
Della mengerucutkan bibirnya dan mengalihkan pandangannya kesamping jalan, menikmati setiap inci pemandangan dan gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Tak berselang lama Aiden meminggirkan mobilnya memasuki kawasan parkir sebuah restoran Jepang ternama di kota itu.
"Turun!" perintah Aiden sebelum dia keluar dari dalam mobil. Tanpa menjawab Della juga keluar mengikuti langkah lebar Aiden.
Restoran saat ini sedang ramai ramainya kebanyakan anak ABG disana entah hanya sekedar nongkrong, berkencan dengan pasangannya atau mengerjakan tugas sekolah mereka.
Della dan Aiden mengedarkan matanya mencari tempat duduk yang kemungkinan bisa mereka berdua tempati namun ia sama sekali tidak menemukan celah sedikitpun dari keramaian orang orang disana. Dia menarik pelan ujung jaket Aiden dan mengisyaratkan agar Aiden sedikit menundukkan badannya sebelum Della berbicara.
"Pak gak ada bangku yang kosong. Mending cari restoran lain aja deh Pak," ucap Della namun tanpa ancang-ancang Aiden menyeret tangan Della melewati beberapa meja dan sampailah mereka di bangku kosong paling pojok dari restoran itu.
Aiden melepas genggaman tangan tadi dan segera duduk di depan Della yang sudah duduk lebih dulu.
Seorang pelayan pun menghampiri mereka dengan membawa buku menu. Dan kemudian menyerahkannya kepada dua orang yang menurut pandangan si pelayan mereka sepasang kekasih yang sangat serasi apalagi dengan pakaian mereka saat ini yang mendukung pikiran pelayan itu.
Della membolak-balik halaman demi halaman. Ia tampak bingung harus memesan yang mana.
"Chanko nabe 1-ko to matcha sumūjī o chūmon shimashita," ucap Aiden kepada pelayan itu sambil mengembalikan buku menunya.
"Pak Aiden ini yang halal yang mana Pak?" tanya Della berbisik.
"Udon, chanko nabe, nizakana, onigari, sushi itu semua halal," ucap Aiden sambil menunjuk gambar makanan yang sudah Della taruh di meja.
"Owh. Pak berhubung saya gak bisa bahasa Jepang Bapak pesenin ya. Saya mau udon minumnya hmmm apa ya."
"Ah yang ini Pak apa namanya?" Sambung Della sambil menunjuk salah satu gambar minuman.
"Jangan gila kamu Del. Tadi kamu tanya yang halal dan sekarang kamu malah menunjuk minuman yang beralkohol. Jangan yang itu ganti!" pelayan yang sedari tadi berdiri hanya bisa menengok bergantian kearah Della dan Aiden.
"Saya kan gak tau Pak. Ya udah deh samain aja dengan yang Bapak tadi pesan." Della menutup kembali buku menu dan mengembalikannya kepada pelayan setelah Aiden memesankan apa yang ia mau tadi. Pelayan itu pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis sebelum beranjak dari tempat mereka.
Tidak ada pembicaraan lagi dari mereka berdua. Mereka sibuk dengan urusannya masing masing. Aiden yang sibuk mengirim pesan kepada pujaan hati walapun tidak ada balasan darinya sedangkan Della ia sedang sibuk membalas pesan dari Abangnya tercinta yang sudah berada di Indonesia sekarang dengan senyum yang terus terukir dari bibirnya entah apa yang mereka bicarakan lewat pesan singkat itu sampai Della benar benar disangka orang gila karena tertawa sendiri.
Aiden menghela nafas kasar ia membanting ponselnya di atas meja. Della yang tadinya memperhatikan ponselnya kini beralih menatap Aiden di depannya yang menampilkan wajah gusar. Entah apa yang membuat Aiden seperti itu Della pun tak tau.
"Pak Aiden gak papa kan?" Ucap Della memastikan. Aiden hanya menggelengkan kepalanya. Hingga pelayan kembali lagi kemeja mereka menaruh semua makanan yang tadi mereka pesan, "Meshiagare" ucap si pelayan.
"Arigatōgozaimashita" ucap Aiden dan Della berbarengan. Yap Della hanya bisa mengucapkan terimakasih dalam bahasa Jepang saja selebihnya dia perlu belajar untuk menguasai bahasa tersebut.
Della terus menatap Aiden bertanya-tanya, apa yang membuat bos nyebelinnya jadi galau seperti ini.
"Ehem Pak Aiden beneran gak apa-apa kan?" Aiden mengalihkan pandangannya kearah Della.
"Kamu udah selesai?" bukannya menjawab ia malah balik bertanya dengan Della.
"Udah Pak." Aiden pun menganggukkan kepalanya dan berdiri dari duduknya.
"Tunggu di mobil. Saya mau bayar makanan ini dulu." Ia segera pergi meninggalkan Della yang masih duduk disana. Ia menatap mangkuk yang masih penuh isinya bahkan gak berkurang sedikitpun.
"Bos gue galau atau gimana sih. Padahal tadi dia yang ngajakin makan di luar dan katanya lapar eh setelah dia pesan makanannya diangguri gitu aja. Buang-buang makanan kan mubasir, dasar gak tau bersyukur," omel Della lirih kini matanya menatap benda pipih yang masih tergeletak di meja. Bahkan Aiden pun sudah tidak menghiraukan ponselnya yang ia tinggalkan begitu saja. Della berdecak sebal ia kemudian mengambil ponsel Aiden dan memasukkannya kedalam tas miliknya.
Della berjalan menuju parkiran dan menemukan Aiden yang sudah duduk manis di belakang kemudi mobil. Ia buru-buru masuk kedalam memasang seat belt. Tanpa sepatah kata pun Aiden menjalankan mobilnya kembali menuju apartemennya di dalam perjalanan lagi lagi hanya ada kesunyian dari mereka berdua.
Sampai di dalam apartemen Aiden berjalan menuju kamarnya membanting pintu dengan keras hingga Della yang berada di belakangnya kaget.
"Aneh." Della pun memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Aiden. Ia merebahkan tubuhnya ke kasur big size. Memejamkan matanya hingga tanpa sadar ia sudah terlelap memasuki alam mimpinya.
💜💜💜💜💜
Cuitan burung yang saling bersautan mampu membangunkan Della dari alam mimpinya. Ia menggeliatkan tubuhnya membuka sedikit demi sedikit hingga matanya terbuka sempurna. Ia meraih tasnya mencari benda pipih yang semalam ia taruh disana.
"Bentar. Kok hp gue ada dua." Ia mendudukkan dirinya dan mengangkat kedua ponsel di tangannya.
"Eh astaga gue lupa ini kan harusnya kemari gue balikin ke Pak Aiden. Ck dasar pelupa," umpatnya pada diri sendiri. Ia pun menaruh ke dua ponsel keatas nakas dan bergegas membersihkan dirinya.
Ia berjalan menuruni anak tangga menuju dapur berniat untuk membuat sarapan untuk dirinya dan Aiden. Ia sudah menyiapkan bahan bahan yang akan dia olah, memotongnya dan dengan gesit ia menjadikan bahan bahan tadi menjadi makanan yang siap mereka santap. Tak perlu diragukan lagi kalau urusan mengurus rumah dan memasak ia bisa di percaya karena ini juga sudah menjadi kebiasaannya jika dirumahnya sungguh calon istri yang sempurna.
Della menatap semua menu yang sudah ia taruh di atas meja dengan senyum bangganya. Dia hanya tinggal menunggu Aiden turun untuk sarapan namun orang itu tak juga keluar dari kamarnya.
Della menghela nafas panjang dan bangkit dari duduknya menuju kamar Aiden yang masih tertutup rapat. Della menggetok pintu kamar Aiden dengan pelan.
"Pak bangun Pak. Sekarang udah jam setengah 8," ucap Della pelan namun bisa didengar oleh Aiden.
Aiden membuka matanya setelah mendengar ketukan pintu dari Della. Ia berjalan lunglai kearah pintu. Setelah pintunya ia buka, Della tampak kaget dengan penampilan Aiden yang benar benar kacau bau alkohol pun masih bisa Della cium walaupun Aiden meminumnya tadi malam, rambut berantakan dan pakaian yang masih sama dengan tadi malam hanya saja sekarang Aiden tidak memakai jaket denimnya.