akan meminta penjelasan tentang makam di depannya.


"Assalamualaikum cantiknya Daddy," ucap Aiden. Della membelalakkan matanya ketika ucapan Aiden masuk kedalam telinganya.


"Cantik? Daddy?" Batin Della. Della yang makin penasaran pun akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah batu nisan tersebut dan betapa terkejutnya Della ketika melihat seluruh tulisan di batu nisan itu.


"Aila William Abhivandya binti Aiden William Abhivandya?" Ucap Della mengulang apa yang ia baca tadi. Sedangkan Aiden hanya merespon ucapan Della tadi dengan senyum getir.


"Sayang, Daddy bawa Mommy kesini. Mommy udah sembuh dan sehat kembali. Mommy setiap hari selalu nanyain kamu dan Mommy sekarang bawa hadiah buat kamu. Jangan khawatir Daddy pasti jagain Mommy semampu Daddy walaupun nyawa taruhannya," ucap Aiden sembari memeluk tubuh Della dari samping menggunakan satu tangannya.


"Aku? Mommy? Ini apa maksudnya? Apa jangan-jangan ini?" Ucap Della yang sudah tak bisa lagi menahan air matanya.


Aiden memejamkan matanya, meyakinkan dirinya sendiri untuk bisa menjelaskan semuanya kepada Della. Aiden menangkup kedua pipi Della.


"Aku akan beritahu semuanya sekarang. Aku harap ini saat yang tepat dan kamu bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Kamu ingatkan kalau kamu sering tanya kemana baby kita? Kok kamu gak pernah dipertemukan dengannya? Dan ini jawabannya sekarang," tutur Aiden menjelaskan.


"Jadi? Ini," ucap Della bergetar. Aiden memaksa tersenyum.


"Iya sayang baby kita namanya Aila William Abhivandya yang kini sudah menjadi malaikat cantik di surga," ucap Aiden. Della tak kuat lagi menahan rasa sakitnya. Dunianya seakan hancur hingga menjadi debu. Bayi yang ia tunggu-tunggu dulu kini sudah berada di alam lain dan Della tak akan bisa bertemu dengannya bahkan bayinya tak mengizinkan Della untuk melihat rupanya sedetikpun.


Tubuh Della melemas, seakan-akan tubuhnya sekarang berdiri tanpa tulang dan untungnya Aiden dengan sigap membawa tubuh rapuh Della kedalam pelukannya. Hari yang Aiden benci pun akhirnya terjadi tapi jika ia menyembunyikannya lebih lama lagi takutnya nanti malah akan berdampak lebih parah dari saat ini.


"Gak mungkin, ini bukan baby kita kan? kamu pasti cuma ngerjain aku. Baby kita sekarang pasti dirumah nungguin kita pulang. Iya kan sayang. Katakan!" Ucap Della tak percaya. Sedangkan Aiden hanya bisa memeluk erat tubuh Della sembari mengelus punggung sang istri untuk menyalurkan kekuatan pada diri Della.


"Apa ini hanya mimpi?" Della melepas paksa pelukan Aiden dan mencoba untuk mencubit tangannya sendiri.


"Gak mungkin. Ini pasti mimpi," teriak Della kala ia mengetahui bahwa ini semua nyata.


"Stop sayang. Jangan lukai dirimu sendiri," tutur Aiden mencegah pukulan dan cubitan Della pada dirinya sendiri.


"Ini pasti mimpi. Ini pasti mimpi kan? Jawab." Aiden tak kuasa melihat Della seperti ini. Della terus memberontak dan masih tak percaya dengan semuanya.


"Sayang! Dengar aku baik-baik," tutur Aiden sembari menatap mata penuh kesedihan Della.


"Putri kita sudah tenang di surga. Dia akan menuntun kita nantinya. Dan kamu tau semua yang kita punya di dunia ini hanyalah titipan oleh yang maha kuasa yang kapan pun bisa diambil lagi oleh yang berhak atas hidup semua makhluk di dunia ini, tak terkecuali dengan anak kita. Dia juga titipan yang memberikan warna lain dan kebahagiaan tersendiri buat keluarga kita walaupun hanya sementara. Ini semua sudah takdir. Kita diuji dengan hilangnya satu orang yang kita cintai, namun yakinlah ujian itu akan diganti dengan kenikmatan dan keindahan yang luar biasa nantinya. Kita hanya perlu ikhlas sekarang. Relakan dia pulang kepangkuan sang maha kuasa," tutur Aiden dan nampaknya ucapannya mampu membuat Della sedikit tenang. Aiden kembali merengkuh tubuh Della kedalam pelukannya, mengelus sayang Della walaupun ia juga meneteskan air mata namun Aiden langsung menghapusnya.


"Jangan nangis lagi ya. Aila pasti gak suka lihat Mommynya sedih gini," ucap Aiden sembari melepaskan pelukannya dan menghapus sisa air mata di pipi Della.