My Bos CEO

My Bos CEO
22


"Pak. Bapak beneran gak papa kan?" Entah itu pertanyaan keberapa yang ia tanyakan berulang kali ke Aiden.


"Ada apa?" tanyanya dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.


"Hmm anu itu Pak hmm sekarang udah jam setengah 8 dan kita nanti harus ke kantor Bapak menyelesaikan masalah disana biar cepat selesai dan kita bisa kembali ke Indonesia."


Aiden menghembuskan nafas kasar, "Nanti kita kesana jam 9 kalau bisa sekarang juga masalah disini selesai dan besok kita pulang, saya mandi dulu." Della menganggukan mengerti. Ia juga berharap seperti itu melepaskan dirinya yang satu atap dengan bos labilnya dan kembali kerumah bertemu sang Kakak yang mungkin tengah menunggunya sekarang.


Aiden pun menutup kembali pintunya. Berjalan memasuki kamar mandi.


Tak berselang lama Aiden sudah rapi dengan pakaian formalnya hanya saja dasinya masih di biarkan menggantung di lehernya. Ia menuruni tangga satu persatu didepan ruang tamu ia melihat Della yang juga sudah rapi sedang menonton siaran televisi dengan cemilan di tangannya. Aiden menghampirinya dan berdiri tepat di depannya. Della mendongak keatas menatap Aiden malas.


"Ck Pak awas ah." Ia mendorong tubuh Aiden supaya tidak menghalangi pandangannya namun usahanya nihil Aiden masih tetap berdiri di depannya.


"Please lah Pak ini masih pagi jangan bikin mood saya hancur," ucap Della sambil menatap manik mata Aiden dari tempat duduknya.


"Pasangin!" Aiden menyodorkan dasinya ke arah Della. Della mengerutkan keningnya heran.


"Saya Pak? Pasangin dasi ke Bapak?" tanyanya.


"Ya iya lah yang di depan saya saat ini cuma kamu Della." Della saat ini tak mau berdebat hanya gara gara dasi saja. Ia berdiri dari duduknya, mengambil dasi yang berada di tangan Aiden dan mulai memasangnya. Mengalungkan dasi ke leher Aiden yang menyebabkan Della harus berdekatan dengan Aiden. Aroma mint di tubuhnya menyeruak masuk ke dalam hidung mancung Della.


"Tahan Del tahan. Ya Allah bisa bisanya cuma nyium parfum nih orang gue jadi pengen nempel terus." Della menggelengkan kepalanya, menetralkan nafasnya dan melanjutkan kegiatannya.


"Dah selesai," ucap Della sambil merapikan kemeja serta jas Aiden.


"Thanks," ucap Aiden.


"Oh iya Pak, sarapannya udah di meja. Tenang aja saya jamin masakan saya yang ini gak bakal mengecewakan," ucap Della sambil berjalan menuju meja makan dan menyerahkan piring yang sudah terdapat nasi beserta lauk pauk ke Aiden.


"Silahkan dinikmati," ucap Della sambil tersenyum. Aiden dengan ragu menyuapkan makanannya kedalam mulut. Ia nampak mulai menikmati rasa di dalam mulutnya sedangkan Della nampak was was apakah menurut Aiden masakannya enak atau tidak.


"Hmmm lumayan. Rasanya gak kayak kemarin," ucap Aiden walaupun sebenarnya masakan Della sangat enak dan pas di lidahnya namun entah lah apa karena gengsinya sehingga ia mengucapkan lumayan. Della bernafas lega setidaknya makanannya tidak dibuang percuma begitu saja.


"Iya dong siapa dulu yang masak." Bangga Della sambil mengibaskan rambutnya yang terurai indah.


"Kamu gak makan?" tanya Aiden pasalnya Della hanya berdiri di sampingnya dan menatap dia yang sedang makan bagaikan Della saat ini adalah seorang maid yang senantiasa disamping majikannya.


"Saya tadi udah Pak. Kalau nungguin Bapak mungkin sekarang saya udah di rumah sakit karena pingsan," jawab Della dengan cengiran. Aiden hanya mengangguk dan melanjutkan makannya sedangkan Della sudah kembali ke depan televisi karena waktu masih menunjukkan pukul 8 lebih 15 menit masih ada waktu 45 menit untuk santainya sebelum nanti ia akan berperang dengan beberapa berkas dan memecahkan masalah di kantor Aiden.


Setelah selesai acara makannya Aiden berjalan mendekati Della yang sedang menonton salah satu acara di televisi walaupun Aiden yakin bahwa Della gak akan paham dengan apa yang mereka ucapkan. Aiden duduk di samping Della dan mengambil cemilan yang ada di genggaman Della membuat sang empu berdecak kesal.


"Ck Pak itukan punya saya. Bapak kalau mau ambil aja sendiri di lemari masih banyak," ucap Della yang berusaha merebut cemilannya kembali.


"Terserah Bapak aja lah. Habisin semuanya saya juga bisa beli sendiri."


"Hahahaha gitu aja ngambek Del. Ini saya kembaliin saya juga udah kenyang kali Del." Della sempat tercengang melihat Aiden tertawa lepas baru kali ini ia melihatnya sebelum sebelumnya mana pernah ia melihat wajah tampan bosnya ini tertawa yang ada hanya wajah ganasnya bahkan Aiden tidak pernah tertawa di depan Cika paling ia hanya tersenyum saja. Della mengerjab ngerjabkan matanya dan kembali memperlihatkan wajah masamnya.


"Saya lagi gak pengen bercanda Pak," ucap Della sambil merebut cemilannya kasar. Aiden hanya tertawa melihat wajah Della yang begitu menggemaskan menurutnya eh kok.


"Oh iya Pak," ucap Della disela-sela mengunyahnya membuat Aiden menatap dirinya sambil mengangkat satu alisnya.


"Bentar saya cariin dulu," tutur Della sambil merogoh tas miliknya. Setelah menemukan benda yang ia cari kemudian ia menyerahkan ke arah Aiden.


"Ini ponsel Bapak kan." Aiden hanya mengangguk dan menerima ponselnya dari tangan Della lalu menatap Della dengan tatapan mengintimidasi.


"Eits jangan salah paham Pak. Saya gak nyuri kok. Kemarin saya nemuin ponsel Bapak di atas meja restoran karena saya yakin Bapak pasti lupa ngambil tuh ponsel," ucap Della menjelaskan dan Aiden lagi-lagi mengangguk.


Aiden pun mengecek ponselnya terus mengotak atiknya berharap ada balasan dari Cika namun harapannya harus pupus ketika ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Aiden menghela nafas panjang dan merebahkan tubuhnya ke sandaran sofa. Sungguh pikirannya sekarang tidak tenang memikirkan keadaan Cika. Sedang apa dia dan dengan siapa, dimana dan masih banyak lagi pertanyaan yang tidak ada jawabanya itu. Sungguh segitu cintanya kau Aiden dengan Cika sampai hampir dibuat gila memikirkannya. Della melihat Aiden yang tampak frustasi hanya mengedikan bahunya.


Pukul 16:00 waktu Jepang Della masih saja disibukan dengan kegiatan bahkan ia lupa untuk makan tadi sama halnya dengan Aiden ia terus saja menatap 2 layar laptop dan komputernya secara bergantian membuat siapa saja yang berada di posisi Aiden akan pusing di buatnya, sungguh hebat bukan seorang Aiden bisa menatap 3 layar elektronik sekaligus.


Della nampak lelah hari ini ia merebahkan tubuhnya di sofa setelah sampai di dalam apartemen Aiden. Ia memejamkan matanya sambil memijit pelipisnya. Sedangkan Aiden jangan tanyakan dia, dia sekarang sudah sampai di dalam kamarnya sedang melepaskan rindu dengan Cika, akhirnya setelah melalui pergalauan sehari kemarin Aiden sekarang sudah bernafas lega mendengar Cika baik baik saja.


📞:"Sayang kapan pulang?" tanya Cika dari sebrang.


"Mungkin beberapa hari lagi baru bisa pulang sayang. Maaf ya gak bisa pulang cepet," ucap Aiden.


📞:"Yah, padahal aku udah kangen banget lho sayang sama kamu."


"Sabar ya sayang. Aku usahain secepatnya selesai dan bisa pulang ketemu kamu."


📞:"Ck iya deh aku bakalan sabar nunggu kepulangan kamu."


"Ah jadi tambah sayang. Oh iya kamu mau aku beliin apa hmm?"


📞:"Hmm apa ya. Bentar aku mikir dulu. Aha beliin kalung dong sayang yang ada permata warnanya biru uh kayaknya bagus deh kalau aku pakai."


Aiden pun tersenyum, mengingat bahwa ia dulu sudah membelikan kalung yang ciri cirinya persis dengan yang Cika ucapkan tadi, walaupun sebenarnya kalung itu akan ia gunakan untuk melamar Cika di waktu yang tepat. Apa mungkin waktu kepulangannya adalah waktu yang tepat baginya? Ah sudah lah Aiden akan memikirkannya lagi.


"Tentu dong sayang."


📞:"Udah dulu ya sayang kamu pasti capek dan disana pasti udah jam 10 malam kan. Bersih-bersih gih terus istirahat jangan begadang lagi oke. Good night sayang," ucap Cika sebelum mematikan sambungan teleponnya.


Aiden menghembuskan nafasnya. Menatap sendu layar ponselnya itu sungguh ia masih sangat merindukan Cika walaupun rindunya sudah terobati sedikit. Ia menaruh ponselnya di atas nakas dan bergegas membersihkan dirinya setelah itu ia merebahkan dirinya di atas kasur dan mulai menjelajahi alam mimpinya.