My Bos CEO

My Bos CEO
53


"Sayang bangun udah sampai," ucap Aiden sembari mengelus rambut Della.


Della menggerakkan badannya dan perlahan membuka matanya. Menatap bengong kearah Aiden yang tengah melihat wajah bantal Della.


"Sepertinya nyawamu belum terkumpul sempurna sayang," rayu Aiden sembari mencolek dagu Della. Setelah nyawanya terkumpul sempurna Della menatap sekeliling.


"Bukannya aku tadi tidur di sofa kenapa bangunnya di kamar?" tanya Della linglung. Namun seketika otaknya berfikir negatif, ia menatap tajam wajah Aiden.


"Jangan bilang kamu," ucap Della sembari menunjuk Aiden. Ia segera memeriksakan tubuhnya, masih lengkap dengan pakaian yang tadi ia pakai. Della bernafas lega. Aman, batinnya.


"Tenang sayang, calon suamimu ini masih punya adab dan pikiran yang sedikit bersih untuk tidak menyetubuhimu sebelum waktunya," tutur Aiden yang langsung mendapat geplakan tangan dari Della.


"Ish belum apa-apa lho sayang, udah KDRT aja." Aiden menangkap tangan Della yang akan memukulnya kembali.


"Kalau aku bales gimana, sakit lho di pukul kayak tadi dan lagi buat kemarin yang kamu gigit aku. Nih masih ada bekasnya sampai sekarang bahkan masih membiru," tutur Aiden dramatis sembari membuka jaket denimnya dan mengangkat lengan kaosnya. Aiden memperlihatkan bekas gigitan Della kemarin. Della yang melihat itu pun meringis, seberapa kuatnya ia kemarin menggigit lengan Aiden hingga bekasnya sangat mengerikan seperti itu.


"Masih sakit?" tanya Della tak tega sembari mengelus lengan Aiden.


"Masih dikit kalau di tekan," ucap Aiden tapi setelah ia mengatakan ucapannya tadi Della malah menekan memarnya tersebut.


"Arkh, kan aku tadi udah bilang jangan di tekan." Geram Aiden menyingkirkan tangan Della yang masih menempel di lengannya.


"Cuma memastikan kamu bohong atau tidak," ucap Della tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Aiden memberengutkan wajahnya dan segera pergi dari hadapan Della tanpa berniat untuk menjawab lagi ucapan Della. Ia berjalan keluar lebih dulu dari pesawat meninggalkan Della sendirian.


Dengan gaya coolnya Aiden menuruni satu persatu tangga pesawat tersebut hingga tangga terakhir. Banyak pramugari/pramugara dan juga pilot beserta co-pilot tengah berbaris rapi tak lupa juga beberapa bodyguard di bagian ujung barisan tersebut. Mereka semua menundukkan kepalanya ketika Aiden melewati mereka satu persatu. Sungguh Aiden seperti presiden saja saat ini.


Della yang baru ingin turun mengurungkan niatnya ketika melihat barisan tersebut. Della tak kaget lagi dengan ulah Aiden satu ini yang menurut terlalu lebay. Ia hanya enggan saja melihat orang-orang tertunduk kepadanya, dia bukan siapa-siapa disini dan semua orang tak perlu menundukkan kepalanya untuk dirinya.


Setelah Aiden sudah menjauh dari barisan tersebut dengan bodyguard yang mengintil di belakangnya. Semua barisan tersebut menatap pada dirinya sekarang. Della yang di tatap beberapa orang pun hanya bisa tersenyum canggung dan menggaruk kepalanya yang tak gatal sedikitpun. Dengan ragu Della melangkahkan kakinya hingga sampai di depan barisan tersebut yang masih setia di posisi mereka masing-masing. Della mendengus dan sesekali mencari celah agar ia tak melewati seorangpun dari mereka. Ketika Della menemukan sedikit celah di sebelah kirinya tanpa aba-aba ia segera berlari, melarikan diri meninggalkan orang-orang tadi yang menatap heran kearahnya.


Setelah merasa cukup jauh Della berlari. Akhirnya ia memilih untuk menghentikan larinya dan menuju kesalah satu kursi tunggu yang terdapat di bandara tersebut.


Aiden yang sedari tadi memperhatikan wanitanya dari jauh hanya bisa menggelengkan kepala dan dengan segera ia berjalan menuju Della. Tanpa di suruh terlebih dahulu atau meminta izin kepada Della, Aiden sudah duduk di samping Della tanpa bersuara sedikitpun karena masih sedikit kesal dengan kelakuan Della tadi di dalam kamar pesawat. Della yang sudah mengetahui bahwa orang yang disampingnya Aiden pun hanya berdiam diri.


Aiden berdecak sebal ketika tak ada satu pun diantara mereka berbicara. Sungguh suasana yang tak di harapkan oleh Aiden. Dalam bayangan Aiden, Della akan meminta maaf dengan tingkah manjanya yang menggemaskan namun bayangannya sirna ketika Della malah balik mendiamkan dirinya.


"Ck, orang lagi ngambek bukannya dirayu malah di diemin," sindir Aiden. Della menatap Aiden bertanya-tanya.


"Emang siapa yang ngambek?" tanya Della yang tak peka.


"Ah tau lah," tutur Aiden sembari bergerak menjauhi Della dengan sesekali menghentakkan kakinya.


"Astaga dia calon suami gue bukan sih. Kesambet apa coba tuh manusia, kenapa berubah jadi kek gitu? Dulu aja sok cool lah sekarang malah kek anak piyik," tutur Della heran.


Aiden yang merasa langkahnya tak di ikuti Della, ia membalikan badannya dengan bibir yang cemberut.


"Ikutin lah. Gak peka banget sih jadi calon bini," tutur Aiden merajuk dan segera melanjutkan jalannya keluar dari bandara. Della yang tadinya akan pulang sendiri pakai taksi ia urungkan karena melihat tingkah menggemaskan Aiden. Della dengan senyum mengembang berlari kecil menyusul Aiden.


"Tungguin dong," teriak Della yang diabadikan Aiden. Della terus berusaha meraih lengan Aiden hingga hap, lengan Aiden dapat ia raih.


Aiden melirik sekilas Della yang tengah melingkarkan tangannya ke lengannya.


"Lepasin," tutur Aiden yang tak menghentikan langkahnya.


"Gak mau," ujar Della yang semakin mengeratkan tangannya.


"Lepasin Della."


"Gak mau Pak Aiden." Aiden yang mendengar kata Pak keluar dari mulut Della pun menambahkan manyun di bibirnya hingga beberapa senti kedepan. Sedangkan Della ia sudah cekikikan.


"Pak Aiden," panggil Della yang masih saja di cuekin oleh Aiden.


"Pak Aiden William Abhivandya," panggil Della lagi. Namun sama saja Aiden tak menyauti panggilannya tadi. Della menghentikan langkahnya dan melepas tangannya dari lengan Aiden. Sedangkan Aiden ia tak menghiraukan Della dan terus berjalan.


Della menghela nafas panjang.


"Jadi begini kalau seorang Aiden William Abhivandya sang pemilik AWA grup sekaligus calon suami kalau lagi ngambek. Gemesin sih tapi sekaligus nyebelin," batin Della.


Della kembali mengambil nafas dalam hingga, "Sayang udah dong ngambeknya. Masa mau jadi suaminya Fredella Genoveva tukang ngambek sih," teriak Della yang berhasil menghentikan langkah Aiden.


Aiden diam mematung di tempatnya, apakah pendengarannya tadi tak salah menangkap suara Della yang memanggilnya dengan sebutan sayang. Jika benar Aiden akan teramat senang mendengarnya. Ia terus menyaring teriakan Della tadi hingga teriakan kedua berhasil merubah bibir manyunnya dengan senyuman manis tanpa sepengetahuan Della.


"Sayang," teriakan Della lagi. Aiden pun memundurkan langkahnya tanpa membalikan tubuhnya. Hingga ia berada di samping tubuh Della. Namun ketika ia sudah sampai di samping Della ekspresi wajahnya ia buat seperti tadi saat ia masih cemberut.


Della memajukan langkahnya kedepan tubuh Aiden dan menghadap ke wajah sang calon suami.


Della menangkup kedua pipi Aiden dengan kedua tangannya gemas.


"Udah ya ngambeknya," rayu Della sembari mengunyel-unyel pipi Aiden.


"Gak," ucap Aiden singkat.


"Ck, jelek tau kalau manyun gitu."


"Bodo amat," tutur Aiden acuh.


Della menghela nafasnya sembari melepaskan tangannya dari pipi Aiden dan dengan seketika kepalanya ia benturkan ke dada bidang Aiden. Della menundukkan kepalanya yang masih menempel di dada Aiden tadi.


"Terus gimana caranya biar kamu gak ngambek lagi sama aku," ucap Della pasrah yang berhasil membuat Aiden tersenyum kembali.


Aiden dengan segera meraih tubuh Della dan membawanya dalam pelukan hangat Aiden. Della yang mendapatkan pelukan pun membalasnya.


"Panggil aku dengan sebutan sayang sampai kapan pun, baru aku bisa maafin kamu," tutur Aiden. Della mendangakan kepalanya menatap wajah Aiden yang lumayan jauh diatasnya.


"Kalau aku gak mau?" tanya Della menggoda.


"Ya udah." Aiden melepaskan pelukannya dan kembali berjalan. Della tersenyum dan segera berlari mengejar Aiden hingga ia berhasil memeluk Aiden dari belakang.


"Maafin aku ya calon suamiku sayang," ucap Della.


"Mulai sekarang aku panggil kamu sayang deh sesuai permintaanmu tadi," sambung Della sembari mengeratkan pelukannya. Aiden tersenyum puas dengan ucapan Della. ia pun segera meraih tubuh Della yang masih memeluk punggungnya. Kemudian ia memutar tubuh Della hingga sang empu berhasil di samping dirinya dengan tangan yang masih setia melingkar di badan Aiden.


Aiden tersenyum kearah Della dan membalas pelukan Della dari samping dengan satu tangannya.


"Nah gitu dong dari tadi," ucap Aiden sembari menoel hidung mancung Della.


Mereka terus berjalan dan sesekali bercanda gurau hingga mereka sampai di mobil aiden yang sudah menunggu mereka sedari tadi.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


HAPPY READING GUYS 😘


Gimana dengan eps hari ini, author harap kalian suka 😁


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlas 🀭 berikan sedikit dukungan kalian hanya dengan meninggalkan jejak kalian di cerita ini😚


Peluk cium dari author absurd πŸ€—πŸ˜˜ See you next eps bye πŸ‘‹