
5 hari sudah Della berada di rumah sakit tersebut dan saat ini ia tengah bersiap-siap untuk kembali kerumah dengan ketiga anggota baru dibantu dengan Aiden dan 2 art disana. Orangtua Della telah kembali ke Rusia kemarin karena ada urusan mendadak sedangkan orangtua Aiden juga tengah pergi keluar kota. Airen dan Dion mereka sudah menunggu dirumah Aiden.
"Sudah semua sayang?" tanya Aiden. Della mengecek kembali barang bawaannya dan setelah memastikan semuanya masuk, Della menyatukan jari telunjuk dan ibu jari membentuk lingkaran sembari mengedipkan sebelah matanya.
Aiden tersenyum setelah itu ia menghampiri triplets yang tengah tertidur didalam stroller baby. Ia perlahan menjongkokan tubuhnya didepan triplets sembari menatap satu persatu wajah damai para malaikat kecilnya.
"Let's go to home baby," ucap Aiden penuh antusias. Della yang tengah menatap Aiden pun tersenyum dan segera menghampiri sang suami.
"Baby udah siap semua sayang?" tanya Della. Aiden mendongakkan kepalanya sehingga bisa menatap wajah Della yang tengah berdiri di belakang stroller triplets.
"Sudah dong. Tinggal otw pulang ini," ucap Aiden sembari berdiri kembali dan memposisikan dirinya dibelakang stroller.
"Let's go kita pulang sayang," bisik Aiden dengan mencuri kesempatan untuk mengecup sekilas pipi Della.
Della tersenyum malu dan setelah itu mereka berdua mendorong ketiga stroller triplets untuk keluar dari ruangan tersebut di susul oleh 2 art yang membawa keperluan Della selama di rumah sakit.
Mereka terus berjalan hingga akhirnya sampai di mobil Aiden. Aiden membuka lebar pintu mobilnya dan memindahkan triplets satu persatu di car seat yang sudah terpasang di mobil Lexus LM berwarna hitam yang ia beli beberapa hari yang lalu.
"Aku duduk di kursi tengah aja ya sayang. Nemenin Azlan kasihan dia sendiri gak ada temen disampingnya," ucap Della.
"Gak. Kamu tetap di depan. Kan ada 2 mbak yang jagain mereka. Toh juga masih satu mobil dan aku yang nyetir." Della memanyunkan bibirnya ketika permintaannya tak dikabulkan oleh Aiden. Setelah itu ia masuk kedalam mobil tersebut, duduk di samping kemudi dan tak berselang lama Aiden menyusul Della untuk duduk di kursi kemudi.
"Ck. Kenapa lagi sih tuh bibir? Mau aku kiss disini biar dilihatin 2 mbak dibelakang?" ucap Aiden yang sebenarnya mampu di dengar oleh kedua artnya. Para art tersebut menundukkan kepalanya tak berani menatap kepada bosnya yang sewaktu-waktu akan membuat mereka berdua iri karena keromantisan yang semua orang impikan dari setiap pasangan.
Della dengan cepat menutup mulut Aiden lebih tepatnya membungkam dengan kedua tangannya.
"Haish kamu tuh ya. Bisa gak sih ngomongin masalah begituan saat kita lagi berdua atau kalau pas ada orang lain cukup bicara lirih aja. Jangan kayak tadi yang jelas-jelas udah masuk ke pendengaran Mbak Asih sama Mbak Indah," gerutu Della lirih.
Aiden berusaha melepas bungkaman tangan dari Della dan tak perlu susah payah akhirnya tangan Della menjauh dari mulut seksinya itu.
"Biarin lah toh kalau kita ngelakuin disini mereka juga gak akan berani lihat apa yang kita lakukan," goda Aiden.
"Stop jangan bahas yang aneh-aneh dulu. Buruan hidupin mesinnya. Kasihan triplets kalau kelamaan di car seat," ucap Della.
"Kasihan triplets atau udah gak sabar pengen aku kiss?" Aiden menaik turunkan alisnya yang berhasil membuat Della geram.
Buk
Della melempar satu pak tisu yang masih baru ketubuh Aiden.
"Buruan jalan atau mau aku lempar pakai barang yang lebih berat dari tisu?" Aiden menggelengkan kepalanya. Ia bergegas menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan mobil tersebut untuk membelah jalanan yang tampak padat seperti biasa.
Butuh waktu 30 menit akhirnya mereka sampai di rumah megah Aiden dan Della. Aiden kembali menurunkan triplets dan memindahkan mereka kedalam stroller kembali. Setelah itu Aiden dan Della mendorongnya hingga sampai didepan pintu utama. Salah satu art membukakan pintu untuk dua bosnya dan 3 anggota baru keluarga tersebut untuk segera masuk kedalam.
Pintu utama tersebut terbuka dengan sempurna dan pada saat yang sama ada kejutan di sana yang Airen siapkan untuk keponakannya dan tak Della sangka-sangka 3 saudaranya juga berada di sana menyambut kedatangannya.
"Ck jangan teriak-teriak. Anak aku nanti bangun lagi," tutur Aiden posesif.
"Aaaaaa keponakan aunty," teriak Feo sembari melangkahkan kakinya mendekati ketiga ponakan barunya.
"Sudah dibilang jangan teriak-teriak," ucap Aiden garang. Feo yang sudah sampai di depan triplets pun tak mengindahkan ucap Aiden. Ia memilih untuk memainkan pipi mereka bertiga dan ketika Aiden ingin memperingati lagi untuk tak menganggu triplets, malah sekarang Airen dan para uncle mengerumuni baby. Aiden tambah geram karena keusilan mereka semua membuat baby Erland terbangun namun anehnya ia tak menangis.
"Wah prince Erland udah bangun ternyata," ucap Feo dan mengambil baby Erland dari strollernya kedalam gendongannya.
"Kan udah aku bilang jangan ganggu tidur mereka. Jadinya kebangun kan," tutur Aiden.
"Prince bangun juga gak nangis dan juga gak buat susah kamu. Mending kamu diam aja deh Aiden." Della mendekati sang Kakak dan suaminya untuk menghalangi jika sesuatu yang tak ia inginkan terjadi karena ia sudah bosan mendengar pertengkaran yang melibatkan Aiden. Masa iya Della harus mendengar keributan lagi setelah keluar dari rumah sakit yang sebelumnya selama disana ia disuguhkan dengan perang mulut dari Aiden dan Miko.
"Sudah sayang," ucap Della sembari mengelus lengan Aiden. Setelah memenangkan sang suami Della beranjak untuk mendekati Feo dan baby Erland. Della mengelus pipi baby.
"Anak Mommy pintar sekali. Bangun tidur gak pakai nangis. Good boy," puji Della.
"Iya dong Mom kan ada Ante yang gendong baby," ucap Feo yang menirukan suara bayi.
Della tertawa geli saat mendengarkan suara dari sang Kakak.
"Kak," panggil Della. Feo pun menatap wajah Della dan mengangkat salah satu alisnya yang seolah menimpali ucapan Della.
"Kakak tuh sebenarnya udah cocok lho kalau punya baby," ucap Della.
"Wah benarkah?" Della menganggukkan kepalanya mantab.
"Kalau cocok berarti baby Erland buat aku," tutur Feo dengan gampangnya. Aiden yang tengah duduk di sofa pun menatap Feo tak terima.
"Enak aja. Buat sendiri sana," timpal Aiden.
"Buat sama siapa? sama guling? Toh kamu juga masih punya dua kalau kurang tinggal buat lagi. Gampang kan," tutur Feo.
"Gampang gundulmu," umpat Aiden.
"Ya kan sama aja gampang kamu tinggal enak-enak, bercocok taman setelah itu para kecebong kamu yang berusaha." Della menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Feo yang kelewat fulgar menurutnya.
"Feo mulutnya," peringatan dari Maxime.
"Kan aku ngomong yang sebenarnya bang," ucap Feo tak mau kalah.
"Iya benar tapi kasihan ponakanku, baru juga beberapa hari lahir di dunia sudah harus mendengar perkataan kurang mengenakkan seperti tadi. Kalau masih mau ngomongin hal tadi siniin Erland." Maxime mengambil baby Erland dari gendongan Feo dan membawanya kelantai atas menyusul kedua saudara kembarnya baby Erland yang lebih dulu ke kamar mereka dengan Felix yang menemani mereka berdua.