
Maxime kembali memasuki kamar Della, ia mendengus kesal melihat sang empu masih tidur dengan nyenyak.
"Astaga dek bangun udah siang ini," teriak Maxime sembari menggoyangkan tubuh Della sangat kencang namun usahanya nihil.
"Fredella Genoveva, kebo bangun hoy, kalau gak bangun Abang sita mobil lo."
"Astagfirullah mommy dulu ngidam apa sih sampai punya anak kebonya nauzubillah kaya gini," gerutu Maxime sebal, sudah berbagai cara telah ia lakukan mulai dari menciumi wajah Della, menggelitik tubuhnya sampai siraman air pun sudah ia lakukan tapi hasilnya nihil. Ia terus berusaha membangun Della dengan lampu yang menyala di atas kepalanya, aha Maxime punya ide sekarang dan mungkin ini ide juga gak akan ada pengaruhnya sama Della tapi coba aja lah siapa tau berhasil.
Maxime menarik nafas dalam dalam kemudian ia berteriak, "Della coklat lo hanyut ke sungai, cepetan bangun keburu nanti habis di makan ikan kalau lo gak bangun bangun dan ambil tuh coklat di sungai," dan dengan ajaibnya Della berhasil membuka matanya, tanpa berfikir panjang Della melompat dari atas kasur dan berlari keluar kamarnya. Maxime yang melihat tingkah adiknya pun hanya bisa tertawa puas selain ia bisa membangunkan Della dia juga berhasil menjahili adiknya itu.
Della terus berlari dengan muka bantalnya menuruni anak tangga satu persatu hingga ia sampai di ruang tamu, Aiden dan Rina saling pandang bingung melihat tingkah Della melewatinya begitu saja sambil berlari.
"Dia kenapa mbak?" tanya Aiden kepada Rina.
"Saya juga gak tau tuan," jawab Rina sembari menggelengkan kepalanya.
"Coba saya kejar dulu ya tuan non Dellanya, tuan gak perlu khawatir dan risau cukup duduk manis disini, menikmati cemilan dan dengan segera saya akan membawa non Della kembali, permisi ya tuan," ucap Rina sebelum ia berlari meninggalkan Aiden yang masih bertanya tanya di dalam otaknya.
Sedangkan Della dia sudah di dalam mobil hendak menyalahkannya namun ia lupa tidak membawa kunci mobil dengan secepat kilat ia keluar dari mobilnya, berlari lagi sampai tepat pada pintu utama Della dan Rina yang sama sama berlari dan tidak memungkinkan mereka bisa mengerem mendadak sehingga terjadilah tabrakan dari keduanya.
Dubrak
"Aw," pekik keduanya secara bersamaan.
"Mbak Rina kenapa sih lari lari nabrak kan jadinya," keluh Della sembari memegang jidatnya yang tadi berbenturan dengan kepala Rina.
"Lah saya ngejar non yang tiba tiba lari dengan keadaan begini, ada apa sih non bikin khawatir saya aja," Rina sudah berdiri dari posisi jatuhnya dan segera membatu Della juga untuk berdiri.
"Ck mbak coklat Della hanyut ke sungai tau, tar kalau itu coklat habis di makan ikan gimana coba kan Della belum makan secuil pun," rengek Della.
"Ha siapa yang bilang sih non, mana ada sungai di sekitar sini dan kalaupun coklat non hanyut ke sungai ikan ikan disana juga gak mau makan coklatnya non, jadi tenang aja coklat non masih ada tuh di sana gak akan kemana mana," Della menghembuskan nafas lega. Dia berjalan memasuki rumahnya dengan niat ingin meminta tanggung jawab abangnya yang dengan seenak jidatnya mengganggu tidur cantiknya bahkan berkata tidak benar dengan separuh nyawanya itu ya siapa lagi kalau bukan coklat coklat dambaannya, namun ketika ia sampai di ruang tamu matanya membelalak lebar melihat orang yang sudah familiar buatnya bahkan dari perawakannya pun ia sudah tau itu siapa walaupun membelakanginya saat ini, ia segera mendekati tubuh Aiden memastikan bahwa itu adalah orang yang sama dengan dugaannya saat ini.
"Pak Aiden," ucap Della pelan takutnya dia salah orang kalau mau teriak kan gak sopan, siapa tau itu temannya Maxime yang tengah berkunjung dirumahnya ini. Aiden yang merasa namanya di panggil pun menengok ke sumber suara.
"Ngapain ketawa gak ada yang lucu disini pak jangan ketawa jawab pertanyaan saya," ucap Della tegas. Aiden berdehem untuk menetralkan tawanya.
"Saya butuh kamu sekarang untuk bantu saya buat surprise untuk Cika di apartemen saya," ucap Aiden to the point, Della mengerutkan keningnya.
"Kenapa harus saya pak?" tanya Della yang sudah duduk di sebelah Aiden tanpa memperhatikan tampilannya sekarang.
"Ya karena kamu sekertaris saya," Della memutar matanya malas alasan yang tidak masuk akal pikirnya.
"Kan bisa cari orang lain pak misalnya pak Reiki, pak Reiki juga punya sekertaris lho dan sekertarisnya itu dengan siap sedia kapan pun akan membantu pak Reiki bahkan dia bisa diandalkan dalam masalah surprise surprise kayak begini, gak kaya saya yang gak tau tentang masalah gituan pak jadi intinya bapak menemui orang yang tidak tepat untuk diajak buat surprise begituan," jelas Della panjang lebar, gimana dia bisa buat acara surprise kalau dia sendiri saja belum pernah mendapatkan begituan.
"Ck Reiki lagi gak bisa katanya dia mau jalan sama gebetanya sekarang," tutur Aiden.
"Ya udah sama pak Bisma aja kalau begitu," saran Della.
"Dia juga gak bisa Della, sudahlah kamu jangan banyak alasan 30 menit cukup kan buat kamu merapikan tampilanmu yang amburadul kayak gini," Della membelalakkan matanya, dia segera berlari dari hadapan Aiden yang sudah kembali tertawa.
"Huwaaaaa malu gue malu, pasti tampilan gue gak banget ini sumpah, ada iler gak ya di pipi gue tadi atau belek di mata gue arkh ini semua gara gara abang laknat awas aja nanti gue bejek bejek tuh orang tunggu pembalasan gue bang Maxime," ucap Della yang sudah berada di dalam kamar mandinya.
Tak berselang lama Della keluar dari kamarnya dengan style casual biasa yang ia pakai, celana jeans panjang di padu padankan dengan baju crop top yang jika ia mengangkat kedua tangannya akan menampakkan perut putihnya dan sepatu putih yang menghiasi kaki jenjangnya, rambutnya ia biarkan terurai begitu saja.
"Udah selesai," ucap Aiden setelah Della berada di depannya.
"Menurut bapak," jawab Della ketus.
"Ya udah yuk jalan," ucap Aiden dan segera beranjak dari duduknya di ikuti Della dengan langkah malasnya.
"Mbak Rina, Della keluar dulu," teriak Della dan hanya di jawab dengan acungan jempol dari Rina yang tengah duduk santai di ruang televisi.
"Mulutnya, bisa gak kamu gak teriak teriak kayak gitu lagi," ucap Aiden yang menatap tajam Della.
"Suka suka gue rumah rumah gue, situ siapa ngatur ngatur hidup orang lain," tutur Della tak bersahabat dan segera berjalan meninggalkan Aiden begitu saja.