
Della terus berlari hingga ia sampai di lantai bawah. Della bergegas untuk kedapur berencana untuk memasak seperti biasanya.
Sesampainya di dapur Della sudah menemukan Mama Yoona yang tengah memotong buah-buahan.
"Pagi Ma," sapa Della.
"Pagi juga sayang," balas Mama Yoona tak lupa dengan senyum manisnya.
"Ma, Della izin buat gunain dapur Mama untuk masak ya," tutur Della.
"Kamu mau masak nak? Boleh aja kalau kamu mau sih, sekalian Mama juga mau nyobain masakan anak Mama ini." Mama Yoona mendekati Della yang berdiri tak jauh darinya.
"Tapi Mama ikut masak ya," sambung Mama Yoona.
"Gak usah Ma. Mama duduk aja ya nanti capek. Della sama para maid aja," ucap Della.
"Kalian ngerjain yang lain aja ya. Urusan dapur biar saya yang hendel," ucap Mama Yoona ramah.
"Tapi nyonya," tutur salah satu maid tersebut.
"Gak ada tapi-tapian."
"Baik nyonya, kami permisi." Para maid tadi meninggal dapur dan tinggal lah sekarang Della dan Mama Yoona yang ada di ruangan tersebut.
"Yuk mulai sekarang aja. Dan ini Cuma masak Della bukan lari maraton, mana ada capek." Della menganggukkan kepalanya canggung sebagai jawaban dari Mama Yoona.
Mama Yoona bergegas membuka kulkas dan mengeluarkan bahan makanan yang akan mereka buat nanti.
"Kita buat doenjang-jjigae sama cikin aja ya," ucap Mama Yoona yang sudah selesai dengan memilih bahan makanan yang akan ia buat nanti.
"Tapi Ma, Della belum tau resep masakan itu," ucap Della jujur.
Mama Yoona menghentikan aktivitasnya dan menatap wajah Della yang berada di depannya.
"Mama ajarin Della. Kita kan masak bareng dan kamu juga harus tau kalau ini salah satu makanan favorit Aiden," ucap Mama Yoona sembari tersenyum.
"Baiklah Ma. Maaf Della malah jadinya ngerepotin Mama," ujar Della menyesal.
"Gak ada. Kamu gak ngerepotin Mama sama sekali. Mama seneng kalau kamu main kesini dan semoga Aiden segera mendatangi keluarga kamu sebelum Mama sama Papa yang nanti memintanya secara resmi," ucap Mama Yoona sembari memeluk tubuh Della.
Tanpa mereka sadari, bahwa percakapan dan tingkah laku dari dua perempuan berbeda usia tadi tak lepas dari tatapan mata Aiden.
Aiden mendekati keduanya yang masih setia saling memeluk satu sama lain.
"Ehem pemandangan apa ini? Aiden gak diajak?" tutur Aiden.
Mama Yoona dan Della pun melepaskan pelukannya. Mereka berdua menatap sinis kearah Aiden.
"Gak. Pelukan aja sana sama pohon," ujar Della yang mendapat gelak tawa dari Mama Yoona.
"Tuh dengerin apa yang Della katakan tadi," ucap Mama Yoona.
"Ck, sebenarnya anak Mama itu siapa sih. Aiden apa Della," tutur Aiden.
"Della lah," ujar Mama Yoona santai.
"Terus Aiden anaknya siapa dong kalau gitu?"
"Entahlah Mama juga gak tau. Dulu tuh Mama sama Papa nemuin kamu di bawah jembatan. Terus karena Mama sama Papa kasihan sama kamu ya udah Mama Papa angkat kamu sebagai anak kita." Aiden memelototkan matanya. Yang benar saja wajah tampan yang di turunkan dari kedua orangtuanya ini, masa gak diakuin oleh mereka astaga.
"Gak lucu Ma," tutur Aiden yang mulai menampilkan raut wajah masam.
"Kalau gak percaya tanya aja sama Papa," ucap Mama Yoona sembari memotong sayuran dan beberapa bahan yang sudah ia ambil alih dari Della yang sekarang tengah sibuk memotong daging ayam sembari tersenyum menikmati candaan dari keluarga Aiden.
Mereka semua yang ada di sana mengalihkan pandangannya dan menatap Papa Juan.
"Eh ada anak Papa ternyata. Apa kabar sayang," ucap Papa Juan mendekati Della dan melewati Aiden yang tengah melongo menatap tubuh tegap Papanya berjalan tanpa menatap dirinya sedikitpun.
"Pagi Om," sapa Della canggung pasalnya dirinya baru pertama bertemu dengan ayah Aiden.
"Jangan panggil Om. Panggil Papa oke." Della tersenyum sembari mengangguk menjawab ucapan Papa Juan tadi.
Papa Juan pun membalas senyuman Della dan ia menatap bahan makanan yang sudah berceceran di atas meja dapur.
"Wah mau masak apa nih?" tanya Papa Juan antusias.
"Doenjang-jjigae sama cikin Pa," ucap Mama Yoona.
"Owh ya udah Papa tinggal dulu ya dua bidadarinya Papa," tutur Papa Juan dan tak lupa menyematkan satu kecupan di pipi Mama Yoona sebelum beranjak dari depan Della dan Mama Yoona.
"Ya Tuhan pertemukan Aiden dengan orang tua Aiden yang sebenarnya," ucap Aiden dramatis.
Papa Juan pun menghentikan langkahnya dan mulai menatap Aiden tajam.
"Lah selama ini kamu tinggal dengan siapa?" tanya Papa Juan tak mengerti.
"Ya kata Mama tadi Aiden cuma anak yang di temuin di bawah jembatan," adu Aiden. Papa Juan menatap istrinya yang tengah menahan tawanya.
"Owh berarti Mama udah cerita yang sebenarnya sama kamu. Maaf ya Mama sama Papa gak cerita dari awal soal ini." Aiden tambah melongo dengan ucapan Papanya.
"Please lah ini gak lucu," tutur Aiden lesu yang langsung mendapat gelak tawa dari orang di sekitarnya tak kecuali maid yang tengah berada di sekitar mereka juga.
"Jangan nangis boy malu sama calon istri hahaha," ucap Papa Juan bercanda.
"Begini lah calon suami kamu Del. Di luar kelihatan garang tapi kalau sama keluarganya kaya anak ayam yang kecemplung air got. Manja," tutur Mama Yoona menimpali.
"Jangan buka aib Ma," jawab Aiden.
"Gak papa kok Ma. Della terima Aiden apa adanya. Dia manja berarti dia kan menyayangi keluarganya dan nantinya kalau Della sama Aiden, dia juga akan menyayangi Della seperti ia menyayangi Mama dan Papa," tutur Della.
"Uh calon bini baik banget sih. Sini peluk." Aiden berlari kearah Della namun ketika ia kurang sedikit lagi berhasil meraih tubuh Della. Ia lebih dulu mendapat pukulan di dahinya oleh sang Mama menggunakan spatula.
"Jangan macem-macem." Mama Yoona menarik tubuh Della ke belakang tubuhnya. Ia menatap tajam Aiden yang tengah kesakitan.
"Cuma peluk Mama," tutur Aiden.
"Gak boleh walaupun cuma peluk atau apalah itu. Sahkan dulu Della jadi menantu Mama. Baru mama bolehin kamu pegang anak Mama ini." Aiden memutar bola matanya.
"Ck pelit banget sih. Tunggu aja bentar lagi Aiden sahkan Della jadi bini Aiden dan Mama jangan harap nyentuh Della sedikitpun," ucap Aiden yang sudah berjalan menjauh dari hadapan perempuan tersayangnya.
"Mama denger Aiden," teriak Mama Yoona.
Aiden tak menanggapi ucapan Mamanya lagi, ia memilih untuk menyiapkan baju yang akan ia pakai nanti siang. Sedangkan Papa Juan yang melihat drama antara anak dan istrinya hanya bisa tersenyum, kemudian pergi menjauh dari dapur menuju kamar utama untuk membersihkan tubuhnya dan beristirahat sejenak.
πππππ
HAPPY READING GUYS π
Semoga kalian suka dengan eps kali iniπ
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlas π€ karena dengan kalian meninggalkan jejak sama saja kalian membangun kehaluan author ini dan author bisa nulis dengan tenangπ
Peluk cium dari author absurd π€π See you next eps bye π