My Bos CEO

My Bos CEO
86


Della tak memikirkan lagi dimana sekertaris Aiden sekarang, ia hanya butuh penjelasan Aiden mengenai perempuan yang keluar dengan pakaian compang camping tadi.


Della mengambil nafas panjang untuk menentralkan detak jantungnya yang mulai tak tenang. Setelah merasa sedikit tenang Della pun membuka pintu ruangan Aiden dan betapa terkejutnya dirinya ketika melihat ruangan tersebut banyak barang yang sudah porak poranda, hancur menjadi kepingan.


Della segera melangkahkan dirinya lebih dalam lagi, namun ketika ia ingin menaruh rujak yang masih ia bawa tadi tiba-tiba tubuhnya di peluk oleh seseorang dari belakang. Della terperanjat kaget namun ketika ia melihat tangan yang tak asing baginya pun merasa lega.


Della melepaskan tangan Aiden dan membalikkan badannya untuk melihat wajah Aiden yang nampak memerah. Dipegangnya wajah tampan itu sembari mengelus pipinya.


"Ada apa?" Tanya Della lembut walaupun nantinya ia akan mendengarkan cerita Aiden yang memungkinkan hatinya sakit.


Aiden merangkul tubuh Della sangat erat.


"Kamu pasti udah lihat kan tadi ada perempuan yang keluar dari ruangan ini dengan baju yang tak rapi lagi," tutur Aiden dan diangguki oleh Della.


"Dia tadi niat untuk menjebak aku," ucap Aiden.


"Jebak? Maksudnya?" Tanya Della tak mengerti.


"Kamu lihat pecahan gelas itu." Aiden menunjuk gelas yang sudah menjadi tiga tersebut ke Della.


"Kamu tau apa yang ia taruh di dalamnya?" Della menggelengkan kepalanya.


"Obat perangsang," tutur Aiden yang membuat Della terbelalak kaget.


"Terus?" Tanya Della tambah tak sabar. Apakah sang suaminya sudah meminum obat tersebut dan melakukan hal yang Della tak inginkan kepada perempuan tadi. Namun ketika ia berfikir yang negatif, Aiden menyentil pelan kening Della.


"Jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Aku gak minum minuman yang dia berikan hanya berpura-pura untuk meminumnya dan melihat aksi apa yang akan ia lakukan dan taunya ia malah mau telanjang di depanku seperti yang kamu lihat tadi," ujar Aiden.


"Kamu pasti bertanya-tanya siapa perempuan tadi. Dia sekertaris baru yang gantiin kamu beberapa bulan ini. Dari awal aku udah curiga dengan dia dan entahlah aku berinisiatif untuk menyuruh salah satu anak buahku buat ngawasin apapun yang ia lakukan sampai hari ini. Ia dengan berani ingin menodai bosnya sendiri, untungnya anak buahku cekatan dan langsung memberitahu kalau dia berniat untuk menjebakku tadi," sambung Aiden menjelaskan.


"Kalau kamu gak percaya kita lihat cctv diruangan ini," ucap Aiden dan menuntun Della duduk di kursi kebesarannya. Aiden pun dengan cekatan memutar ulang rekaman cctv yang memperlihatkan sekertarisnya dari membuat kopi untuk Aiden, menaruh obat tadi hingga aksi yang ia lakukan di depan suaminya dan bagaimana ganasnya Aiden mengamuk kepada perempuan tadi.


Della bernafas lega sekarang. Ia sangat bersyukur ternyata suaminya itu tak mudah untuk di bohongi dan masih sadar dengan sosok Della yang berstatus sebagai istrinya.


Setelah memutar rekaman tadi Aiden memeluk kembali tubuh Della dan menciumi leher Della agresif.


"Kita bercocok tanam yok sayang," ucap Aiden tepat di telinga Della dengan nada menggoda. Dan tanpa persetujuan dari Della, Aiden pun membopong tubuh Della menuju ruangan rahasianya untuk melakukan bercocok tanam bersama.


*****


Aiden tersenyum ketika melihat Della terlelap dalam lelahnya. Ia pun segera membersihkan diri dan kembali memakai pakaian formal yang sudah ia ganti dengan yang lain karena pakaian yang ia pakai tadi sudah kusut karena ulah agresifnya tadi.


Aiden menyelimuti tubuh polos Della dan mengecup setiap inci wajah Della.


"Terimakasih sayang. Suamimu ini akan tetap disampingmu dan gak ada niatan untuk berpaling sedikitpun dari wanita lain walaupun nantinya ada yang menjebakku tapi aku pastikan untuk selalu mengingat dirimu yang menjadikan tameng di diriku sendiri," ucap Aiden sembari mengelus rambut Della.


Aiden melirik dua bungkus rujak yang berada di atas meja kerjanya. Ia pun segera mengambilnya dan melahap rujak tersebut tanpa sisa sedikitpun.


Tak berselang lama diruangan yang Della tempati tadi. Ia menggeliatkan tubuhnya dan menatap sekelilingnya yang nampak berbeda dari kamar yang biasa ia tempati. Setelah mengingat kembali apa yang ia lakukan tadi sebelum tidur, akhirnya Della tersadar dan segera membersihkan diri dan memakai kembali baju yang tadi ia pakai.


Della pun segera keluar dari ruangan tersebut dan mendekati Aiden. Aiden yang nampak sibuk mengalihkan pandangannya sesaat kearah Della.


"Udah bangun sayang," ucap Aiden sembari meneruskan pekerjaannya.


Della mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa disana dan diikuti oleh Aiden yang sudah menghentikan aktivitasnya dan memilih untuk menemani Della.


"Mau makan apa?" Tanya Aiden karena sekarang sudah melewati jam makan siang.


"Apa aja yang penting enak," ucap Della dan Aiden pun segera memanggil dan menugaskan untuk membeli satu porsi makanan kepada anak buahnya melalui sambungan telepon. Setelah memastikan anak buahnya bersedia Aiden pun mematikan sambungan telepon tersebut.


"Oh ya, rujakku mana. Aku tadi kan beli dua. Satu buat kamu dan satunya buat aku," ucap Della. Aiden yang baru menyadari kalau rujak tersebut ternyata buat mereka berdua pun hanya bisa nyengir kuda.


"Maaf sayang. Rujaknya udah habis aku makan," ucap Aiden.


"Kenapa kamu makan semua sih? Kan aku juga mau," tutur Della yang sudah berkaca-kaca. Aiden yang melihat air mata Della ingin jatuh pun segera memeluk tubuh Della.


"Kan aku gak tau kalau itu buat kita berdua. Maaf, nanti kita beli lagi ya," ucap Aiden memenangkan.


"Gak mau. Udah gak selera," tutur Della sembari melepas pelukan Aiden dan menghapus air matanya.


"Kenapa gue malah melow kayak gini sih. Gak kayak biasanya atau jangan-jangan karena efek baby kali ya," batin Della yang merasa aneh dengan dirinya. Mood yang kadang naik turun dan merasa sakit hati ketika Aiden memakan rujaknya daripada melihat perempuan yang menjebak Aiden tadi. Sungguh aneh sekali.


"Terus kamu mau apa? katakan, sebisa mungkin akan aku turutin untuk menebus kesalahanku tadi?" Della tampak berfikir.


"Hmmm. Bakso enak kali ya," ucap Della. Aiden pun tersenyum.


"Ya udah tunggu sebentar aku telpon anak buahku lagi buat beliin bakso," ucap Aiden. Namun ketika Aiden sudah mengeluarkan ponselnya tangan Della mengehentikannya.


"Kamu langsung yang beliin," ucap Della.


"Tapikan aku masih ada kerjaan sayang. Rasanya juga akan sama walaupun yang beli beda," ucap Aiden.


"Gak mau. Pokoknya harus kamu," rengek Della. Aiden menghembuskan nafas.


"Ya sudah. Kamu tunggu disini jangan kemana-mana. Aku keluar dulu bentar." Aiden meraih kunci mobilnya yang ia taruh di atas meja kerjanya dan segera keluar dari ruangannya untuk mencari makanan yang Della mau.


Della yang melihat Aiden menghilang dari balik pintu pun tersenyum girang.


"Ternyata Daddymu pengertian juga. Gak terlalu manja sama Mommy," ucap Della sembari mengelus perut ratanya.