My Bos CEO

My Bos CEO
129


Setelah acara makan siang mereka, Aiden dan Della berencana untuk mengantarkan Adam pulang kerumahnya.


"Kak ini makanannya masih sisa banyak. Apa boleh Adam bawa pulang?" Tanya Adam.


Memang benar makanan yang Aiden pesan tadi cukup banyak buat porsi Adam seorang bahkan Adam pun hanya mencicipi sedikit-sedikit perporsi makanannya.


"Mubasir kalau dibuang," sambungnya. Aiden dan Della saling menatap, setelah itu mereka menganggukkan kepalanya.


Aiden dengan cepat memanggil salah satu pelayan disana untuk menyampaikan keinginan Adam tadi untuk membawa pulang sisa lauk pauk di depannya. Namun bukan Aiden namanya jika ia tak menambah beberapa menu baru untuk Adam.


Setelah ucapan Aiden dimengerti oleh pelayan restoran tersebut. Akhirnya tak berselang lama beberapa teman pelayan datang dan mengambil satu persatu hingga tak ada piring di meja yang mereka bertiga tempati.


Hanya butuh beberapa menit semua pesanan Aiden sudah selesai dikerjakan.


"Kalian berdua tunggu dimobil aja," ujar Aiden dan diangguki oleh Della.


"Ayo Adam kita ke mobil sekarang," tutur Della sembari menggandeng tangan Adam meninggalkan Aiden yang sedang melakukan pembayaran di kasir.


*****


Della dan Adam saat ini sudah berada didalam mobil. Tak berselang lama Aiden pun akhirnya menampakkan dirinya dengan menenteng plastik besar ditangannya.


Saat Aiden telah sampai di depan mobil. Ia dengan segera menaruh plastik berisi makanan tersebut ke bagasi mobil dan setelah itu ia baru menuju kursi kemudi.


"Ini beneran pulang ke rumah kamu Dan?" Tanya Aiden memastikan.


"Iya Kak. Adam udah gak sabar ngasih makanan yang masih banyak tadi ke adik sepupuku. Biar dia juga merasakan apa yang aku makan tadi," tutur Adam yang lagi-lagi membuat mata Della berkaca-kaca.


"Ya sudah kalau begitu kita langsung pulang ke rumah kamu. Tapi nanti Adam yang nunjukin jalan ya," ucap Aiden.


"Siap Kak," ujar Adam sembari memperagakan posisi hormat kepada Aiden.


Aiden dan Della pun tersenyum. Setelah itu baru Aiden menjalankan mobilnya menelusuri jalan yang Adam arahkan hingga butuh waktu sekitar 1 jam mereka baru sampai dikediaman bibi Adam. Rumah yang bisa dibilang cukup mewah dengan halaman yang luas namun Aiden heran kenapa hanya untuk menghidupi seorang anak yatim-piatu saja banyak perhitungannya.


"Ini beneran rumah Adam?" Tanya Della memastikan.


"Bukan rumah Adam Kak tapi rumah bibi sama paman," jawab Adam.


Adam segera melepas seat beltnya dan segera turun dari mobil begitu juga dengan Aiden dan Della yang juga ikut turun.


Aiden membuka bagasi mobilnya dan mengeluarkan makanan tadi.


"Kamu bisa bawanya?" Tanya Aiden.


"Bisa kok Kak kan Adam kuat." Aiden tersenyum dan memberikan makanan tersebut ketangan Adam.


"Terimakasih ya Kak udah buat hari Adam bahagia banget," tutur Adam sembari mencium tangan Della dan Aiden bergantian.


"Sama-sama. Kakak juga mau terimakasih sama Adam karena Adam udah buat Kakak untuk terus bersyukur dengan keadaan Kakak saat ini," ucap Della dan diangguki setuju oleh Aiden.


"Sekali lagi terimakasih ya Kak. Adam masuk dulu. Kakak kalau pulang hati-hati," tutur Adam sembari melambaikan tangannya dan perlahan langkah kecil tersebut memasuki area halaman rumah mewah sang bibi.


"Sudah jangan nangis lagi sayang. Kita harusnya banyak-banyak bersyukur dengan keadaan kita dulu sewaktu kecil yang bernasib tak sama dengan yang Adam jalani sekarang," ucap Aiden menenangkan.


Aiden melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Della sembari menghapus air matanya. Setelah itu Aiden memajukan wajahnya dan mengecup kedua mata Della.


"Udah ya nangisnya. Kita pulang sekarang oke. Adam juga udah masuk kedalam dengan selamat dan kamu harusnya jam segini tuh istirahat," tutur Aiden sembari menjepit hidung Della dengan menggunakan jarinya.


"Ish sakit," gerutu Della sembari menyusul Aiden yang sudah membuka pintu mobil untuknya.


"Silahkan my queen yang selalu bikin gemas," tutur Aiden. Della pun tersenyum dan dengan hati-hati ia mendudukkan tubuhnya di kursi samping kemudi.


"Gemes." Aiden mencubit kedua pipi Della hingga memerah dan setelah itu ia baru masuk di kursi kemudi.


"Pipi aku nanti nambah chubby sayang ih," protes Della.


"Pipi chubby tuh enak kalau dicium sayang. Dan kamu jangan sampai diet awas aja kalau habis lahiran kamu diet ketat," ancam Aiden.


"Biarin lah kan ini badan aku," tutur Della tak terima yang membuat Aiden berdecak sebal.


"Badan kamu tuh sama aja punya ku. Pokoknya jangan diet-diet segala titik gak pakai koma, tanda seru dan tanda tanya." Della mengerucutkan bibirnya. Setelah perdebatan tentang diet, Aiden mulai menjalankan mobilnya kembali membelah jalanan yang nampak mulai ramai dengan kendaraan yang mungkin sebentar lagi akan terjadi kemacetan jalan.


Butuh waktu 1 jam buat Aiden dan Della sampai dikediaman mereka berdua.


"Akhirnya sampai," ucap Della.


"Silahkan my queen," tutur Aiden yang sudah membukakan pintu untuk Della.


Della tersenyum dan segera keluar dari mobil Aiden. Baru juga mereka melangkahkan kakinya beberapa langkah kedepan. Suara nyaring dari Tania menghentikan mereka.


"Della!" Teriak Tania sembari berlari menghampiri sahabat lamanya yang baru hari ini mereka bertemu kembali setelah Della disiksa oleh wanita kejam dulu.


"Astaga Tania," ucap Della senang dan merentangkan kedua tangannya siap untuk menerima pelukan dari Tania.


"Aaaaa rindu," tutur Tania saat mendarat di pelukan Della.


"Sama. Kamu sih gak pernah main kesini," ucap Della sembari melepaskan pelukannya.


"Ya namanya jadi ibu rumah tangga sekarang. Jadinya mau kemana-mana mikir dulu." Della menganggukkan kepalanya paham.


"Ya udah deh aku maafin. Oh ya si Farel mana?" Tanya Della sembari menengok sekitar.


"Masih dimobil sama Papanya. Anaknya pemalu tapi kalau dirumah nyebelin," ucap Tania.


"Nyebelin juga itu anak kamu," timpal Reiki yang sedang menggendong Farel dan menghampiri mereka.


"Iya bener itu anak aku. Tapi nyebelin nurun dari kamu." Della tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Ternyata temannya juga sering berdebat hal-hal kecil seperti dirinya dan Aiden kalau dirumah.


"Sudah-sudah nanti lagi berantemnya. Masuk dulu yuk," tutur Della dan mereka pun melangkah kakinya memasuki rumah megah pasangan sultan tersebut.


Dan seperti biasa Tania langsung ngacir kearah dapur membuatkan minuman untuk mereka semua karena ia tak mau menyusahkan Della yang sedang hamil besar walaupun ia tau art dirumah ini banyak tapi lebih baik jika dia bisa melakukannya sendiri kenapa harus merepotkan orang lain. Art juga manusia yang ada masanya untuk istirahat dan ia yakin mengerjakan pekerjaan sebagai art dirumah yang super luas dan megah itu harus perlu tenaga yang super banyak dan kehati-hatian yang cukup besar.