
Aiden menatap Della yang tengah mengatur nafasnya. Ia yakin Della tengah memikirkan ucapan Airen tadi. Aiden mengepalkan tangannya.
"Sayang, dengarkan aku dulu," ucap Aiden sembari mengelus rambut Della namun dengan segera Della tepis tangan tersebut hingga menjauh dari kepalanya.
"Apa?" Tanya Della cuek.
"Yang di ucapkan Airen tadi gak benar sayang. Aku sama Airen itu..." Belum sempat Aiden menyelesaikan ucapannya Della lebih dulu bersuara.
"Sudahlah sebaiknya Bapak keluar dari ruangan saya dan jangan pernah panggil saya dengan sebutan yang tak pantas bagi status saya sekarang yang hanya seorang sekertaris Bapak bukan lebih dari itu. Pintu keluar disana Pak. Silahkan Bapak pergi dari ruangan saya karena saya mau istirahat kembali," ucap Della sembari membaringkan tubuhnya kembali dan memiringkan tubuhnya membelakangi Aiden.
"Ini salah paham sayang. Please dengerin dulu," ucap Aiden.
"Maaf Bapak Aiden yang terhormat saya ingin kembali istirahat jadi saya minta tolong pengertiannya. Silahkan keluar dari ruangan ini," ucap Della tanpa mengganti posisinya.
"Gak. Aku mau jelasin dulu," ucap Aiden kekeh.
Della menghembuskan nafas kasar. Please lah sekarang dia tengah malas berbicara dengan Aiden bahkan menatap wajahnya saja Della merasa sakit di dadanya. Della mendudukkan kembali tubuhnya tanpa menatap wajah Aiden yang masih setia menatap Della.
"Jelasin apa Pak Aiden? Mau jelasin kalau Bapak cuma mempermainkan saya dan menjadikan saya sebagai pelarian cintanya Bapak dari nona Cika yang teramat dalam itu? Atau Bapak mau pamer kalau sudah punya pasangan yang jauh diatas saya? Sudahlah Pak tidak ada yang bisa Bapak jelasin lagi. Semuanya sudah jelas. Dan saya mau berterimakasih kepada Pak Aiden yang sudah menjadikan saya sebagai pelarian Bapak." Della menghentikan ucapannya sejenak untuk mengambil nafas panjang.
"Oh ya Pak." Sambung Della sembari melepaskan cincin pemberian Aiden dari tangannya. Della meraih tangan Aiden dan meletakkan cincin tersebut di tangan sang pemilik utama.
"Saya kembalikan cincin Bapak. Dan mungkin untuk besok saya belum bisa masuk kerja, mohon di maklumi Pak. Jadi saya mohon tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap Pak Aiden, tolong Bapak keluar dari ruangan ini. Saya mau istirahat dan butuh ketenangan," ucap Della sembari menunjuk pintu keluar.
"Siapa yang nyuruh lepasin cincin ini Della," ucap Aiden tegas namun tak dihiraukan oleh Della.
"Maaf Pak, ini di rumah sakit dimohon untuk tidak berteriak," ucap Della.
"Fredella," tegas Aiden. Della pun mau tak mau menatap wajah Aiden yang sudah menahan marahnya.
"Iya Pak ada apa?"
"Dengerin penjelasan aku dulu," ucap Aiden.
"Penjelasan mengenai pekerjaan ya Pak. Besok saja deh Pak. Saya kan masih sakit luar dalam jadi sekali lagi mohon pengertiannya. Dan saya benar-benar ingin istirahat sekarang Pak," ucap Della santai walaupun di tangannya meremas selimut dengan kuat.
"Tangan kamu sini," pinta Aiden.
"Pak jangan pegang-pegang nanti dimarahin Airen. Hargai dia Pak, sudah ya Pak saya mau istirahat dulu." Aiden menggeram kesal melihat Della mengacuhkannya bahkan dengan berani melepas cincin pemberiannya dan sekarang Della malah terlelap tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
Aiden keluar dari ruangan Della dengan langkah lebarnya mencari sosok Airen. Sedangkan Della setelah dipastikan Aiden tak ada lagi diruangan tersebut ia membuka kembali matanya dan tak terasa air mata yang sedari tadi bahkan kemarin ia pendam akhirnya saat ini menetes juga.
Della menangis dalam diam. Meluapkan semua rasa sakit, kecewa dan masih banyak lagi perasaan yang ia rasakan saat ini. Setelah ini ia akan memikirkannya bagaimana caranya ia keluar dari kantor Aiden.
Della tak mau lagi berurusan dengan Aiden nantinya dan ia juga tak ingin kembali ke Rusia karena Della juga tidak mau dikirim Daddynya ke Inggris lagi. Keluar dari kandang singa masuk ke kandang harimau kalau ia pindah ke Inggris nantinya.
Disisi lain Aiden tengah menatap setiap sudut kantin rumah sakit dan setelah manik matanya menatap perempuan yang ia cari tanpa aba-aba lagi Aiden menghampiri Airen dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.
"Airen!" Teriak Aiden dengan wajah garangnya. Suara keras Aiden tadi mampu menyita perhatian setiap orang di kantin tersebut.
"Jangan teriak-teriak ini masih di area rumah sakit lho," ucap Airen sembari berdiri dari duduknya.
Banyak orang yang menatap keduanya dan itu membuat Airen menjadi risih. Airen pun bergegas menyeret Aiden kearah mobil yang tadi sempat mengantar mereka.
"Kenapa lo bilang ke Della kalau lo itu pacar gue," geram Aiden setelah berada di dalam mobil.
"Jalan Pak!" Perintah Airen tanpa menanggapi ucapan Aiden di sampingnya.
"Airen jangan buat kesabaran gue habis." Airen memutar bola matanya malas dan memberanikan dirinya menatap wajah Aiden yang tengah memancarkan aura pembunuh.
"Apa lagi sih?"
"Kenapa lo bilang pacar gue tadi," ucap Aiden dingin.
"Sudahlah nanti saja bahasnya kalau udah sampai dirumah. Kalau dijalan suara gue nanti gak kedengaran," ucap Airen. Aiden memejamkan mata sembari memijit pelipisnya.
"Kalau hubungan gue sama Della sampai berakhir. Lo harus tanggung jawab atas perbuatan lo nantinya," tutur Aiden yang malah di jadikan angin lalu oleh Airen.
Beralih di rumah sakit. Della masih terus menangis dengan muka ia tutup menggunakan selimut supaya siapapun tak tau jika ia tengah menangis. Hingga suara pintu mengharuskan dirinya untuk segera menghapus air mata dan memulai drama untuk meyakinkan orang lain kalau dirinya tengah baik-baik saja.
"Lho non Della kirain tidur," ucap Rina yang menghampiri Della dengan makanan di tangannya.
"Gak bisa tidur lagi Mbak. Mbak Rina bawa apa?" Tanya Della.
"Bubur ayam karena Mbak tau kamu nanti gak mau makan makanan dari sini jadinya mbak tadi inisiatif buat beliin bubur lagi deh. Dan nanti kamu sudah boleh pulang," ucap Rina. Della berbinar kala ia mendengar ucapan Rina tadi. Sebentar lagi ia akan terbebas dengan bau obat-obatan yang menambahkan pening di kepalanya.
"Yey akhirnya pulang," ucap Della. Rina pun tersenyum kala melihat Della begitu antusias namun Rina mengerutkan keningnya ketika melihat mata sembab Della di tambah matanya menjadi merah.
"Kamu habis nangis?" Tanya Rina.
"Enggak," jawab Della bohong.
"Mbak tau kamu non Della. Jadi jangan coba-coba bohongi Mbak," ucap Rina tegas.
Della menghembuskan nafasnya. Mau mengelak seperti apa pun jika sudah ketahuan oleh Rina ia tak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengaku.
"Hmmm cuma masalah kecil Mbak dan masalahnya udah selesai kok. Jadi Mbak Rina tenang saja. Mending kita makan aja habis itu beres-beres buat pulang kerumah lagi," ucap Della berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
ππΌππΌπ
HAPPY READING GUYS π
Selamat menjalankan ibadah puasa π€ Marhaban ya ramadhan π€
Jangan lupa LIKE and VOTE, hadiah juga harus dong π€
Peluk cium dari author absurd π€π See you next eps bye π