
2 bulan telah berlalu dan kini Della tengah menunggu waktu lahiran yang akan ia jalani kapanpun jika sang baby sudah siap untuk keluar. Namun anehnya sampai melewati batas HPL baby yang didalam perut Della tak ada tanda-tanda untuk segera keluar.
"Sayang. Kalian gak mau keluar kah dari perut Mommy?" ucap Della sembari mengelus perut buncitnya. Ia saat ini tengah bersantai di taman belakang rumah sedangkan Aiden, ia beberapa hari ini tengah disibukkan dengan pekerjaan kantornya bahkan sering keluar kota.
"Maaf nyonya. Ini susunya sama cemilan yang nyonya tadi minta," tutur bik Fitri yang sudah berada disamping Della dengan satu nampan ditangannya.
"Terimakasih bik," ucap Della sembari tersenyum. Bik Fitri pun membalas dengan senyuman pula. Setelah bik Fitri menaruh makanan dan juga minuman untuk Della, ia segera kembali kearah dapur. Namun baru beberapa langkah saja suara Della menghentikan.
"Bik Fitri mau kemana?" Tanya Della.
"Mau kedapur lagi nya. Ada yang nyonya butuhkan lagi?" Della menggelengkan kepalanya.
"Bik, kok baby belum keluar juga ya," tutur Della. Bik Fitri mengurungkan niatnya untuk kembali bekerja. Ia memilih untuk menemani sang majikan bercerita.
Bik Fitri berjongkok di depan Della sembari mengamati wajah lesu sang majikan.
"Bik Fitri kenapa jongkok disitu. Duduk di kursi kan bisa." Bik Fitri tersenyum canggung. Kemudian ia memindahkan tubuhnya untuk duduk di kursi sebelah Della.
"Kira-kira kenapa ya bik? Padahal HPLnya udah minggu lalu tapi sampai sekarang belum juga memberi tanda-tanda buat keluar," curhat Della.
"Mungkin babynya masih mempersiapkan diri untuk bertemu sama Mommy yang cantik," ucap bik Fitri asal.
"Ck bik Fitri mah muji mulu." Bik Fitri tersenyum canggung. Ia pun sebenarnya juga tak tau harus mencari solusi seperti apa? Dia juga bingung kenapa baby belum juga mau keluar padahal semua orang sudah sangat menunggu kehadiran mereka. Bahkan kamar baby twins sudah siap dengan semua perlengkapannya.
"Aku takut bik. Kalau ada yang salah dari diriku dan mengakibatkan keterlambatan dalam kontraksi," ucap Della lemah.
"Tenanglah nya. Semuanya akan baik-baik saja toh nyonya belum lama ini juga sudah tanya ke dokter Alisa. Dan jika dokter Alisa berkata semuanya baik ya berarti memang baik nya. Dan masalah lahiran tak sesuai dengan HPL itu sebenarnya udah banyak bahkan hampir semua ibu hamil kalau lahiran tak sesuai HPLnya. Jadi tenang lah Nya. Serahkan kepada Tuhan dan siapa tau pagi nanti sudah ada tanda-tanda si baby keluar." Della menganggukkan kepalanya mengerti. Setidaknya ia sekarang merasa lebih tenang.
"Makasih ya bik udah mau denger keluh kesah Della," ucap Della dan dijawab dengan anggukan oleh bik Fitri.
"Kalau begitu bibik izin undur diri ke dapur lagi ya Nya. Nyonya harus yakin kalau bentar lagi baby akan segera keluar dari perut nyonya." Della tersenyum dan setelah mendapat persetujuan dari Della, bik Fitri akhirnya kembali ke pekerjaan yang belum terselesaikan.
Sedangkan di tempat lain Aiden terus berkutik dengan tumpukan kertas penting yang tengah menanti dirinya.
Tak berselang lama sang sekertaris baru, mengetuk pintu ruangan Aiden dan dengan cepat Aiden mempersiapkan orang dibalik pintu tersebut untuk masuk.
Dengan jalan lenggak lenggoknya dan pakaian yang sangat kurang bahan. Aiden saat bertemu pertama kali dengan sekertaris baru tersebut nampak memandang sang sekretaris dengan jijik bahkan ia harus mencari siapa yang dengan bodohnya mencarikan dirinya seorang sekretaris semacam orang yang tengah mempamerkan tubuhnya dengan gratis di depan lawan jenis.
"Maaf tuan mengganggu sebentar. Saya kesini cuma mau mengantar kopi untuk Tuan," ucapnya dengan centil.
"Taruh disitu," ucap Aiden cuek bebek.
Dan entah disengaja atau tidak. Sekertaris Aiden yang dikenal dengan nama Putri itu mamajukan tubuhnya dan menaruh segelas kopi dengan cara sedikit membungkukkan sehingga belahan dada yang memang sudah menonjol lebih kelihatan lagi isi didalamnya.
Namun bukan Aiden namanya jika ia akan tergoda dengan manusia tak bermoral yang sering ia jumpai. Bahkan Aiden sering gonta ganti sekertaris sekarang setelah Della resmi menyandang status istrinya.
"Reiki kalau nyariin sekertaris baru bisa gak sih yang normal dikit," gerutu Aiden saat sudah duduk kembali di singgasananya sembari memijit pangkal hidungnya.
"Untung gue orangnya gak nafsuan kalau nafsuan dan khilaf udah gak tau lagi gimana kedepannya. Ah sial," sambungnya.
Aiden terus menggerutu sambil menyelesaikan pekerjaannya. Dan tak berselang lama Putri kembali dengan membawa roti kering untuk Aiden.
"Apakah kamu gak ada kerjaan?" Bentak Aiden yang membuat nyali Putri menciut.
"A-ada Tuan," tutur Putri terbata-bata.
"Kalau ada kerjakan cepat. Jangan keliaran keluar masuk ruangan saya kalau gak ada yang penting dan satu lagi saya gak butuh kopi yang kamu buat dan roti kering ini. Ambil kembali dan keluar dari ruangan saya sekarang!" Teriak Aiden tegas.
Putri yang mendapat teriakan maut dari Aiden pun bergegas keluar dari ruangan Aiden dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tunggu saja sampai kamu bertekuk lutut dihadapan ku Aiden," gumam Putri sembari menghapus air matanya.
Aiden yang terus terganggu dengan tingkah Putri pun membuat dirinya sudah kehilangan mood baik dan kini ia perlu mengembalikan mood yang tadi hilang dengan cara menghubungi sang istri lewat panggilan video.
2 kali panggilan Aiden tak ada jawaban dari Della dan untuk panggilan selanjutnya panggilan tersebut akhirnya diangkat oleh sang penguasa hati Aiden.
"Assalamualaikum sayang. Kamu habis mandi?" tanya Aiden saat melihat Della tengah menggunakan kimono dan juga rambut yang dibalut dengan handuk.
π : "Waalaikumsalam. Iya nih. Tumben VC disaat kamu kerja," ucap Della penasaran.
"Ck emang gak boleh VC istri sendiri. Rindu lho aku tuh," tutur Aiden manja.
π : "Baru juga tadi pagi ketemunya masa iya udah rindu aja. Alasan doang itu mah."
"Gak percaya banget sih sama suami," geram Aiden.
π : "Percaya sayang. Aku tuh selalu percaya sama kamu," ucap Della gemas.
"Nah gitu dong. Ya udah kalau gitu kamu pakai baju gih dan jangan lupa dandan yang cantik. Aku mau nyelesain kerjaan lagi dan akan aku usahain pulang lebih awal. Bye Sayang. Love you."
π : "Baiklah. Semangat kerjanya sayang, Love you more." Panggil telepon video pun terputus. Akhirnya mood yang tadi sempat hancur kini perlahan mulai kembali walaupun tak seperti tadi. Namun masih bisa lah buat mengerjakan sisa pekerjaannya hari ini.
ππΌππΌπ
Hay sayang-sayangku sekali. Lama tak ngebacot author absurd ini π And hari ini author mau ngebacot alias pemberitahuan mungkin beberapa eps lagi novel ini akan End dan kalau bisa kalian kasih request author dong buat nulis novel apa? Tar kalau author bisa akan author buat cerita walaupun dalam pemikiran author π
Dah ah segitu aja ngebacotnya. Bye guys see you π€