My Bos CEO

My Bos CEO
138


Sejak kedatangan triplets kedalam kehidupannya Aiden selalu memantau perkembangan mereka walaupun dari jarak jauh dan hanya lewat layar tablet yang telah ia hubungkan dengan kamera yang ia taruh di kamar baby triplets dan juga setiap sudut rumahnya sekaligus memantau ketiga baby sitter yang membantu Della merawat si triplets. Ia harus memperhatikan mereka dan jika mereka melakukan kesalahan yang membahayakan bagi anak-anak Aiden tak akan menanyai mereka yang terlalu bertele-tele karena ia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Seperti saat ini, walaupun di mejanya penuh dengan tumpukan kertas penting tapi di depannya terdapat tablet yang terus menampilkan kegiatan dirumahnya dan sesekali ia menatap dan tersenyum kala melihat sang buah hati dan juga tulang rusuknya tengah menghabiskan waktu bersama.


"Ah baru beberapa jam saja sudah rindu begini," ucap Aiden sembari menatap Della yang tengah berbaring dengan triplets di kasur yang ada di kamar baby. Hingga tatapnya harus teralihkan karena ketukan dari luar yang sudah ia pastikan kalau itu adalah sang sekretaris.


"Masuk!" perintah Aiden. Pintu tersebut terbuka dan benar saja dibalik pintu tersebut adalah Putri yang tengah menatapnya dengan senyum yang menurut Aiden sangat memuakan. Baginya di dunia ini hanya senyum Della dan Mamanya lah yang paling indah tak akan terkalahkan oleh orang luar seperti Putri walaupun gadis itu tersenyum dengan sangat manis itu tak akan pernah menggoyahkan hati Aiden.


Putri memasuki ruangan Aiden dengan jalan yang melenggak-lenggok bak seorang model yang tengah berjalan di catwalk. Dengan tampilan yang menurut Aiden terlalu dipaksakan pasalnya ia mengenakan rok span diatas lutut bahkan beberapa senti dan kemeja yang selalu ketat bahkan kancing bajunya selalu dibuka dua dan menampilkan kedua gundukan yang membuat Aiden ingin melempar sekertarisnya itu ke kandang buaya yang sungguhan atau buaya jadi-jadian.


"Ada apa?" tanya Aiden to the point karena ia melihat Putri tak membawa sehelai kertas ditangannya.


Putri masih tersenyum menatap Aiden yang tampak mengacuhkan dirinya.


"Apa Bapak butuh sesuatu?" Aiden melirik sekilas Putri dan mengembalikan pandangannya kearah tablet disana. Pemandangan di dalam tablet lebih enak dipandang dari pada di depannya yang seperti memancing kucing untuk menikmati rasa ikan asin yang tengah dibawanya.


"Tak ada," jawab Aiden singkat.


"Benarkah? Tapi kelihatannya mata Bapak tengah lelah. Biar aku buatkan kopi untuk Bapak."


"Saya tadi sudah minum kopi yang dibuatkan istri saya. Dan apa pekerjaan kamu sudah selesai semua?" Putri mengangguk antusias. Memang Putri kalau masalah pekerjaan selalu gesit dalam mengerjakannya dan kerjaannya juga tak ada yang mengecewakan untuk Aiden dan perusahaan. Maka dari itu ketiak ia ingin memecat sekertarisnya itu selalu digagalkan oleh Reiki dengan alasan performa kerja dari Putri sangat bisa diandalkan. Walaupun saat ini ia masih mempertahankan Putri untuk menjadi sekertarisnya tak dipungkiri jika nanti Aiden merasa terancam dengan tingkah Putri yang melebihi batas wajar ia tak segan-segan untuk memecat bahkan menghancurkan hidupnya saat itu juga.


"Bagus. Aku punya kerja tambahan buat kamu." Putri tambah melebarkan senyumnya ketika Aiden hanya memberikan smirk liciknya. Pikirannya sudah melayang sampai luar angkasa. Memikirkan jika sang bos besar sudah tertarik dengan dirinya dan akan bermain-main sebentar. Bahkan cara licik pun ia sudah rangkai apik didalam kepalanya jika nanti Aiden melakukan hal yang sangat fulgar, ia akan diam-diam merekamnya dan mengirimkan rekaman tersebut ke Della sehingga nanti akan menimbulkan perang rumah tangga. Setelah itu Aiden akan menceraikan Della dan memilih dirinya untuk mengantikan posisi Della sebagai istri Aiden. Begitulah bayangan yang bersarang di otak Putri saat ini.


"Gimana kamu setuju?" Putri mengangguk sebelum mengetahui pekerjaan tambahan seperti apa yang akan Aiden berikan kepadanya.


Aiden berdiri dari duduknya dan mendekati Putri. Setelah sampai di depan sekertarisnya Aiden menatap wajah Putri yang tengah menutup mata.


Aiden terus berdiri di depan Putri dengan menyilangkan kedua tangannya di dada. Sedangkan Putri yang tengah menunggu sentuhan dari Aiden pun kembali membuka matanya saat hal itu tak segera Aiden lakukan.


"Kalau mau tidur jangan disini. Dan untuk pekerjaan tambahan kamu, sebentar lagi akan ada orang suruhan ku yang akan menjemput kamu," tutur Aiden kembali ke tempat duduknya.


Putri menurut saja apa yang Aiden katakan. Ia tak berkutik dari posisi saat ini, masih berdiri menghadap Aiden dan melihat setiap inci keindahan yang Tuhan ciptakan. Ia tak menaruh curiga sedikitpun kepada bosnya itu. Pikirannya malah tambah traveling ke Kutub Utara saat ini. Ia berpikir jika orang suruhan Aiden tadi akan membawa dirinya memanjakan tubuhnya sebelum Aiden menikmati. Setelah itu ia akan di bawa ke hotel yang sangat mewah karena kalau mereka melakukan di area kantor akan membuat Aiden dan dirinya tertangkap oleh karyawan disana yang tak sengaja melihat mereka bercinta nantinya.


Tak berselang lama suara ketukan pintu terdengar kembali dan dengan suara tegas nan lantang Aiden menyuruh orang yang sempat ia hubungi tadi tampa sepengetahuan Putri untuk masuk kedalam ruangan tersebut.


"Maaf Pak. Ada yang bisa saya kerjakan?" tanya seorang laki-laki dengan sopan.


Aiden mendekati laki-laki tersebut dan menepuk pundaknya.


"Itu sekertaris saya lagi gak ada kerjaan jadi aku minta tolong buat kamu bawa dia kebagian kebersihan. Biar dia belajar jadi OG dan membantu pekerjaan mereka." Putri memelototkan matanya tak percaya dengan ucapan Aiden yang tak sesuai dengan ekspektasinya. Dan laki-laki di samping Aiden saat ini adalah kepala office boy disana bukan bodyguard Aiden.


"Baik Pak," ucap kepala office boy tersebut dan segera menghampiri Putri.


"Mari Nona." Putri memundurkan tubuhnya sembari menggelengkan kepalanya sebagai penolak atas ajakan dari kepala office boy.


Aiden yang sudah muak pun mengisyaratkan kepada kepala office boy tersebut untuk menyeret Putri dari ruangannya dan menuju lantai bawah untuk melakukan apa yang ia perintahkan tadi.


Kepala office boy tersebut mengangguk mengerti dengan bahasa isyarat sang bos dan kembali mendekatkan dirinya kearah Putri dan tanpa aba-aba ia menarik tangan mulus Putri hingga berhasil keluar dari ruangan Aiden walaupun dapat pemberontakan dari Putri yang terus berusaha melepaskan cekalan tangan dari kepala office boy tadi namun cengkraman tangan tersebut sangat erat sehingga Putri saat ini hanya bisa pasrah dengan nasibnya saat ini.


Sedangkan Aiden, ia tengah tersenyum puas akhirnya si pengganggu waktu senang dan tenangnya tersingkirkan untuk sementara waktu. Jika hari berikutnya Putri masih bertingkah seperti tadi ia tak akan segan-segan lagi untuk lebih menghukum sang sekertaris lebih kejam lagi dan kalau bisa Aiden membuat Putri untuk mengundurkan diri dari kantor tersebut tanpa ia memecatnya dan ia yakini Reiki juga tak akan mencegah putri. Walaupun Reiki juga sudah bosan dengan terus mencari pengganti sekertaris Aiden yang setiap bulannya harus berganti dengan yang baru.