
Bruk... Ditengah berlarinya Della menabrak seseorang sampai ia terjatuh ke lantai.
"Aw," pekik Della.
"Kalau lagi di kantor tuh jangan lari-lari! Kamu pikir ini taman kanak-kanak," omel pria tersebut yang tidak jatuh sama sekali. Della mendangakan kepalanya memandang sosok yang ia tabrak.
"Sebentar." Della berdiri.
"Sepertinya aku pernah liat kamu tapi dimana ya?" Della mencoba mengingat-ingat memori dalam otaknya.
"Ah kamu yang pernah ngerebut kalung aku kan. Dasar, mau apa kamu kesini?" kata Della.
"Bukan urusanmu." Pria itu pun pergi menuju ruang CEO.
"Hey, tunggu kamu tidak boleh masuk ke situ," cegah Della sebelum pria itu membuka pintu.
"Jangan lancang ya kamu main masuk ruangan kerja orang lain apalagi ini ruangan CEO tar saya laporkan kamu," ancam Della.
"Apa hak kamu melarangku untuk masuk kedalam?" ucap pria tersebut sembari menyilangkan kedua tangannya ke dada.
"Sedangkan ini adalah ruanganku," imbuh pria tersebut.
"Jangan ngadi-ngadi deh. Pokoknya tidak boleh, tidak sembarang orang boleh masuk kedalam hanya Pak Aiden yang berhak untuk masuk dan membiarkan orang masuk kedalam."
"Saya Aiden," kata pria tersebut yang sebenarnya adalah Aiden sang CEO AWA grub.
"Ngadi-ngadi kan kamu pasti. Mana ada CEO berpenampilan kek gini." Della memandangi style Aiden yang hanya memakai hoodie, celana jeans ketat, sepatu converse dan topi di kepala, benar-benar menggambarkan ia bukanlah seorang CEO karena biasanya CEO memakai pakaian formal.
"Terserah, minggir!" ucap Aiden singkat sambil berusaha menyingkirkan tubuh Della yang sedang menghadang dirinya.
"Gak akan," tutur Della yang tetap berusaha menahan tarikan dari Aiden.
"Hish, siapa sih yang nerima kamu kerja di sini, pasti Reiki kan?" tanya Aiden.
"Bukan, yang milih aku adalah Pak Aiden bahkan secara langsung," bohong Della.
"Aku tidak pernah milih kamu," kata Aiden.
"Ya iyalah orang kamu bukan Pak Aiden." Della tetap menyangkal.
"Astaga." Aiden terlihat frustasi. Ia memegang paksa tangan Della dan menariknya.
"Heh tangannya jangan pegang-pegang bukan muhrim, calon suamiku aja belum pernah pegang, masak di dahului orang lain, lepasin!" Della mencoba melepaskan genggaman tangan Aiden.
"Ikut aku."
"Eh tidak bisa. Aku harus kerja. Gak kaya kamu, kamu pasti pengangguran kan dasar." Aiden tidak menggubris ucapan Della dan tetap menarik tangannya sampai ke ruangan Reiki, Tania yang melihat temannya telah di tarik paksa oleh bosnya hanya bisa melongo. Aiden membuka pintu ruangan Reiki dengan kasar membuat sang empu terperanjat dari kursinya.
"Kutu kupret untung gak jantungan," ucap Reiki kepada atasannya yang sebenarnya mereka berdua sahabat bahkan sudah bak amplop dan prangko saling nempel satu sama lain.
"Kenapa lo rekrut orang kayak gini?" Aiden melepaskan genggaman tangan Della.
"Emang apa yang salah dari Della sih?" ucap Reiki kembali duduk di singgasananya.
"Dia gak sopan dengan atasanya bahkan dia gak tau kalau gue CEO dan pemilik perusahaan ini," sombong Aiden.
"Mana dia bisa tau kalau lo aja baru balik dari Inggris. 2 tahun lo disana dan 1 tahun yang lalu dia masuk kesini jadi sekertaris lo," tutur Reiki.
"Ha apa?" Pekik Della dan Aiden serempak.
"Gak mau gue. Ganti yang lain!" Aiden berpindah tempat beralih duduk di depan Reiki.
"Gak ada ganti-gantian lagi cukup Della yang terakhir."
"Lah kenapa lo jadi yang ngatur gue? Gue kan atasan lo," tutur Aiden.
"Iya lo atasan gue, tapi gue dah bosen nyariin lo sekretaris mulu dari dulu sampai sekarang. Kenapa gak di coba dulu sih? Della juga orangnya cekatan, pinter, good speaking di depan orang, kurang apa lagi," ucap Reiki sambil memijit pelipisnya.
"Tapi kan.."
"Gak ada tapi-tapian lagi Tuan Aiden. Coba dulu baru berkomentar, dan silahkan kalian berdua keluar dari ruangan saya. Saya mau bekerja, dan karena kalian berdua kerjaan saya jadi terbengkalai dan tertunda semua. Disana pintu keluarnya silahkan pergi sekarang juga," pungkas Reiki.
"Hish." Aiden beranjak pergi di ikuti Della yang berjalan di belakangnya.
"Mampyus gue, ternyata nih orang Pak Aiden. Haduh mau jadi apa gue nanti hiks," batin Della yang masih ngintil di belakang Aiden. Sampai mereka ke ruang masing-masing.
"Huh aman." Selang beberapa menit panggilan interkom dari Aiden terdengar.
"Ke ruangan saya segera! Bawa semua dokumen yang kamu kerjakan, akan saya periksa jika ada kesalahan sedikit pun akan saya pecat kamu," kata Aiden dengan kata formalnya. Belum sampai Della menjawab sambungan interkom sudah terputus.
"Baru aja gue napas lega," gerutu Della dan segera bergegas membawa dokumen ke atasanya.
Della mengetok pintu.
"Masuk" jawab Aiden dari dalam ruangan. Della membuka pintu dengan hati-hati dan menghampiri Aiden yang duduk di singgasananya dengan pakaian formal. Aura dan kharisma seorang CEO terpancar dari wajahnya. Della sempat tertegun menikmati keindahan di depan matanya.
"Bentar bukannya tadi dia kesini pakai baju kayak badboy. Kenapa sekarang udah pakai pakaian formal dapet dari mana tuh baju?" batin Della.
"Mana dokumen yang kamu kerjakan," pinta Aiden. Sifatnya yang sekarang jauh berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya membuat Della bingung.
"Ini Pak Aiden bukan sih? Kenapa sekarang kayak es batu yang tertutup salju dingin banget beda dari yang sebelumnya, bar-bar, gak mau kalah, cerewet, atau jangan-jangan dia kesurupan." Della bergidik ngeri.
Aiden yang merasa di acuhkan dia mengalihkan pandangannya yang semula ke layar komputer sekarang menatap tajam Della. Della menelan saliva.
"Mana?" pinta Aiden sekali lagi. Della pun memberikan dirinya maju kehadapan Aiden dan memberi berkas yang ia genggam erat.
"Hish, mana ada dokumen begini kertasnya, lecek kayak gini udah gak bisa di gunakan, ganti yang baru sekarang!" Aiden melempar kasar ke atas meja kerjanya.
"Baik Pak." Della mengambil kembali tumpukan dokumen.
"Selesaikan sebelum jam makan siang berlangsung," ucap Aiden.
"Hah, tapi ini banyak banget Pak."
"Gak ada tapi-tapian kalau gak selesai saya akan pecat kamu," tegas Aiden.
"Baiklah, saya permisi." Della meninggalkan ruangan Aiden.
"Kalau gak karena gue harus buktiin ke Daddy kalau gue bisa hidup mandiri, cari uang sendiri tanpa bantuan dari beliau gue juga gak mau kerja disini, huft sabar," gerutu Della sepanjang jalan menuju ruangan kerjanya. Baru sampai di tempat dan belum sempat ia duduk, panggilan interkom kembali bunyi.
"Iya Pak," jawab Della.
"Buatkan saya kopi secepatnya!" perintah Aiden.
"Baik Pak." Della menutup saluran interkom dengan helaan nafas panjang dan segera membuatkan kopi bosnya.