
Aiden menarik satu kursi untuk Della dan mempersilahkan tubuh Della untuk menempatinya.
"Duduk disini sebentar. Jangan kemana-mana," tutur Aiden setelah itu ia berjalan kembali ke lantai satu.
Tak berselang lama Aiden telah sampai dihadapan Della dengan membawa buket bunga mawar yang tengah dirangkai dengan indah.
"Happy Anniversary sayang," seru Aiden. Della tak bisa lagi membendung air mata bahagianya. Ia langsung memeluk tubuh Aiden yang berada di depannya dengan sangat erat.
"Terimakasih," ucap Della. Ia tak bisa berkata-kata lagi selain berterimakasih dengan segala kejutan yang Aiden siapkan untuknya.
Aiden melepaskan pelukan Della dan menangkup kedua pipi sang istri.
"Kenapa malah nangis hmm?" Tanya Aiden sembari menghapus air mata yang masih mengalir di pipi Della.
"Ini namanya tangisan bahagia sayang. Ah kamu mah," tutur Della sesegukan.
Aiden tersenyum dan mencium kening Della.
"Kirain nangis karena gak suka sama ini semua," ucap Aiden.
"Aku suka banget kok. Terimakasih sayang atas semua yang kamu korbankan untukku, yang senantiasa selalu ada di sampingku dan tanpa punya niatan untuk meninggalkan istrimu yang selalu manja ini," tutur Della sembari bergelayut manja kepada Aiden.
"Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai suamimu sayang," ucap Aiden gemas.
"Owh ya satu lagi," sambung Aiden. Della mengernyitkan keningnya. Setelah itu Aiden nampak sedang merogoh barang yang ia simpan di saku celananya dan saat Aiden telah menemukan barang tersebut dengan tiba-tiba Aiden berjongkok ala-ala dulu saat ia melamar Della dengan cincin yang ada di tangannya.
"Tetaplah menjadi milikku, wanitaku, istriku dan Mommy dari anak-anakku kelak. Jangan pernah berniat untuk meninggalkanku, tetaplah disampingku dalam keadaan apapun. Saling menguatkan dan saling mengingatkan. I always love you," tutur Aiden dan kembali membuat Della berkaca-kaca.
Aiden meraih tangan Della dan menyematkan cincin di jari manis sebelah kanan Della karena sebelah kiri sudah diisi oleh cincin nikah mereka dan pantang untuk mereka berdua cincin itu terlepas dari tangan mereka. Setelah cincin itu terpasang dengan cantik di jari lentik Della, Aiden langsung mencium tangan sang istri dan kembali berdiri.
"Kenapa kamu tiba-tiba sweet gini sih. Aku kan jadinya terharu," ucap Della.
"Biasanya juga sweet sayang tapi sweet aku kalau dihari-hari biasa gak terlalu menonjol," tutur Aiden sembari membawa tubuh Della untuk duduk kembali ke kursi mereka.
"Cincin itu jangan sampai lepas dari jari kamu ya sayang," tutur Aiden.
"Kok gitu?" Tanya Della penasaran.
"Itu cincin aku kasih pengaman buat kamu," jawab Aiden dan diangguki mengerti oleh Della.
Cincin tersebut sebenarnya hanya cincin berlian biasa tapi Aiden sudah menempelkan kamera pengintai dan pengawasan untuk melacak keberadaan Della jika sewaktu-waktu ada seseorang yang mau mencelakai Della lagi.
"Mau makan apa?" Tanya Aiden.
"Lah kamu belum pesan sekalian sayang?" Aiden menggelengkan kepalanya.
"Apa aja deh yang enak," tutur Della. Aiden pun segera memanggil pelayan dan memesan dua porsi steak dan minuman untuk mereka berdua.
Tak berselang lama pesanan mereka telah sampai dan siap untuk mereka lahap. Namun baru saja satu potong daging masuk ke mulut Aiden, ia merasakan tak enak pada perutnya yang tiba-tiba ingin memuntahkan steak tersebut. Della yang melihat gelagat aneh dari Aiden pun mulai khawatir.
"Kenapa sayang?" Tanya Della. Aiden hanya menggeleng untuk menjawab ucapan Della. Aiden menahan dirinya untuk tidak memuntahkan makanan tadi dan akhirnya makanan tersebut masuk kedalam perut Aiden. Tapi hanya hitungan detik rasa mual kembali muncul dan mengharuskan Aiden untuk bergegas ke toilet.
"Sayang!" Teriak Della sembari mengetuk pintu kamar mandi tersebut.
"Kamu kenapa? Bukain pintunya," ucap Della khawatir.
Aiden yang sudah merasa lega akhirnya membuka pintu tersebut.
"Sayang ngapain kamu gangguin orang yang ada di dalam?" Tanya Aiden heran ketika Della terus berteriak dan mengetuk pintu yang ternyata bukan bilik toilet yang Aiden masuki tadi melainkan orang lain. Dan Aiden berada di bilik toilet disebelah Della teriaki tadi.
Della menghentikan teriakannya dan menoleh kearah samping kirinya yang terdapat Aiden tengah menatapnya dengan tatapan heran.
"Lho kok kamu disini sayang?" Aiden mengedikan bahunya.
"Kalau kamu disini terus yang di dalam siapa dong?" Tanya Della kembali dan dijawab gelengan kepala oleh Aiden.
Della masih mematung di depan pintu tersebut dan tak lama orang yang ada didalam pun keluar.
"Ada apa sayang teriak-teriak dari tadi?" Tanya orang yang tak dikenal kearah Della dengan ekspresi tengil. Aiden yang mendengar Della dipanggil dengan sebutan sayang pun sudah mulai mengibarkan bendera perang. Della dengan tubuh merinding pun langsung berlari kebelakang tubuh Aiden untuk berlindung dari pria tadi.
"Coba katakan lagi? Kamu tadi panggil istri saya dengan sebutan apa?" Tutur Aiden garang dan tanpa ekspresi sama sekali. Aiden mendekati pria tersebut dan siap menerkam kapanpun, namun sang pria tadi hanya tersenyum meringis dan kabur begitu saja meninggalkan toilet tersebut.
Aiden memutar tubuhnya dan sekarang tengah menatap Della yang menundukkan kepalanya.
"Lain kali pastiin dulu benar apa enggak yang didalam tuh aku atau orang lain jangan kayak tadi," ujar Aiden. Della menegakan kepalanya dan mengangguk dengan mantap.
"Ya udah kita keluar dulu. Disini gak baik buat kamu karena ini toilet khusus laki-laki." Aiden menggandeng tangan Della keluar dari toilet tersebut menuju mejanya kembali.
Setelah duduk kembali dan ingin menyelesaikan makan malam mereka. Aiden lagi-lagi merasa mual.
"Sayang, kita pulang aja yuk kayaknya kamu sakit deh," ucap Della tak tega dan dengan paksaan Della, Aiden akhirnya menuruti sang istri untuk kembali pulang kerumah dengan Della yang menyetir mobil karena badan Aiden sudah lemas.
"Sayang bisa jalan kan?" Tanya Della setelah mereka tiba di rumah.
"Bisa sayang cuma lemas dikit aja tadi sekarang udah enggak," jawab Aiden.
Aiden keluar dari mobil tersebut dan karena tak tega akhirnya Della memapah tubuh Aiden masuk kedalam hingga sampai di kamar mereka. Dengan hati-hati Della merebahkan tubuh Aiden dan melepas jaket serta sepatu yang Aiden kenakan tadi.
"Aku telepon dokter Putra dulu buat kesini," ucap Della ke Aiden sembari menghubungi dokter pribadi yang selalu membantu keluarga kecil Aiden jika tengah sakit seperti saat ini.
Butuh waktu 30 menit akhirnya dokter Putra telah sampai di rumah mereka dan segera memeriksakan keadaan Aiden.
"Keadaan tuan baik-baik saja. Tak ada yang aneh. Tuan juga tak mempunyai riwayat penyakit lambung," ucap dokter Putra.
"Terus kenapa suami saya bisa muntah-muntah ya dok?" Tanya Della.
"Mungkin tuan hanya kecapekan saja. Nanti saya akan beri obat penghilang rasa mual," ucap dokter Putra sembari membereskan peralatannya dan setelah itu ia memberikan beberapa biji obat ke Della.
"Saya pamit permisi dulu nyonya, Selamat malam," pamit dokter Putra.
"Terimakasih Dok. Selamat malam," jawab Della.