My Bos CEO

My Bos CEO
110


Setibanya mereka berdua sampai dirumah tak disangka-sangka ternyata para art pekerja rumah tersebut telah menyiapkan kejutan buat kedatangan Della kembali. Della sempat terharu dan memeluk satu persatu artnya.


"Terimakasih banyak atas surprise yang kalian buat ini dan terimakasih berkat doa kalian saya masih bisa memasuki rumah ini," tutur Della yang sudah kembali disamping Aiden.


"Kami sangat senang nyonya muda sudah kembali dengan keadaan yang jauh lebih baik lagi dan kami harap kedepannya tak ada pengganggu di sekitar Nyonya dan Tuan," ucap bik Fitri selaku pengatur para art yang Della percayai.


"Sekali lagi kita berdua ucapkan terimakasih tapi untuk sekarang nyonya harus banyak istirahat jadi kita berdua pamit keatas," tutur Aiden dan dengan seketika para art yang menghalangi jalan mereka berdua pun membuka barisan dan memberikan jalan untuk Della dan Aiden sembari menundukkan badan mereka 90°.


Aiden dan Della terus menaiki tangga dan akhirnya sampai di kamar mereka berdua. Della segera merebahkan kasur yang selalu ia rindukan akhir-akhir ini. Ia memejamkan matanya sebentar untuk mengurangi rasa kantuknya yang sudah mulai menyerang. Namun baru saja ia menutup mata, tangan kekar Aiden sudah melingkar indah di perut Della dan kepalanya sudah mencari posisi yang nyaman di samping leher Della sehingga hembusan nafas Aiden mampu Della rasakan.


"Sayang," ucap Aiden. Della dengan ragu membuka matanya.


"Kenapa?" Tanya Della. Della sudah merasa tak aman sekarang.


"Kita buat adiknya Aila yuk," tutur Aiden lebih tepatnya meminta.


"Sayang. Ini siang hari lho mana ada orang bereproduksi di siang bolong kayak gini. Biasanya tuh kalau siang-siang begini enaknya buat ngadem makan es krim atau es campur bukannya malah bikin suasana tambah panas lagi," ucap Della. Aiden menjauhkan kepalanya sehingga ia mampu menatap wajah Della dari samping.


"Ya kan habis menambah suhu panas, nanti setelahnya kita beli es krim atau yang lainnya buat pendingin," tutur Aiden tak menyerah. Della menggelengkan kepalanya tanda tak setuju.


"Ayolah sayang," mohon Aiden namun tak menggoyahkan hati Della. Yang benar saja dia baru saja sembuh dan sekarang dihari yang panas ini Aiden menginginkannya yang sudah dipastikan akan membuat tubuhnya kembali terasa pegal nantinya.


"Sayang kamu tau gak kata ulama-ulama kalau keinginan suami tak dikabulkan oleh sang istri, maka istrinya akan berdosa," tutur Aiden tak habis dengan berbagai cara dan akhirnya Della mengiyakan apa yang Aiden inginkan dan pada siang bolong yang niatnya ingin dibuat istirahat malah menjadi siang yang berkali-kali lipat panasnya.


...********...


Kini Della tengah terlelap dalam tidurnya setelah pergulatan beberapa jam dengan Aiden yang membuat tenaganya habis terkuras. Sungguh betapa kuatnya Aiden saat ini membuat Della kewalahan.


Aiden tersenyum puas akhirnya dia berbuka puasa juga setelah beberapa hari harus menahan nafsunya. Aiden mengelus pipi Della dan menciumi pipi tersebut dengan gemas.


"Andaikan kamu sudah sembuh total hari ini dan akan aku pastikan saat ini kita masih bergulat beberapa menit lagi," ucap Aiden sembari memainkan rambut Della.


Setelah puas dengan ocehan tak bermutunya Aiden memutuskan untuk ikut tidur disamping Della dengan memeluk tubuh sang istri sangat erat dan rencana mereka untuk membeli makanan pendingin setelah melakukan hal tadi mereka berdua urungkan hingga sore hari pun tiba.


Della mengerjabkan matanya. Ia melirik jam yang menempel pada dinding kamar tersebut dan bertapa kagetnya dia kala melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore membuat Della langsung menyingkirkan tangan Aiden dan alhasil Aiden juga ikut terbangun.


"Aish. Udah sering ngelakuin tapi kok hari ini sakit sih," gerutu Della.


"Ini udah sore sayang bahkan mau Maghrib dan kita gak makan dari siang, gak sholat ashar, terlebih lagi kita belum mandi," tutur Della. Aiden mendudukkan tubuhnya dan segera mendekati Della dan tanpa pikir panjang Aiden membopong tubuh sang istri masuk kedalam kamar mandi.


"Mau ngapain?" Tanya Della.


"Main gundu. Ya mandilah sayang mau apa lagi kalau gak mandi," jawab Aiden.


"Tapi kenapa kamu juga ikut masuk? Keluar dulu sana ih," usir Della.


"Gak mau. Kita mandi berdua biar menghemat waktu. Jangan protes," ucap Aiden dan langsung menyusul Della yang sudah lebih dulu di dalam bathtub.


Dan bukannya bergegas mandi Aiden malah menjahili Della hingga proses bercocok tanam kembali terjadi yang membuat Della pasrah tanpa melawan. Hampir dua jam mereka di dalam kamar mandi dan baru juga keluar dari sana.


"Bisa jalan?" Tanya Aiden yang mendapat tatapan tajam dari Della.


"Hehehe ya maaf sayang kan kelepasan. Ya udah sini aku gendong," ucap Aiden.


"Kelepasan sama nafsu tinggi tuh beda tipis memang," gerutu Della.


Aiden tak menjawab ucapan sang istri ia lebih memilih untuk menggendong tubuh Della dan mendudukkan di atas kasur.


"Aku kebawah dulu ambil makan malam buat kita," tutur Aiden dan segera pergi dari kamarnya menuju lantai bawah dan tak sengaja di saat dia tengah berjalan menuju dapur ia tak sengaja menangkap basah melihat bik Fitri dan mang Ujang tengah bermesraan di dapur.


Aiden dengan mengendap-endap mengintip mereka berdua hingga kedua kepala mereka saling beradu yang membuat Aiden harus segera menghentikannya.


"Ehem. Maghrib-maghrib itu biasanya banyak setan berkeliaran. Hati-hati kalau berduaan yang ketiganya adalah setan dan jika mau melakukan yang lebih lagi maka harusnya seorang laki-laki memberi kepastian ceweknya jangan cuma di kasih harapan terus ujung-ujungnya habis manis sepah dibuang, dicampakkan dan ditinggalkan." Ucap Aiden lantang yang membuat mereka berdua yang tertangkap basah pun dengan refleks langsung menjauh satu sama lain yang membuat Aiden menahan tawanya.


"Tu..tuan," ucap mereka berdua tiba-tiba gagu.


"Sudah tak apa. Tapi mang Ujang sebaiknya disahkan dulu kalau mau yang lebih biar tak ada dosa diantara kalian berdua bahkan saya yang punya rumah ini nantinya tak akan kena imbasnya dari hal yang tak diinginkan," ujar Aiden sembari berjalan meninggalkan mereka berdua dan mengambil piring untuk menaruh makan malamnya dan Della.


Setelah kepergian dari Aiden. Mang Ujang terlihat gusar begitu juga dengan baik Fitri yang merasa tak enak hati.


"Kita harus ambil cuti buat kita pulang kampung dan membicarakan pernikahan kita," ucap mang Ujang.


"Karena yang di omongin tuan tadi ada benarnya juga. Umur kita juga sudah tak muda lagi dan berpacaran untuk kita itu sebenarnya tak pantas," sambung mang Ujang dan diangguki setuju oleh bik Fitri dengan senyum malu-malunya.