My Bos CEO

My Bos CEO
135


Setelah melalui berbagai proses dan kini Della beserta ketiga babynya sudah berada di dalam ruang inap. Dua pasang orangtua menyambut ketiga cucu mereka dengan sangat antusias.


"Lucunya cucu Oma," tutur Mommy Geva dengan menjawil pipi ketiga bayi tersebut secara bergantian.


"Cucuku juga itu," timpal Mama Yoona.


"Ck iya-iya. Dah sana aku mau gendong si bontot dulu," ucap Mommy Geva dengan mengangkat baby yang ternyata nomor 2 bukan yang terakhir.


"Mom," panggil Della. Mommy Geva pun menoleh dan mendekati sang anak sembari menimang-nimang baby didalam gendongannya.


"Ada apa? kamu butuh sesuatu? kalau butuh sesuatu minta Aiden tuh suruh ngambilin atau memenuhi apa yang kamu mau. Mom sekarang lagi sibuk jadi gak bisa diganggu," ucap Mommy Geva. Della memutar bola matanya malas.


"Kamu perlu sesuatu sayang?" tanya Aiden yang sedari tadi disamping Della.


"Enggak. Aku cuma mau ngasih tau ke Mommy kalau yang dia gendong tuh baby nomor 2 bukan yang terakhir." Mommy Geva pun menatap wajah bayi mungil tersebut.


"Ck emang yang terakhir tuh yang mana sih? Mommy kan belum dikasih tau sama kalian urutan dari si triplets ini," gerutu Mommy Geva.


"Kasih tau sana gih sayang!" Aiden mengangguk dan beranjak dari duduknya untuk menghampiri box baby yang tak jauh dari tempat tidur Della.


"Para Kakek dan Nenek diharap segera merapat," ucap Aiden lantang dan dituruti oleh orangtuanya maupun orangtua Della.


"Aiden sekarang mau ngasih informasi mengenai triplets." Semua orangtua tadi menyimak dengan seksama.


"Baby yang pakai bedong warna biru adalah baby nomor 1 yang Aiden dan Della sepakati untuk memberi nama Azlan Delbert Abhivandya yang mempunyai arti seorang pemimpin yang berani, bijaksana dan dihormati yang senantiasa memiliki hari yang cerah. Azlan juga bisa diartikan sebagai singa yang selalu gagah," ucap Aiden. Dua pasang nenek dan kakek tersebut memandang wajah damai baby Azlan sebelum Aiden kembali menerangkan untuk anaknya yang selanjutnya.


"Dan baby yang sedang di gendong Mommy Geva adalah baby nomor 2 yang kami beri nama Erland Drake Abhivandya dan memiliki arti anak laki-laki yang perkasa, yang senantiasa peduli dengan sesama dan dihormati banyak orang. Erland juga bisa diartikan sebagai rajawali dan Drake sebagai naga." Mereka berempat pun beralih menatap baby Erland dan mengangguk dengan serentak.


"Yang terakhir si paling cantik sekaligus baby nomor 3, kami berdua beri nama Edrea Dwyne Abhivandya yang memiliki arti anak perempuan yang kuat dengan paras cantik seperti dewi dan senantiasa dihormati. Sekian dari informasi yang Aiden sampaikan silahkan untuk kembali ke aktivitas masing-masing. Terimakasih," ucap Aiden layaknya dia sedang melakukan presentasi dan ia pun kembali mendudukkan dirinya disamping Della.


Tak berselang lama setelah penyampaian informasi tersebut para Kakek dan Nenek tersebut nampak tengah menghafalkan mereka bertiga dengan suara yang saling bersautan. Bahkan mereka juga mencari tanda lahir untuk memudahkan mereka nantinya.


Della yang menyaksikannya pun tertawa kecil sembari terus mengamati tingkah para tetua tersebut hingga suara pintu terbuka dan mengalihkan perhatiannya.


"Kak Del," suara nyaring Airen menggema di seluruh ruangan tersebut sembari berlari menghampiri Della yang tengah tersenyum lebar. Mereka berdua sudah lama tak bertemu sejak sang adik ipar tersebut pergi ke luar negeri.


"Aaaaa rindu," ucap Airen setelah berhasil mendaratkan pelukannya ketubuh Della.


"Aku juga rindu. Kamu sih gak pulang-pulang. Keenakan bulan madu terus." Airen melepas pelukannya dan meringis sehingga gigi rapinya terlihat. Yap, Airen dan Dion sudah resmi menikah satu tahun yang lalu dan mereka berdua tinggal di London untuk beberapa saat karena kerjaan Dion berada disana sekaligus untuk berbulan madu.


"Hehehe kan Kakak tau kalau Dion kerjanya disana juga, jadi mau gak mau ya harus mau buat tinggal disana," tutur Airen. Della berdecak seolah-olah ia tengah merajuk kepada adik iparnya tersebut.


"Mana?" Della menengadahkan tangannya meminta apa yang Airen tadi bilang.


Airen menoleh kearah belakangannya untuk mencari Dion yang tadi membawa bingkisan untuk Della beserta kado untuk para ponakannya. Namun Dion saat ini tak berada diruangan tersebut.


"Lho bukanya tadi dia ngikutin aku. Kemana coba tuh suami main ngilang gitu aja," gerutu Airen dan tak berselang lama teriakan Dion dari depan pintu pun terdengar.


"Sayang bukain pintu!" teriak Dion.


"Nah tuh orangnya." Airen pun berlari dan segera membukakan pintu untuk Dion yang tengah ribet dengan barang bawaannya.


Setelah pintu terbuka lebar Della dan Aiden melongo dibuatnya. Masalahnya saat ini Dion tertutupi oleh barang bawaannya hingga mukanya saja tak mereka lihat.


"Astaga Airen," ucap Aiden sembari beranjak dari duduknya untuk membantu Dion membawa barang-barang tersebut masuk kedalam.


Setelah semua cenderamata dari Airen dan Dion tergeletak diatas lantai. Aiden memberikan sebotol minum kearah Dion yang nampak kelelahan.


"Minum dulu." Dion menerima minum tersebut.


"Thanks," ucap Dion sembari mendudukkan dirinya diatas sofa.


Setelah itu Aiden menghampiri sang adik yang tengah sibuk mengobrak-abrik barang yang dibawa oleh Dion tadi. Aiden yang sudah geram dengan tingkah Airen yang dari dulu hingga ia menikah tak berubah sedikitpun dengan gemas menjewer telinga Airen hingga sang empu mendesis kesakitan.


"Sakit kutu kupret," ucap Airen sembari memukul-mukul.tangan Aiden supaya segera melepas jeweran ditelinganya.


"Mangkanya sifat jelek kamu tuh dihilangin. Jangan seenak jidat, kamu nyuruh orang lain bahkan suamimu sendiri bawa barang yang over seperti tadi. Bawa buah tangan untuk orang lain tuh boleh tapi harus sesuai dengan porsinya jangan mentang-mentang kamu punya uang terus apa yang kamu mau harus ke beli. Ingat Airen banyak orang diluar sana yang dengan susah payah mencari seratus rupiah bahkan banyak yang gak makan. Dan dari pada kamu menghambur-hamburkan uang untuk membeli barang yang aku yakini ini semua tak terlalu penting bagi Della dan baby mending uang kamu tadi di sumbangkan ke orang yang membutuhkan," nasehat Aiden sembari melepaskan jewerannya. Airen memanyunkan bibirnya dan tangannya ia gunakan untuk mengelus telinganya yang memerah.


"Mama, bang Aiden jewer Airen," adu Airen.


"Yang dibilang Abang tuh bener Airen. Kasihan tuh Dion sampai kecapekan gitu mukanya." Airen tambah memanyunkan bibirnya. Kenapa semua orang disana tak mendukungnya dan malah menyalahkan dirinya.


Airen menghentakkan kakinya dan bergegas melangkahkan kakinya menuju sang suami.


"Sudah gak usah ngambek gitu ih. Jelek tau sayang. Dan yang dikatakan sama Aiden tadi benar. Seharusnya kita tak perlu membeli ini semua bahkan aku lihat ada beberapa barangnya hampir sama kegunaannya hanya beda merek dan bentuk aja. Beli aja yang benar-benar menurut kamu itu penting dan dibutuhkan sama baby juga Della sehingga uang yang digunakan buat beli barang yang tak penting bisa kita sumbangkan untuk orang-orang yang membutuhkan," terang Dion yang seketika langsung membuat Airen paham dan memeluk tubuh sang suami.


"Haish giliran dibilangin sama suami aja nurut dan ngerti," gerutu Aiden yang sudah duduk disamping Della lagi.


"Sudahlah. Toh sekarang Airen juga sudah ngerti sama yang kamu maksud tadi," ucap Della. Aiden pun menghela nafasnya dan mengangguk.