My Bos CEO

My Bos CEO
39


Della terus termenung setelah berhasil diseret Aiden kedalam pesawat pribadinya.


Pesawat sudah take off sekitar tiga jam yang lalu namun Della masih setia dengan lamunannya bahkan Aiden sudah menawari ini itu hanya di jawab gelengan kepala oleh Della.


"Del," panggil Aiden yang duduk di sebelah Della namun tak ada jawaban dari sang pemilik nama.


"Della," ucapnya sekali lagi namun tetap saja tidak ada respon dari Della, Aiden menghela nafas. Sudahlah lebih baik ia tidur saja dari pada berbicara dengan Della yang sedang menikmati pikirannya yang entah berkelana kemana, Aiden mengedikan bahunya, kalau capek diem entar juga dia ngomong lagi pikir Aiden sembari merilekskan tubuhnya dan mulai menutup matanya.


Baru beberapa menit Aiden menjelajahi mimpinya, ia terbangun karena kepala Della yang secara tiba tiba bersandar di dada bidangnya. Awalnya Aiden sangat terkejut dan hendak mendorong kepala Della namun niatnya ia urungkan setelah melihat wajah tenang Della yang ternyata tengah tertidur entah sejak kapan.


"Cantik," ucap Aiden lirih tanpa ia sadari tanganya mengelus pipi mulus Della, membuat sang empu menggeliat dengan refleks Aiden menepuk dan mengelus rambut panjang Della yang mampu membuat Della kembali tenang dan melanjutkan tidurnya.


"Masih beberapa jam lagi, kalau nih anak tidurnya begini gue yakin bangun bangun nih tubuhnya bakal pegel semua terus protes bla bla bla bla, dasar cerewet," gerutu Aiden mengingat bagaimana bawelnya seorang Della.


Tak perlu berfikir panjang dan karena rasa kasiannya, Aiden berniat untuk memindahkan Della kedalam kamar yang sudah tersedia di dalam pesawat pribadinya. Ia terlebih dulu membenarkan posisi Della supaya tidak bersender lagi ke dadanya yang sangatlah nyaman untuk Della buat bantalan kepalanya, setelah itu ia baru mengangkat tubuh Della ala bridal style menuju kamar.


Aiden menaruh tubuh Della dengan sangat hati hati, menatap wajahnya lekat lekat tanpa berkedip sungguh Della ketika tidur cantiknya nambah.


"Bisa gila gue lihatin lo kayak gini Del," ucap Aiden setelah tersadar dari tatapannya tadi, ia segera keluar dari kamar tersebut dan segera kembali ke tempat semula, menetralkan detak jantungnya yang tiba tiba lari maraton.


"Ini jantung juga kenapa sih, gitu aja lemah dasar," gerutu Aiden.


πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–


15 jam lebih Aiden dan Della lalui didalam pesawat, kini mereka sudah tiba di London Heathrow Airport ( LHR).


Della mengambil nafas panjang lalu mengikuti langkah Aiden yang sudah lebih dulu jalan di depannya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak akan terjadi apa pun selama ia di Inggris kedepannya.


"Tenang Del, yakin lah lo gak akan kenapa napa," batin Della selama berjalannya hingga sampai di depan sebuah mobil yang mungkin sudah disiapkan oleh anak buah Aiden untuk menjemput mereka.


"Del," panggil Aiden yang membuat Della lebih mendekatinya lagi.


"Iya pak," ucap Della setelah sampai di samping Aiden.


"Kamu akan diantar Jio ke hotel, masalah baju, kamu nanti tinggal ngomong sama dia, biar dia yang belikan," ucap Aiden.


"Hotel pak? terus bapak nginep dimana?"


"Ya di apartemen saya lah."


"Kalau bapak di apartemen berarti saya di hotel sendiri dong," ucap Della bodoh dan di jawab anggukan oleh Aiden. Dengan segera Della menggelengkan kepalanya.


"Gak mau saya pak, saya ikut bapak aja deh ke apartemen bapak aja ya," Aiden mengerutkan keningnya heran.


"Kamu dulu kalau sering tugas ke luar mesti nolak satu apartemen dengan saya kecuali di Jepang waktu itu, kenapa sekarang malah gak mau nginap di hotel dan memilih ikut dengan saya ke apartemen?" tutur Aiden penasaran.


"Ya pokoknya saya satu apartemen sama bapak, titik gak pakai koma dan gak ada penolakan," ucap Della tegas.


Della tampak berfikir sebentar, mana mungkin ia bercerita ketakutannya di masa lalu ke Aiden.


"Hmm anu pak, itu hmmm ah iya, kan kalau saya satu apartemen sama bapak, bapak gak perlu makan di luar saya bisa masakin bapak dan bisa juga diandalkan untuk nyapu atau ngepel apartemen bapak, kan lumayan gak ngeluarin uang buat nyewa tukang bersih bersih, ya gak," ucap Della sembari menaik turunkan alisnya.


"Hmmm alasanmu bisa saya terima, oke kalau gitu saya izinin kamu tinggal di apartemen saya," tutur Aiden kemudian ia masuk kedalam mobil yang sedari tadi menunggu mereka. Della bernafas lega setidaknya ia bisa berlindung di bawah pantauan Aiden selama disini, dengan segera Della menyusul Aiden masuk kedalam mobil.


Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di apartemen Aiden yang lagi lagi memukau menurut Della. Ia menelusuri setiap inci ruangan tersebut beserta pemandangan di luar apartemen yang benar benar indah ketika malam hari, lampu yang menghiasi setiap jalan dan gedung gedung bertingkat serta mobil yang berlalu lalang bisa ia lihat dengan jelas dari dalam apartemen Aiden yang terletak di lantai delapan. Sedangkan Aiden ia tengah sibuk berbincang dengan beberapa anak buahnya yang sedari tadi mengikuti mereka.


Setelah anak buah Aiden keluar dari apartemennya, ia pun mendekati Della dengan membawa paper bag di tangannya.


"Bersih bersih dulu sana, lihat pemandangannya dilanjutkan nanti," ucap Aiden membuat Della mengalihkan pandangannya yang sekarang menatap Aiden yang sudah duduk manis tak jauh di belakangnya.


"Besok pagi deh pak, masak iya bapak tega nyuruh saya bersihin apartemen malam malam gini," ucap Della memohon.


"Siapa yang nyuruh kamu bersihin apartemen Della, maksud ucapan saya tadi, bersihin tubuh kamu yang bau itu," ucap Aiden membuat Della langsung mencium bau badannya sendiri.


"Masih wangi tau pak, kalau gak percaya nih cium," Della menghampiri Aiden dan mendudukan tubuhnya di sebelahnya.


"Mana yang harus saya cium?" tanya Aiden dengan seringai jahilnya.


"Ya baju saya lah pak, emang mau apa lagi kalau bukan baju."


"Kirain tadi suruh cium bibir kamu," ucap Aiden tak ingat dosa dan tanpa aba aba Della memukul keras mulut Aiden yang seenaknya tinggal mangap saja tak tau malu.


"AW, sakit lah Del," ucap Aiden sembari mengelus bibir seksinya.


"Rasain siapa suruh mulutnya mesum," tutur Della sembari berdiri dari duduknya dan menuju kesalah satu ruangan yang ia yakini itu adalah kamar untuknya.


"Gak punya harga diri gue jadi bos," gerutu Aiden yang masih kesakitan.


Aiden pun menyusul Della memasuki salah satu kamar yang tadi juga di masuki Della yang ternyata itu kamar utama atau kamar sebenarnya untuk Aiden bukan Della.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


HAPPY READING GUYS 😘


Author absurd gak mau terlalu bacot hari ini hehehe 😁 cuma mau ngucapin makasih banyak yang udah dukung author dan kasih semangat author yang kemarin sempet moodnya bolak balik gak tau aturan, maapin yakπŸ˜‚


Sayang kalian banyak banyak pokoknyaπŸ’œ


Jangan lupa LIKE and VOTE biar author tambah semangat lagi nulisnya😚


Peluk cium dari author absurd πŸ€—πŸ˜˜ See you next eps bye πŸ‘‹