My Bos CEO

My Bos CEO
103


"Kerahkan semua orang yang ada di bawahmu. Dalam waktu 3 hari harus sudah ada hasil dari penyelidikan ini," tutur Aiden sembari berdiri.


Anak buah Aiden tadi dengan tegas menerima perintah darinya dan bergegas untuk pergi dari rumah Aiden untuk menyelidiki kasus yang melibatkan Della.


Aiden mendudukkan kembali tubuhnya, mengusap kasar wajahnya. Dion yang melihat wajah gusar Aiden pun menghampiri sang calon Kakak iparnya. Dion menepuk pundak Aiden.


"Tenang lah. Aku akan kerahkan semua anak buahku dan aku juga akan turun langsung dengan mereka. Kamu tunggu disini dan jaga Della. Jangan biarkan dia keluar saat ini karena kemungkinan pelakunya masih mengincar nyawa Della," tutur Dion.


"Apakah cuma Kak Della aja yang harus dijagain? Aku gak gitu?" Ujar Airen cemburu. Aiden memutar bola matanya. Sedangkan Dion ia tersenyum dan menghampiri Airen.


"Tak perlu meminta dan memberitahu kamu. Aku akan selalu menjagamu dimana pun dan kapan pun itu meski nyawa taruhannya," ujar Dion sembari menangkup wajah Airen membuat bibir Airen maju beberapa senti.


"Ahhh emang pacarku ini yang terbaik," ucap Airen sedikit tak jelas. Ia pun menghambur kepelukan Dion.


"Haish, nikahin kagak dibucinin iya. Mana yang cewek bego banget lagi mau-maunya diberi kata-kata manis tanpa kepastian," sindir Aiden. Airen memelototkan matanya dan melepas pelukan Dion dan segera berjalan menghadap Aiden. Airen mengeluarkan tatapan tajamnya namun tak membuat Aiden takut akan tatapan itu.


"Apa?" Tanya Aiden menantang.


"Kamu tadi bilang aku apa?"


"Bodoh, bego, tolol." Airen semakin memancarkan aura permusuhan diantara mereka berdua.


"Mau apa kamu? Aku ngomong apa adanya kan kalau kamu memang seperti itu. Kalau gak percaya coba tanya Dion, dia kapan ngasih kamu kepastian? Atau kalau gak jangan-jangan kamu hanya salah satu diantara perempuan yang ada disamping Dion. Bahkan lebih parahnya lagi kamu selingkuhannya." Dion yang mendengar ucapan Aiden hanya bisa menganga tak percaya.


"Sialan. Mulut kau itu Aiden," umpat Dion.


Airen menatap Dion dengan mata berkaca-kaca dan melupakan luapan amarah yang tadi akan ia berikan kepada Aiden.


"Sayang. Kakakmu itu hanya bicara sembarangan. Jangan dengarkan dia," ucap Dion menenangkan.


"Haish orang pacaran memang sangat rumit. Mending aku keluar aja. Selesaikan masalah kalian baik-baik," tutur Aiden sembari pergi dari ruang kerjanya.


"Katakan! Apa yang diucapkan oleh Aiden tadi benar adanya?" Teriak Airen. Dion menghampiri Airen dan memeluk tubuh ramping tersebut sangat erat sampai-sampai pemberontak dari Airen tak menggoyahkan pelukannya.


"Yang dikatakan Aiden tadi hanya omong kosong belaka. Mana ada aku punya kekasih lain dan hanya membuat kamu sebagai selingkuhanku saja. Seberapa bodohnya aku jika melakukan itu semua, hingga melukai hati gadis yang selama ini aku cintai," tutur Dion lembut.


"Benarkah?"


"Tentu."


"Tunggu saja ya. Aku pasti akan menikahimu," ucap Dion.


"Aku harus menunggu sampai kapan lagi?" Tutur Airen kecewa.


"Sampai semua urusan ini selesai,"ucap Dion yakin. Airen mengangguk percaya begitu saja dengan ucapan Dion dan ia kembali memeluk tubuh hangat Dion yang selama 2 tahun ini membuatnya tenang.


"Aku tak ingin melepaskan orang yang aku cintai untuk kedua kalinya dan aku berjanji tak akan pernah mengecewakan kamu sayang. Karena aku dulu sudah pernah mengecewakan seseorang yang berarti bagi hidupku hingga membuat dirinya menjauh dan untungnya dia sudah menemukan orang yang bisa menjaganya dengan tulus bahkan sangat menyayanginya. Dan kesalahanku yang dulu tak akan pernah aku ulangi lagi," batin Dion.


Di sisi lain Aiden tengah menatap tubuh Della yang membelakanginya dengan pandangan mata selalu mengarah kedalam foto yang terbingkai cantik di genggamannya.


"Maafin Mommy sayang maaf," ucap Della samar terdengar oleh Aiden. Aiden menghela nafas kasar.


"Huh mau sampai kapan kamu seperti ini sayang," gerutu Aiden lirih. Aiden melangkahkan kakinya lebih dekat lagi dengan Della hingga ia bisa mendengar isakan tangis dari sang istri membuat Aiden semakin kalut dengan rasa sakit dihatinya.


Aiden memeluk tubuh Della dari belakang membuat Della terperanjat kaget dan segera menghapus air matanya. Ia akan berpura-pura baik-baik saja walaupun sebenarnya didalam hatinya sangatlah hancur.Aiden menempelkan dagunya ke pundak Della.


"Jika mau menangis maka menangislah kalau dengan cara itu hati kamu bisa tenang. Menangislah tak perlu berpura-pura kuat lagi. Aku tau perasaan kamu saat ini," ucap Aiden. Della memutar tubuhnya dan memeluk tubuh tegap Aiden ia kembali menangis dalam dekapan hangat Aiden.


"Siapapun yang menyakiti keluargaku hingga membuat mereka kehilangan sehelai rambut maka akan aku pastikan ia kehilangan seluruh rambut di kepalanya dan saat ini aku sudah kehilangan satu anggota keluarga dan membuat istriku mengeluarkan sangat banyak air mata dan juga darah maka akan aku pastikan ia membayarnya dengan nyawa beserta kehidupannya. Tenanglah sayang sebentar lagi aku akan menemukan pelakunya," batin Aiden geram, ia sudah tak sabar lagi mengetahui dalang di baling semua ini dan menghancurkan orang yang berani mengusik keluarganya. Aiden menundukkan kepalanya hingga tepat di samping telinga Della.


"Sayang kamu mau ada Aila yang baru gak?" Bisik Aiden yang menyapu telinga Della hingga membuat Della merinding seketika.


"Gimana mau gak?" Tanya Aiden. Della hanya bisa berdiam diri saja tak menjawab ucap Aiden yang masih membuat bulu kuduk berdiri.


"Diam berarti mau. Baiklah kita akan buat Aila baru. Let's go sayang," goda Aiden sembari menggendong tubuh Della seperti membawa karung beras di pundaknya. Della memberontak ingin Aiden menurunkan dirinya. Namun bukan Aiden jika ia mendengarkan Della begitu saja. Aiden terus berjalan hingga sampai di kamar mereka berdua.


Aiden merebahkan tubuh Della diatas kasur berukuran king size tersebut.


"Mau apa kamu?" Ucap Della.


"Mau buat Aila baru lah sayang. Biar kamu gak nangis terus kayak tadi," ucap Aiden yang sudah mengunci tubuh Della di bawahnya.


"Tapi..." Ucapan Della terpotong ketika bibir Aiden menerjang bibir Della dan membungkam mulut tersebut. Della memejamkan matanya. Dia sebenarnya tak menolak dengan keinginan Aiden saat ini tapi berbuat hubungan suami istri di sore hari sangatlah rawan jika didengar oleh orang luar walaupun kamar tersebut dilengkapi dengan fasilitas kedap suara tapi itu masih membuat Della was-was apalagi dirumahnya ada Airen dan Dion disana yang sewaktu-waktu mencari mereka berdua. Tapi ya sudahlah sang suami kini sudah dikuasai oleh nafsu dan sebelumnya Aiden juga sudah rela berpuasa beberapa bulan hingga sampai hari ini dia meminta haknya dan mau tak mau Della harus melayani Aiden walaupun pikirannya masih tertuju pada Aila.


Beberapa menit sudah berlalu sejak pergulatan antara suami istri tadi hingga membuat Della terlelap dalam lelahnya. Aiden mengelus pipi Della pelan.


"Semoga pengganti Aila segera ada ya sayang. Aku janji tak akan meninggalkan kamu lagi apapun kondisinya. Aku tak mau kecolongan lagi hingga kejadian yang mengerikan itu terulang untuk kedua kalinya. Dan semoga Allah selalu menguatkan hati kamu. Aku mohon tangisan hari ini adalah tangisanmu untuk yang terakhir kali dan kedepannya hanya ada tangisan bahagia keluar dari mata indah kamu ini. Dan yakinlah kita bisa melewati ujian ini. Love you my queen," ucap Aiden setelah itu ia mengecup pipi Della dan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.