
Selang 30 menit mereka baru saja menemukan penjual rujak yang kebetulan tengah mangkal di pinggir jalan area taman. Della dengan senyum sumringah langsung keluar dari mobil dan menghampiri penjual tadi.
"Pak, satu porsi rujak yang super pedas ya," pinta Della.
"Siap laksanakan," ucap penjual rujak tersebut.
"Sayang kamu yakin pesan yang super pedas?" Tanya Aiden yang tengah berdiri disamping Della.
"Yakin lah," jawab Della. Kemudian ia beranjak untuk duduk di salah satu kursi yang kebetulan berada di belakang penjualan rujak tersebut. Sedangkan Aiden, ia mengekori Della dan ikut duduk disampingnya.
"Sayang mending kamu pesan lagi yang pedasnya wajar aja. Jangan yang super, aku takut nanti perut kamu sakit," tutur Aiden khawatir.
"Gak mau sayang. Toh ini juga keinginan baby." Della mengelus perutnya yang sedikit menonjol.
"Huh, ya sudah tapi nanti jangan makan banyak-banyak ya," ucap Aiden dan diangguki oleh Della.
Tak berselang lama rujak pesanan Della pun akhirnya siap dan Aiden segera membayarnya tak lupa juga mengambil rujak yang sudah terbungkus rapi.
"Pulang apa mau jalan-jalan?" Tanya Aiden. Della yang masih duduk pun menghampiri Aiden dan merebut kantong plastik berisi rujak dari tangan Aiden. Della mengintip isi dari kantong plastik tersebut dan terlihat ia tengah menelan salivanya.
"Pulang aja. Aku udah gak sabar pengen makan rujak ini," jawab Della. Aiden mengangguk untuk menuruti sang istri.
Mereka berdua bergegas untuk kembali masuk ke mobil. Di dalam perjalanan tak ada percakapan sama sekali dari pasangan suami istri tersebut. Aiden tengah fokus dengan jalan raya sedang Della, ia mengalihkan pandangannya di samping jalan. Saat matanya terus menatap jalanan tak disangka ada satu pohon kelapa yang memikat hati Della karena Aiden menjalankan mobil dengan sangat lambat dan itu membuat Della bisa menangkap setiap detail pohon-pohon di sekitar jalan raya tak terkecuali pohon kelapa tersebut.
"Sayang berhenti!" Teriak Della yang membuat Aiden kaget dan dengan segera meminggirkan mobilnya.
"Ada apa sayang? Kamu gak papa kan? Atau ada yang sakit?" Tanya Aiden beruntun.
Dan dengan entengnya Della menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa nyuruh berhenti mendadak?" Tanya Aiden penasaran.
Della menurunkan kaca mobil, menonggolkan kepalanya dan menatap kearah belakang tepat dimana pohon kelapa yang ia lihat tadi berada. Sedangkan Aiden yang tak mendapat jawaban dari Della pun bingung dengan gelagat sang istri.
"Sayang ada apa sih?" Della kembali mendudukkan tubuhnya seperti semula.
"Aku mau minum air kelapa sambil makan kelapanya juga," tutur Della menatap manik mata Aiden penuh harap.
"Haish, kirain ada apa ternyata pengen kelapa. Ya udah kalau gitu kita cari sekarang. Biasanya banyak yang jual di pinggir jalan sekitar sini," ucap Aiden dan ingin kembali menjalankan mobilnya.
"Kok mau jalan lagi?" Tanya Della.
"Lah kan mau cari buah kelapa buat kamu."
"Enggak mau. Aku maunya yang ada di pohon belakang itu," rengek Della. Aiden mengerutkan keningnya.
"Dimana? Gak ada pohon kelapa di sini sayang. Udah ah kita beli aja," tutur Aiden yang membuat Della mengerucutkan bibirnya. Tanpa pikir panjang Della melepas seat belt dan turun dari mobil Aiden. Aiden yang melihat perbuatan berbahaya dari Della pun hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Jika tadi ia gegabah menjalankan mobil saat sang istri diam-diam membuka pintu mobil dan keluar, sudah Aiden pastikan jika nyawa Della bisa di pertaruhkan saat itu juga. Namun hal itu untungnya tak terjadi.
Aiden menghembuskan nafas panjang. Kemudian ia juga ikut turun dan menghampiri Della yang sudah berjalan hingga tepat di depan pohon kelapa tadi. Aiden berlari kecil menghampiri Della.
Della menengadahkan kepalanya melihat beberapa buah kelapa yang tengah bergelayut di pohon tersebut.
"Kita beli aja ya," ucap Aiden setalah sampai di dekat Della.
"Gak mau. Aku maunya itu yang ada diatas sana," tutur Della sembari menunjuk kearah kelapa tadi.
"Yang benar saja sayang. Kalau kamu mau kelapa yang ada diatas gimana cara ambilnya?" Della melirik Aiden.
"Ya kamu manjat lah," tutur Della dengan entengnya.
"Please lah sayang jangan bercanda. Ini gak lucu lho."
Aiden menggigit bibir bawahnya. Ia menatap pohon kelapa yang tumbuh menjulang tinggi. Aiden bergidik ngeri jika harus memanjat pohon tersebut tanpa pelengkap keamanan.
"Tapi ini pohon tinggi banget lho sayang," ucap Aiden dengan mental yang tiba-tiba menciut.
"Ya terus kenapa kalau tinggi?"
"Sangat mengerikan," jawab Aiden.
"Sudahlah, kita beli aja ya yang cuma tinggal makan tanpa harus susah-susah manjat dan membahayakan nyawa," sambung Aiden sembari menggandeng tangan Della untuk kembali ke mobil walaupun Della terus memberontak dan mengakibatkan Aiden harus menggendong tubuh Della hingga sampai di dalam mobil.
Aiden segera menjalankan mobilnya menjauh dari pohon sialan yang membuat Della sekarang tengah menangis karena apa yang ia inginkan tak dipenuhi oleh Aiden.
Hanya butuh beberapa menit akhirnya Della dan Aiden sudah sampai di rumah mereka. Namun air mata Della terus menetes walaupun Aiden tadi sudah membelikannya satu buah kelapa muda utuh untuk dirinya.
"Sudah dong sayang nangisnya," tutur Aiden yang sudah membukakan pintu mobil untuk Della sembari menghapus air mata istrinya. Namun tangannya ditangkis oleh Della. Ia menyingkirkan tubuh Aiden dan segera beranjak menuju kedalam rumah, membiarkan Aiden pusing memikirkan untuk membujuk Della.
Saat Della sudah masuk kedalam ternyata orangtua Aiden masih di kediamannya. Mama Yoona yang tanpa sengaja berpapasan dengan Della pun segera menghentikan langkah Della dan menangkup kedua pipi menantu kesayangannya itu.
"Lho anak Mama kenapa ini kok nangis?" Tanya Mama Yoona khawatir.
"Hiks Mama. Aiden jahat," adu Della sembari memeluk tubuh Mama Yoona.
"Katakan apa yang Aiden lakukan sehingga buat kamu nangis kayak gini? Biar Mama hajar tuh anak. Berani-beraninya buat anak Mama nangis sampai kayak gini. Mana tuh orang kurang ajar," ucap Mama Yoona menggebu-gebu.
Aiden yang baru saja masuk kedalam dan mendengar semua kata-kata dari Mama Yoona pun hanya bisa mencebikkan bibirnya
"Aiden gak salah Ma. Coba Mama bayangin Aiden manjat pohon kelapa yang tingginya tak tanggung-tanggung dan tanpa pengaman sedikitpun kalau jatuh kan bisa end," timpal Aiden tak terima.
"Ngeri juga sih kalau kamu sampai end. Kalau kayak gitu jangan deh mending beli aja," tutur Mama Yoona.
"Nih udah aku beliin Ma, tapi Dellanya gak mau," ujar Aiden.
"Aku maunya yang langsung dari pohonnya Mama hiks." ujar Della yang membuat Aiden mengacak rambutnya frustasi.
"Kenapa ngidam kamu yang sekarang aneh-aneh sekali sih sayang?" gemas Aiden. Mama Yoona yang baru tahu kalau menantunya tengah berbadan dua pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah Della yang tengah sembab.
"Jadi kamu lagi hamil nak?" Tanya Mama Yoona dan diangguki oleh Della. Mama Yoona pun kembali memeluk tubuh Della dengan sangat erat. Senyum bahagia terpancar jelas dari raut wajah cantik Mama Yoona. Sedangkan Papa Juan yang baru kembali dari ruang makan pun ikut menimbrung percakapan mereka yang tak sengaja ia dengar tadi.
"Wah akhirnya Papa akan segera punya cucu," ucap Papa Juan yang juga tak kalah bahagia dari Mama Yoona.
"Selamat sayang. Jaga baik-baik ya kandungannya," ucap Mama Yoona setelah melepas pelukannya.
"Makan-makanan yang sehat. Perbanyak sayur dan buah," timpal Papa Juan.
"Terimakasih Ma, Pa. Tapi Della masih pengen kelapa dari pohonnya langsung," tutur Della yang ternyata tak bisa melupakan tentang alasan ia menangis.
Mama Yoona dan Papa Juan seketika menatap kearah Aiden yang tengah mematung tak jauh dari mereka sembari membawa satu buah kelapa muda dan satu porsi rujak yang belum dimakan sama sekali oleh Della.
"Aiden kamu turutin aja apa yang Della mau. Toh ini juga semata-mata untuk anak kamu," tutur Papa Juan.
"Benar kata Papa, Aiden. Kamu sekarang manjat aja deh, di belakang rumah ini kan kalau gak salah ada pohon kelapa tuh. Kamu cepat turutin apa yang di mau Della. Jangan sampai cucu Mama nanti ileran," ucap Mama Yoona yang ternyata dengan cepat berubah pikiran yang tadi tak mengizinkan Aiden untuk memanjat tapi akhirnya saat mengetahui Della tengah mengalami ngidam, ia dengan antusias mendukung Aiden untuk menuruti perintah Della.
"Gak papa kan sayang kalau kelapanya dari pohon yang ada di belakang rumah?" Tanya Mama Yoona.
"Gak papa kok Ma, yang penting kelapa segar langsung dari pohonnya dan diambil oleh Aiden langsung," jawab Della yang sudah kembali tersenyum.
Sedangkan Aiden, ia hanya bisa melongo mendengar percakapan dari ketiga manusia yang tengah menyudutkan dirinya untuk segera memanjat pohon kelapa tanpa memikirkan keselamatan dirinya yang notabenenya adalah anak kandung dari Mama Yoona dan Papa Juan.